Blog Dhita Yudhistira

Apakah Blog kata resmi dalam Bahasa Indonesia?

Saturday, January 14, 2012

Doa Kelahiran Lintang (2007)

Bismillahirrahmanirrahim,

Ya Allah, semoga putri kami Lintang Nur Ramadhani menjadi anak yang shalehah, bertakwa, sehat, bersyukur terhadap apa yang dimilikinya, berbahagia, tekun, dan beruntung dalam kehidupannya.

Ya Allah, semoga putri kami berbakti dan bermanfaat kepada-Mu, orang tuanya, bangsa dan negara.

Terima kasih ya Allah.


Amin.

Wednesday, January 11, 2012

Mengomentari Rencana Pembelian MBT

Beberapa waktu terakhir, di kalangan pengamat militer, ada sebuah isu menarik tentang rencana pembelian MBT (Main Battle Tank) oleh TNI, khususnya TNI angkatan darat. Tanggapannya tentu terbagi atas 2 kelompok besar: yang pro dan yang kontra. Saya sendiri cenderung pro. Kalaulah saya tidak terlalu setuju dengan rencana tersebut, sebagian besar adalah faktor biaya. Dalam tulisan ini saya hanya ingin menggambarkan beberapa hal.

Kita lihat dulu yang dimaksud dengan main battle tank. Main battle tank adalah tank utama, yang memiliki karakteristik umum yaitu berat di atas 40 ton. Berat MBT umumnya adalah 40-60 ton. Kalau kita berbicara light tank, seperti yang dipakai Indonesia sampai sekarang, beratnya adalah sekitar 15-20 ton. Berbicara engineering, tentu ada konsekuensi yang datang bersama dengan berat MBT.

Konsekuensi pertama, dengan batasan berat tersebut, maka MBT bisa menggunakan baja yang lebih tebal. Berbicara baja tentu saja berbicara juga masalah ketahanan terhadap gempuran. Selain bajanya sendiri, maka dengan batasan berat tersebut, penambahan add-on armor dengan berat beberapa kwintal sampai beberapa ton akan dapat ditanggung oleh MBT tersebut. Secara umum, MBT (modern) adalah sebuah titik dengan perlindungan paling kuat dalam medan pertempuran darat. Tidak mudah untuk melumpuhkan sebuah MBT. Salah satu yang tercatat, dalam sebuah pertempuran MBT Challenger milik Inggris dihajar 14 RPG dan 1 rudal Milan. Crewnya selamat dan tanknya bisa diperbaiki dengan cepat.

Konsekuensi kedua, dengan batasan berat tersebut, maka MBT bisa membawa senjata (gun) yang lebih besar. Senjata terbesar yang dibawa oleh MBT saat ini adalah 125mm, dengan kisaran umum adalah 105mm-120mm. Sebuah peluru kaliber 12,7mm masih bisa menembus baja 2,5cm dari jarak tertentu. Jadi silakan bayangkan efek dari kaliber 120mm. Selain kalibernya, senjata tank juga dibagi berdasarkan pressurenya. Semakin tinggi pressure, semakin tinggi kecepatan awal dari peluru yang artinya semakin besar pula daya hantam peluru. Tingginya pressure artinya juga akan membawa momentum yang besar, yang harus diserap oleh tank. Jika sebuah high pressure gun dengan kaliber 120mm dipasang dengan tidak benar maka kendaraan yang membawanya bisa terlempar atau terbalik pada saat menembak.

Memang terdapat beberapa kendaraan ringan yang diberi meriam kaliber 105mm atau 120mm. Tapi kalau pun betul menggunakan high pressure gun (dan bukannya medium), kendaraan-kendaraan ini harus berhenti kalau menembak. Sebuah MBT bisa menembak sambil berjalan dengan kecepatan tinggi. Beberapa bahkan bisa menembak sambil 'loncat'.

Karena itu, di medan pertempuran darat, sebuah MBT juga merupakan arsenal dengan firepower terkuat. Artinya, kalau dalam sebuah pertempuran MBT tidak segera 'dihabisi', maka akan banyak kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh MBT ini. Masalahnya adalah, kembali ke atas tadi, melumpuhkan MBT ini tidak mudah.

Sebuah MBT modern, tidak bisa dihancurkan dengan senjata yang dibawa oleh light tank. Apalagi kalau light tanknya yang tua. Sebuah ligt tank bisa menembaki sebuah MBT sampai berkali-kali tanpa menembus armor MBT tersebut.Sementara 1 tembakan dari MBT hampir pasti merontokkan sebuah light tank. Celakanya, 1 buah MBT modern bisa menembak 6x per menit, atau 10 detik sekali....

Sebagai tambahan dari itu semua, dikarenakan mahalnya harga MBT dan dikarenakan besarnya peran MBT di medan pertempuran darat, maka biasanya sebuah MBT dilengkapi Fire Control System paling canggih. Artinya, sebuah MBT bisa menembak lebih jauh, lebih cepat (cepat deteksi, cepat memutuskan, cepat menembak), dan lebih akurat.

Memang ada yang mengatakan, MBT dengan harga yang mahal bisa dikalahkan oleh RPG yang harganya murah. Betul. Tapi masalahnya tidak segampang itu. Anda bayangkan saja kalau disuruh mencegat sebuah tank sambil membawa RPG (o ya, MBT juga dilengkapi dengan senjata 12,7 dan 7,62 untuk menembaki orang yang lari-lari). Juga tidak semua sisi dari MBT bisa ditembus RPG. Dalam kasus Cechnya misalkan, pejuang Cechnya tahu kelemahan MBT Russia pada saat itu adalah dari atas. Sehingga mereka naik ke gedung-gedung untuk menembakkan RPG. Kalau perangnya di padang rumput?

Ada juga yang mengatakan, MBT bisa dihajar dengan rudal. Perlu diketahui bahwa rudal memiliki kecepatan di bawah peluru meriam. Dengan demikian, baik di darat mau pun laut, sebuah rudal biasanya memiliki kemungkinan di-intercept. Misalkan dengan cara ditembaki sebelum sampai. MBT modern sudah memiliki fitur seperti ini. Di sini tentu kita tidak membahas apakah MBT yang rencananya akan dibeli Indonesia memiliki fitur itu. Ini hanya membahas konsepnya saja.

Karena hal-hal di ataslah, maka kemudian muncul pernyataan,"Lawannya tank ya tank". Sebetulnya lebih tepatnya adalah,"Lawannya MBT adalah MBT". Kira-kira begitu. Atau kalau mau, dengan pesawat udara. Kalau mau menghentikan MBT lewat 'jalur darat' tanpa punya MBT juga, bisa. Tapi korbannya pasti banyak sekali.

Sekali lagi bayangkan, anda ditembaki sebuah MBT dengan meriam 105mm yang berjalan dengan kecepatan 40km/jam. Meriamnya fully stabilized sehingga tetap akurat dan menembak 10 detik sekali. Begitulah MBT modern.

Untuk masalah payung udara, kita sudah tahu lah bahwa perbandingan pesawat tempur kita dengan negara tetangga so-so. Maksud saya di sini, besar sekali kemungkinannya kalau pecah perang dengan negara tetangga Malaysia, perangnya tanpa perlindungan udara. Nah, semua negara tetangga sudah punya MBT: Singapura, Malaysia, Thailand. Yang menarik, MBT Malaysia ditempatkan di Kalimantan (tolong koreksi kalau saya salah). Coba dipikir-pikir, kalau Malaysia taruh MBT di Kalimantan, ke mana kira-kira arahnya? Brunei?

Isu yang berkembang sebetulnya, MBT yang mau dibeli Indonesia juga bakal ditempatkan di Kalimantan. Walau kemudian santer isu bahwa akan ditempatkan di Jakarta, Malang, dan kota di Jawa lainnya. Saya tidak terlalu yakin, karena sulit menggerakkan MBT di kota-kota Indonesia. Pasti merusak infrastruktur. Yang pasti, TNI pasti punya rencana. Saya juga tidak yakin bahwa MBT ini akan dipakai untuk menghadapi demonstran dan sebagainya. Untuk menghadapi demonstran jelas MBT tidak efektif. Pemakaian light tank atau panser seperti Anoa jelas lebih pas.

Beberapa orang juga mengatakan MBT tidak cocok dengan kondisi tanah di Indonesia. Saya tidak mau membahas hal ini. Hitungannya sebetulnya sudah jelas. Dan faktanya negara-negara tetangga yang kondisi tanahnya mirip sudah beli.

Mengenai Leopard 2 sendiri. Menurut saya Leopard 2 adalah salah satu tank terbaik di dunia. Kalau bicara engineering design, Leopard 2 optimal. Maksudnya begini, mungkin saja M1-Abrams performanya lebih baik. Tapi harganya jauuuh di atas, dan mesinnya jauuuh lebih boros. Performanya lebih baik sedikit, not worth it.

Tentang pembelian bekas. Perlu dicatat bahwa sebetulnya Leopard 2 milik Jerman dan Belanda tadinya masih dipakai. Karena kebijakan penciutan militer, maka Leopard ini dipensiunkan. Ingat, militer Belanda atau Jerman tidak akan menggunakan MBT yang kondisinya tidak mendekati 100%. Jadi inilah yang mau kita beli. Singapura pun waktu beli Leopard 2 dari Jerman, dalam kondisi begini.

Jadi begini. Kita ini sering berpikiran bahwa untuk dapat yang paling canggih itu, harus baru. Kalau ada namanya retrofit/upgrade, dianggap main-main. Sebetulnya tidak begitu. Kalau kita lihat, militer NATO tiap sekitar 10 tahun sekali pasti mengadakan yang namanya upgrade. Entah itu kapal, pesawat, atau tank. Itu dikarenakan teknologi elektronik berkembang sangat cepat (dan juga produk elektronik paling pendek umurnya), sedangkan teknologi material-mekanikal lebih lambat. Artinya kalau pun kita beli tank tahun 80an dan melakukan upgrade dengan baik (armor, elektronik), bisa saja dipakai bertanding dengan tank terbaru. Ini hanya masalah pilihan paket dan seberapa cermat kita memilih.

Masalah terakhir masalah harga. Setahu saya harga MBT itu sekitar 3-4jt usd per unit. Kalau dibandingkan harga sebuah Sukhoi adalah sekitar 30-40jut usd per unit. Tinggal dihitung-hitung saja efektivitasnya. Tapi ya, masa kavaleri kita kalau latihan bersama dengan negara-negara tetangga, pakai light tank. Apalagi yang tua. Kan kasihan.

Demikian kira-kira komentar saya. Kalau ada yang salah, saya mohon maaf.

Tuesday, January 10, 2012

Subsidi Transportasi

Tiba-tiba terlintas di pikiran saya. Coba anda bayangkan dan hitung sendiri. Jarak Bogor-Jakarta kira-kira 45km. Di tol, mobil saya bisa mencapai efisiensi 17 km untuk setiap liternya kalau menggunakan premium (kalau menggunakan pertamax bisa 22km). Jadi untuk menempuh jarak Bogor-Jakarta, diperlukan 3 liter premium. Untuk satu kali perjalanan, biaya tol yang harus dibayar adalah Rp 7.500,00. Nah, yang menarik, dengan mengasumsikan harga bbm non subsidi (pertamax) adalah Rp 8.500,00 dibandingkan harga bersubsidi yang hanya Rp 4.500,00 jika saya memakai premium, maka subsidi yang saya pergunakan setiap kali menempuh Bogor-Jakarta adalah sebesar Rp 12.000,00.

Artinya, kalau memang bbm tidak disubsidi, pemerintah bisa menggratiskan tol.

Yang saya bayangkan sekarang, andai saja pemerintah mau mensubsidi setiap penumpang KRL Bogor-Jakarta sebesar Rp 12.000,00 per penumpang, bagai mana kira-kira kualitas layanan commuter line?

Mengapa selalu disebutkan bahwa transportasi kereta api selalu merugi dan membutuhkan subsidi seolah-olah transportasi berbasis mobil tidak?

Monday, August 08, 2011

Blog dan Gaya Hidup

Setelah lama sekali tidak menulis, saya memutuskan untuk mencoba kembali menulis di blog ini. Mencoba kembali, artinya setelah posting yang satu ini saya berharap bisa terus menulis secara 'cukup' teratur.

Tidak menulisnya saya di blog, sebetulnya tidak terlalu berhubungan dengan tren IT yang ada. Bukan karena blog tidak lagi ngetrend dan digantikan, misalkan, oleh microblog, twit, dan sebaginya. Bukan, bukan karena itu. Saya sendiri tidak terlalu peduli trend. Lagi pula rasanya tulisan terlalu pendek seperti twit atau microblog tidak terlalu cocok buat saya.

Memang ada yang berubah. Saya dulu punya kebiasaan tidur malam, dan sampai malam itu berada di depan komputer. Di suasana malam yang seperti itu, biasanya dorongan untuk menulis keluar. Bermacam-macam tulisan. Tapi akhir-akhir ini, mungkin setahun belakangan ini, walau pun masih dapat diterima di banyak organisasi kepemudaan, saya merasa bahwa umur saya tidak lagi muda (baru saja ulang tahun ke 25). Karena itu saya pikir tidak baik untuk tidur terlalu malam.

Akibatnya, terjadi perubahan kebiasaan. Untuk pekerjaan sendiri pun, efektivitas saya rasanya menurun. Proposal melambat, email banyak telat berbalas, dan sebagainya. Karena pada dasarnya saya tidak terbiasa produktif di siang hari. Siang hari biasanya untuk jalan dan ketemu orang. Saya masih berjuang untuk mengubah hal ini, dan memanfaatkan semaksimal mungkin waktu kerja.

Salah satunya, saya harap, bisa kembali meramaikan blog ini.

Btw, is there someone there still read this blog?

Wednesday, June 23, 2010

Tim Robotika ITB Meraih Juara Pertama Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2010

BANDUNG, itb.ac.id - Tim ASA Institut Teknologi Bandung meraih juara pertama dalam Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2010 untuk kategori robot berkaki.Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu dan Minggu (19-20/06/10). Tim ASA terdiri dari Syawaludin Rachmatullah, Samratul Fuady dan Ashlih Dameitry yang ketiganya merupakan mahasiswa Teknik Elektro.KRCI 2010 sendiri diikuti oleh 56 tim dari seluruh Indonesia.

Penilaian untuk KRCI 2010 kali ini adalah kecepatan robot dalam memadamkan api yang berada di suatu titik di lintasan. Robot berkaki yang dibuat oleh tim ASA menjadi robot yang paling cepat dalam memadamkan api, dibutuhkan waktu 9 detik untuk memadamkan api yang berada di sebuah sumber api. Bahkan menurut Dody Suhendra sebagai manajer tim, juara kedua dari kategori robot berkaki hanya mencapai waktu 22 detik untuk memadamkan api.

Kontes Robot ini terdiri dari Kontes Robot Indonesia (KRI), Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) dan Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI). KRCI sendiri dibagi lagi ke dalam kategori robot beroda, berkaki dan battle. Setiap robot di setiap kategori memiliki fungsi yang berbeda-beda. KRI mengharuskan sebuah robot yang bertema "Bersama Membangun Candi Prambanan". Kemudian untuk KRCI beroda dan berkaki mewajibkan robot yang bisa memadamkan api, sedangkan robot dalam KRCI battle memiliki fungsi sebagai penangkap bola. Terakhir adalah KRSI yang mengharuskan membuat robot penari pendet.

Perjalanan Hingga Menjadi Juara

"Kami menyeleksi para tim terlebih dahulu dari rancangan proposal yang diajukan kepada Unit Robotika ITB, setelah itu baru kami mengajukan kepada DIKTI untuk pengujian proposal dan monitoring." tegas Dody Suhendra saat ditemui oleh Kantor Berita pada Selasa (22/06/10). Dody juga menuturkan bahwa tim KRSI ITB gagal dalam monitoring DIKTI sehingga tidak bisa melanjutkan ke final regional.

Dalam final Regional tim robotika ITB lolos mewakili regional 2 yang terdiri dari Jawa Barat, Banten dan Jakarta untuk tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah KRI, KRCI berkaki dan KRCI battle. Sukses di final regional menjadi semangat bagi tim Robotika untuk menorehkan prestasi di tingkat nasional. Berkat ketekunan dan dukungan dari seluruh pihak, tim ASA yang bertanding dalam KRCI berkaki meraih juara pertama.

Tetap Berkarya dalam Keterbatasan

"Robot yang kami ciptakan 100% karya mahasiswa, dengan waktu yang relatif singkat dan segala keterbatasan kami dapat menciptakan robot ini." ujar Ashlih Dameitry. Bersama anggota tim yang lain ia membuat robot tersebut dalam kisaran waktu tiga hingga empat bulan, padahal kisaran waktu normal untuk membuat sebuah robot adalah enam hingga delapan bulan. Selain itu dalam rentang waktu tersebut dibuatlah 10 buah robot.

Keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi tim Robotika ITB. Meski sempat kesulitan dalam dana dan tempat, mereka tetap berkarya dalam pembuatan robot tersebut. "Dana untuk pembuatan kesepuluh robot ini kami dapat dari Ikatan Alumni Elektro '75, '79, dan '80, dari fakultas baik itu Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) maupun Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), PLN, Telkom, LPKM dan DIKTI." tambah Dody.

Untuk masalah ruangan, beberapa alternatif ruang kosong dimanfaatkan tim robotika ITB seperti di tunnel yang dijadikan ruangan untuk tim robot KRI dan salah satu laboratorium elektro untuk menjadi bengkel bagi tim robotika. Tim Robotika ITB berhasil membuktikan bahwa berkarya dalam keterbatasan tidak menyurutkan semangat dalam berprestasi.