<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246</id><updated>2012-01-24T15:01:56.795+07:00</updated><title type='text'>Blog Dhita Yudhistira</title><subtitle type='html'>Apakah Blog kata resmi dalam Bahasa Indonesia?</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>174</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3195491124627124041</id><published>2012-01-14T22:51:00.002+07:00</published><updated>2012-01-19T09:10:57.736+07:00</updated><title type='text'>Doa Kelahiran Lintang (2007)</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, semoga putri kami Lintang Nur Ramadhani menjadi anak yang shalehah, bertakwa, sehat, bersyukur terhadap apa yang dimilikinya, berbahagia, tekun, dan beruntung dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, semoga putri kami berbakti dan bermanfaat kepada-Mu, orang tuanya, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih ya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3195491124627124041?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3195491124627124041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3195491124627124041' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3195491124627124041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3195491124627124041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2012/01/doa-kelahiran-lintang-2009.html' title='Doa Kelahiran Lintang (2007)'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2775505568729241646</id><published>2012-01-11T21:47:00.003+07:00</published><updated>2012-01-11T22:42:56.356+07:00</updated><title type='text'>Mengomentari Rencana Pembelian MBT</title><content type='html'>Beberapa waktu terakhir, di kalangan pengamat militer, ada sebuah isu menarik tentang rencana pembelian MBT (Main Battle Tank) oleh TNI, khususnya TNI angkatan darat. Tanggapannya tentu terbagi atas 2 kelompok besar: yang pro dan yang kontra. Saya sendiri cenderung pro. Kalaulah saya tidak terlalu setuju dengan rencana tersebut, sebagian besar adalah faktor biaya. Dalam tulisan ini saya hanya ingin menggambarkan beberapa hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat dulu yang dimaksud dengan main battle tank. Main battle tank adalah tank utama, yang memiliki karakteristik umum yaitu berat di atas 40 ton. Berat MBT umumnya adalah 40-60 ton. Kalau kita berbicara light tank, seperti yang dipakai Indonesia sampai sekarang, beratnya adalah sekitar 15-20 ton. Berbicara engineering, tentu ada konsekuensi yang datang bersama dengan berat MBT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi pertama, dengan batasan berat tersebut, maka MBT bisa menggunakan baja yang lebih tebal. Berbicara baja tentu saja berbicara juga masalah ketahanan terhadap gempuran. Selain bajanya sendiri, maka dengan batasan berat tersebut, penambahan add-on armor dengan berat beberapa kwintal sampai beberapa ton akan dapat ditanggung oleh MBT tersebut. Secara umum, MBT (modern) adalah sebuah titik dengan perlindungan paling kuat dalam medan pertempuran darat. Tidak mudah untuk melumpuhkan sebuah MBT. Salah satu yang tercatat, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Challenger_2"&gt;dalam sebuah pertempuran MBT Challenger milik Inggris dihajar 14 RPG dan 1 rudal Milan&lt;/a&gt;. Crewnya selamat dan tanknya bisa diperbaiki dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi kedua, dengan batasan berat tersebut, maka MBT bisa membawa senjata (gun) yang lebih besar. Senjata terbesar yang dibawa oleh MBT saat ini adalah 125mm, dengan kisaran umum adalah 105mm-120mm. Sebuah peluru kaliber 12,7mm masih bisa menembus baja 2,5cm dari jarak tertentu. Jadi silakan bayangkan efek dari kaliber 120mm. Selain kalibernya, senjata tank juga dibagi berdasarkan pressurenya. Semakin tinggi pressure, semakin tinggi kecepatan awal dari peluru yang artinya semakin besar pula daya hantam peluru. Tingginya pressure artinya juga akan membawa momentum yang besar, yang harus diserap oleh tank. Jika sebuah high pressure gun dengan kaliber 120mm dipasang dengan tidak benar maka kendaraan yang membawanya bisa terlempar atau terbalik pada saat menembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terdapat beberapa kendaraan ringan yang diberi meriam kaliber 105mm atau 120mm. Tapi kalau pun betul menggunakan high pressure gun (dan bukannya medium), kendaraan-kendaraan ini harus berhenti kalau menembak. Sebuah MBT bisa menembak sambil berjalan dengan kecepatan tinggi. Beberapa bahkan bisa menembak sambil 'loncat'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, di medan pertempuran darat, sebuah MBT juga merupakan arsenal dengan firepower terkuat. Artinya, kalau dalam sebuah pertempuran MBT tidak segera 'dihabisi', maka akan banyak kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh MBT ini. Masalahnya adalah, kembali ke atas tadi, melumpuhkan MBT ini tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah MBT modern, tidak bisa dihancurkan dengan senjata yang dibawa oleh light tank. Apalagi kalau light tanknya yang tua. Sebuah ligt tank bisa menembaki sebuah MBT sampai berkali-kali tanpa menembus armor MBT tersebut.Sementara 1 tembakan dari MBT hampir pasti merontokkan sebuah light tank. Celakanya, 1 buah MBT modern bisa menembak 6x per menit, atau 10 detik sekali.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan dari itu semua, dikarenakan mahalnya harga MBT dan dikarenakan besarnya peran MBT di medan pertempuran darat, maka biasanya sebuah MBT dilengkapi Fire Control System paling canggih. Artinya, sebuah MBT bisa menembak lebih jauh, lebih cepat (cepat deteksi, cepat memutuskan, cepat menembak), dan lebih akurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada yang mengatakan, MBT dengan harga yang mahal bisa dikalahkan oleh RPG yang harganya murah. Betul. Tapi masalahnya tidak segampang itu. Anda bayangkan saja kalau disuruh mencegat sebuah tank sambil membawa RPG (o ya, MBT juga dilengkapi dengan senjata 12,7 dan 7,62 untuk menembaki orang yang lari-lari). Juga tidak semua sisi dari MBT bisa ditembus RPG. Dalam kasus Cechnya misalkan, pejuang Cechnya tahu kelemahan MBT Russia pada saat itu adalah dari atas. Sehingga mereka naik ke gedung-gedung untuk menembakkan RPG. Kalau perangnya di padang rumput?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang mengatakan, MBT bisa dihajar dengan rudal. Perlu diketahui bahwa rudal memiliki kecepatan di bawah peluru meriam. Dengan demikian, baik di darat mau pun laut, sebuah rudal biasanya memiliki kemungkinan di-intercept. Misalkan dengan cara ditembaki sebelum sampai. MBT modern sudah memiliki fitur seperti ini. Di sini tentu kita tidak membahas apakah MBT yang rencananya akan dibeli Indonesia memiliki fitur itu. Ini hanya membahas konsepnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hal-hal di ataslah, maka kemudian muncul pernyataan,"Lawannya tank ya tank". Sebetulnya lebih tepatnya adalah,"Lawannya MBT adalah MBT". Kira-kira begitu. Atau kalau mau, dengan pesawat udara. Kalau mau menghentikan MBT lewat 'jalur darat' tanpa punya MBT juga, bisa. Tapi korbannya pasti banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi bayangkan, anda ditembaki sebuah MBT dengan meriam 105mm yang berjalan dengan kecepatan 40km/jam. Meriamnya fully stabilized sehingga tetap akurat dan menembak 10 detik sekali. Begitulah MBT modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masalah payung udara, kita sudah tahu lah bahwa perbandingan pesawat tempur kita dengan negara tetangga so-so. Maksud saya di sini, besar sekali kemungkinannya kalau pecah perang dengan negara tetangga Malaysia, perangnya tanpa perlindungan udara. Nah, semua negara tetangga sudah punya MBT: Singapura, Malaysia, Thailand. Yang menarik, MBT Malaysia ditempatkan di Kalimantan (tolong koreksi kalau saya salah). Coba dipikir-pikir, kalau Malaysia taruh MBT di Kalimantan, ke mana kira-kira arahnya? Brunei?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu yang berkembang sebetulnya, MBT yang mau dibeli Indonesia juga bakal ditempatkan di Kalimantan. Walau kemudian santer isu bahwa akan ditempatkan di Jakarta, Malang, dan kota di Jawa lainnya. Saya tidak terlalu yakin, karena sulit menggerakkan MBT di kota-kota Indonesia. Pasti merusak infrastruktur. Yang pasti, TNI pasti punya rencana. Saya juga tidak yakin bahwa MBT ini akan dipakai untuk menghadapi demonstran dan sebagainya. Untuk menghadapi demonstran jelas MBT tidak efektif. Pemakaian light tank atau panser seperti Anoa jelas lebih pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang juga mengatakan MBT tidak cocok dengan kondisi tanah di Indonesia. Saya tidak mau membahas hal ini. Hitungannya sebetulnya sudah jelas. Dan faktanya negara-negara tetangga yang kondisi tanahnya mirip sudah beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Leopard 2 sendiri. Menurut saya Leopard 2 adalah salah satu tank terbaik di dunia. Kalau bicara engineering design, Leopard 2 optimal. Maksudnya begini, mungkin saja M1-Abrams performanya lebih baik. Tapi harganya jauuuh di atas, dan mesinnya jauuuh lebih boros. Performanya lebih baik sedikit, not worth it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pembelian bekas. Perlu dicatat bahwa sebetulnya Leopard 2 milik Jerman dan Belanda tadinya masih dipakai. Karena kebijakan penciutan militer, maka Leopard ini dipensiunkan. Ingat, militer Belanda atau Jerman tidak akan menggunakan MBT yang kondisinya tidak mendekati 100%. Jadi inilah yang mau kita beli. Singapura pun waktu beli Leopard 2 dari Jerman, dalam kondisi begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begini. Kita ini sering berpikiran bahwa untuk dapat yang paling canggih itu, harus baru. Kalau ada namanya retrofit/upgrade, dianggap main-main. Sebetulnya tidak begitu. Kalau kita lihat, militer NATO tiap sekitar 10 tahun sekali pasti mengadakan yang namanya upgrade. Entah itu kapal, pesawat, atau tank. Itu dikarenakan teknologi elektronik berkembang sangat cepat (dan juga produk elektronik paling pendek umurnya), sedangkan teknologi material-mekanikal lebih lambat. Artinya kalau pun kita beli tank tahun 80an dan melakukan upgrade dengan baik (armor, elektronik), bisa saja dipakai bertanding dengan tank terbaru. Ini hanya masalah pilihan paket dan seberapa cermat kita memilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah terakhir masalah harga. Setahu saya harga MBT itu sekitar 3-4jt usd per unit. Kalau dibandingkan harga sebuah Sukhoi adalah sekitar 30-40jut usd per unit. Tinggal dihitung-hitung saja efektivitasnya. Tapi ya, masa kavaleri kita kalau latihan bersama dengan negara-negara tetangga, pakai light tank. Apalagi yang tua. Kan kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kira-kira komentar saya. Kalau ada yang salah, saya mohon maaf.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2775505568729241646?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2775505568729241646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2775505568729241646' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2775505568729241646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2775505568729241646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2012/01/mengomentari-rencana-pembelian-mbt.html' title='Mengomentari Rencana Pembelian MBT'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7343170798448312279</id><published>2012-01-10T00:42:00.002+07:00</published><updated>2012-01-10T00:59:27.555+07:00</updated><title type='text'>Subsidi Transportasi</title><content type='html'>Tiba-tiba terlintas di pikiran saya. Coba anda bayangkan dan hitung sendiri. Jarak Bogor-Jakarta kira-kira 45km. Di tol, mobil saya bisa mencapai efisiensi 17 km untuk setiap liternya kalau menggunakan premium (kalau menggunakan pertamax bisa 22km). Jadi untuk menempuh jarak Bogor-Jakarta, diperlukan 3 liter premium. Untuk satu kali perjalanan, biaya tol yang harus dibayar adalah Rp 7.500,00. Nah, yang menarik, dengan mengasumsikan harga bbm non subsidi (pertamax) adalah Rp 8.500,00 dibandingkan harga bersubsidi yang hanya Rp 4.500,00 jika saya memakai premium, maka subsidi yang saya pergunakan setiap kali menempuh Bogor-Jakarta adalah sebesar Rp 12.000,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, kalau memang bbm tidak disubsidi, pemerintah bisa menggratiskan tol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya bayangkan sekarang, andai saja pemerintah mau mensubsidi setiap penumpang KRL Bogor-Jakarta sebesar Rp 12.000,00 per penumpang, bagai mana kira-kira kualitas layanan commuter line? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa selalu disebutkan bahwa transportasi kereta api selalu merugi dan membutuhkan subsidi seolah-olah transportasi berbasis mobil tidak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7343170798448312279?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7343170798448312279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7343170798448312279' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7343170798448312279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7343170798448312279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2012/01/subsidi-transportasi.html' title='Subsidi Transportasi'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-740570193284717997</id><published>2011-08-08T10:33:00.002+07:00</published><updated>2011-08-08T10:40:43.626+07:00</updated><title type='text'>Blog dan Gaya Hidup</title><content type='html'>Setelah lama sekali tidak menulis, saya memutuskan untuk mencoba kembali menulis di blog ini. Mencoba kembali, artinya setelah posting yang satu ini saya berharap bisa terus menulis secara 'cukup' teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menulisnya saya di blog, sebetulnya tidak terlalu berhubungan dengan tren IT yang ada. Bukan karena blog tidak lagi ngetrend dan digantikan, misalkan, oleh microblog, twit, dan sebaginya. Bukan, bukan karena itu. Saya sendiri tidak terlalu peduli trend. Lagi pula rasanya tulisan terlalu pendek seperti twit atau microblog tidak terlalu cocok buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada yang berubah. Saya dulu punya kebiasaan tidur malam, dan sampai malam itu berada di depan komputer. Di suasana malam yang seperti itu, biasanya dorongan untuk menulis keluar. Bermacam-macam tulisan. Tapi akhir-akhir ini, mungkin setahun belakangan ini, walau pun masih dapat diterima di banyak organisasi kepemudaan, saya merasa bahwa umur saya tidak lagi muda (baru saja ulang tahun ke 25). Karena itu saya pikir tidak baik untuk tidur terlalu malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, terjadi perubahan kebiasaan. Untuk pekerjaan sendiri pun, efektivitas saya rasanya menurun. Proposal melambat, email banyak telat berbalas, dan sebagainya. Karena pada dasarnya saya tidak terbiasa produktif di siang hari. Siang hari biasanya untuk jalan dan ketemu orang. Saya masih berjuang untuk mengubah hal ini, dan memanfaatkan semaksimal mungkin waktu kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, saya harap, bisa kembali meramaikan blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, is there someone there still read this blog?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-740570193284717997?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/740570193284717997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=740570193284717997' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/740570193284717997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/740570193284717997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2011/08/blog-dan-gaya-hidup.html' title='Blog dan Gaya Hidup'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-8493959898862578837</id><published>2010-06-23T10:11:00.000+07:00</published><updated>2010-06-23T10:12:10.203+07:00</updated><title type='text'>Tim Robotika ITB Meraih Juara Pertama Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2010</title><content type='html'>BANDUNG, itb.ac.id - Tim ASA Institut Teknologi Bandung meraih juara pertama dalam Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2010 untuk kategori robot berkaki.Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu dan Minggu (19-20/06/10). Tim ASA terdiri dari Syawaludin Rachmatullah, Samratul Fuady dan Ashlih Dameitry yang ketiganya merupakan mahasiswa Teknik Elektro.KRCI 2010 sendiri diikuti oleh 56 tim dari seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian untuk KRCI 2010 kali ini adalah kecepatan robot dalam memadamkan api yang berada di suatu titik di lintasan. Robot berkaki yang dibuat oleh tim ASA menjadi robot yang paling cepat dalam memadamkan api, dibutuhkan waktu 9 detik untuk memadamkan api yang berada di sebuah sumber api. Bahkan menurut Dody Suhendra sebagai manajer tim, juara kedua dari kategori robot berkaki hanya mencapai waktu 22 detik untuk memadamkan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontes Robot ini terdiri dari Kontes Robot Indonesia (KRI), Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) dan Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI). KRCI sendiri dibagi lagi ke dalam kategori robot beroda, berkaki dan battle. Setiap robot di setiap kategori memiliki fungsi yang berbeda-beda. KRI mengharuskan sebuah robot yang bertema "Bersama Membangun Candi Prambanan". Kemudian untuk KRCI beroda dan berkaki mewajibkan robot yang bisa memadamkan api, sedangkan robot dalam KRCI battle memiliki fungsi sebagai penangkap bola. Terakhir adalah KRSI yang mengharuskan membuat robot penari pendet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Hingga Menjadi Juara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami menyeleksi para tim terlebih dahulu dari rancangan proposal yang diajukan kepada Unit Robotika ITB, setelah itu baru kami mengajukan kepada DIKTI untuk pengujian proposal dan monitoring." tegas Dody Suhendra saat ditemui oleh Kantor Berita pada Selasa (22/06/10). Dody juga menuturkan bahwa tim KRSI ITB gagal dalam monitoring DIKTI sehingga tidak bisa melanjutkan ke final regional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam final Regional tim robotika ITB lolos mewakili regional 2 yang terdiri dari Jawa Barat, Banten dan Jakarta untuk tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah KRI, KRCI berkaki dan KRCI battle. Sukses di final regional menjadi semangat bagi tim Robotika untuk menorehkan prestasi di tingkat nasional. Berkat ketekunan dan dukungan dari seluruh pihak, tim ASA yang bertanding dalam KRCI berkaki meraih juara pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap Berkarya dalam Keterbatasan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Robot yang kami ciptakan 100% karya mahasiswa, dengan waktu yang relatif singkat dan segala keterbatasan kami dapat menciptakan robot ini." ujar Ashlih Dameitry. Bersama anggota tim yang lain ia membuat robot tersebut dalam kisaran waktu tiga hingga empat bulan, padahal kisaran waktu normal untuk membuat sebuah robot adalah enam hingga delapan bulan. Selain itu dalam rentang waktu tersebut dibuatlah 10 buah robot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi tim Robotika ITB. Meski sempat kesulitan dalam dana dan tempat, mereka tetap berkarya dalam pembuatan robot tersebut. "Dana untuk pembuatan kesepuluh robot ini kami dapat dari Ikatan Alumni Elektro '75, '79, dan '80, dari fakultas baik itu Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) maupun Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), PLN, Telkom, LPKM dan DIKTI." tambah Dody. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masalah ruangan, beberapa alternatif ruang kosong dimanfaatkan tim robotika ITB seperti di tunnel yang dijadikan ruangan untuk tim robot KRI dan salah satu laboratorium elektro untuk menjadi bengkel bagi tim robotika. Tim Robotika ITB berhasil membuktikan bahwa berkarya dalam keterbatasan tidak menyurutkan semangat dalam berprestasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-8493959898862578837?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.itb.ac.id/news/2872.xhtml' title='Tim Robotika ITB Meraih Juara Pertama Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2010'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/8493959898862578837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=8493959898862578837' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8493959898862578837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8493959898862578837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/06/tim-robotika-itb-meraih-juara-pertama.html' title='Tim Robotika ITB Meraih Juara Pertama Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2010'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4302194538068635877</id><published>2010-05-25T22:30:00.001+07:00</published><updated>2010-05-25T22:30:47.029+07:00</updated><title type='text'>Ilmuwan Muda RI Raih Penghargaan Internasional IEEE</title><content type='html'>Taipei - Satu lagi ilmuwan muda Indonesia di luar negeri menorehkan prestasi membanggakan. Dr. Khoirul Anwar, berhasil meraih penghargaan dari Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring, Taipei, Taiwan (16-19/5/2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan berupa Best Paper kategori Young Scientist itu diterima Khoirul untuk makalahnya berjudul Chained Turbo Equalization for Single Carrier Block Transmission without Guard Interval. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makalah ini telah dipatenkan di Jepang dan sebuah perusahaan besar di Jepang telah membelinya pada awal Januari 2010. Royalty pertama paten tersebut saya berikan kepada orangtua di Indonesia," tutur Khoirul kepada koresponden detikcom di Den Haag melalui Sekjen Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I4) hari ini, Selasa (25/5/2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Khoirul, Asisten Profesor pada Japan Advanced Institute of Science and Technolgy (JAIST) yang juga salah seorang Wakil Ketua I4, patennya tersebut adalah yang kedua selepas meraih gelar doktor dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya Khoirul telah mematenkan Orthogonal Frequency Division Multiplexing, yakni teknologi yang mampu menurunkan power sampai 5dB=100.000 kali lebih kecil dari yang diperlukan sebelumnya dan mampu menghilangkan sama sekali guard interval (GI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berharap agar ke depan para ilmuwan di Indonesia lebih banyak mengambil kesempatan untuk berpartisipasi dalam konferensi–konferensi internasional serupa, sehingga dapat terus mengupdate teknologi terbaru, terutama yang ramah lingkungan, murah dan mudah," pesan Khoirul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konferensi IEEE VTC dihadiri oleh sekitar 1000 ahli telekomunikasi, profesor dan doktor dari seluruh dunia. IEEE adalah asosiasi profesional terbesar di bidang elektro dan informasi, yang bertujuan untuk mendorong peningkatan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan konferensi bergengsi tersebut menyebutkan bahwa saat ini para ilmuwan telekomunikasi didesak untuk segera mengembangkan teknologi telekomunikasi ramah lingkungan. Antara lain teknologi yang mampu mencapai Shannon Limit, energi sedikit, namun kemungkinan kesalahan juga sedikit.  (es/es)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4302194538068635877?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.detiknews.com/read/2010/05/25/212419/1364076/10/ilmuwan-muda-ri-raih-penghargaan-internasional-ieee?991102605' title='Ilmuwan Muda RI Raih Penghargaan Internasional IEEE'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4302194538068635877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4302194538068635877' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4302194538068635877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4302194538068635877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/ilmuwan-muda-ri-raih-penghargaan.html' title='Ilmuwan Muda RI Raih Penghargaan Internasional IEEE'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-308526557782527017</id><published>2010-05-21T18:31:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T18:45:59.519+07:00</updated><title type='text'>Tim Big Bang Indonesia Menyabet Gelar Juara Imagine Cup Dunia 2009</title><content type='html'>Bukan sekedar perjalanan, melainkan perjuangan. Mungkin kalimat itu pantas disandangkan pada Tim Big Bang Indonesia. Siapa mereka? Bisa kita menyebutnya pahlawan. Bukan berjuang dengan senjata, melainkan dengan karya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka adalah tim yang berhasil membawa pulang gelar juara dunia pada ajang Imagine Cup 2009. Kali ini, bendera Indonesia berhasil berkibar di Mesir. Sungguh pencapaian yang sangat membanggakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Kita ingin mengibarkan bendera Indonesia di Kairo,” tegas David Samuel, Tim Big Bang, Juara Dunia Imagine Cup 2009. Mereka berhasil memenangkan ajang yang mempertandingkan karya-karya IT dari seluruh dunia. Setelah menjuarai Imagine Cup Indonesia lalu, David dan rekan-rekannya melaju ke pentas IT di dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adalah MOSES, sebuah karya anak bangsa yang menyabet penghargaan bergengsi tersebut. Malaria Observation System and Endemic Surveillance (MOSES) merupakan sistem terintegrasi yang menggabungkan hardware dan software untuk mendiagnosis pasien yang tinggal di daerah terisolasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karya ini mengalahkan teknologi-teknologi dari negara lainnya. Menurut David, pesaing terberat dalam Imagine Cup tingkat dunia ini adalah peserta dari Brazil, Polandia, dan Rumania.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Kami menyadari bahwa masalah yang kami angkat memang merupakan masalah yang pelik, dan kami tentu ingin membantu dari sisi teknologi, terutama untuk mengentaskan masalah kesehatan di Indonesia,” tutur David, mahasiswa Teknik Informatika Insitut Teknologi Bandung (ITB).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;David menambahkan, kemenangan kali ini memberikan kesan yang sungguh mendalam. Menurutnya, rasanya aneh sekaligus nyaman, karena Imagine Cup bisa mengumpulkan para nerds (gila IT) dan geeks dari seluruh dunia. ”Seperti keluarga, punya kesukaan sama, dan masing-masing memiliki teknologi unggulan semua,” kenangnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu bukan perkara mudah untuk membawa pulang gelar juara tersebut. Berbagai pihak ikut membantu Tim Big Bang melaju ke tingkat dunia. Di antaranya, para dosen TI ITB, lalu Cahyana Ahmadjayadi, Dirjen Aplikasi dan Informatika Depkominfo, dan pihak-pihak lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum berangkat ke negeri Firaun tersebut, tim ini tak hanya mempersiapkan masalah teknis, tetapi juga non-teknis. Salah satunya mengenai pemahaman masalah teknologi yang terkait dengan kehidupan masyarakat. Bahkan, tim Big Bang sempat bertemu dengan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, terkait dengan aplikasi yang mereka kembangkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Pada awalnya kami sempat sedih karena merasa tidak punya kans untuk mengibarkan bendera Indonesia di Kairo. Namun ketika nama Tim Big Bang dipanggil, kami sempat bingung, karena ada nama tim Big Bang juga yang berasal dari Belarusia. Namun setelah di layar terpampang nama kami berempat, kami pun melonjak kegirangan lalu naik ke podium untuk menerima penghargaan,” ungkapnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak hanya pengalaman indah yang mereka rasakan di Kairo, pengalaman buruk pun sempat menimpa tim ketika berkunjung ke Piramida. Bangunan peninggalan Mesir kuno ini meninggalkan kesan khusus bagi David dan rekan-rekannya. Di makam Firaun tersebut, mereka sempat menjadi korban ”pemerasan” dari preman di tempat itu. ”Ternyata seenak-enaknya negeri orang, lebih nyaman negeri sendiri,” kenang David.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini bukan hanya sebuah kenangan, tetapi prestasi yang harus terus dilanjutkan. David berharap, penghargaan dan prestasi tidak berhenti sampai di situ. Dia dan rekan-rekannya akan terus melanjutkan perjuangan, tentunya untuk mengibarkan kembali bendera Indonesia di negeri orang. Terus berjuang... [Ria]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-308526557782527017?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.teknopreneur.com/content/tim-big-bang-indonesia-menyabet-gelar-juara-imagine-cup-dunia-2009' title='Tim Big Bang Indonesia Menyabet Gelar Juara Imagine Cup Dunia 2009'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/308526557782527017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=308526557782527017' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/308526557782527017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/308526557782527017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/tim-big-bang-indonesia-menyabet-gelar.html' title='Tim Big Bang Indonesia Menyabet Gelar Juara Imagine Cup Dunia 2009'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5948391896741166349</id><published>2010-05-21T11:33:00.003+07:00</published><updated>2010-05-21T18:54:36.683+07:00</updated><title type='text'>Mengkritik Lemahnya Humas ITB</title><content type='html'>Sebagai alumni, salah satu hal yang saya kritik tajam adalah lemahnya humas ITB. Saya tidak tahu apakah ini bentuk ketidakmampuan atau keacuhan/arogansi di mana humas tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak berita tentang prestasi ITB yang bahkan tidak masuk ke pojok koran nasional, bahkan daerah dan hanya didistribusikan melalui email di milis-milis. Untuk mengetahuinya, anda harus rajin menelusuri milis dan web-web internal ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kumpulkan beberapa prestasi mahasiswa ITB 2009-2010 di blog ini untuk dapat dilihat bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dhita.blogspot.com/2010/05/palapa-ii-teknologi-bercita-rasa.html"&gt;http://dhita.blogspot.com/2010/05/palapa-ii-teknologi-bercita-rasa.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dhita.blogspot.com/2010/05/tim-itb-raih-meritorius-winner-dalam.html"&gt;http://dhita.blogspot.com/2010/05/tim-itb-raih-meritorius-winner-dalam.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dhita.blogspot.com/2010/05/mahasiswa-itb-menangkan-kontes-robot-di.html"&gt;http://dhita.blogspot.com/2010/05/mahasiswa-itb-menangkan-kontes-robot-di.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dhita.blogspot.com/2010/05/juri-krac-2008-ganjar-tim-uav-garuda.html"&gt;http://dhita.blogspot.com/2010/05/juri-krac-2008-ganjar-tim-uav-garuda.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dhita.blogspot.com/2010/05/itb-raih-dua-award-pada-lomba.html"&gt;http://dhita.blogspot.com/2010/05/itb-raih-dua-award-pada-lomba.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5948391896741166349?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5948391896741166349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5948391896741166349' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5948391896741166349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5948391896741166349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/mengkritik-lemahnya-humas-itb.html' title='Mengkritik Lemahnya Humas ITB'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3124078031224672089</id><published>2010-05-21T11:28:00.002+07:00</published><updated>2010-05-21T11:30:56.687+07:00</updated><title type='text'>Tim ITB Raih Meritorius Winner Dalam Kontes Modeling Matematika Dunia</title><content type='html'>BANDUNG, itb.ac.id - Tim Pemodelan Matematika ITB yang mengikuti Mathematical Contest in Modeling (MCM) dan The Interdisciplinary Contest in Modeling (ICM) memperoleh penghargaan Meritorious  Winner. Tim MCM terdiri atas Rizki Irawan, Levina Diansari, Mika Hasiholan, dibawah bimbingan Dr. Nuning Nuraini. Sedangkan Tim ICM, dibawah bimbingan Dr. Agus Yodi Gunawan beranggotakan Prima Deffinika, Widya NF, dan Karina Trisnanita. Penghargaan diberikan awal April 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Tim ITB lainnya, yakni Citra Ramadiana, Gusti Intania, Dinar Rachmi, dibawah bimbingan Prof. Edy Soewono, dan Andrew Raymond, Zulkarnain, Aditya, dibawah bimbingan Dr. Kuntjoro AS, memperoleh penghargaan sebagai Successful Participants.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MCM (Mathematical Contest in Modelling), merupakan lomba pemodelan matematika tahunan tingkat internasional. Tahun ini MCM diikuti oleh 1675 tim, dan ICM sebanyak 374 tim dan dari berbagai negara di dunia. Setiap tim berkompetisi untuk memecahkan masalah pemodelan matematika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, setiap peserta lomba berkesempatan menang. Dengan mengirimkan hasil laporan bahasa inggris berupa summary dan resume, peserta lomba akan mendapat penghargaan successful participant. Tentunya bagi tim dengan paper berkualitas akan mendapat penghargaan lebih. Laiknya olimpiade sains, penerima medali bisa terdiri dari beberapa orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lima kali keikutsertaan lomba ini, ITB tercatat pernah mendapat satu perak dan cukup banyak perunggu. Biaya pendaftaran dan akomodasi peserta selama mengikuti lomba ditanggung 100% oleh Program studi Matematika ITB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3124078031224672089?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.itb.ac.id/news/2411.xhtml' title='Tim ITB Raih Meritorius Winner Dalam Kontes Modeling Matematika Dunia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3124078031224672089/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3124078031224672089' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3124078031224672089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3124078031224672089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/tim-itb-raih-meritorius-winner-dalam.html' title='Tim ITB Raih Meritorius Winner Dalam Kontes Modeling Matematika Dunia'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3833857080104985859</id><published>2010-05-21T11:27:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T11:28:11.703+07:00</updated><title type='text'>Mahasiswa ITB Menangkan Kontes Robot di AS</title><content type='html'>Ada kabar menarik terkait prestasi anak bangsa. Mahasiswa Institut Tekhnologi Bandung (ITB), kembali mengharumkan nama bangsa dengan robot ciptaannya. Mereka berhasil menciptakan robot pemadam api sekaligus memenangkan kontes robot di Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Sekilas bentuk robot ini terlihat seperti seekor laba-laba, tapi ini bukan robot biasa, robot berkaki enam ini mampu mendeteksi api di dalam ruangan yang berliku tanpa harus dikontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link lain terkait&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.itb.ac.id/news/2488.xhtml&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3833857080104985859?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://video.tvone.co.id/arsip/view/39151/2010/05/16/mahasiswa_itb_menangkan_kontes_robot_di_as/' title='Mahasiswa ITB Menangkan Kontes Robot di AS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3833857080104985859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3833857080104985859' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3833857080104985859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3833857080104985859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/mahasiswa-itb-menangkan-kontes-robot-di.html' title='Mahasiswa ITB Menangkan Kontes Robot di AS'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-1527460946872850450</id><published>2010-05-21T11:22:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T11:24:01.584+07:00</updated><title type='text'>Juri KRAC 2008 Ganjar Tim UAV Garuda ITB dengan Special Prize</title><content type='html'>KOREA, itb.ac.id - Keikutsertaan perdana Tim ITB dalam 7th Korea Robot Aircraft Competition di Hanseo University, Korea Selatan terbukti tidak sia-sia. Di titik kritis menjelang libur Idhul Fitri 1429 H, Tim UAV Garuda ITB pada Sabtu (27/09) menyabet gelar Special Prize untuk Best Image System. Meski bukan predikat juara umum, special prize membuktikan Tim UAV Garuda ITB unggul dibanding peserta dari Korea, India maupun Taiwan dalam dua dari empat misi yang dipertandingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajang perhelatan kendaraan tanpa awak yang berlangsung di Lapangan Terbang Tae-an Airfield ini, ITB mengirim dua wakil yakni Tim Garuda dan Tim Kumbang. Tim Kumbang ITB bertanding dengan UAV bentuk Helicopter, sedangkan Tim Garuda ITB mengusung UAV Pesawat Fixed Wing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap UAV wajib melaksanakan 4 misi berbeda, meliputi Precission Droping, yaitu menjatuhkan obyek tertentu dalam sasaran yang telah ditentukan; Fixed Target Recognition and Geolocation atau pengenalan objek; High Quality Image Acquisition, pengambilan gambar obyek dan Sea Search atau mencari obyek dilaut dalam bentuk boneka orang yang posisinya belum diketahui. Tim UAV Garuda ITB, unggul dalam Misi 2 dan Misi 3, namun kalah dalam Misi 1 dan gagal dalam Misi 4. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keikutsertaan perdana lomba ini, selain memperoleh pengalaman bertanding dan mengukur posisi penguasaan teknologi UAV, Tim ITB juga membuktikan bahwa derajat kemandirian teknologi UAV ITB cukup tinggi dibanding peserta negara lain. Kemandirian ini meliputi teknologi dalam bentuk rancang bangun pesawat UAV, sistem kontrol, sistem sensor maupun ground station yang dipakai adalah hasil rancangan sendiri. Bukan komponen yang beredar di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Tim UAV ITB yang tergabung dalam Pusat Studi Sistem Tak Berawak atau CentrUMS (Center for Un-manned System Studies) terdiri atas Ir. Kurniantoro (Sistem Kontrol dan Navigasi Tim Garuda), Ir. Prasetyo (Sistem Kontrol dan Navigasi Tim Kumbang), Ir. Johanes Kurnia P (Sistem Ground Station), Ir. Sapto Adi Nugroho (Sistem Mekanik Tim Kumbang), Ir. Chahyadi     (Sistem Mekanik Tim Garuda), Dian  Rusdiana Hakim     (Pilot UAV Helicopter), Eman Sulaeman     (Pilot UAV Fixed Wing), Ir. Yudoyono Kartidjo (Pembimbing), dan  Prof.Dr.Ir. Muljowidodo (Pembimbing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah pesawat yang dibuat dan diprogram untuk dapat terbang secara autonomus atau tanpa ada kendali dari manusia dan digunakan untuk survei udara sipil dan militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korea Robot Aircraft Competition merupakan Kompetisi Robot Terbang yang secara berkala tiap tahun diselenggarakan oleh Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Ekonomi (Ministry of Knowledge &amp; Economy) Korea Selatan sejak 7 tahun yang lalu, dimaksudkan untuk mendorong penguasaan teknologi UAV di Korea Selatan. Kali ini, Tim Air Gate dari Chungnam University, disponsori perusahaan Samsung, keluar sebagai juara umum menyisihkan 6 Tim dari Korea Selatan, 2 Tim dari Indonesia, 1 Tim dari India dan 1 Tim dari Taiwan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan Lomba dilaksanakan oleh Korea Aerospace Industries Association &amp; The Korea Society for Aeronautical and Space Sciences. Lomba ini didukung oleh ROKAF (Republic of Korea Air Force), Hanseo University, Seo-San City, Pemerintah Provinsi Taean-Gun serta beberapa media televisi seperti KBS, MBC, SBS dan YTN.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-1527460946872850450?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.itb.ac.id/news/2222.xhtml' title='Juri KRAC 2008 Ganjar Tim UAV Garuda ITB dengan Special Prize'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/1527460946872850450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=1527460946872850450' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1527460946872850450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1527460946872850450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/juri-krac-2008-ganjar-tim-uav-garuda.html' title='Juri KRAC 2008 Ganjar Tim UAV Garuda ITB dengan Special Prize'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-537111786774520275</id><published>2010-05-21T11:21:00.001+07:00</published><updated>2010-05-21T11:21:59.445+07:00</updated><title type='text'>ITB Raih Dua Award pada Lomba Perancangan Prosesor di Jepang</title><content type='html'>BANDUNG, itb .ac.id - Tim Ganesha ANT berhasil meraih penghargaan tertinggi dari Japan Society of Information and Communication, IEICE, pada lomba perancangan chip: LSI-Design Contest 2009. Ganesha ANT, beranggotakan mahasiswa STEI ITB: Tyson, Aisar L. Romas, dan R. Siti Intan, berhasil menyisihkan finalis dari Universitas ternama di Jepang dan Korea. Pada lomba yang sama, satu tim lagi, yaitu Team Zoiros, mendapat penghargaan dari Multinational Company, Xilinx® Award.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Team Ganesha ANT mengajukan rancangan prosesor baru yang dapat mengeksekusi proses secara paralel. Prosesor tersebut memiliki keunggulan dalam kecepatan proses dibanding prosesor yang umum dipakai sekarang. Hasil rancangan tim tersebut berupa prototipe komputer kecil yang dapat menjalankan "Game Hangman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para juri sangat terkesan dengan inovasi baru dalam prosesor tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan harapan yang disampaikan juri agar prosesor tersebut dapat diterapkan di Industri IT. Para juri pun berujar bahwa prosesor karya mahasiswa ITB ini dapat meningkatkan kinerja perangkat elektronika seperti Komputer, PDA, Smart Phone dan lain sebagainya. Teknologi prosesor sendiri saat ini biasanya dikuasai oleh industri-industri hi-tech, seperti Intel, Sun Microsystems, dan IBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Zoiros yang membuat rancangan prosesor dengan kecepatan mencapai 1 GigaHertz berhasil menunjukkan keunggulan sistem mereka dari peserta lainnya. Prototipe komputer tim yang beranggotakan mahasiswa STEI ITB: Randy Hari Widialaksono, Ahmad Fajar Firdaus, dan Iman Prayudi juga dapat memperagakan kemampuan prosesor dalam menjalankan "Video Game Sokoban".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua Tim dipersiapkan selama 6 bulan melalui kuliah perancangan chip di STEI ITB oleh Dr. Trio Adiono. Lomba ini merupakan lomba tahunan bertaraf internasional yang diadakan di kota resort paling terkenal di Jepang, yaitu Okinawa. Para juri pada lomba ini berasal dari akademisi dan perusahaan-perusahaan terkenal di dunia elektronika internasional. Prestasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kompetensi yang tidak kalah dengan negara industri lainnya, khususnya dalam industri microchip dan IT. Hal ini juga sekaligus menunjukan kesiapan ITB sebagai institusi pendidikan bertaraf internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba ini ditujukan untuk melahirkan pakar-pakar perancang chip di daerah yang terkenal dengan industri elektronikanya - Jepang, Korea, China, Taiwan sampai dengan Singapura- dimana kebutuhan akan keahlian tersebut sangatlah tinggi. Keberangkatan tim didukung oleh Cisco Systems Indonesia dan Alumni ITB 75.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-537111786774520275?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.itb.ac.id/news/2396.xhtml' title='ITB Raih Dua Award pada Lomba Perancangan Prosesor di Jepang'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/537111786774520275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=537111786774520275' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/537111786774520275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/537111786774520275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/itb-raih-dua-award-pada-lomba.html' title='ITB Raih Dua Award pada Lomba Perancangan Prosesor di Jepang'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-1846634031240886707</id><published>2010-05-21T11:18:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T11:19:08.962+07:00</updated><title type='text'>ITB Cetak Hat-trick di Imagine Cup Indonesia</title><content type='html'>BANDUNG, itb.ac.id - Tiga tahun berturut-turut, tim dari ITB memenangi Imagine Cup Indonesia, sebuah kompetisi inovasi pembuatan software yang diselenggarakan Microsoft. Terakhir, dengan menempatkan tiga dari empat finalis, ITB kembali mengirimkan wakilnya berkompetisi ke kancah dunia melalui wakilnya tim Ganesh dengan karya Mosaic yang memenangi Imagine Cup Indonesia, Selasa (11/05/10) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mosaic merupakan aplikasi untuk memerangi wabah flu dengan memberikan informasi yang tepat. Aplikasi tersebut merupakan aplikasi yang mendorong orang untuk berbagi informasi mengenai flu. Informasi berupa wabah flu, data rumah sakit, dokter, sampai layanan kesehatan dapat diakses seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Ganesh akan mewakili Indonesia pada Imagine Cup tingkat dunia yang akan berlangsung bulan Juli mendatang di Polandia. Tahun lalu, tim Big Bang yang juga asal ITB menyabet Mobile Device Award pada Imagine Cup tingkat dunia yang diselenggarakan di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak Indonesia tidak kalah dengan anak-anak dari negara lain," kata Menteri Pemuda dan Olah Raga, Andi Mallarangeng yang menghadiri pengumuman pemenang Imagine Cup 2010 Indonesia. Menpora juga menjelaskan kalau tolak ukur yang digunakan oleh anak-anak Indonesia jangan lagi teman-teman sekampus, tapi dengan anak-anak di tingkat internasional. "Jangan puas jadi jagoan di UGM, UI, atau ITB. Tapi, jagoan di dunia. Kita ciptakan Bill Gates-Bill Gates Indonesia," kata Menpora disambut tepuk tangan para mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finalis Imagine Cup 2010 Indonesia terdiri dari empat tim. Uniknya, tiga tim dari ITB berasal dari satu Program Studi dan angkatan yang sama, Teknik Informatika 2006. Hasil Imagine Cup Indonesia lainnya menempatkan tim OddByte dari ITB pada posisi ke-2 dan tim Wolfgang dari UGM pada posisi ketiga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-1846634031240886707?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.itb.ac.id/news/2840.xhtml' title='ITB Cetak Hat-trick di Imagine Cup Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/1846634031240886707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=1846634031240886707' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1846634031240886707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1846634031240886707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/itb-cetak-hat-trick-di-imagine-cup.html' title='ITB Cetak Hat-trick di Imagine Cup Indonesia'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3259602850887140873</id><published>2010-05-21T11:17:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T11:18:21.032+07:00</updated><title type='text'>PALAPA II, TEKNOLOGI BERCITA RASA INDONESIA</title><content type='html'>Secara global indonesia mengalami perkembangan teknologi yang cukup pesat terutama di bidang informatika. Berdasarkan data Wireless Intelegent Indonesia akhir tahun 2009, pengguna telefon seluler di negara ini meningkat tajam 214 persen dalam jangka waktu tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, perkembangan tersebut tidak merata di seluruh wilayah termasuk Jawa Barat. Terutama daerah Jawa Barat bagian selatan. Bahkan, di wilayah ini masih banyak ditemukan desa yang belum terjangkau Perusahaan Listrik Negara, seperti Desa Mekarwangi, Kecamatan, Cihurip Kabupaten Garut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu mendorong Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) Institut Teknologi Bandung (ITB) membangun desa mandiri ekonomi berbasis energi terbarukan yang dinamakan Palapa II. Terbatasnya akses untuk mendapatkan energi ditanggulangi dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, dengan adanya sumber energi tersebut HME ITB juga membangun empat peternakan ayam dan satu inkubator telur. "Diharapkan peternakan ini bisa menghasilkan sehingga masyarakat bisa mandiri secara ekonomi," ujar Ketua Proyek Palapa II HME ITB Ramadhani Wahono seusai peresmian Palapa II di Garut, Rabu (19/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga surya tersebut mampu menghasilkan energi sampai 1.000 wp (watt peak) per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain peternakan, energi listrik tersebut digunakan untuk menerangi 600 meter jalan desa serta fasilitas masyarakat lainnya seperti masjid dan rumah buku. "Angkatan sebelumnya sudah pernah membangun projek Palapa I di desa yang tidak jauh dari sini. Alasan pemilihan Desa Mekarwangi yaitu agar pembangunan desa mandiri dilakukan secara berkesinambungan di satu kawasan," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya tidak sia-sia, selain dapat membantu masyarakat desa tertinggal, projek ini juga menjadi juara ke-tiga ajang internasional bertajuk "President Change the World Competition" yang diselenggarakan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Mereka akan meraih penghargaan tersebut secara langsung di Kanada pada 23 Juni 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor ITB Prof. Akhmaloka mengatakan, projek ini merupakan salah satu wujud aplikasi teknologi cita rasa Indonesia. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki sinar matahari yang berlimpah. "Mengapa tidak kita manfaatkan saja kelebihan itu untuk melakukan pembangunan fasilitas masyarakat," ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asisten Daerah (Asda) II Kab.Garut Budiman menyebutkan, Kab. Garut memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi hingga saat ini masih menjadi kabupaten tertinggal. "Salah satu penyebabnya, rasio elektrifikasi masih rendah," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya 43.114 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 27 kecamatan belum teraliri listrik atau setara dengan 60% jumlah KK se-Garut. Pada 2009, Pemkab Garut baru dapat mewujudkan aliran listrik yang dulunya gelap, di antaranya Desa Cikarang Kec. Cisewu, Desa Mekarmukti Kec. Cibalong, dan Desa Mekarwangi Kec. Cihurip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Kp. Babakan Palahan, Desa Mekarwangi, Kec. Cihurip, Iin Saiful Rohmat (40) mengaku bersyukur kampungnya mendapat aliran listrik. "Setelah rumah mendapat jaringan listrik, sekarang fasilitas umum juga mendapat aliran listrik. Kampung kami tidak lagi poek mongkleng, tetapi terang benderang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya sebatas pasokan listrik untuk masjid, jalan desa, dan peternakan ayam, lanjut Iin, tetapi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. "Kegiatan peternakan ayam akan sangat berguna untuk peningkatan ekonomi warga. Dengan bantuan listrik, terbuka kesempatan warga bisa mandiri," ungkapnya. (Tia Komalasari/Ririn N.F./"PR") ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3259602850887140873?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=141315' title='PALAPA II, TEKNOLOGI BERCITA RASA INDONESIA'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3259602850887140873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3259602850887140873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3259602850887140873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3259602850887140873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2010/05/palapa-ii-teknologi-bercita-rasa.html' title='PALAPA II, TEKNOLOGI BERCITA RASA INDONESIA'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3975124685846283431</id><published>2009-12-16T22:48:00.001+07:00</published><updated>2009-12-16T22:48:57.557+07:00</updated><title type='text'>Test Note</title><content type='html'>Tahu-tahu sebuah email masuk, notifikasi dari blogspot. Komentar dari Mas Hengky,’Saya belum bosan ngeblog.’ di posting saya yang berjudul,’Tidak, saya belum bosan ngeblog’.&lt;br /&gt;Tidak jelas juga apa maksud Mas Hengky. Tapi saya simpulkan, bahwa Mas Hengky menyindir saya yang sudah jarang ngeblog. Saya buka blog saya, ternyata tanggal posting terakhir adalah 23 September 2009. Lama juga, hampir 2 bulan.&lt;br /&gt;Ya, saya belum sempat ngeblog lagi. Ada beberapa alas an.&lt;br /&gt;Pada dasarnya saya orang yang selalu bisa mencuri waktu. Deadline apa pun yang saya hadapi sejak dulu: ebtanas, umptn, tugas akhir, kepanitiaan, dsb., saya tetap selalu punya waktu untuk melakukan apa yang saya suka. Apakah itu membaca, main game, jalan-jalan, ngobrol dengan teman, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Sampai 6 minggu terakhir, saya diberi tanggung jawab untuk satu pekerjaan yang serius. Serius karena harus dikerjakan dengan serius, serius karena hasilnya juga sangat serius. Jadi selama 6 minggu saya pergi pagi dan pulang malam. Jam 7 sudah berangkat (paling lambat), jam 23 baru sampai rumah. Kadang-kadang memang tidak, tapi kurang lebih begitulah. Dan selama di sana juga tidak banyak main, terus menerus di depan komputer melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;Di akhir minggu, Sabtu, saya juga punya tanggung jawab lain yang harus diselesaikan. Thesis, yang kabarnya harus selesai Desember ini. Surat peringatannya sudah sampai ke rumah. Dan lagi-lagi, rumah ibu saya. Untung saja, ibu saya sudah pengalaman dengan surat begini sejak saya S1. &lt;br /&gt;Selain itu ada beberapa pekerjaan lain yang antri, tidak dikerjakan karena memang membutuhkan saya secara fisik ada di sana, walau tidak terlalu intensif.&lt;br /&gt;Jadi saya benar-benar kehabisan waktu. Dan cape. Bukannya saya tidak mengeluh. Tidak. Saya selalu ingat pesan orang tua saya,”Lebih baik kekurangan waktu dari pada kelebihan.” Saya kira itu benar sekali.&lt;br /&gt;Yang kedua, sejak akhir pemilu 2009 kemarin, terlalu banyak yang terjadi. Anda yang membaca blog saya tentu tahu saya mendukung JK. Sampai sekarang saya masih ingin bertemu JK untuk sekedar ngobrol, walau dia sudah bukan siapa-siapa lagi. Bukan saya bilang kepemimpinan SBY jelek, tidak. Hanya saya berpendapat JK bisa lebih baik. Dan lebih cepat tentunya… Tentu,ini hanya pendapat saya dan saya mungkin salah. Buktinya, 36% orang Indonesia tidak setuju dengan saya dan hanya 6% yang setuju (ingat, yang mencoblos hanya sekitar 60%, dan dari angka itu SBY mendapat 60% dan JK 10%).&lt;br /&gt;Yang saya tidak menyangka, bahwa efek dari kalahnya dukungan saya di pemilu terasa dengan cepat sekali, bahkan dimulai ketika pasangan Presiden-Wakil Presiden baru belum dilantik.&lt;br /&gt;Kasus KPK, kasus Mbak Minah, kasus Prita, dan sebagainya. Saya merasa tidak punya pemerintah. Seakan-akan kita hanya segerombolan orang yang kebetulan tinggal di Indonesia, dan masing-masing sibuk mencari selamat sendiri.&lt;br /&gt;Apakah kalau JK presidennya lebih baik? Seperti yang saya bilang di atas, saya mungkin salah. Tapi saya pikir begitu. Bagi anda yang berpikir saya menjelek-jelekkan SBY, saya ingatkan bahwa saya tidak bermaksud demikian. Saya menulis justru karena harapan saya pada SBY. Karena SBY masih akan memerintah kita 5 tahun lagi, dan dari hati saya yang paling dalam saya mendoakan beliau berhasil dengan nilai setinggi-tingginya.&lt;br /&gt;Kembali ke kasus-kasus di atas. Saya sering kali heran bagai mana orang-orang yang duduk di pemerintahan gampang lupa dengan pemikiran-pemikiran yang sebetulnya menjadi dasar dari kebijaksanaan mereka sendiri.&lt;br /&gt;Contoh sederhana, busway. Sekarang kita bisa lihat, bahwa setiap kali jalanan macet berat, maka jalur busway dibuka. Kendaraan pribadi boleh masuk. Alasannya,”Supaya kemacetan tidak terlalu parah.” Padahal sudah jelas, bahwa busway dibangun dengan ratusan milyar rupiah supaya kita punya jalur bus yang tidak macet. Se-Jakarta boleh macet, tapi busway jangan.&lt;br /&gt;Kasus yang sama juga terjadi dengan KPK. KPK mau dibatasi kewenangannya. UU penyadapan mau diatur. Kalau menyadap harus ijin pengadilan. “Seperti di negara-negara luar,” katanya,”setiap penyadapan di mana pun pasti begitu.” &lt;br /&gt;Koq kayaknya lupa, kalau KPK itu di Indonesia dibentuk justru karena sebagian besar sudah tidak percaya lagi dengan institusi-institusi hokum yang lain. Malah minta ijin. Nanti, kalau indeks persepsi Indonesia sudah mendekati Singapura. Baru kita samakan prosedur dengan negara lain.&lt;br /&gt;Mbak Minah mengambil kakao beberapa biji, dipenjara 2 bulan. Anda bayangkan, koruptor-koruptor yang mengambil puluhan milyar tidak pernah ada yang kena lebih dari 5 tahun. Yang dicuri Mbak Minah nggak sampai 100 ribu. &lt;br /&gt;Apakah salah, orang mencuri kakao dipenjara? Tidak, kalau saja pencuri-pencuri besar juga. Inti dari hukum adalah penciptaan rasa keadilan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Tapi memang dengar-dengar, Mbak Minah terlibat urusan KPK. Karena waktu ditanya, buat apa dia mengambil kakao, Mbak Minah menjawab,”Untuk bibit…”&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong Bibit. Waktu mendengarkan pidato SBY setelah rekomendasi tim 8, saya melihat Bibit mendengarkannya di rumahnya. Yang saya perhatikan, Bibit menonton pidato itu di sebuah tv 14 inch. Cembung. Bibit itu eks Kapolda saudara-saudara. Saya bahkan nggak punya tv cembung di rumah. Selain itu, mejanya mengingatkan meja nenek saya ketika saya liburan dl waktu SD.&lt;br /&gt;Saya bingung juga, apa mungkin Bibit nonton di rumah pembantunya? Mungkin rekan-rekan wartawan bisa menjawab.&lt;br /&gt;Kayaknya gitu dl deh. Pusing…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3975124685846283431?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3975124685846283431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3975124685846283431' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3975124685846283431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3975124685846283431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/12/test-note.html' title='Test Note'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-815271879643980664</id><published>2009-09-23T21:20:00.003+07:00</published><updated>2009-09-23T21:24:09.284+07:00</updated><title type='text'>Catatan Iseng Lebran 2009</title><content type='html'>Ramadhan kali ini rasanya payah sekali. Kalau dilakukan self-assessment dan self-evaluation, maka saya akan beri diri saya nilai C. Itu juga sudah di ambang batas bawah D. Duh, mohon maaf ya Allah. Mudah-mudahan apa yang saya kerjakan boleh dimasukkan dalam kategori berjuang, sehingga masuk dalam nilai ibadah yang pahalanya berlipat ganda di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah yang saya dapat dari puasa kali ini adalah, bahwa jauh lebih sulit untuk menahan diri setelah bulan puasa selesai dibandingkan waktu sedang puasa itu sendiri. Saya sendiri tidak terlalu terganggu dengan lapar. Saya lebih tidak tahan dengan hausnya.  Seperti selalu saya deskripsikan diri saya sendiri, saya seorang peminum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi waktu bulan puasa itu saya sempat ke Singapura. Dan saya perhatikan (terakhir ke sana saya tidak memperhatikan) bahwa di sana sedang banyak minuman dengan nama ‘Bandung’. Saya sempat cicip 2-3x. Kesimpulan saya, ini adalah sirup campolay + susu kental manis. Tanpa soda. Untuk mereka tidak member nama minuman ini ‘Sabah’ atau ‘Sarawak’ misalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia ini memang kelewatan. Mereka jualan peyek bungkusan dengan cap bertuliskan ‘makanan terenak di Malaysia’ (saya tidak tahu harus sedih karena peyek juga sudah diklaim atau karena makanan terenak di Malaysia ternyata cuma peyek?), mereka menjual album religi menjelang Lebaran yang isinya melulu lagu-lagu Indonesia (‘selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin’, ini saya yakin lagu Indonesia karena dulu didendangkan di jaman Orba untuk Pak Harto), dan ternyata di brosur wisata mereka, kalau kita jalan-jalan ke Negeri Sembilan maka kita harus melihat rumah khas Minangkabau yaitu rumah Gadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat sekali mereka, payah sekali kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke minuman tadi. Jadi sesampainya di Bogor saya mengkonfirmasi untuk membuat minuman Bandung. Dan ternyata rasanya sama. Saya bikin tiap hari, sambil mencari soda. Ternyata soda sekarang susah dicari. Harus di supermarket besar dalam kemasan kaleng. Untung saja ada. Tapi kemudian ternyata Campolaynya yang habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campolay ini ternyata laris keras kalau Lebaran. Susah dicari. Beberapa tahun lalu waktu istri saya dinas di Cirebon, saya sempat khawatir sirup ini hampir punah karena kekurangan penggemar. Ternyata saya salah. Syukurlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya minum Bandung, dan soda-soda lainnya, selama beberapa hari Lebaran. Ini tampaknya menyumbangkan beberapa kg lemak tambahan untuk saya ‘recovery’ ke berat badan semula. Tidak ada kerjaan di rumah, membaca koran dan internetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noordin sudah tertangkap, mati. Sekarang sedang ribut-ribut kasus KPK. Jadi semua orang lupa dengan bank Century. Negara ini memang kebanyakan masalah dan kelamaan memutuskan penyelesaiannya. Sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, hmm... saya koq akhir-akhir ini merasa ragu ya untuk berpendapat bebas. Takut di-Pritakan gitu. Mudah-mudahan tidak terjadi ya, mudah-mudahan kita di Indonesia tetap bebas berekspresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, kalau rajin mendengarkan radio, kita bakal tahu bahwa radio-radio sekarang sedang senang memutar lagu-lagu Krisdayanti. Hehehe. Mungkin Indonesia berduka karena pasangan ideal versi selebriti ini putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya tadi koq saya baru menyadari lirik lagu yang dinyanyikan oleh KD dan Anang beberapa waktu lalu ternyata isinya semacam ramalan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tak pernah kusesali, pengalaman cinta ini&lt;br /&gt;Wanita terindah, pernah jadi milikku”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koq pakai kata pernah ya? Berarti ini lagu yang dikarang di masa ini dan dinyanyikan di masa lalu. Sedikit seperti back to the future kedengarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ah, saya mau minum Bandung dulu. Mohon maaf lahir bathin, semoga Allah SWT. menerima amal ibadah kita. Selamat Lebaran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-815271879643980664?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/815271879643980664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=815271879643980664' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/815271879643980664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/815271879643980664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/09/catatan-iseng-lebran-2009.html' title='Catatan Iseng Lebran 2009'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5658346556050383063</id><published>2009-09-19T20:54:00.000+07:00</published><updated>2009-09-19T20:55:28.748+07:00</updated><title type='text'>Pertamina, Tari Pendet, dan Petronas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kurtubi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan peluncuran buku ”Ibnu Sutowo, Saatnya Saya Bicara” yang dihadiri oleh Wapres, Dubes Malaysia, Menteri ESDM, direksi Pertamina, dan kalangan masyarakat perminyakan, penulis memaparkan mengenai pengembangan industri perminyakan di Indonesia yang dipelopori oleh pendiri Pertamina almarhum Ibnu Sutowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Sutowo mengembangkan industri migas nasional melalui entitas bisnis milik negara. Dimulai dengan PT Eksploitasi Tambang Minyak Sumatra Utara (ETMSU) pada tahun 1957. PT ETMSU diubah menjadi Permina, kemudian menjadi PN Pertamina yang merupakan hasil merger dari tiga BUMN: Permina, Pertamin, dan Permigan. Dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971, Pertamina diberikan kuasa pertambangan (KP) dan sekaligus wewenang bekerja sama dengan perusahaan minyak asing menggunakan kontrak model kontrak production sharing (KPS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model KPS merupakan inisiatif Ibnu Sutowo karena tidak puas dengan model kontrak karya (KK) meskipun bagian negara jauh lebih baik bila dibandingkan dengan model konsesi berdasarkan Indische Mijn Wet 1899. Tetapi, karena manajemen sepenuhnya masih berada di tangan perusahaan minyak asing, maka Ibnu Sutowo sangat tidak menyetujui model KK ini. Ibnu muncul dengan konsep KPS di mana manajemen sepenuhnya di tangan Pertamina yang akan dapat menjamin kedaulatan negara atas sumber daya alamnya, di samping bagian negara jauh lebih besar dibandingkan sistem konsesi maupun sistem KK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pengembangan industri migas melalui BUMN dengan kontrak model KPS inilah yang kemudian diadopsi/ditiru oleh Malaysia dengan Petronas-nya. Petronas diberi wewenang bekerja sama dengan perusahaan minyak asing secara business to business (B to B) dengan menggunakan model KPS seperti yang dipelopori oleh Ibnu Sutowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adopsi oleh Malaysia dalam bidang perminyakan ini tentu berbeda sekali dengan adopsi dan klaim Malaysia di bidang kebudayaan, seperti klaim terhadap tari reog maupun tari pendet yang belakangan menjadi pembicaraan hangat dan keprihatinan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, model KPS juga diadopsi oleh sekitar 30 negara. Malaysia mengakui model KPS sebagai model kontrak yang dipelopori oleh Ibnu Sutowo/Pertamina. Ini dinyatakan secara implisit oleh mantan PM Mahathir Mohamad dan mantan Menteri Keuangan Malaysia Tengku Razaligh dalam tayangan video pada saat launching (peluncuran) buku Ibnu Sutowo beberapa waktu lalu di Hotel Sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dengan UU Migas No 22/2001, model yang sudah banyak ditiru di sejumlah negara tersebut justru kini di negeri sendiri terancam musnah. Ini berbeda sekali dengan kreasi anak bangsa di bidang kebudayaan yang banyak ditiru oleh Malaysia. Meskipun tari reog, tari pendet, atau kreasi-kreasi kebudayaan lainnya banyak ditiru dan dijadikan ikon oleh Malaysia, justru kekayaan kebudayaan nasional tersebut tetap terpelihara dan tetap hidup di tengah masyarakat. Tidak dihapus atau dimatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan UU Migas, KP dicabut dari Pertamina. Akibatnya, Pertamina tidak lagi berwenang atau berfungsi sebagai ”pemilik” yang mewakili negara atas aset dan cadangan migas yang ada di perut bumi Indonesia. Pertamina tidak lagi berhak untuk mengembangkan dan menjual migas bagian negara yang berasal dari kontraktor KPS, termasuk pengembangan dan penjualan LNG yang berasal dari lapangan gas perusahaan minyak asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pengembangan LNG Tangguh tidak bisa otomatis dilakukan oleh Pertamina sebagaimana halnya Pertamina pada tahun 1970-an mengembangkan dan menjual LNG Arun dan Badak yang notabene gasnya berasal dari lapangan gas perusahaan minyak asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini yang terjadi justru sebaliknya. Lapangan gas yang ditemukan dan dioperasikan sendiri oleh Pertamina di Sulawesi Tengah justru oleh Pertamina diserahkan kepada pihak lain untuk dikembangkan dan dijual dalam bentuk LNG. Padahal, Pertamina sejak tahun 1970-an sudah sangat berpengalaman mengembangkan dan menjual sendiri LNG ke luar negeri dengan formula harga jual yang sangat visioner dan menguntungkan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kini blok-blok yang potensial mengandung cadangan migas yang besar tidak otomatis bisa digarap oleh Pertamina, tetapi justru diberikan kepada pihak lain. Aset/peralatan yang dibeli oleh perusahaan minyak asing dalam rangka KPS dan dibebankan sebagai cost recovery tidak lagi otomatis menjadi aset Pertamina. Bahkan, aset LNG Arun dan Badak yang sejak semula merupakan bagian dari aset Pertamina oleh UU Migas harus dikeluarkan dari Pertamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan UU Migas, status Pertamina disamakan dengan perusahaan minyak asing. Jadilah Pertamina menjadi ”asing” di negerinya sendiri. Tapi anehnya, perusahaan minyak asing tetap bisa ”menikmati cost recovery”, sementara cost recovery PT Pertamina tidak bisa dimanfaatkan oleh Pertamina dan harus dikembalikan kepada negara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, dengan UU Migas No 22/2001, Pertamina dikerdilkan secara sistemik baik wewenang, cakupan kegiatan bisnis, maupun asetnya. Menurut majalah Forbes, pada 2007 aset Petronas sekitar 125 miliar dollar AS, sementara aset Pertamina pada tahun yang sama hanya sekitar 25 miliar dollar AS atau hanya seperlima aset Petronas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini faktanya, Pertamina sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan Petronas. Petronas yang tetap konsisten dengan apa yang ditiru dari Pertamina kini terbukti telah berkembang menjadi salah satu perusahaan minyak raksasa dunia. Pada tahun 2008 Petronas meraup revenues sekitar 77 miliar dollar AS (Rp 770 triliun) atau sekitar 80 persen dari RAPBN 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petronas berada di urutan nomor 95 dari 500 perusahaan terbesar versi majalah Fortune. Keuntungan Petronas tahun 2008 sebesar 15,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 153 triliun), menempatkan Petronas pada posisi ke-13 dari 40 perusahaan dunia yang memperoleh keuntungan paling besar (Fortune, 24 Agustus 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sedih Indonesia! Peluang Pertamina untuk bisa melampaui Petronas masih sangat terbuka. Caranya sederhana, yaitu dengan mengadopsi kembali apa yang pernah ditiru oleh Petronas dari Pertamina. Untuk itu, segera amandemen UU Migas No 22/2001 atau Presiden SBY segera mengeluarkan perppu. Dalam beberapa tahun, aset dan revenues Pertamina pasti akan melampaui aset dan revenues Petronas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya, luas wilayah dan potensi sumber daya migas Indonesia lebih dari 10 kali luas wilayah dan potensi sumber daya migas Malaysia. Pasar dalam negeri, pengalaman, dan SDM juga sangat mendukung. Tinggal kemauan saja. Percayalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kurtubi Alumnus Colorado School of Mines, Denver, dan Ecole Nationale Superieure du Petrole et des Moteurs Paris&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5658346556050383063?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/12/05041364/pertamina.tari.pendet.dan.petronas' title='Pertamina, Tari Pendet, dan Petronas'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5658346556050383063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5658346556050383063' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5658346556050383063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5658346556050383063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/09/pertamina-tari-pendet-dan-petronas.html' title='Pertamina, Tari Pendet, dan Petronas'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4968167002565870810</id><published>2009-09-03T10:36:00.000+07:00</published><updated>2009-09-03T10:40:24.806+07:00</updated><title type='text'>That's Life</title><content type='html'>Another song from Buble. Keep on fighting guys!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Don't let it get you, don't let it get you down&lt;br /&gt;For this world keeps on spinning 'round)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's life&lt;br /&gt;That's what all the people say&lt;br /&gt;You're riding high in April&lt;br /&gt;You're shot down in May&lt;br /&gt;I know I'm gonna change that tune&lt;br /&gt;When I'm back on top in June&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I say that's life&lt;br /&gt;And as funny as it may seem&lt;br /&gt;Some people get their kicks&lt;br /&gt;Stompin' on your dreams&lt;br /&gt;But I don't let it, let it get me down&lt;br /&gt;'Cause this fine ol' world keeps spinning 'round&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I've been a puppet, a pauper, a pirate,&lt;br /&gt;A poet, a pawn &amp; a king&lt;br /&gt;I've been up &amp; down &amp; over &amp; out&lt;br /&gt;But I know one thing&lt;br /&gt;Each time I find myself, flat on this face&lt;br /&gt;I pick myself up &amp; get back in the race&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's life&lt;br /&gt;I can't deny it&lt;br /&gt;I thought of quitting, baby&lt;br /&gt;This heart wasn't gonna buy it&lt;br /&gt;And if I didn't think it was worth one single try&lt;br /&gt;I'd jump right on a big bird &amp; then I'd fly&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I've been a puppet, a pauper, a pirate,&lt;br /&gt;A poet, a pawn &amp; a king&lt;br /&gt;I've been up &amp; down &amp; over &amp; out&lt;br /&gt;And I know one thing&lt;br /&gt;Each time I find myself flat on my face&lt;br /&gt;I pick myself up &amp; get back in the race&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's life&lt;br /&gt;That's life &amp; I can't deny it&lt;br /&gt;Many times I thought of cutting out&lt;br /&gt;But my heart won't buy it&lt;br /&gt;But if there's nothing shakin' come this here July&lt;br /&gt;I'm gonna roll&lt;br /&gt;I'm gonna roll&lt;br /&gt;I'm gonna roll myself up in a big ball &amp; die&lt;br /&gt;Can't deny it&lt;br /&gt;That's life&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4968167002565870810?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4968167002565870810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4968167002565870810' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4968167002565870810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4968167002565870810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/09/thats-life.html' title='That&apos;s Life'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-6743720892650786353</id><published>2009-09-01T23:50:00.005+07:00</published><updated>2009-09-01T23:56:18.375+07:00</updated><title type='text'>Menonton Merah Putih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1RWPWBuAI/AAAAAAAAAMA/ybQ2odF1m5U/s1600-h/merah+putih.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1RWPWBuAI/AAAAAAAAAMA/ybQ2odF1m5U/s400/merah+putih.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376542972668131330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat, saya mengajak istri saya menonton ‘Merah Putih. Film ini diproduseri oleh Hasyim (kakak/adik dari Prabowo Subianto) dan konon memakan dana sampai 20 milyar rupiah. Tidak tanggung-tanggung, penata efek, penulis skenario dan banyak ‘orang penting’ lainnya dalam film ini ditarik langsung dari Hollywood.&lt;br /&gt;Katanya, penulisan naskah skenarionya sampai 2 tahun. Mantab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film pun mulai, dibuka dengan adegan kekejaman tentara Belanda yang membunuh satu keluarga di Sulawesi sana.  Kekejaman tentara Belanda membunuh satu kampung diulangi lagi nanti di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti cerita, para pemuda dari latar belakang yang berbeda-beda bergabung dengan Sekolah Tentara Rakyat di suatu tempat di Jawa Tengah untuk menjadi perwira.  Kemudian tiba-tiba Belanda menyerang dan membunuh hampir semua siswa dan instruktur (yang jumlahnya puluhan) dan menyisakan 4 orang saja. Keempat orang ini kemudian bertekad membalas dendam dan memporak-porandakan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal film, dikisahkan bagai mana terjadi perseteruan antara kadet-kadet dari latar belakang yang berbeda (Kristen lawan Islam). Mungkin maksudnya untuk mengingatkan bahwa pejuang jaman dulu bisa mengatasi perbedaan. Tapi saya pribadi menganggap permasalahan ini terlalu mengada-ada. Saya tidak yakin bahwa dulu pertentangannya begitu keras. Apalagi di Jawa Tengah. Yang lebih membuat aneh, orang Islam tengil-nya diwakili oleh tokoh Marius. Seorang priyayi Jawa yang diperankan oleh Darius…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda bayangkan seorang priyayi Jawa pada jaman itu. Bayangkan nama Mangoensastro, Sastrowardojo, Mangoenkoesoemo, apa saja. Dan kemudian bayangkan Darius. Saya yakin dia lebih cocok memerankan Westerling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R-x6b53I/AAAAAAAAAMw/6EUN4lAsQOs/s1600-h/Westerling.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R-x6b53I/AAAAAAAAAMw/6EUN4lAsQOs/s320/Westerling.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376543669142415218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R-lkPrtI/AAAAAAAAAMo/SdfgnYDTSvw/s1600-h/darius.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R-lkPrtI/AAAAAAAAAMo/SdfgnYDTSvw/s320/darius.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376543665828114130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R-Go04mI/AAAAAAAAAMg/l66F3W3YYWg/s1600-h/Wahidin.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 251px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R-Go04mI/AAAAAAAAAMg/l66F3W3YYWg/s320/Wahidin.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376543657525830242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R9n5zAuI/AAAAAAAAAMY/-LPXv86L0gQ/s1600-h/Soetomo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 253px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R9n5zAuI/AAAAAAAAAMY/-LPXv86L0gQ/s320/Soetomo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376543649275511522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R9P23ZWI/AAAAAAAAAMQ/ncyTahKjUXU/s1600-h/soedirman.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 298px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1R9P23ZWI/AAAAAAAAAMQ/ncyTahKjUXU/s320/soedirman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376543642820765026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya minta maaf pada Darius. Bukan saya  melecehkan dia. Saya mempertanyakan yang melakukan casting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi film ini punya banyak faktor yang kuat menurut saya: casting yang aneh, dialog yang aneh, cerita yang aneh, kostum yang aneh, dan akting yang aneh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sedikit kita belajar sejarah, kita tahu bahwa sekitar tahun 1945 sampai dengan agresi militer Belanda ke-2, yaitu di 19 Desember 1948, Jawa Tengah dan Jogja ada dalam kekuasaan Republik. Bahkan setelah agresi militer ke-2 Belanda hanya menguasai kota-kota. Karena itu Presiden pindah ke Jogja, ITB (Sekolah Tinggi Teknik Bandung) pindah ke Jogja, bahkan divisi Siliwangi pindah ke Jawa Tengah (long march Siliwangi yang tersohor tea).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecil kemungkinannya, menurut saya, Belanda bisa menyerang akademi militer Repulik di Jawa Tengah tanpa ketahuan dan menghabisi semua orang. Kemudian kalau pun itu terjadi dan tersisa 4 orang, yang paling masuk akal adalah ke-4 orang itu akan bergabung dengan gerilyawan yang ada di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk skenario seperti itu butuh 2 tahun? My God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, setelah bertempur semalaman, di hutang dan di sungai, para pahlawan kita masih memakai baju yang bersih, hanya kotor sedikit. Bahkan kalau mau diperhatikan, topi pet mereka masih tersimpan dengan rapi di bahu. Wow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan bermaksud mencela-cela film ini. Cuma kritik saja. Kritik pedas. Hehehe.&lt;br /&gt;Kalau bisa membuat film perjuangan yang sedikit lebih realistis lah. Sudah bayar bule mahal-mahal, koq hasilnya begini. Ledakannya lumayan keren sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit cerita. Jadi dulu bapak dan kakak-kakak dari nenek saya ditangkap Belanda. Setelah ditangkap, mereka dibawa keliling kota untuk menunjukkan siapa gerilyawan lainnya. Kemudian Belanda dating ke rumah Iyut (ibu dari nenek) saya untuk mencari senjata (yang disembunyikan di sumur). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Belanda menawari Iyut saya roti dan makanan yang enak-enak, kalau mau memberitahu siap saja gerilyawan di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda tidak memukuli Iyut saya, tidak membunuh sekeluarga atau sekampung. Ada kasus Westerling, dan saya tidak mengatakan bahwa Belanda tidak kejam. Saya mau mengingatkan, waktu Bung Karno dibuang ke pulau Banda, beliau mendapatkan tunjangan dari pemerintah Hindia-Belanda yang cukup untuk membeli buku (mungkin kalau sekarang via Amazon karena bukunya sampai tuh di Banda), cukup untuk nraktir-nraktir penduduk lokal. Beda dengan Orde Baru waktu membuang orang ke pulau Buru. Jangankan member tunjangan, melihara ayam aja diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengingatkan kita semua. Bagai mana kalau ternyata penjajah (dalam segala bentuknya) berwujud manis? Lebih manis dari bangsa kita sendiri? Atau mungkin juga saya ingin menanyakan, apakah kita tidak sedang dijajah atau menjajah bangsa sendiri?&lt;br /&gt;Catatan terakhir saya, ini film perjuangan pertama seingat saya, yang Belandanya benar-benar diperankan oleh orang Bule. Bukan Indo Blasteran. Cuma ini juga salah, pada masa itu tentara KNIL banyak terdiri dari pribumi…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-6743720892650786353?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/6743720892650786353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=6743720892650786353' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6743720892650786353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6743720892650786353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/09/menonton-merah-putih.html' title='Menonton Merah Putih'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Sp1RWPWBuAI/AAAAAAAAAMA/ybQ2odF1m5U/s72-c/merah+putih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-851515309232773614</id><published>2009-08-25T20:43:00.002+07:00</published><updated>2009-08-25T20:47:25.578+07:00</updated><title type='text'>Kompetisi (Payload) Roket antar Mahasiswa</title><content type='html'>Tanpa banyak publikasi, tanpa banyak apresiasi dari public, selama 2 tahun terakhir LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) mengadakan kompetisi roket antar mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari kompetisi ini adalah pembuatan payload (muatan) yang akan dibawa oleh roket mini yang akan meluncur mungkin sampai 1500 meter di angkasa (maaf, saya tidak tahu data persisnya). Selama roket meluncur, payload ini diharapkan mampu melakukan pengukuran parameter tertentu (misalkan suhu, akselerasi gravitasi, kelembaban, dan sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan menjadi semangat untuk mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut link beritanya untuk tahun 2008 dan 2009:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lapan.go.id/doc_news/Sur(14-8-09)-3.htm"&gt;http://lapan.go.id/doc_news/Sur(14-8-09)-3.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lapan.go.id/doc_news/rum.html"&gt;http://lapan.go.id/doc_news/rum.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-851515309232773614?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/851515309232773614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=851515309232773614' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/851515309232773614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/851515309232773614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/08/kompetisi-payload-roket-antar-mahasiswa.html' title='Kompetisi (Payload) Roket antar Mahasiswa'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-924412908077461653</id><published>2009-08-24T21:41:00.002+07:00</published><updated>2009-08-24T21:46:35.987+07:00</updated><title type='text'>Dia Lagi Dia Lagi, Nggak Ada yang Lain Apa?</title><content type='html'>Gatel juga saya buat komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi sore dengar berita, Rektor IPDN yang baru dilantik ternyata adalah Rektor yang dulu dinonaktifkan karena pada saat menjabat terjadi kematian Praja Cliff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, penyelidikan tidak menyatakan Pak Rektor ini bersalah. Jadi tidak ada masalah. Ooh... gitu ya. Jadi kalau kebetulan waktu itu beliau rektor, dan mahasiswanya pukul-pukulan dan kebetulan ada yang mati dipukuli, si Rektor belum tentu bersalah karena toh bukan beliau yang menyuruh. Malah mungkin berprestasi karena yang mati cuma 1, kalau bukan beliau rektornya mungkin 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya gimana lagi. Jangankan yang tidak terbukti bersalah, wong yang terbukti bersalah aja masih bisa jadi ketua organisasi besar, dan ada juga yang dengan cueknya mendaftar sebagai ketua umum parpol besar. Ini dipenjara karena Pidana lho ya, bukan Perdata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma mikir, memangnya nggak ada orang lain ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut berita &lt;a href="http://www.inilah.com/berita/politik/2009/08/21/145373/nyoman-jadi-rektor-ipdn-lagi/"&gt;lengkapnya&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;INILAH.COM, Bandung - I Nyoman Sumaryadi kembali menjabat sebagai Rektor IPDN menggantikan Ngadisah. Nyoman sebelumnya sempat menjabat Rektor IPDN, namun di tengah masa kepemimpinannya, ia diganti oleh PLT Johanis Kalloh karena terkait proses hukum kematian Praja asal Manado, Cliff Muntu. Pelaksana Tugas Rektor IPDN Johanis Kalloh kemudian diganti oleh Ngadisah pada September 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelantikan pejabat eselon I Depdagri itu dilakukan oleh Mendagri Mardiyanto di Graha Wyata Praja IPDN di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jumat (21/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelantikan kembali Nyoman menjabat Rektor IPDN yang kedua kalinya berdasarkan Keppres No.83/M Tahun 2009 tertanggal 11 Agustus 2009 tentang pengangkatan Rektor IPDN dan pejabat eselon I Depdagri. Sementara Ngadisah akan menempati jabatan barunya sebagai Staf Ahli Hukum dan Politik di Kementerian Dalam Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya alasan pengangkatan kembali Nyoman menjadi rektor untuk kedua kalinya setelah terselang 2 pergantian rektor di IPDN, menurut Mardiyanto, tidak ada masalah. Penempatan kembali Nyoman sebagai Rektor IPDN merupakan kepercayaan pimpinan terhadap pejabat yang dianggap mampu mengemban tugas baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami percaya, pemerintah percaya terhadap kepemimpinannya. Ia akan mampu mengemban tugas sebagai pimpinan IPDN," kata Mardiyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pengangkatan Rektor IPDN itu sudah sesuai dengan peraturan yang ada dan merupakan keputusan untuk memenuhi kebutuhan organisasi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait kasus yang pernah melilit Nyoman sehingga memaksanya menjalani proses hukum di PN Sumedang, menurut Mardiyanto, tidak ada masalah karena sudah ada keputusan hukum tetap. "Proses hukumnya sudah tuntas (vonis bebas), tak ada masalah," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam amanatnya, Mardiyanto meminta kepada Rektor IPDN dan jajaran pengasuhan IPDN untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas. Selain itu mempunyai tugas untuk mempertahankan kualitas dan sistem pendidikan IPDN yang menerapkan pola pengajaran, pelatihan dan pengasuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tugas pimpinan baru IPDN tidak mudah karena dituntut untuk terus melakukan perbaikan dan pembenahan sekaligus meningkatkan kualitas pengasuhan agar tercipta praja-praja yang profesional dan siap melayani masyarakat," kata Mardiyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengharapkan IPDN tetap menjadi tempat pengkaderan praja-praja yang tangguh dan mampu mengikuti dinamika politik dan otonomi daerah yang terus berkembang baik di tingkat lokal maupun nasional. [*/sss]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-924412908077461653?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/924412908077461653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=924412908077461653' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/924412908077461653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/924412908077461653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/08/dia-lagi-dia-lagi-nggak-ada-yang-lain.html' title='Dia Lagi Dia Lagi, Nggak Ada yang Lain Apa?'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-8313405102683878003</id><published>2009-08-24T21:15:00.004+07:00</published><updated>2009-08-24T21:30:52.634+07:00</updated><title type='text'>Komputer Apollo 11 dalam Genggaman</title><content type='html'>Beberapa orang mengatakan itu tidak pernah terjadi: manusia belum pernah mendarat di bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak terlalu yakin. Tapi bagi saya, sebuah ide bahwa manusia bisa menciptakan sebuah roket yang dapat mendarat di bulan, sangatlah menggelitik. Amerika sudah sampai di bulan hampir 40 tahun yang lalu. Sampai di mana kita sekarang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, mereka betul-betul lepas landas. Disaksikan ratusan ribu orang. Ke mana mereka sebetulnya, itu masalah lain. Tapi berada di atas jutaan ton bahan bakar yang mudah meledak di jaman di mana manusia bahkan belum membayangkan komputer bisa memutar musik (compressed mau pun uncompressed) adalah keberanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radionya pasti masih analog, mungkin transistor. Pede betul mereka berniat untuk 'berkomunikasi dari luar angkasa'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tadi siang saya bertemu &lt;a href="https://www.sparkfun.com/commerce/news.php?id=248"&gt;web&lt;/a&gt; yang membahas komputer yang dipakai di Apollo 11. Tugas komputer ini cukup berat, kira-kira melakukan panduan untuk re-entry (kembali ke bumi). Dibuat di masa di mana belum ada jurusan 'ilmu komputer', dan mungkin ahli komputer belum sampai 50 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SpKjENJ_7wI/AAAAAAAAALo/BOz_Q2mMfuk/s1600-h/Apollo-0-M.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SpKjENJ_7wI/AAAAAAAAALo/BOz_Q2mMfuk/s400/Apollo-0-M.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373536598052826882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di masa kini bahkan kita ragu untuk naik pesawat yang hanya memiliki 2 komputer  redundan (1 utama dan 1 cadangan), Apollo 11 hanya punya satu. What a faith. Bagai mana mereka bisa begitu yakin dengan komputer mereka? Mungkin, karena waktu itu manusia belum mengenal Microsoft Windows. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti cerita, komputer untuk Apollo 11 seharga USD 15 juta (pada masa itu?). Sedangkan kemampuannya setara dengan 1/20 mikroprosesor yang biasa dipakai mahasiswa sekarang untuk praktikum. Hebat ya kemajuan di bidang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SpKjEidrwgI/AAAAAAAAALw/MmMxzGCJtYo/s1600-h/Apollo-1-M.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SpKjEidrwgI/AAAAAAAAALw/MmMxzGCJtYo/s400/Apollo-1-M.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373536603772535298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah perbandingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SpKjE-iMzzI/AAAAAAAAAL4/Z9WXnkdGI8A/s1600-h/apollo+computer+comparison.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 98px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SpKjE-iMzzI/AAAAAAAAAL4/Z9WXnkdGI8A/s400/apollo+computer+comparison.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373536611307671346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo pemuda. Di tanganmu ada komputer yang 20x lebih hebat dari pada yang membawa Neil Armstrong dkk. ke bulan. Apa lagi alasan untuk tidak berkarya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-8313405102683878003?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/8313405102683878003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=8313405102683878003' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8313405102683878003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8313405102683878003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/08/komputer-apollo-11-dalam-genggaman.html' title='Komputer Apollo 11 dalam Genggaman'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SpKjENJ_7wI/AAAAAAAAALo/BOz_Q2mMfuk/s72-c/Apollo-0-M.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-1781512454801834353</id><published>2009-07-15T16:33:00.002+07:00</published><updated>2009-07-15T16:36:36.679+07:00</updated><title type='text'>Roket RX-420 &amp; CN-235 Militer</title><content type='html'>Saya ambil email dari Cardiyan HIS untuk dibaca di sini. Saya kira cukup menarik. Yakinlah, kita mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roket RX-420 &amp; CN-235 Militer: &lt;br /&gt;Getarkan Australia, Singapura, Malaysia &lt;br /&gt;Oleh Cardiyan HIS &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru  oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya. Waspadailah  kawan-kawan insinyur Indonesia. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club" bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu  meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;CN 235 Versi Militer &lt;br /&gt;Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah. &lt;br /&gt;Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada)  untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jadi  musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-1781512454801834353?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/1781512454801834353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=1781512454801834353' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1781512454801834353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1781512454801834353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/07/roket-rx-420-cn-235-militer.html' title='Roket RX-420 &amp; CN-235 Militer'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2815093616697846743</id><published>2009-07-06T18:27:00.000+07:00</published><updated>2009-07-06T18:28:24.019+07:00</updated><title type='text'>Ajari sang Penerus Hidup Sederhana</title><content type='html'>Suatu siang pada pertengahan April lalu, puluhan wartawan yang menyanggong kegiatan Ke­tua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) di Posko Slipi II, Jalan Ki Ma­ngun­sarkoro, tengah kelaparan. Meski demikian, tidak satu pun yang be­rani beranjak mencari makan. Se­telah kekalahan Golkar dalam perhitungan cepat pemilu legislatif itu, fakta dan kabar burung berseliweran hampir setiap menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah puluhan wartawan yang meriung, sesosok pria berkulit pu­tih duduk berbaur. Asap rokok pu­tih sesekali mengepul. Menge­nakan kaus polo kuning, celana jins, dan sandal kulit, pria 30-an ak­hir itu sesekali berbicara santai dengan beberapa wartawan yang bertugas meliput di Istana Wa­pres. Wajahnya tenang menyimak pembicaraan wartawan yang asyik ber­diskusi tentang percaturan poli­tik menjelang penentuan koalisi partai politik di pemilu presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pembicaraan mengarah ke urusan perut, sosok itu sontak berdiri. Langkahnya ringan me­nu­ju pintu pagar dan bersuit me­mang­gil dua tukang sate yang mang­­kal di pelataran Masjid Sun­da Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Paspampres yang berjaga di kediaman dinas Wapres hanya tersenyum ketika dua gerobak itu diboyong masuk ke posko dan lang­sung dirubung wartawan. "Te­nang, semua sudah dibayar Pak Ihin," ujar seorang staf wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihin yang dimaksud staf itu ada­lah Solihin, putra satu-satunya JK. Ahli waris kerajaan bis­n­is keluarga JK itu memang tak pernah berpenampilan seperti miliuner yang juga putra wakil presiden. Kaus dan jins adalah pakaian sehari-hari. Wartawan hanya sesekali menemui Ihin me­ngenakan jas ketika peringatan Detik-Detik Proklamasi di Istana Kepresidenan dan ketika mendampingi JK bertemu pe­mim­pin-pemimpin dunia dalam kunjungan ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berbeda dengan JK yang ber­politik setelah puluhan tahun menjadi pengusaha, Solihin kini masih fokus menjalankan kerajaan bisnis keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solihin tampaknya memang di­siap­kan sebagai penerus JK. Meski hingga kini dia tidak berpolitik praktis, dalam sejumlah pertemuan politik menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden, Solihin selalu diajak JK untuk mendampingi. Begitu pula bila JK bertemu dengan pe­mimpin-pemimpin dunia. Di tim kampanye nasional JK-Wiranto, Ihin juga tercatat sebagai bendahara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan Ihin yang sederha­na itu kerap menipu. Menurut se­jumlah sumber, tak terhitung berapa kali Ihin ditolak masuk ke kediaman atau ke dalam rombongan wakil presiden oleh anggota-anggota Paspampres yang baru atau oleh aparat pengamanan di daerah. Karena selalu membawa kamera, dalam berbagai kunjungan ke daerah Ihin kerap ditolak masuk ke bus rombongan wakil presiden karena disangka warta­wan. Namun, setiap kali ditolak ma­suk ke bus rombongan, Ihin tak pernah membantah. Dia akan selalu menurut ketika disuruh masuk ke bus anggota rombongan, bahkan bus wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya aparat keamanan yang tertipu. Anggota tim kampanye SBY-JK di Pemilu Presiden 2004 Muhammad Luthfi (sekarang ketua BKPM, Red) suatu kali pernah memarahi Ihin di depan umum. Penyebabnya, pria dengan dahi lebar itu terlambat masuk ke pesawat yang akan membawa JK dan Mufidah berkampanye ke satu daerah. (noe/agm)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2815093616697846743?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://202.158.49.30/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=73234' title='Ajari sang Penerus Hidup Sederhana'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2815093616697846743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2815093616697846743' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2815093616697846743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2815093616697846743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/07/ajari-sang-penerus-hidup-sederhana.html' title='Ajari sang Penerus Hidup Sederhana'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3937352648078504047</id><published>2009-06-24T13:01:00.000+07:00</published><updated>2009-06-24T13:02:49.955+07:00</updated><title type='text'>ITB Raih Dua Penghargaan dalam Kontes Robot Nasional 2009</title><content type='html'>BANDUNG, itb.ac.id- ITB kembali mendapat penghargaan dalam ajang kejuaraan robot bergengsi tingkat nasional, Kontes Robot Nasional 2009. Melalui kategori berkaki KRCI, tim "The Power of Dreams" dengan robot Hexapod-nya menduduki peringkat pertama pada lomba yang diadakan di Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, (6-7/06/09). "The Power Of Dream" yang diawaki oleh tiga orang mahasiswa Teknik Elektro ITB - Ardya Dipta, Syawaludin Rachmatullah, dan Ichwan Kurniawan- kini berusaha menempatkan kakinya di ajang perlombaan dengan tema yang sama di kancah internasional, Trinity Collage, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontes Robot Nasional 2009 diikuti oleh 24 tim peserta KRI (KOntes Robot Indonesia), 33 tim peserta KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia), dan 12 tim peserta KRSI (Kontes Robot Seni Indonesia). Untuk KRCI terbagi atas 4 divisi, yakni 21 tim kategori wheeled, 9 tim kategori leeged, 9 tim kategori expert single, dan 16 tim kategori expert battle. Secara keseluruhan, jumlah anggota tim termasuk pembimbing adalah 412 orang, yang berasal dari 47 perguruan tinggi dan 5 non-perguruan tinggi. Dewan juri berasal dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia, yakni ITB, ITS, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), UI, dan UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format aturan pertandingan dalam KRCI 2009 dipilih dari aturan kontes robot sejenis yang telah diselenggarakan secara teratur di negara maju yaitu Intelligent Fire-Fighting Robot Contest yang diselenggarakan oleh Trinity College, Hartford Connecticut, USA dan telah berlangsung lebih dari 13 tahun. Pemenang dari KRCI berpeluang mengikuti kontes serupa pada tahun 2010 di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter penilaian yang diperhitungkan dewan juri, diantaranya mampu memadamkan api, kembali ke start awal setelah memadamkan api, dan memasuki sekat-sekat ruangan. Keseluruhan parameter tersebut akan dikonversikan ke satuan waktu melalui fungsi "faktor". Oleh karena itu, waktu menjadi penilaian utama dewan juri. Walaupun target utama dari perlombaan ini -mematikan api- tidak terpenuhi, suatu tim masih dapat melanjutkan berkompetisi karena adanya konversi tersebut. Tim "The Power Of Dream" sendiri dapat menempuh dengan mulus tiga kali kesempatan yang harus dijalankan dalam perlombaan ini. Secara keseluruhan, Tim "The Power Of Dream" memperoleh dua penghargaan, yakni juara 1, termasuk meraih rekor menuntaskan semua tugas dengan rekor waktu tercepat dan mendapat penghargaan "The Best Algorythm".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan tim yang keberangkatannya disponsori oleh LPKM (Lembaga Pengembangan dan Kesejahteraan Mahasiswa) ITB ini merupakan buah dari kerja keras para punggawanya. "Selama 6 bulan terakhir, kami sudah berantakin lab AVRG (Laboratorium Autonomous Vehicle Research Group) pimpinan Dr.Kusprasapta Mutijarsa," ujar Dipta kepada Kantor Berita ITB. Laboratorium tersebut juga merupakan tempat Unit Robot ITB bernaung. Unit Robot yang baru dibentuk tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa pecinta dunia robotik mengembangkan minat dan kemampuannya, termasuk bagi Dipta dkk. "Teman-teman Unit Robot ITB selalu ada untuk membantu,"tambah Dipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Tim "The Power Of Dream" tak lepas dari kerja sama antar lini yang terkait. Dimulai dari LPKM sebagai penyokong dana hingga ke suporter dari teknik mesin dan elektro yang tak kenal lelah meneriakkan yel-yel penyemangat. Ditambah pula dengan kehadiran seorang manajer tim, yakni Dody yang juga Ketua Unit Robot ITB tampil sebagai kunci sukses kemenangan tim ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, Tim "The Power Of Dream" menargetkan untuk mengikuti perlombaan tingkat internasional yang diadakan di "kiblat" KRCI, Trinity Collage, Amerika Serikat. Hal pertama yang akan dilakukan tim ini adalah mencari sponsor yang dapat menyokong kebutuhan tim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3937352648078504047?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.itb.ac.id/news/2488.xhtml' title='ITB Raih Dua Penghargaan dalam Kontes Robot Nasional 2009'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3937352648078504047/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3937352648078504047' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3937352648078504047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3937352648078504047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/06/itb-raih-dua-penghargaan-dalam-kontes.html' title='ITB Raih Dua Penghargaan dalam Kontes Robot Nasional 2009'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2131074508285664436</id><published>2009-06-22T22:36:00.001+07:00</published><updated>2009-06-22T22:38:15.984+07:00</updated><title type='text'>Tiga Hari Penuh Badai</title><content type='html'>Majalah Tempo, Edisi Khusus Akhir Tahun, 26 Desember 2005, halaman 32&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tempointeractive.com/hg/mbmtempo/arsip/2005/12/26/LU/mbm.20051226.lu2.id.html"&gt;http://www.tempointeractive.com/hg/mbmtempo/arsip/2005/12/26/LU/mbm.20051226.lu2.id.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Hari Penuh Badai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah di pusat kekuasaan selama tiga hari pertama setelah tsunami. Mengenang setahun tragedi itu, beberapa sumber termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Menteri Komunikasi dan Informasi Sofjan Djalil menuturkan kenang-kenangan mereka kepada Tempo.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru duduk di jok mobilnya, telepon seluler Jusuf Kalla berdering-dering. Staf pribadinya melaporkan: “Pak, di Aceh ada tsunami. Dahsyat sekali.” Pagi itu, 26 Desember 2004, Kalla hendak menghadiri halal bihalal warga Aceh di Senayan, Jakarta. Kalla lalu mengirim pesan pendek ke telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang pagi itu berada nun jauh di Nabire, Papua. Presiden menemui korban gempa yang melumat Nabire sehari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden membalas: “Saya sudah dengar. Tolong koordinasikan.” Kalla lalu menelepon Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Provinsi Aceh. Gubernur Abdullah Puteh saat itu telah ditahan di penjara Salemba karena dugaan kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalla juga mengontak Kapten Didit Soerjadi, pilot pesawat pribadinya. Didit sedang beristirahat. “Kau segera mandi dan berangkat ke Aceh,” perintah Kalla. Semuanya serba buru-buru. Perintah terus mengalir saat Didit mandi. “Lucu juga, saya mandi sambil terima telepon Pak Wapres,” kenang sang pilot. Wapres menggegas semua stafnya menelepon semua pejabat di Aceh. Sial, tak satu pun menyahut. Kalla mulai cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Aceh, dunia berhenti pagi itu. Bumi berguncang dengan kekuatan 8,6 pada skala Richter, air laut tumpah ke daratan. Beberapa keluarga sempat mengabarkan soal air bah kepada kerabat di Jakarta. Cuma sebentar. Lalu telepon putus total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halal bihalal warga Aceh di Senayan dibuka pada pukul sembilan lebih, berlangsung dalam suasana tegang sekali. Berita tsunami sudah menyebar. Banyak yang sibuk menelepon. Beberapa orang berlinang air mata. Ada yang histeris, gusar kian-kemari. Kalla berpidato sekenanya. Hampir tak ada yang mendengar. “Orang-orang ingin acara itu cepat kelar,” tutur Kalla kepada Tempo. Turun panggung, Kalla menggelar rapat mendadak di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memerintahkan Sofjan Djalil memimpin rombongan pertama ke Aceh. “Pakai pesawat saya saja,” kata Wapres. Anggota rombongan 30 orang, antara lain Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Azhari, Azwar Abubakar, dan beberapa tetua Aceh. Kalla membekali Sofyan uang Rp 200 juta dan sebuah telepon satelit. “Begitu kau tiba di Aceh, langsung telepon saya,” perintahnya. Mereka menjadi rombongan pertama pemerintah yang terbang ke Aceh di hari pertama tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat berputar dua kali di langit Banda Aceh. “Dari udara Aceh terlihat hancur total,” tutur Kapten Didit. Menara bandara retak. Tak satu pun petugas di menara. Untung, pesawat mulus mendarat, sekitar pukul enam sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota rombongan membeli beras dan mi instan di beberapa toko dekat bandara, lalu beranjak ke pendapa kantor gubernur sekitar pukul tujuh malam. Jalanan sunyi senyap. Gelap gulita. Satu-satunya penerangan cuma lampu mobil. Sungguh mengerikan. Mayat bergelimpangan di jalan, di kolong rumah, tersangkut di dahan pohon. Beberapa ekor anjing berlari ke sana kemari. Anggota rombongan mulai menangis sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu ratusan orang menumpuk di pendapa kantor gubernur. Banyak yang luka parah. Puluhan mayat dijejerkan di latar depan pendapa. Aceh lumpuh total. Koordinasi tak jalan karena aparat pemerintah pusing mencari sanak keluarga. Kepala Polres Banda Aceh hanyut ditelan tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Aceh, bisa memimpin. Namun, dia sedang galau. Rumahnya di Blang Padang hancur. Ia tak tahu nasib anak-anaknya. Wakil Gubernur ini pulang ke rumahnya ditemani Sofjan Djalil, Jusuf Azhari dikawal dua tentara. Mobil melaju dalam gelap, menghindari mayat-mayat yang direbahkan di kiri-kanan jalan. Mobil berhenti kira-kira 50 meter dari rumah Azwar sebab sampah menggunung menutup jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Gubernur turun ditemani seorang tentara. Dipandu nyala senter, mereka mengendap-endap. Sofjan menunggu dengan cemas. Setengah jam berlalu, Azwar pulang. “Di rumah banyak mayat, tapi anak-anakku tak kelihatan,” katanya penuh kecemasan. Mereka lalu balik ke pendapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali Sofjan menelepon Jusuf Kalla di Jakarta. Tak bersahut. Di Jakarta, Wapres menggelar sidang kabinet darurat di rumah dinas Jalan Diponegoro pada pukul 21.30 WIB. Sembilan menteri dan Panglima TNI hadir. Sembari rapat, Kalla berkali-kali pula mengontak Sofjan. Tak bersambung juga. “Sofjan itu bawa telepon satelit kok tidak sambung-sambung,” kata Kalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Aceh, Sofjan memutuskan mengirim kabar lewat Orari Angkatan Udara di Aceh. Orari Jakarta meneruskan pesan itu ke telepon seluler Jusuf Kalla. Ini laporan pertama Sofjan dari wilayah bencana: ”Pak, korban sekitar 5.000 hingga 6.000.” “Astagfirullah, astagfirullah,” kata Kalla berkali-kali sembari mengusap wajah. Sejumlah menteri tertunduk. Hening menyapu ruang rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalla melanjutkan pesan ke Presiden Yudhoyono yang malam itu sudah tiba di Jayapura. Presiden menyampaikan belasungkawa kepada korban bencana. Besoknya, Presiden terbang menuju Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sepuluh malam, telepon satelit Sofjan sukses menembus Jakarta. “Eh, ini Sofjan,” ujar Kalla kegirangan. “Apa yang terjadi? Kenapa kau tak telepon-telepon?” tanya Kalla dengan suara keras. “Saya stres, Pak. Di sini gelap sekali,” sahut Sofjan dari seberang. “Besok aku susul ke sana,” ujar Kalla. Percakapan ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Kalla mematangkan persiapan ke Aceh. “Saya minta Anda menyediakan dana sepuluh miliar uang kontan,” perintah Kalla kepada Menteri Keuangan Jusuf Anwar. Jusuf tertegun. “Pak, kalau segitu tak ada,” jawabnya. “Saya tidak mau tahu. Itu urusanmu,” kata Kalla. Rapat bubar larut malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di larut malam itu, pendapa kantor gubernur di Banda Aceh masih gaduh. Warga yang luka parah dirawat seadanya. Koordinasi sulit karena aparat sibuk mencari keluarga masing-masing. Kepala Polda Aceh Bahrumsyah datang ke pendapa dengan terengah-engah. Wajahnya letih. Si Kapolda cuma mengenakan pakaian dinas tanpa alas kaki alias nyeker. Orang hilir-mudik di pendapa membikin Sofjan bingung menjaga uang Rp 200 juta yang dia bawa dari Jakarta. Ia meminta seorang anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera menjaga uang itu. “Orangnya berjenggot. Uang pasti aman,” ujar Sofjan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Menteri lalu merebahkan badan di atas karpet. Belum lagi mata terpejam, terdengar pekikan, “Gempa! Gempa!” Orang-orang berlari. Sofjan ikut kabur. Setelah bergoyang beberapa menit, bumi kembali tenang. Warga kembali ke pendapa. Tak berapa lama, teriakan gempa terdengar lagi. Semua berhamburan, termasuk Pak Menteri. Malam itu gempa datang berkali-kali. Lama-lama, Sofjan putus urat takutnya. Saat orang-orang kabur, ia terlelap. “Sudah jam dua pagi, masak lari-lari terus. Saya lelah sekali,” kenangnya. Besoknya, orang ramai menggunjingkan kehebatan nyali Pak Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua, 27 Desember. Entah bagaimana caranya, Menteri Keuangan berhasil menyediakan uang kontan pagi itu. Jumlah Rp 6 miliar. Menjelang siang, Kalla terbang ke Aceh membawa serta uang satu peti. Petang hari, Presiden Yudhoyono mendarat di Lhokseumawe. Wajahnya sedih. “Tadi pagi saya meninjau Nabire. Sore ini saya di Lhokseumawe menemui saudara-saudara yang tertimpa musibah lebih besar lagi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di Banda Aceh, Kalla memerintahkan stafnya memborong beras, mi instan, dan aneka makanan lain. Karena berasnya kurang, Kalla bertanya, “Eh, berasnya sedikit sekali. Mana beras dari Dolog?” Seseorang menjawab, pintu Dolog digembok. Si pemegang kunci tak diketahui rimbanya. Wakil Presiden menyergah dalam nada tinggi “Buka! Kalau tak bisa, tembak gerendelnya. Apa perlu tanda tangan Wapres untuk buka pintu Dolog?” Suasana tegang. Beberapa polisi bergegas membidik gembok. Beras pun mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan Kalla berlalu ke pendapa kantor gubernur. Di Lambaro, mereka menyaksikan ratusan mayat berjejer di depan toko. “Masya Allah,” ucap Kalla. Badannya lemas. Di pendapa ia menggelar rapat, lalu keliling kota bersama Mar’ie Muhammad, Ketua Palang Merah Indonesia, yang datang sehari sebelumnya. Kota itu lautan mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat-mayat harus segera dikubur karena bau busuk menikam hidung. Untung, ada seorang ustad. Kalla minta ustad itu mendoakan tumpukan jenazah sebelum dikuburkan. Tapi siapa yang menjamin sahnya pemakaman? “Saya jamin,” kata Kalla. Ia mencorat-coret di atas kertas, lalu membubuhkan parafnya. “Tolong keluarkan ayat yang pantas-pantas saja,” pintanya kepada ustad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari Kalla terbang dengan helikopter ke Lhok Nga untuk menjatuhkan mi instan dari udara. Helikopter itu tak punya sabuk pengaman. Setiap pesawat memutar, tubuh Kalla serong ke kiri, serong ke kanan. Rombongan Kalla terbang ke Medan pukul tujuh malam. Sofjan Djalil yang sudah dua hari di Banda Aceh minta ikut pulang. “Baru dua hari sudah minta pulang. Kau tetap di sini,” jawab Kalla. Malam itu Sofjan pusing tujuh keliling menjaga uang satu peti yang dibawa Kalla. Takut uang itu dicolong, Menteri Sofjan dan kawan-kawannya tidur mengitari peti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketiga, 28 Desember. Presiden Yuhdoyono terbang dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh. Kalla yang sudah berada di Medan mendapat kabar Meulaboh rata tanah. Ia memerintahkan stafnya mencari pesawat ke Meulaboh. Dapat pesawat Angkatan Udara. Dari udara, Meulaboh tampak seperti tanah gusuran. “Astagfirullah,” ucap Kalla berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalla meminta pilot terbang lebih rendah. Pilot mengangguk. Kalla minta lebih rendah lagi. Kali ini pilot bilang, “Tak bisa, Pak. Bahaya.” “Kau ini orang mana?” tanya Kalla. “Saya orang Makassar, Pak,” jawab si pilot. “Ah, orang Makassar kok penakut,” sergah Kalla. Pilot mengalah, pesawat melayang cuma beberapa meter di atas pucuk kelapa. Untung saja arahnya ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkali-kali memutar di atas Meulaboh, pesawat kembali ke Medan. Kalla langsung rapat dengan Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin—kini sudah almarhum. Dia memerintahkan Gubernur mengirim makanan ke Meulaboh. Keduanya sempat bersoal-jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ “Bagaimana caranya, Pak?” tanya Gubernur.&lt;br /&gt;- “Lewat udara, buang dari pesawat,” jawab Kalla.&lt;br /&gt;+ “Kalau dibuang nanti pecah, Pak.”&lt;br /&gt;- “Tidak apa-apa, toh sampai di perut pecah juga.”&lt;br /&gt;+ “Ya, tapi nanti basah Pak.”&lt;br /&gt;- “Bungkus saja pakai plastik.”&lt;br /&gt;+ “Pak, nanti jatuh ke GAM,” Gubernur berusaha menjelaskan.&lt;br /&gt;- “ Tidak apa-apa. GAM juga manusia. Perlu makan,” nada Kalla mulai meninggi.&lt;br /&gt;Beberapa orang membisiki Gubernur supaya jangan membantah.&lt;br /&gt;+ “Jadi, bagaimana, bisa atau tidak?” tanya Kalla.&lt;br /&gt;- “Siap, Pak,” jawab Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat pemasok makanan melayang ke Meulaboh. Presiden dan Wakil Presiden kembali ke Jakarta pada hari ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bantuan kemanusiaan mulai mengalir dari segenap penjuru dunia….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2131074508285664436?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.tempointeractive.com/hg/mbmtempo/arsip/2005/12/26/LU/mbm.20051226.lu2.id.html' title='Tiga Hari Penuh Badai'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2131074508285664436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2131074508285664436' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2131074508285664436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2131074508285664436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/06/tiga-hari-penuh-badai.html' title='Tiga Hari Penuh Badai'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2234293772139455543</id><published>2009-06-22T22:05:00.002+07:00</published><updated>2009-06-22T22:14:09.239+07:00</updated><title type='text'>Boediono Tetap Akan Privatisasi BUMN</title><content type='html'>Sebetulnya aneh, kalau dibilang bahwa BUMN yang dikelola negara tidak akan efisien. Beberapa keanehan atau poin yang harus diperhatikan antara lain:&lt;br /&gt;1. Mungkin BUMN itu tidak harus untung-untung amat, karena melayani hajat hidup orang banyak. Contohnya, kereta api di banyak tempat biasanya tidak untung. Tapi perlu. &lt;br /&gt;2. Bisnis yang bisa dijual ke swasta tentunya bisnis yang untung. Kalau bisnisnya rugi, apa mau swasta mengambil alih? Nah biasanya sebelum dijual, perusahaan itu harus disehatkan dulu.Artinya dibikin untung. Lha kalau sudah untung, ngapain dijual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pintar itu mikirnya memang suka aneh. Saya tertarik sekali dengan pernyataan "Menurut mantan Gubernur BI dan Menko Perekonomian ini, akan sangat berbahaya jika pengelolaan BUMN, apalagi yang sifatnya strategis, diserahkan sepenuhnya kepada sistem yang belum bersih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya lebih berbahaya kalau industri strategis dikuasai oleh asing? Aneh sekali Boediono ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa pemikiran lebih lanjut, bisa dilihat di: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://neilhoja.blogspot.com/2009/05/say-no-to-budiono-say-yes-to-budi-anduk.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu mari kita baca ulang artikel dari Jakartapress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Boediono Tetap Akan Privatisasi BUMN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jakarta - Calon wakil presiden (cawapres) Boediono tetap bersikukuh akan melanjutkan kebijakan melakukan privatisasi BUMN yang disebutnya dengan ungkapan go public. Alasannya, karena birokrasi yang belum bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau birokrasinya sudah berjalan dengan baik, kita tidak masalah BUMN dikelola sepenuhnya oleh birokrat. Realitasnya pemerintahan masih belum optimal," papar Boediono di sela-sela diskusi bersama aktivis Masjid Kampus di Bandung, Jumat (19/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mantan Gubernur BI dan Menko Perekonomian ini, akan sangat berbahaya jika pengelolaan BUMN, apalagi yang sifatnya strategis, diserahkan sepenuhnya kepada sistem yang belum bersih. Kewenangan luar biasa bagi birokrasi demikian, sambungnya, berpotensi terjadinya penyimpangan seperti di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan, ketika seorang pejabat yang ditunjuk untuk memimpin atau mengelola BUMN berasal dari departemen tertentu, seringkali pejabat tersebut malah menjadi sapi perahan departemen asal. Alih-alih diperuntukan mensejahterakan rakyat, BUMN malah menjadi tidak efisien dan memboroskan ekonomi negara. "BUMN dipegang oleh birokrat seperti itu bisa berbahaya," tutur cawapres pendamping capres SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, lenjutnya, kunci utama perbaikan terletak pada penciptaan pemerintahan yang lebih bersih untuk rakyat sesuai dengan visi misi pasangan tersebut. Sebelum itu terlaksana, ia meminta untuk tetap membuka ruang bagi privatisasi BUMN, baik itu melalui pasar modal maupun menggunakan strategic partner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Direktur Indef, M Ikhsan Modjo PHd mengemukakan, indikator cawapres Boediono adalah neoliberal bisa dilihat dari kebijakannya yang diambil saat ia menjadi pejabat. "Boediono membawa agenda seperti persetujuan utang luar negeri, dia bilang juga utang itu tidak haram bagi Indonesia. Penguasaan asing juga banyak terjadi waktu dia menjabat," papar Ikhsan usai diskusi ‘Neolibealisme Vs Ekonomi Kerakyatan’ di Universitas Atmajaya, Jakarta, Jumat (19/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda lain yang dibawa Boediono, menurut Ikhsan, adalah munculnya dominasi asing yang kuat akibat kebijakan saat ia menjabat sebagai Menteri Keuangan pada era Presiden Megawati. "Banyak sekali kebijakan yang diprivatasasi, utang yang terus membesar serta disiplin fiskal. Banyak sekali perjanjian asing yang ditandatangani waktu dia menjabat," ungkap Direktur Indef.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, lanjut dia, apabila SBY-Boediono terpilih, maka dikhawatirkan banyak terjadi privatisasi penguasaan usaha negara. "Jelas bahaya. Makanya kita perlu melakukan affirmative action untuk penguasa. Dan yang penting adalah banyak sekali agenda asing yang masuk. Akibatnya perekonomian kita tidak akan menjadi mandiri dan selalu bergantung kepada kepentingan asing," bebernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhsan menilai, sebenarnya SBY mengetahui cap neolib terhadap Boediono. "Tapi dia dicekoki oleh orang-orang yang bermain di belakangnya. Ibaratnya, SBY diculik di tikungan, karena ekonomi kita dikuasai oleh mafia Barkeley," kata dosen Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga, Surabaya ini. (MI/KSN)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2234293772139455543?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://jakartapress.com/news/id/7296/Boediono-Tetap-Akan-Privatisasi-BUMN.jp' title='Boediono Tetap Akan Privatisasi BUMN'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2234293772139455543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2234293772139455543' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2234293772139455543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2234293772139455543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/06/boediono-tetap-akan-privatisasi-bumn.html' title='Boediono Tetap Akan Privatisasi BUMN'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-563004509438019423</id><published>2009-06-19T10:52:00.003+07:00</published><updated>2009-06-19T10:56:59.295+07:00</updated><title type='text'>Penawaran Menarik dari Mandiri Visa</title><content type='html'>Kemarin dapat pinjaman katalog Mandiri Visa dari teman sekantor dan sekuliah (siapa hayo?). Ada penawaran menarik. Jadi gua scan dan crop ya biar bisa ditampilkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SjsL8ibaKaI/AAAAAAAAALg/4AJGsrjTbrQ/s1600-h/Mandiri+Offer.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 227px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SjsL8ibaKaI/AAAAAAAAALg/4AJGsrjTbrQ/s400/Mandiri+Offer.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348882117094418850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada penawaran ponsel Quran. Ini rasanya iklan dengan tagline terheboh di katalog ini, bahkan mungkin selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponsel yang sudah memiliki fitur Al Qur'an ini menyebutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komunikasi dengan Allah (habulinallah) dan komunikasi dengan sesama (habluminannas) dalam satu genggaman&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantab...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-563004509438019423?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/563004509438019423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=563004509438019423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/563004509438019423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/563004509438019423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/06/penawaran-menarik-dari-mandiri-visa.html' title='Penawaran Menarik dari Mandiri Visa'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SjsL8ibaKaI/AAAAAAAAALg/4AJGsrjTbrQ/s72-c/Mandiri+Offer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3390334552028059620</id><published>2009-06-17T09:51:00.000+07:00</published><updated>2009-06-17T09:52:39.912+07:00</updated><title type='text'>Beberapa Stasiun TV Tidak Mau Menayangkan Iklan Mega-Prabowo</title><content type='html'>INILAH.COM, Jakarta - Timkampanye Mega-Prabowo merasa kecewa kepada beberapa stasiun televisi yang menolak menayangkan iklan politiknya. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun akan mempelajari penolakan iklan Mega-Pro itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seandainya memang ada pihak yang merasa dirugikan bisa melaporkan ke KPI. Dan KPI akan memelajari apakah alasan penolakan itu bisa diterima atau memang ada indikasi penghalangan dari pihak tertentu," ujar anggota KPI Muhammad Izzul Muslimin kepada INILAH.COM, Jakarta, Rabu (17/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Izzul, selain KPI yang memiliki wewenang untuk mempelajari kasus itu, Bawaslu sebagai lembaga pengawas juga dapat menindaklanjuti. Karena kasus ini berkaitan dengan tidak diberikannya kesempatan yang sama kepada kandidat pilpres oleh media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berdasarkan undang-undang Pilpres setiap media massa itu harus memberikan kesempatan yang sama kepada setiap kandidat Pilpres 2009. Bila memang salah satu kandidat ada yang mampu membayar sesuai ketentuan yang sama dengan kandidat lain dan ada kesempatan untuk menayangkan iklan itu, maka tuidak ada alasan stasiun televisi menolaknya," jelas Izzul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Sekretaris Umum Timkamnas Mega Pro mengungkapkan, sudah sejak dua minggu ini iklan politik Mega-Prabowo yang bertema 'Bangkrut' dilarang tayang di beberapa televisi. Alasannya, iklan yang menyampaikan data soal kemiskinan dan pengangguran itu dianggap mengkritik pemerintah. [mut/]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3390334552028059620?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://inilah.com/berita/politik/2009/06/17/116683/kpi-pelajari-penolakan-iklan-mega-pro/' title='Beberapa Stasiun TV Tidak Mau Menayangkan Iklan Mega-Prabowo'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3390334552028059620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3390334552028059620' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3390334552028059620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3390334552028059620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/06/beberapa-stasiun-tv-tidak-mau.html' title='Beberapa Stasiun TV Tidak Mau Menayangkan Iklan Mega-Prabowo'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5643779319935820321</id><published>2009-06-07T21:39:00.003+07:00</published><updated>2009-06-07T21:47:23.299+07:00</updated><title type='text'>Saya mau beli novel ini ah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SivSyfVEcoI/AAAAAAAAALY/hP-WxT6DmDE/s1600-h/Gading-6.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SivSyfVEcoI/AAAAAAAAALY/hP-WxT6DmDE/s400/Gading-6.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344597147650388610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya cukup menarik ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti saya beli dulu novelnya, mungkin bisa bikin resensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanx to Raka for the info.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5643779319935820321?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://3gcinta.blogspot.com/' title='Saya mau beli novel ini ah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5643779319935820321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5643779319935820321' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5643779319935820321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5643779319935820321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/06/saya-mau-beli-novel-ini-ah.html' title='Saya mau beli novel ini ah'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SivSyfVEcoI/AAAAAAAAALY/hP-WxT6DmDE/s72-c/Gading-6.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-425142890878638473</id><published>2009-06-07T21:39:00.000+07:00</published><updated>2009-06-07T21:44:38.173+07:00</updated><title type='text'>Wawancara JK di Majalah Tempo Edisi Awal 2 Juni 2009</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JUSUF KALLA: JANGAN-JANGAN MAU MEMPERMALUKAN SAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia punya kenangan tersendiri tentang kantor redaksi majalah Tempo. Lima tahun lalu, sebelum pemilihan presiden, Ketua Umum Partai Golkar itu berkunjung, dan ia terpilih menjadi wakil presiden--mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin pekan lalu, dengan pengawalan jauh lebih ketat dibanding lima tahun silam--meski tetap longgar untuk ukuran wakil presiden--ia kembali bertandang ke kantor Tempo di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;"Ruang ini penuh berkah," kata Jusuf Kalla, 67 tahun. Kali ini statusnya penantang Yudhoyono: calon presiden yang berpasangan dengan Jenderal Purnawirawan Wiranto. Didahului makan siang dengan menu biasa--nasi sayur asam, ayam goreng, ikan bumbu pedas, dan tempe goreng--Jusuf Kalla satu jam lebih meladeni pertanyaan tuan rumah. Petugas protokoler Istana Wakil Presiden awalnya meminta pertemuan hanya diikuti belasan orang, tapi pada akhirnya ruang rapat redaksi, tempat pertemuan digelar, sesak oleh awak redaksi Tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalla didampingi Sekretaris Wakil Presiden Tursandi Alwi, juru bicara tim sukses JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi, dan beberapa pendukungnya. Seperti biasa, Jusuf Kalla menjawab pertanyaan dengan lugas, dan tanpa off the record.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa Anda memutuskan berpisah dengan SBY?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya siap berkoalisi lagi. Tiga kali saya bertemu SBY membicarakannya. Beliau setuju, tapi dengan sejumlah syarat. Kalau melanjutkan koalisi, masa perlu syarat-syarat lagi? Itu menandakan beliau mungkin mempunyai pandangan lain. Itu hak beliau. Kami hormati. Jadi, kalau begitu, kami jalan sendiri saja.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Apa saja syaratnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyaklah. Misalnya, calon yang diajukan bukan ketua umum partai. Secara tersirat, sebenarnya beliau hanya ingin melanjutkan koalisi Demokrat-Golkar, bukan SBY-JK. Calon yang diajukan juga harus loyal. Sebenarnya loyal tidak masalah, tapi pada negara, bukan pribadi. Apa pernah saya tidak loyal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golkar juga diminta mengajukan lima nama. Aneh, kalau memang mau melanjutkan koalisi, mengapa minta lebih dari satu nama? Jangan-jangan ini mau mempermalukan saya. Bagi Golkar, ini tidak sesuai dengan rapat pimpinan nasional yang telah memutuskan satu nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang Anda katakan ketika menyatakan berpisah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada perpisahan resmi sebenarnya, karena memang begitulah politik. Tapi, ketika saya serahkan surat resmi di Istana, kami berdua terharu. Sampai kita peluk-pelukan berdua: kenapa akhirnya begini?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Slogan kampanye Anda "Lebih Cepat, Lebih Baik" membuat SBY tersinggung?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya, katanya seperti itu. Padahal, yang saya maksud lebih cepat lebih baik bukan masalah pribadi. Ini menyangkut kepemimpinan, pengelolaan bangsa, dan program pemerintah. Bisa tercapai lebih cepat kan lebih baik? Jangankan negara, salat pun lebih cepat lebih baik. Namanya politik, masa kita mau bilang "lebih lambat, lebih baik"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah memperhatikan partai lain, saya selalu memperhatikan diri saya. Jangan, dong, mengontrol apa yang mau kita bilang. Itu kan tidak bagus? Namanya kampanye, kita harus jual yang terbaik, kan? Kita harus menjual solusi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Itu menohok SBY, yang dikenal lambat karena terlalu banyak pertimbangan....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing orang kan berbeda, kita maklum saja.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Rapat kenaikan BBM sampai perlu dilakukan 12 kali?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya, mungkin dibutuhkan pertimbangan yang matang. Saya pikir itu gaya hati-hati yang baik. Mungkin belum tentu efektif, tapi penuh kehati-hatian itu penting juga.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kasus Anda berseberangan dengan Boediono, waktu itu Gubernur Bank Indonesia. Misalnya soal blanket guarantee setelah muncul kasus Bank Century?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpendapat, blanket guarantee itu artinya semua masalah perbankan--kesulitan cash flow, rugi, dan sebagainya--pada akhirnya ditanggung APBN. Ini artinya ditanggung seluruh rakyat. Saya tidak mau kesalahan bankir-bankir itu dibebankan ke rakyat. Itu menzalimi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman pada 1998, blanket guarantee itu justru merugikan, tidak memberikan hal positif. Saya lalu kasih data, statistik, grafik, kepada Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan. Saya bilang tidak, karena bisa menimbulkan krisis kedua. Semua negara yang memberikan blanket guarantee, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, pertumbuhan ekonominya minus.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang mengusulkan blanket guarantee?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam, Kadin, pihak perbankan, semua memberikan usulan. Yang ngotot itu Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sikap SBY bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menteri Keuangan mengatakan (sikapnya) sudah disetujui Presiden. Saya lalu setuju, tapi hanya Rp 2 miliar. Itu bukan blanket guarantee, tapi jaminan perbankan. Kepada Gubernur Bank Indonesia saya bilang, jangan seenaknya saja: mengawasi perbankan tapi mengorbankan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Apa alasan Gubernur Bank Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Katanya untuk kestabilan moneter, agar perbankan jalan. Itu cara normatif: ciri-ciri monetaris. Saya bilang tidak.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bukankah BI tidak perlu datang ke presiden?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini menyangkut jaminan negara, artinya rakyat yang menjamin. Akibatnya, kita bisa kekurangan anggaran pendidikan, kesehatan, perbaikan jalan. Sama seperti Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, rakyat harus menanggung 50 tahun.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang itu titik balik hubungan Anda dengan SBY?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengatakan itu. Tapi, untuk persoalan itu, saya memang keras sekali. Sampai ada yang taruhan: siapa yang benar, Wakil Presiden atau yang lain. Kenyataannya sampai sekarang perbankan tetap aman.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Direktur Utama Bank Century dipenjarakan setelah itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya. Saya juga yang memerintahkan agar dia ditangkap. Waktu itu Bank Indonesia mengatakan tidak bisa karena tidak ada hukumnya. Saya bilang, mengapa tak bisa. Polisi harus mencari (dasar) hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal apa lagi perbedaan Anda dengan Boediono?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal saya selalu ingin pemerintah itu mencari jalan. Menteri dan Wakil Presiden kan harus memiliki target. Target itu harus diraih dengan segala upaya. Kalau ada aturan yang tidak sesuai, aturannya yang diperbaiki, bukan targetnya yang dihentikan. Nah, Pak Boediono itu taat aturan. Itu gaya eselon dua atau kepala biro. Kalau menteri, seharusnya bikin terobosan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Apakah SBY tidak pernah menengahi perbedaan Anda dengan Boediono?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara terbuka SBY tidak pernah memberikan pandangan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam proyek monorail, Anda dan Boediono juga bertentangan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Proyek monorail itu proyek DKI yang diresmikan pada zaman Ibu Mega. Waktu itu Boediono Menteri Perekonomian, dan saya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Kemudian proyek ini terbengkalai. Perusahaan private partnership tidak punya kemampuan finansial. Mula-mula biayanya US$ 800 juta. Saya bilang itu kemahalan, bisa turun jadi US$ 400 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk transportasi publik, pemerintah harus terlibat. Caranya dengan memberikan jaminan untuk pemerintah DKI. Lalu DKI menjamin ke investor, itu harus punya penumpang sekian. Karena mereka tak punya hak menjamin, Menteri Keuangan harus menjaminnya. Jadi, Menteri Keuangan itu menjamin pemerintah DKI, bukan menjamin swasta.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana soal listrik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tidak membangun pembangkit listrik dua tahun lalu, tahun ini Indonesia gelap-gulita. Subsidinya bisa Rp 100 triliun karena memakai diesel. Saya dulu bilang, bangun pembangkit listrik dengan batu bara. Listrik ini luar biasa, dalam satu tahun bisa kembali modal. Subsidi untuk listrik Rp 80 triliun pada 1998. Dengan membangun senilai itu, subsidi langsung turun menjadi Rp 10 triliun. Tapi, karena tak punya uang, ya harus meminjam dulu dengan jaminan negara. Itu tanda tangani saja, pembayarannya pasti tak akan (melewati masa) jatuh tempo.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu dianggap menabrak undang-undang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukan, cuma keputusan presiden atau malah keputusan menteri. Saya bilang, ubah saja aturannya. Dalam waktu satu hari, aturan berubah. Mereka yang menolak dulu berpikir bahwa pemerintah jangan campur tangan. Semua diserahkan ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ciri neoliberal?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bilang begitu, ya. Yang bilang itu Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda memang cepat, tapi keputusannya dianggap menguntungkan perusahaan-perusahaan keluarga Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapa? Coba tunjukkan!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bosowa Energi dalam proyek listrik itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bosowa itu IPP (independent power producer alias pengembang listrik swasta). Itu siapa saja boleh. Masa, bisa dibilang diskriminasi? Justru kita harus angkat topi pada pengusaha yang mau mengambil risiko. Kita harus hormat pada kemenakan saya yang mau ambil risiko itu. (Erwin Aksa, keponakan Jusuf Kalla, memimpin Grup Bosowa, yang berencana membangun pembangkit listrik di Sulawesi Selatan--Red.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bukaka Teknik juga pernah menangani proyek menara listrik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itu juga IPP, boleh-boleh saja, dong. Bukaka itu perusahaan pertama di Indonesia yang mampu membuat menara listrik. Anda boleh bangga. Dulu menara listrik itu diimpor, sekarang tidak. Garbarata (jembatan antara terminal dan pesawat) juga begitu. Kalau kita bicara kemandirian, mestinya Bukaka dapat bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bisnis mengandalkan pasokan informasi paling cepat. Bukankah perusahaan keluarga diuntungkan dengan posisi Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa contohnya? Kalau khawatir tanpa contoh, kan tak enak?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kasus helikopter yang dulu hendak disewakan ke Badan Penanggulangan Pengungsi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Helikopter itu bukan milik pemerintah, milik sendiri. Masa, tidak boleh berdagang milik sendiri?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bisnis keluarga Anda itu dikritik Boediono....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Coba tunjukkan satu yang saya campuri. Jangan lupa, bisnis keluarga saya 95 persen berurusan dengan masyarakat. Cuma 5 persen yang mungkin tender dengan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau famili tidak boleh berbisnis lagi, itu bahaya sekali. Latar belakang saya pengusaha, adik pengusaha, bapak pengusaha. Sama saja dengan Pak SBY: beliau jenderal, bapaknya tentara, mertua tentara, besan tentara, adik tentara, anak juga tentara. Kita tak bisa mengatakan itu kolusi atau nepotisme, kan?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa batas keluarga pejabat bisa berbisnis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selama tidak melanggar hukum. Selama dia mengikuti aturan tender. Jangan lupa, informasi tentang tender itu terbuka sekali.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda menang, apa yang akan berubah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan dan pertumbuhannya. Kami sanggup mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen, asalkan melaksanakan terobosan. Kita percepat infrastruktur, percepat proses bisnis yang lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Target Anda berapa hari doing business?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya sanggup 50 hari. Malaysia kan 30-an? Soal izin, terutama, kita percepat. Soal kemampuan bank mempercepat kredit. Soal aturan, hukum, akan saya periksa dengan detail. Dulu itu saya tangani, tapi kemudian dipindah ke Menteri Koordinator Perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berapa modal Anda jadi presiden?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada 2004 kami termasuk yang paling kecil biayanya, tapi bisa menang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berapa sih dana minimum agar terpilih?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya, tergantung. Sama saja dengan makan, kita bisa kenyang dengan nasi bungkus Rp 20 ribu, juga bisa tidak kenyang dengan makanan Jepang Rp 1 juta. Pada 2004 , total biaya yang kami keluarkan Rp 120 miliar. Sekarang dua kali lipatnyalah. Itu karena semua mahal, termasuk iklan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tidak memilih Prabowo yang kaya sebagai pasangan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami memilih yang cocok, bukan yang banyak uangnya. Lagi pula, beliau ingin jadi presiden waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana peluang Anda menjadi pemenang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ha-ha-ha.... Begini, terus terang saya surprise dengan dukungan satu minggu terakhir ini. Banyak yang mengira pemilihan presiden itu penjumlahan suara hasil pemilu legislatif. Ini keliru sekali. Pemilihan presiden itu soal figur. Mulai dari leadership, track record, kemampuan, kaya, macam-macam. Ditambah faktor politik, berapa partainya. Partai pun tidak semua loyal. Kami ini Pasangan Nusantara, itu kan berarti kulturalnya melebar. Ditambah lagi hubungan-hubungan keagamaan. Jadi, kami yakin mempunyai kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Golkar, Anda juga tidak didukung penuh. Misalnya Aburizal Bakrie menggelar pertemuan membahas percepatan Musyawarah Nasional Golkar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya harus mengklarifikasi, tidak ada satu pun pembicaraan tentang musyawarah nasional dalam pertemuan itu. Mereka hanya membahas solidaritas membantu SBY-JK. Memang ada pihak yang berkampanye, nanti kalau diadakan musyawarah nasional, dukung-dukunglah. Musyawarah nasional kira-kira November-Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda tidak melihat Aburizal, Akbar Tandjung, dan Agung Laksono yang dikenal sebagai Trio Alpha ingin menggusur Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mau trio-trio apalah, ya..., silakan aja. Kalau kami menang, mau apa mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alasan mereka kan tidak mau Golkar menjadi oposisi nanti....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kami menang, kan tidak menjadi oposisi? Itu salah pemikirannya, belum bertanding sudah merasa kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Suasana kabinet sekarang seperti apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah agak lama tidak ada sidang kabinet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tidak diundang lagi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau di paripurna, saya diundang. Kalau yang terbatas, saya tidak tahu, cuma lihat di koran. Namanya wakil kan terserah presidennya. Ndak usah maksa-maksa. Kalau memang tidak boleh, ya sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah tidak sebaiknya Anda nonaktif sebagai wakil presiden?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya dipilih berdua oleh 70 juta orang. Kalau saya diangkat, boleh saja. Ini kan dipilih, rakyat bisa marah kalau kami mundur.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Oke, tolong jawab dalam kalimat singkat: mengapa JK-Wiranto layak dipilih?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena dengan pengalaman, kami sanggup membuat bangsa ini menjadi lebih baik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-425142890878638473?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/425142890878638473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=425142890878638473' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/425142890878638473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/425142890878638473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/06/wawancara-jk-di-majalah-tempo-edisi.html' title='Wawancara JK di Majalah Tempo Edisi Awal 2 Juni 2009'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7476209577541216677</id><published>2009-05-13T21:06:00.000+07:00</published><updated>2009-05-13T21:10:04.193+07:00</updated><title type='text'>Menghargai Kartini, Menyelamatkan Kartono</title><content type='html'>Agak terlambat untuk hari Kartini. Tapi rasanya masih bolehlah.&lt;br /&gt;Seingat saya, dulu sekali, saya pernah membaca ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Saya sudah lupa isinya. Surat-menyurat antara Kartini dan kenalannya di Belanda, menceriatakan tentang pemikiran dan cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini memang punya cita-cita agar wanita bangsanya lebih maju. Mulia sekali. Cuma saya sering bertanya juga, bagai mana sebetulnya posisi Kartini dibandingkan Dewi Sartika, misalkan. Sartika jelas tidak menulis surat. Tapi beliau membuka sekolah. Mungkin harus ditelaah lagi, apakah Sartika sendiri terinspirasi oleh Kartini.&lt;br /&gt;Bukan sejarah itu yang ingin saya bahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekitar setahun yang lalu, seorang supplier saya dari China (seorang perempuan), tiba-tiba bertanya pada saya,”Bagai mana kondisi wanita di Indonesia?”&lt;br /&gt;Terus terang saya agak kaget. Saya tidak terlalu akrab dengan supplier ini, dan komunikasi pun jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang, saya pikir wanita di Indonesia baik-baik saja. Kalau ada yang sekolah tidak ada yang meremehkan hanya karena dia wanita. Bahkan mungkin di Indonesia, wanita memegang peranan yang sangat penting. Karena sudah menjadi rahasia umum: istri pejabat lebih berkuasa dari suaminya, istri jenderal punya satu bintang lebih banyak dari suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya kuliah di ITB, perempuan hanya 10% dari populasi di jurusan saya. Di Mesin waktu itu konon katanya rasionya 1 banding  4: 1 wanita tiap 4 angkatan. Tapi berbeda dengan di film-film Amerika yang mengisahkan tentang perempuan yang masuk ke akademi yang didominasi laki-laki, saya tidak merasa ada pembedaan dalam artian dipersulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah di mesin, satu-satunya mahasiswi itu kelihatannya dibela dan didukung oleh rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu bagai mana di tahun 70-an. Buat saya, maaf jika saya menyimpulkan seperti ini, masalah gender di Indonesia saat ini tidaklah terlalu kritis seperti apa yang ada di Amerika mau pun Eropa. Kondisi Indonesia sendiri tidak terlalu menyudutkan perempuan. Mungkin kita bisa menengok perjalanan sejarah yang berbeda antara bangsa-bangsa dan mempelajari bagai mana sejarah itu pada akhirnya mengantarkan kita pada persepsi yang berbeda-beda tentang wanita.&lt;br /&gt;Justru yang ingin saya soroti saat ini, banyaknya tenaga kerja pria yang diganti oleh wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang menuduh, bahwa emansipasi sebetulnya ditunggangi oleh pengusaha. Pemikirannya adalah, total biaya yang dikeluarkan untuk satu orang wanita di posisi yang sama lebih murah dari pada laki-laki. Selalu ada alasannya. Misalkan di tempat istri saya bekerja, tidak ada tunjangan kesehatan untuk suami dan anak karena dianggap itu urusan suaminya. Padahal istri saya menempati posisi yang jika diisi oleh suami, memiliki key performance indicator yang sama (target pemasaran dsb.)&lt;br /&gt;Belum lagi, pegawai wanita dianggap lebih bisa diatur, tidak banyak tuntutan. Biasanya ibu-ibu takut dipecat di pabrik karena suaminya pekerjaannya tidak tetap, lebih memikirkan keluarga dibanding bapak-bapak yang kalau egonya tersenggol tidak lagi memikirkan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sulit mendapatkan keluhan, bahwa saat ini pria sulit mendapat kerja di pabrik, pompa bensin, dan sebagainya. All women gas station makin banyak saja saya temui.&lt;br /&gt;Saya terus terang agak khawatir tentang hal ini. Tuduhlah saya bias gender, tapi buat saya seharusnya pekerjaan itu diprioritaskan untuk wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis, laki-laki yang tidak bekerja dalam masyarakat mendapatkan tekanan yang lebih besar dari pada wanita yang tidak bekerja. Sebabnya jelas, karena  Indonesia masyarakatnya masih beragama. Kalau wanita punya hak mencari nafkah, maka buat laki-laki itu adalah kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi selama kita masih berbasiskan agama, maka laki-laki dan wanita itu setara, sejajar. Bukan sama hak dan kewajibannya. Ini yang perlu sedikit ditekankan. &lt;br /&gt;Saya bingung juga meneruskannya. Ya sudah diposting aja dulu. Kalau ada yang tidak sependapat baru diskusi lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7476209577541216677?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7476209577541216677/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7476209577541216677' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7476209577541216677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7476209577541216677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/05/menghargai-kartini-menyelamatkan.html' title='Menghargai Kartini, Menyelamatkan Kartono'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5335878601411130615</id><published>2009-05-04T21:40:00.002+07:00</published><updated>2009-05-04T23:25:44.402+07:00</updated><title type='text'>Susu Kapitalis...</title><content type='html'>Tertegun juga saya membaca berita di Kompas. Katanya para peternak sapi meminta agar harga susu tidak terlalu turun. Mereka mempermasalahkan perbedaan Rp 150,00 per kg. Saya baru memperhatikan, ternyata harga beli susu ke petani (oleh industri susu) adalah di kisaran Rp 3.500,00 per kg. &lt;br /&gt;Baru siangnya, saya memeriksa harga susu anak saya. Per kaleng berisi 1 kg, harganya Rp 177.000,00. Tapi ini kan susu bubuk. Saya jadi ingin tahu, bagai mana cara mengkonversi ukuran 1 kg susu sapi murni menjadi susu kaleng.&lt;br /&gt;Katakanlah, berat jenis susu setara air. Artinya kira-kira 1 kg memiliki volume 1 liter. Katakanlah lagi, setiap kali susu dikonsumsi sebanyak 1 gelas yaitu 200ml. Jadi 1 liter itu bisa untuk 5x konsumsi. Anak saya minum susu kira-kira juga sekitar 5x sehari. Dan habis  sekitar 1 kaleng per 5-7 hari. Anggaplah 7 hari.&lt;br /&gt;Jadi kalau menggunakan susu murni, maka biaya yang harus saya keluarkan adalah Rp 3.500,00 dikali 5 hari dikali 1 liter/hari = Rp 17.500,00. Sedangkan dengan menggunakan susu formula, biaya yang saya keluarkan adalah Rp 177.000,00.&lt;br /&gt;Bukannya saya tidak mau membelikan anak saya susu mahal-mahal. Saya hanya ingin tahu, apa yang menyebabkan harga susu yang dikonsumsi anak saya sampai dengan 10x lipat. Apakah karena AA-DHA? Tambahan vitamin? Kaleng yang funky? Biaya marketing? Apalagi masih ada kalimat: industri pemroses susu lebih suka memakai susu impor yang harganya lebih murah. &lt;br /&gt;Saya benar-benar merasa para petani susu berhak untuk mendapatkan harga yang lebih baik, yaitu di kisaran Rp 4.500,00 seperti yang mereka minta dan seperti yang telah dihitung oleh  konsultan sebagai angka yang layak agar peternak sapi bisa hidup dengan baik.&lt;br /&gt;Apakah ada yang bisa menjelaskan kepada saya, biaya produksi susu? Jangan-jangan ini seperti sepatu Nike yang dijual dengan harga 20x biaya produksi. Hanya saja, di ‘empat sehat lima sempurna’ tidak ada sepatu…&lt;br /&gt;Saya jadi teringat, bayangan yang melintas di kepala saya bertahun-tahun yang lalu. Ketika mencari makan di Simpang, saya melihat iklan susu yang besar. Saya bertanya dalam hati, jika tidak ada perusahaan-perusahaan raksasa ini, apakah konsumen bisa mendapatkan susu yang berkualitas? Dan apakah jika tidak ada perusahaan-perusahaan raksasa ini, apakah harga susu akan lebih murah atau bahkan sebaliknya?&lt;br /&gt;Apakah kapitalisme semacam ini memang memberikan kepada konsumen yang terbaik atau benarkah Bung Hatta yang menganjurkan koperasi? Apakah pemerintah perlu membentuk BUMN yang memproduksi susu (yang jika diperlukan) bersubsidi?&lt;br /&gt;Kurang dari setahun yang lalu saya masih menanyakan pertanyaan yang sama kepada teman saya yang bekerja di produsen susu internasional. &lt;br /&gt;Saya tetap belum mendapat jawaban.&lt;br /&gt;Tapi ada artikel menarik yang bisa disimak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://lita.inirumahku.com/health/lita/menyoal-harga-dan-suplementasi-aa-dha-di-susu-formula-bayi/"&gt;http://lita.inirumahku.com/health/lita/menyoal-harga-dan-suplementasi-aa-dha-di-susu-formula-bayi/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5335878601411130615?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5335878601411130615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5335878601411130615' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5335878601411130615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5335878601411130615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/05/susu-kapitalis.html' title='Susu Kapitalis...'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3295585724351415287</id><published>2009-04-22T20:01:00.001+07:00</published><updated>2009-04-22T20:05:04.538+07:00</updated><title type='text'>Mengingat Kembali Kuis Antena</title><content type='html'>Tadi saya main ke kampus, ke lab radar. Di pintu saya melihat pengumuman yang sudah bertahun-tahun tidak saya lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman nilai kuis antena! What a surprise. Saya kira Pak Herman sudah pensiun. Ternyata belum. Saya sempat menemui Pak Herman. Alhamdulillah terlihat sehat. Tapi kata beliau,"Dari luar terlihat sehat." Mudah-mudahan tidak ada sakit yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pak Herman menyatakan tidak tahu apakah tahun depan masih mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng saya ambil foto pengumuman nilai kuis Antena. Buat adik-adik kelas yang NIM-nya tertulis, saya mohon maaf. Tidak ada maksud apa-apa. Hanya sekedar nostalgia.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Se8V7WpXl9I/AAAAAAAAAKw/w4-cNdhlnHw/s1600-h/Antena.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Se8V7WpXl9I/AAAAAAAAAKw/w4-cNdhlnHw/s400/Antena.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327500993638143954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3295585724351415287?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3295585724351415287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3295585724351415287' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3295585724351415287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3295585724351415287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/04/mengingat-kembali-kuis-antena.html' title='Mengingat Kembali Kuis Antena'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Se8V7WpXl9I/AAAAAAAAAKw/w4-cNdhlnHw/s72-c/Antena.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5276378383497117301</id><published>2009-04-08T11:01:00.002+07:00</published><updated>2009-04-08T11:06:47.961+07:00</updated><title type='text'>Paling Tidak, Datanglah ke TPS Pemilu 2009 Ini</title><content type='html'>Sampai tulisan ini diturunkan, saya masih ragu-ragu untuk ikut pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan pertama, saya belum punya pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan kedua, saya malas antri di TPS. Hehehe. Makin ke sini saya makin malas antri di bank, antri bayar telefon, antri bayar air, dan sebagainya. Termasuk di dalamnya antri di TPS. Walau demikian, saya berharap besok tidak terlalu ramai sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya pikir-pikir, trilyunan rupiah sudah dihabiskan untuk pesta besok. Mungkin trilyunan lagi akan dihabiskan oleh orang yang dipilih besok. Ini angka yang besar. Dan saya pikir-pikir lagi, boleh saja saya golput. Hanya saja saya tidak bisa membiarkan kertas suara kosong. Orang harus tahu bahwa golput saya adalah karena saya tidak memilih, bukan karena saya tidak datang yang masih mungkin dikarenakan hal-hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya simpulkan, apa pun keputusan saya besok, paling tidak saya harus datang ke TPS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5276378383497117301?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5276378383497117301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5276378383497117301' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5276378383497117301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5276378383497117301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/04/paling-tidak-datanglah-ke-tps-pemilu.html' title='Paling Tidak, Datanglah ke TPS Pemilu 2009 Ini'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4667694415760225681</id><published>2009-03-30T14:53:00.002+07:00</published><updated>2009-03-30T14:59:20.001+07:00</updated><title type='text'>Seekor Puma di Saparua</title><content type='html'>Tujuan saya sebetulnya sederhana saja. Cita-cita lugu pemuda kota: sarapan nasi timbel di Bawean. Bertahun-tahun meninggalkan Bandung, saya tetap merasa paling tenteram kalau bisa sarapan di sana. Nggak peduli teman-teman sudah jadi manajer dan pengusaha sukses di mana-mana, kalau timbel + ayam goreng dan kawan-kawannya sudah di piring saya, rasanya surga dunia dalam genggaman. Surga yang tidak mereka rasakan. Hehehehe. Yang membuat masih ingat bahwa ini masih di dunia adalah, kenyataan saya menahan diri untuk tidak memesan es duren. Kolesterol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat sarapan lainnya yang memberikan ketenangan hidup dunia ada di nasi kuning Sumur Bandung. Duduk sambil melihat mahasiswa-mahasiswa dengan masa depan cerah (setelah lepas dari mahasiswa masa depan tidak secerah itu kelihatannya) berlalu-lalang sambil berpikir, mengapa setelah satu dekade lebih, si Ibu nasi kuning masih suka mengambil perkedel dengan tangan yang sama dengan yang dipakai untuk memegang uang. Apa mungkin itu rahasia kelezatan nasi kuningnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Jumat kemarin saya berencana sarapan timbel. Tujuan sederhana ini terasa sulit sekali dicapai, karena ada kampanye partai Demokrat di Gazibu. Akan terlalu berlebihan kalau saya menyimpulkan bahwa sistem politik kita membuat orang sulit mencari sesuap nasi (timbel). Tapi kira-kira begitulah ilustrasinya. Macet di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu saya bergerak menuju jalan Riau, sekedar karena memang tidak ada acara hari itu. Ketika melewati Saparua, saya tertegun melihat ada kendaraan tidak biasa parkir di situ. Bukan BMW, bukan Porsche. Agak berbeda, ini super Puma!!!&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SdB7Am-7x5I/AAAAAAAAAKY/hHdWGPcyb-g/s1600-h/puma1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SdB7Am-7x5I/AAAAAAAAAKY/hHdWGPcyb-g/s400/puma1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318886410319284114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Super puma sebetulnya bukan barang yang tidak biasa buat saya. Kakak ipar saya sering nyetir yang satu ini. Punya kantor, Angkatan Udara. Cuma baru sekali ini saya lihat Super Puma mendarat di lapangan, lapangan Saparua. Kagum juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengelilingi lapangan Saparua beberapa kali untuk memastikan saya tidak salah lihat, juga untuk mencari tahu di mana seharusnya parkir di lapangan Saparua, akhirnya saya memutuskan untuk parkir di Kantor Pos, lalu berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan ini ternyata salah berat, karena pintu masuk lapangan Saparua ternyata ada di sisi yang berseberangan. Sebagai fotografer amatiran, saya terlalu malas untuk menyeberang. Jadi saya foto saja dari sisi sebelah sini (arah kantor Pos maksudnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bukan saya saja yang melongo melihat ada helikopter mendarat di lapangan. Seorang kakek mengajak cucunya melihat-lihat, bahkan ada yang sampai ke tengah lapangan. Seorang tukang korang segera memberikan komentar,"Hebat ya sebesar itu bisa terbang..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, hebat juga ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa setengah jam saya terseret mendengarkan perdebatan antara si tukang koran dengan seorang pensiunan Pepabri tentang kondisi bangsa, dipicu oleh helikopter yang nongkrong di lapangan. Sedikit pun saya tidak mengerti, bagai mana helikopter yang sedang santai itu memberi mereka inspirasi untuk merefleksikan kondisi bangsa yang sedang terpuruk. Setengah jam kemudian saya masih mendengarkan pandangan si tukang korang tentang berbagai macam persoalan bangsa. Tentang bagai mana antar suku dan ras harus bekerja sama membangun (termasuk,"Orang Cina juga bagian dari bangsa Indonesia dan punya perannya"), tidak boleh membedakan seseorang karena suku, agama, atau ras-nya ("jangan dilihat agamanya beda-beda, yang penting kita lihat, bagai mana kelakuannya"), ketidaksetujuannya tentang BLT ("saya tidak dapat BLT dan kalau dapat pun saya nggak mau karena saya msh bisa cari makan"), dan sebagainya.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SdB7A-MBm7I/AAAAAAAAAKg/u7KNH8tXkyU/s1600-h/puma2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SdB7A-MBm7I/AAAAAAAAAKg/u7KNH8tXkyU/s400/puma2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318886416548207538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir dia tanya ke saya, helikopter ini buatan mana. Saya bilang,"Buatan Bandung Pak. Kerja sama dengan Perancis." Dan beliau kelihatan bangga sekali bahwa bangsanya sudah bisa membuat helikopter. "Berarti hebat ya Habibie memang. Gimana ke depannya, apa kita bisa lebih maju lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah Pak, Insya Allah," Saya bilang. "Kita akan usahakan sama-sama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap helikopter ini lebih sering mendarat di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SdB7BIDcXrI/AAAAAAAAAKo/OIKGC-7Og2U/s1600-h/puma3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SdB7BIDcXrI/AAAAAAAAAKo/OIKGC-7Og2U/s400/puma3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318886419196567218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;t.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4667694415760225681?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4667694415760225681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4667694415760225681' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4667694415760225681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4667694415760225681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/03/seekor-puma-di-saparua.html' title='Seekor Puma di Saparua'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SdB7Am-7x5I/AAAAAAAAAKY/hHdWGPcyb-g/s72-c/puma1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-8753730353144494865</id><published>2009-03-16T22:42:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T22:44:06.284+07:00</updated><title type='text'>Merokok itu Haram</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu, ada ribut-ribut soal diharamkannya rokok oleh MUI. Tampaknya fatwa ini dianggap angin lalu, dan dari situ kita bisa mengukur pengaruh MUI di masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penarikan kesimpulan haram ini sebetulnya semacam analogi. Analogi dengan babi, alkohol, dan kemudian rokok. Tapi sebetulnya masih banyak celah kalau dibandingkan dengan alkohol. Alkohol dilarang karena memabukkan, bukan karena membahayakan. Jadi kalau rokok dilarang karena membahayakan seperti alkohol, rasanya nggak kena. Paling-paling bisa dibilang,"lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya." Tapi kalau begitu artinya juga bukan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hukum KUHP, banyak pasal yang bisa dipakai untuk menjerat sebuah tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya saya berharap, para ulama melihatnya dari sisi lain. Yaitu bahwa rokok mengganggu dan membahayakan orang lain,  merenggut hak orang lain (untuk mendapatkan udara dalam kondisi defaultnya: bersih), dan karena itulah dia diharamkan. Dengan demikian kalau seseorang merokok di tempat yang menyebabkan terhisapnya asap oleh orang lain, maka dia berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang merokok di tempat sepi? Itu hak dia, bahkan kalau dia mau menghisap 5 batang sekaligus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-8753730353144494865?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/8753730353144494865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=8753730353144494865' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8753730353144494865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8753730353144494865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/03/merokok-itu-haram.html' title='Merokok itu Haram'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5089698996257442508</id><published>2009-03-12T12:51:00.001+07:00</published><updated>2009-03-12T12:53:56.695+07:00</updated><title type='text'>Mencermati Kontrak Politik PDI Perjuangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SbijYguOjNI/AAAAAAAAAKQ/a0LbrMMFC14/s1600-h/megawati.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SbijYguOjNI/AAAAAAAAAKQ/a0LbrMMFC14/s400/megawati.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312175401979514066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 1-2 minggu yang lalu, kaget juga saya melihat iklan besar berwarna merah di koran. Ternyata PDIP memasang kontrak politik. Hebat juga ya, saya pikir. Yang buat pasti orang hebat. Warna merah sebanyak itu tidak luntur atau tembus di kertas koran. Percetakan sekarang memang hebat-hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membahas iklannya sendiri, ya memang mencerminkan kelakukan PDIP selama ini. Kurang lebih iklan itu terbagi atas 4 bagian utama: janji, penjelasan, persyaratan, dan konsekuensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji pertama, memperjuangkan sembako murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak disebutkan apa definisi murah. Untungnya apa saja yang disebut sembako sudah dibakukan di jaman Orba. Misalkan harga beras sekarang 6 ribu rupiah, janji ini tidak bilang bahwa harga beras akan jadi 5 ribu. Tidak. Yang penting murah. Kemungkinannya mereka memakai definisi murah sebagai harga relatif terhadap daya beli. Karena itu maka di penjelasannya dikatakan "kenaikan sembako tidak melampaui kenaikan daya beli masyarakat, berbeda dengan saat ini di mana harga sembako semakin tak terjangkau".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah daya beli ini, bagi saya juga masih membingungkan. Karena dalam beberapa tahun ini, gaji naik tapi daya beli turun. Apakah yang mau dijadikan patokan gaji? Apakah daya beli? Apakah inflasi? Data siapa yang akan dipakai? BPS? Bank Dunia? Apa hasil dari studi PDIP sendiri? Nah kalau ternyata memang benar turun, apakah harga sembako juga dijanjikan turun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya kita perlu mencermati juga bahwa selama berkuasa hanya beberapa tahun PDIP membuktikan bisa menyediakan barang-barang dengan harga murah. Lihat saja, BUMN dijual murah, tanker Pertamina dijual murah, dsb (definisi saya: murah relatif terhadap harga pasar saat itu dan harga jual kembali oleh pembeli). Jadi mudah-mudahan dengan pengalaman ini mereka bisa menyediakan sembako murah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji kedua, menciptakan jutaan lapangan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 8-10 juta orang Indonesia menganggur. Yang jarang disimak adalah bahwa tiap tahun paling tidak 2,5 juta tenaga kerja baru datang tiap tahun. Nah jd sebetulnya tiap tahun sudah tercipta jutaan lapangan kerja baru. Hanya saja butuhnya lebih dari 2,5 juta. Artinya dengan mengutip salah seorang dosen saya,"Tukang rumput saya taruh di situ juga bisa!", siapa saja yang jadi presiden pasti tercipta jutaan lapangan kerja. Berapa juta, pertanyaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penjelasan disebutkan "Prosentase pengangguran berkurang, berbeda dengan saat ini di mana pengangguran cukup tinggi." Ada 2 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pernyataan ini menyesatkan karena sesungguhnya selama 5 tahun pemerintahan SBY, prosentase pengangguran berkurang (saya belum melihat data terakhir imbas dari krisis finansial). Artinya benar bahwa pengangguran saat ini cukup tinggi, tapi prosentasenya berkurang. Tapi ini tidak disebutkan oleh iklan itu, karena tentu saja akan menumpulkan efektivitas janji menciptakan jutaan lapangan kerja. Kedua, kl prosentase pengangguran berkurang saja, artinya berkurang 0,1% saja sudah dianggap berhasil. Dan kembali ke pertanyaan di atas, data siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bisa kita yakini dari sekarang, janji kedua akan dilaksanakan oleh PDIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji ketiga, tingkatkan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebetulnya ngukurnya gampang-gampang susah. Tapi di penjelasannya tertulis memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan. Mengurangi ketimpangan dengan indikator indeks gini. Ya bolehlah. Sebetulnya Indonesia sudah cukup sandang, pangan, papan. Mungkin berlebih. Cuma belum terbeli saja sama masyarakat. Mungkin kita pakai indeks gini saja untuk mengukur janji ini. Sekarang indeks gini Indonesia berapa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, dengan 3 janji yang 'hampir pasti terlaksana itu', PDIP masih ragu-ragu memberikan komitmennya,"Jika gagal mengawal  tiga agenda di atas 2009-2014, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan diminta tak lagi mencalonkan diri pada pemilu berikutnya di tahun 2014"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diminta? Kenapa nggak ditulis saja,"PDI Perjuangan tidak akan ikut pada pemilu 2014" atau yang lainnya? Sudah gitu masih pakai penjelasan,"Berlaku jika PDI Perjuangan menduduki jabatan presiden dan 30% DPR-RI"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar. Hebat yang bikin iklan. Koq bisa nggak tembus ya tintanya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5089698996257442508?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5089698996257442508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5089698996257442508' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5089698996257442508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5089698996257442508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/03/mencermati-kontrak-politik-pdi.html' title='Mencermati Kontrak Politik PDI Perjuangan'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SbijYguOjNI/AAAAAAAAAKQ/a0LbrMMFC14/s72-c/megawati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-848301083379888363</id><published>2009-03-12T12:06:00.003+07:00</published><updated>2009-03-12T12:19:47.128+07:00</updated><title type='text'>Perjanjian Perbatasan Indonesia-Singapura Segmen Barat Ditandatangani</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SbibYU9cN5I/AAAAAAAAAKI/Hr80zvRmf7U/s1600-h/DCA.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 311px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SbibYU9cN5I/AAAAAAAAAKI/Hr80zvRmf7U/s320/DCA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312166602729076626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah berita kecil menarik perhatian saya di Kompas. Indonesia dan Singapura menandatangani perjanjian perbatasan di segmen Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia mengalami banyak permasalahan akibat tidak jelasnya perbatasan dengan Singapura. Berbagai kontroversi muncul di dalam negeri terkait dengan ketidakjelasan perbatasan tersebut. Sehingga, aneh buat saya bahwa berita ini hanya mendapatkan kolom kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditekankan bahwa yang disetujui adalah bagian Barat, termasuk di dalamnya pulau Nipah yang selama ini diributkan sebagai ujung terluar Indonesia yang akan tenggelam jika terus digali pasirnya. Disepakati bahwa batas tetap dihitung dari Pulau Nipah, sehingga pemekaran wilayah Singapura hasil reklamasi tidak mempengaruhi perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk segmen Timur, terkait Batam dan Bintang, belum disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga beberapa &lt;a href="http://beritasore.com/2009/03/12/penandatanganan-perbatasan-laut-indonesia-singapura-perlu-diratifikasi/"&gt;ahli yang menyatakan harus dilihat dulu apakah perjanjian ini merugikan dan menguntungkan Indonesia.&lt;/a&gt; Interpretasi dari pernyataan ini, tentu artinya ada poin-poin perjanjian lain di luar masalah perbatasan saja. Kira-kira di mana seorang warga negara dapat mengetahui perjanjian apa saja yang sudah ditandatangani oleh negaranya? Kadang-kadang saya merasa rakyat Indonesia ini hanya numpang hidup saja karena susah sekali mencari informasi-informasi yang seharusnya berhak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, terkait dengan perjanjian pertahanan dan ekstradisi, pemerintah Singapura memutuskan untuk tidak melanjutkan perundingan. Menurut Hassan Wirayuda, Singapura menganggap perjanjian ekstradisi tidak masuk akal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya mereka ada benarnya. Tentu saja tidak masuk akal bagi Singapura mengekstradisi orang-orang yang menyimpan milyaran dollar di Singapura...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat kepada Departemen Luar Negeri. Ngomong-ngomong, perjanjian bisa batal juga ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-848301083379888363?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.detiknews.com/read/2009/03/10/143001/1097093/10/perjanjian-perbatasan-ri-singapura-ditandatangani' title='Perjanjian Perbatasan Indonesia-Singapura Segmen Barat Ditandatangani'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/848301083379888363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=848301083379888363' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/848301083379888363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/848301083379888363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/03/perjanjian-perbatasan-indonesia.html' title='Perjanjian Perbatasan Indonesia-Singapura Segmen Barat Ditandatangani'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SbibYU9cN5I/AAAAAAAAAKI/Hr80zvRmf7U/s72-c/DCA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-210857071065863446</id><published>2009-02-12T11:57:00.002+07:00</published><updated>2009-02-12T12:07:30.682+07:00</updated><title type='text'>Balada Seekor Sapi Malang di Ungaran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SZOuWtOXquI/AAAAAAAAAKA/n0v2ngtZiww/s1600-h/IMG_1595.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SZOuWtOXquI/AAAAAAAAAKA/n0v2ngtZiww/s400/IMG_1595.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301772891465427682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-210857071065863446?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/210857071065863446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=210857071065863446' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/210857071065863446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/210857071065863446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/02/balada-seekor-sapi-malang-di-ungaran.html' title='Balada Seekor Sapi Malang di Ungaran'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SZOuWtOXquI/AAAAAAAAAKA/n0v2ngtZiww/s72-c/IMG_1595.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-1932842123354555118</id><published>2009-01-23T00:22:00.001+07:00</published><updated>2009-01-23T00:28:54.862+07:00</updated><title type='text'>So, Anda Mau Jadi Pengusaha?</title><content type='html'>Sering kali saya malu kalau ditanya perkembangan usaha saya. Saya bukan orang yang senang disebut pengusaha. Banyak sekali hal-hal yang harus saya kerjakan sendiri, walau konon katanya saya punya anak buah. Dari pada sebagai direktur kantor, saya lebih sering merasa sebagai supir kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu tipis batasnya antara employer, self-employed dan unemployed. Jangan-jangan sebetulnya saya self-employed. Atau malah-malah unemployed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sekarang, kerjaan rasanya tidak selesai-selesai. Belum ada titik terang kapan kerjaan yang ada bakal selesai, kerjaan baru sudah mau datang. Jangan salah artikan banyak kerjaan= banyak uang. Beda sekali. Jadi jangan harap saya mentraktir hanya karena anda membaca tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya sering heran kalau ada yang memotivasi orang menjadi pengusaha dengan bilang,”Dengan jadi pengusaha, anda akan memiliki kebebasan waktu dan kebebasan finansial.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering kali menganggap remeh banyak hal. Kalau melihat pedagang di Glodok, kita bilang,”Enak ya, tokonya sudah laris dan dia bisa santai jaga toko.” Nggak pernah terpikir oleh kita bagai mana si pedagang itu menjaga toko 4x4 yang sama selama 30 tahun, hampir setiap hari. Yang dibayangkan enaknya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang bilang,”Kalau jadi pegawai, gajinya bisa dihitung. Coba saja jadi pengusaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, teman saya dulu lulus dan jadi pegawai konsultan asing dan langsung mampu beli Honda City di 1-2 tahun kemudian. Sedangkan saya setelah 6 tahun lebih masih belum mampu beli Honda Supra Fit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda bukan anak orang kaya atau pejabat, atau tidak berkongsi dengan pengusaha dan pejabat, dan apa lagi kalau tidak punya modal, jadi pengusaha itu susah. Ada contoh kasus yang berhasil, tapi itu hanya segelintir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya maksud susah itu bukan susah berhasil. Tapi susah hidupnya. Nggak punya uang, nggak punya kepastian, diragukan oleh orang tua, mertua, bahkan calon istri mau pun istri. Coba bayangkan. Kalau anda bertemu calon mertua. Kalau calon mertua bertanya, “Kerja di mana?”, maka pertanyaan itu kemungkinan akan berhenti kalau anda memberikan jawaban semacam,”di Telkom Bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda bilang anda bekerja di PT. XYZ Abal-abal, maka kemungkinan anda akan ditanya lagi,”Perusahaan apa itu ya?”. Setelah anda jawab maka kemungkinannya percakapan berhenti di situ walau pun di belakang nanti dia berpesan agar anaknya mencoba mencari tahu berapa kira-kira gaji anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda bilang,”Saya usaha sendiri Bu.” Pertanyaannya pasti panjang. Dia ragu apakah kita akan berhasil. Jangan-jangan anaknya nggak dikasih makan. Saya sendiri pernah mengalami pengalaman seperti ini. Padahal saya sudah coba jelaskan dengan segamblang-gamblangnya, bahwa dia tidak perlu khawatir karena saya sudah punya rencana bahwa saya akan jadi konglomerat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi angan pernah memutuskan menjadi pengusaha karena pertimbangan uang yang lebih banyak. Lakukan saja yang anda suka. Seperti kata dosen saya dulu,”Lakukan apa yang anda suka, uang akan mengikuti.” Jadi pengusaha tidak lebih baik dari pada jadi pegawai. Begitu juga sebaliknya. Pengusaha yang berusaha sebaik-baiknya, dan pegawai yang bekerja dengan sebaik-baiknya adalah apa yang dibutuhkan negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berbicara tentang menjadi pengusaha. Teman saya Peto membuat tulisan pendek tentang pengusaha. Menurut riset kecil-kecilan yang dia adakan, syarat untuk suatu negara sejahtera adalah paling tidak 2% dari penduduknya pengusaha. Di Singapura, pengusahanya 7%. Di Amerika, 10-an%. Indonesia tidak sampai 0,5%. Jadi Indonesia masih butuh banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan lupa, di Amerika, dari semua orang yang berusaha jadi pengusaha, hanya 10% yang berhasil menjadi pengusaha biasa, dan 2% menjadi pengusaha luar biasa. Sisanya gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berkecil hati, insyaAllah kita bisa jadi yang 10%, bahkan 2%. But don’t do it for money.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-1932842123354555118?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/1932842123354555118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=1932842123354555118' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1932842123354555118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1932842123354555118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/01/so-anda-mau-jadi-pengusaha.html' title='So, Anda Mau Jadi Pengusaha?'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7830401221490375388</id><published>2009-01-04T22:54:00.000+07:00</published><updated>2009-01-04T22:56:39.316+07:00</updated><title type='text'>Selamat Tahun Baru 2009 </title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CDHITAY%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CDHITAY%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CDHITAY%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya masih bingung bagai mana menyambut 2009 ini. Cemas namun penuh harap. Bagai mana juga, saya orang yang optimis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untungnya saya bukan orang yang percaya pertanda. Coba kalau iya, pasti saya berpikir, apa yang akan terjadi di 2009 ini, kalau muncul pertanda yaitu bahwa 3 stasiun TV memutar film horror menyambut pergantian tahun?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kasihan orang-orang seperti saya, yang tidak ada acara di tahun baru. Akhirnya merayakan bersama ‘Hantu Kereta Manggarai’. Juga satu film aneh itu, Pulau Hantu atau apa gitu. Sudah horror, nggak masuk akal pula. Untung aja yang main sexy-sexy. Kalau nggak siapa ya yang mau nonton film begitu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selain itu dipanggil peramal. Mama Lauren, seperti biasa. Saya koq nggak bisa ingat apa ramalan Mama Lauren yang jadi kenyataan. Yang saya pernah ingat Mama pernah meramalkan bahwa akan terjadi bencana besar di Jakarta, 2008 atau 2009. Nggak kejadian. Tapi nggak ada yang ingat. Aneh sebetulnya kalau nggak ada yang ingat. Tinggal diputar ulang aja rekamannya buat ditelusuri benar tidaknya ramalan-ramalan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ya, itu kan kalau orang logis. Yang menguasai media kita memang orang-orang nggak logis. Gimana lagi. Tapi saya ingat Mama. Saya ingat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang menarik, waktu ditanya,”Bagai mana dengan BCL Mama, apakah dia akan terus menanjak dan menjadi salah satu diva?”. Kata Mama,”Oh tidak, pelan-pelan dia akan menghilang.”, kata Mama dengan santai. Host yang nanya sampai nggak enak hati, secara itu siaran Live.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mama justru mendukung Cinta Laura,”Dia akan jadi besar.” Saya cukup setuju. Cinta Laura, seperti Agnes Monica, menurut saya termasuk bintang yang kelihatan pintar dan mau bekerja keras. Kalau nggak aneh-aneh, dia bakal maju.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tahu-tahu sudah jam 12 malam. Saya bahkan nggak melihat jam. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sudahlah, saya putuskan untuk tidur. Tapi saya belum punya resolusi untuk 2009. Apa ya kira-kira?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pertama, saya mau menurunkan berat badan 5-10kg. Nggak usah muluk-muluklah. Cukup segitu aja. Ini bukan alasan penampilan, ini alasan kesehatan. Semakin besar lingkar pinggang pria, semakin tinggi resiko terkena penyakit semacam stroke dkk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kedua, saya ingin bekerja lebih baik lagi. Seperti apa? Ah itu nanti dipikirkan saja sepanjang bulan Januari….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selamat tahun baru 2009 ya. &lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7830401221490375388?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7830401221490375388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7830401221490375388' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7830401221490375388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7830401221490375388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2009/01/selamat-tahun-baru-2009.html' title='Selamat Tahun Baru 2009 '/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2190904614815482665</id><published>2008-11-16T11:15:00.000+07:00</published><updated>2008-11-16T11:16:42.515+07:00</updated><title type='text'>Juri KRAC 2008 Ganjar Tim UAV Garuda ITB dengan Special Prize</title><content type='html'>KOREA, itb.ac.id - Keikutsertaan perdana Tim ITB dalam 7th Korea Robot Aircraft Competition di Hanseo University, Korea Selatan terbukti tidak sia-sia. Di titik kritis menjelang libur Idhul Fitri 1429 H, Tim UAV Garuda ITB pada Sabtu (27/09) menyabet gelar Special Prize untuk Best Image System. Meski bukan predikat juara umum, special prize membuktikan Tim UAV Garuda ITB unggul dibanding peserta dari Korea, India maupun Taiwan dalam dua dari empat misi yang dipertandingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajang perhelatan kendaraan tanpa awak yang berlangsung di Lapangan Terbang Tae-an Airfield ini, ITB mengirim dua wakil yakni Tim Garuda dan Tim Kumbang. Tim Kumbang ITB bertanding dengan UAV bentuk Helicopter, sedangkan Tim Garuda ITB mengusung UAV Pesawat Fixed Wing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap UAV wajib melaksanakan 4 misi berbeda, meliputi Precission Droping, yaitu menjatuhkan obyek tertentu dalam sasaran yang telah ditentukan; Fixed Target Recognition and Geolocation atau pengenalan objek; High Quality Image Acquisition, pengambilan gambar obyek dan Sea Search atau mencari obyek dilaut dalam bentuk boneka orang yang posisinya belum diketahui. Tim UAV Garuda ITB, unggul dalam Misi 2 dan Misi 3, namun kalah dalam Misi 1 dan gagal dalam Misi 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keikutsertaan perdana lomba ini, selain memperoleh pengalaman bertanding dan mengukur posisi penguasaan teknologi UAV, Tim ITB juga membuktikan bahwa derajat kemandirian teknologi UAV ITB cukup tinggi dibanding peserta negara lain. Kemandirian ini meliputi teknologi dalam bentuk rancang bangun pesawat UAV, sistem kontrol, sistem sensor maupun ground station yang dipakai adalah hasil rancangan sendiri. Bukan komponen yang beredar di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Tim UAV ITB yang tergabung dalam Pusat Studi Sistem Tak Berawak atau CentrUMS (Center for Un-manned System Studies) terdiri atas Ir. Kurniantoro (Sistem Kontrol dan Navigasi Tim Garuda), Ir. Prasetyo (Sistem Kontrol dan Navigasi Tim Kumbang), Ir. Johanes Kurnia P (Sistem Ground Station), Ir. Sapto Adi Nugroho (Sistem Mekanik Tim Kumbang), Ir. Chahyadi     (Sistem Mekanik Tim Garuda), Dian  Rusdiana Hakim     (Pilot UAV Helicopter), Eman Sulaeman     (Pilot UAV Fixed Wing), Ir. Yudoyono Kartidjo (Pembimbing), dan  Prof.Dr.Ir. Muljowidodo (Pembimbing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah pesawat yang dibuat dan diprogram untuk dapat terbang secara autonomus atau tanpa ada kendali dari manusia dan digunakan untuk survei udara sipil dan militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korea Robot Aircraft Competition merupakan Kompetisi Robot Terbang yang secara berkala tiap tahun diselenggarakan oleh Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Ekonomi (Ministry of Knowledge &amp;amp; Economy) Korea Selatan sejak 7 tahun yang lalu, dimaksudkan untuk mendorong penguasaan teknologi UAV di Korea Selatan. Kali ini, Tim Air Gate dari Chungnam University, disponsori perusahaan Samsung, keluar sebagai juara umum menyisihkan 6 Tim dari Korea Selatan, 2 Tim dari Indonesia, 1 Tim dari India dan 1 Tim dari Taiwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan Lomba dilaksanakan oleh Korea Aerospace Industries Association &amp;amp; The Korea Society for Aeronautical and Space Sciences. Lomba ini didukung oleh ROKAF (Republic of Korea Air Force), Hanseo University, Seo-San City, Pemerintah Provinsi Taean-Gun serta beberapa media televisi seperti KBS, MBC, SBS dan YTN.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2190904614815482665?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.itb.ac.id/news/2222.xhtml' title='Juri KRAC 2008 Ganjar Tim UAV Garuda ITB dengan Special Prize'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2190904614815482665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2190904614815482665' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2190904614815482665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2190904614815482665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/11/juri-krac-2008-ganjar-tim-uav-garuda.html' title='Juri KRAC 2008 Ganjar Tim UAV Garuda ITB dengan Special Prize'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2558886041123428041</id><published>2008-11-16T10:54:00.000+07:00</published><updated>2008-11-16T11:14:19.844+07:00</updated><title type='text'>THE - QS World University Rankings 2008</title><content type='html'>Buat yang ribut-ribut kalau saya bilang ITB adalah universitas teknik terbaik di Indonesia, saya cuma bilang, itu data. Bahwa kemudian semua lulusan ITB bisa kerja teknik, ya belum tentu juga. Hehehe. Kan yang diranking ITB-nya, bukan alumniya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana World universiti ranking ini untuk bidang teknologi penting, karena ITB tidak punya fakultas non-teknik.  Jadi kalau diranking secara berbarengan dengan universitas lain, sementara yang lain juga mengirimkan makalah/jurnal bidang eknomi, sosial, sejarah, kedokteran, ya habislah ITB. Tapi sebetulnya nggak sehabis itu juga, masih bersaing dengan UI dan UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ini &lt;a href="http://www.topuniversities.com/worlduniversityrankings/results/2008/subject_rankings/technology/"&gt;url&lt;/a&gt;-nya. Msh di atas RMIT dan universitas Birmingham, dekat-dekat IIT Kharagpur. :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2558886041123428041?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2558886041123428041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2558886041123428041' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2558886041123428041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2558886041123428041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/11/qs-world-university-rankings-2008.html' title='THE - QS World University Rankings 2008'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-1364986580827995592</id><published>2008-11-15T23:21:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T23:25:12.292+07:00</updated><title type='text'>My Brain Profile</title><content type='html'>&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="115"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top" width="495"&gt;   &lt;!-------------------------------------------------------------------------&gt; &lt;!-----                                                               -----&gt; &lt;!-----                             Content Begin                     -----&gt;        &lt;table&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;  &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p&gt; &lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;      &lt;td colspan="2"&gt;         &lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Hasil test iseng-iseng di &lt;a href="http://mindmedia.com/brainworks/profiler"&gt;http://mindmedia.com/brainworks/profile&lt;/a&gt;r. Saya pikir saya suka dengan kalimat "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You remain predominantly functional in your orientation and practical. Abstraction and theory are secondary to application.&lt;/span&gt;" Bisa jadi dalih kenapa saya selalu berantakan kalau kuliah. Hehehe&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Your Brain Usage Profile:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Auditory : 44%&lt;br /&gt;          Visual : 55%&lt;br /&gt;          Left : 55%&lt;br /&gt;          Right : 45%&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Dhita, you are somewhat left-hemisphere dominant and show a preference for visual learning, although not extreme in either characteristic. You probably tend to do most things in moderation, but not always. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Your left-hemisphere dominance implies that your learning style is organized and structured, detail oriented and logical. Your visual preference, though, has you seeking stimulation and multiple data. Such an outlook can overwhelm structure and logic and create an almost continuous state of uncertainty and agitation. You may well suffer a feeling of continually trying to "catch up" with yourself. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Your tendency to be organized and logical and attend to details is reasonably well-established which should afford you success regardless of your chosen field of endeavor. You can "size up" situations and take in information rapidly. However, you must then subject that data to being classified and organized which causes you to "lose touch" with the immediacy of the problem. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Your logical and methodical nature hamper you in this regard though in the long run it may work to your advantage since you "learn from experience" and can go through the process more rapidly on subsequent occasions. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;You remain predominantly functional in your orientation and practical. Abstraction and theory are secondary to application. In keeping with this, you focus on details until they manifest themselves in a unique pattern and only then work with the "larger whole." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;With regards to your career choices, you have a mentality that would be good as a scientist, coach, athlete, design consultant, or an engineering technician. You can "see where you want to go" and even be able to "tell yourself," but find that you are "fighting yourself" at the darndest times. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-1364986580827995592?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/1364986580827995592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=1364986580827995592' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1364986580827995592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1364986580827995592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/11/my-brain-profile.html' title='My Brain Profile'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4122956786449703228</id><published>2008-11-14T22:09:00.000+07:00</published><updated>2008-11-14T22:14:05.783+07:00</updated><title type='text'>Demam Fesbuk</title><content type='html'>Mohon maaf Saudara-Saudara, kalau saya jarang entri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini bukan karena saya sibuk. Tentu bukan berarti saya nganggur juga. Tapi yang jelas, sekarang ini saya lagi kena demam facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya saya telat juga ikut facebook. Setelah Warih ikut, dan menunjukkan beberapa foto, saya mendaftar. Langsung ketagihan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak fitur-fitur yang menarik. Status misalkan, walau pun konsepnya sangat sederhana, tetapi membuat kita jadi suka main ke facebook sekadar mengganti status. Untuk upload foto, Java app nya sangat mudah dipakai. Terus bisa ditag pula. Wah saya terpesona melihat fasilitas tag pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum gamenya. Alhasil sekarang tiap online login facebook. Dan hampir semua orang yang saya kenal, main facebook. Kalau kuliah malam, lebih dari 1/2 buka facebook (mohon jangan disampaikan ke dosen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantab lah. Ayo ikut Facebook, ketemu di sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4122956786449703228?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4122956786449703228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4122956786449703228' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4122956786449703228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4122956786449703228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/11/demam-fesbuk.html' title='Demam Fesbuk'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3897104014276136480</id><published>2008-11-14T21:44:00.000+07:00</published><updated>2008-11-14T21:49:49.994+07:00</updated><title type='text'>Hess Menang di Blok V</title><content type='html'>Seperti yang&lt;a href="http://www.detikfinance.com/read/2008/11/14/203327/1037204/4/keputusan-pemenang-blok-semai-tidak-bisa-berubah"&gt; diberitakan&lt;/a&gt;, hak pengelolaan Blok V Semai jatuh ke tangan HESS. Menurut Dirjen Migas Evita Legowo, penilaian didasarkan tiga pertimbangan: ekonomis, teknis, dan kinerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut cuplikan beritanya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dalam kasus Blok Semai V, Pertamina mempermasalahkan kekalahannya karena merasa sudah mengajukan komitmen investasi yang jauh lebih besar ketimbang Hess yang akhirnya dipilih jadi pemenang.&lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://www.detikfinance.com/read/2008/11/14/173824/1037150/4/menneg-bumn-kecewa-pertamina-kalah" target="_blank"&gt; Menneg BUMN Sofyan Djalil&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; juga mengaku kecewa dengan kalahnya Pertamina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Namun Evita menegaskan, komitmen investasi selama tiga tahun kedepan merupakan hal yang tidak pasti. Karena dalam realisasinya, setiap investasi yang dikucurkan kontraktor migas harus dievaluasi dulu oleh BP Migas. Sehingga realisasi komitmen investasi itu bisa berubah dari yang diajukan saat penawaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dia komitmen ini itu, tapi kan waktu mau direalisasikan harus dievaluasi dulu. Dan kenyataannya bisa berubah dari rencana yang ditawarkan. Jadi sebenarnya itu belum pasti, belum tentu terealisasi," katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sementara itu, meski Pertamina memberikan komitmen investasi yang lebih besar, namun bonus tanda tangan yang diberikan jauh di bawah yang diberikan Hess. Hess menawarkan bonus tanda tangan US$ 40 juta sementara Pertamina hanya US$ 15 juta. Bonus tanda tangan ini merupakan bonus yang diberikan kepada pemerintah jika dimenangkan dalam tender blok migas."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadi kurang lebih, hanya karena perbedaan US$25 juta, maka pemerintah memberikan blok ini kepada HESS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What a cheap country.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3897104014276136480?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3897104014276136480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3897104014276136480' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3897104014276136480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3897104014276136480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/11/hess-menang-di-blok-v.html' title='Hess Menang di Blok V'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5031509712853187603</id><published>2008-10-28T15:34:00.000+07:00</published><updated>2008-10-28T15:37:06.207+07:00</updated><title type='text'>Akhirnya Foto Keluarga Juga...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SQbO_bOtdDI/AAAAAAAAAJ0/7JdY2fdaYKA/s1600-h/yon2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SQbO_bOtdDI/AAAAAAAAAJ0/7JdY2fdaYKA/s320/yon2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262120803665540146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5031509712853187603?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5031509712853187603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5031509712853187603' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5031509712853187603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5031509712853187603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/10/akhirnya-foto-keluarga-juga.html' title='Akhirnya Foto Keluarga Juga...'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SQbO_bOtdDI/AAAAAAAAAJ0/7JdY2fdaYKA/s72-c/yon2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3809464048492500579</id><published>2008-10-23T21:25:00.000+07:00</published><updated>2008-10-23T21:27:31.163+07:00</updated><title type='text'>Indonesia As the New India</title><content type='html'>Taken from businessweek. What do you think?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-style: italic; font-weight: bold;" class="headline"&gt;Indonesia As the New India&lt;/div&gt;       &lt;div style="font-style: italic;" class="deck"&gt;     &lt;p&gt;This stable democracy with a hot market economy resembles another Asian giant in the 1990s.&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;       &lt;div style="font-style: italic;" class="author"&gt;George Wehrfritz and Solenn Honorine&lt;/div&gt;       &lt;div style="font-style: italic;" class="source"&gt;NEWSWEEK&lt;/div&gt;       &lt;div style="font-style: italic;" class="articleUpdated"&gt;From the magazine issue dated Oct 20, 2008&lt;/div&gt;       &lt;div style="font-style: italic;" class="body"&gt;         &lt;p&gt;Jakarta today could be any of Asia's 21st-century boomtowns. The malls buzz, traffic snarls and modern office towers dominate the skyline. It all feels profoundly normal—but that's big progress in a place that, barely ten years ago, seemed destined for ruin. Following the fall of longtime strongman Suharto, and with Indonesia reeling from the 1997-98 Asian financial crisis, many analysts feared that Asia's third-biggest country (population: 235 million) would go the way of Yugoslavia. Instead, it has become a cohesive, robust and exuberantly democratic moderate Muslim nation. Things are so buoyant that Indonesia invites comparison to another Asian giant: India.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Both remain corrupt, chaotic and excruciatingly complex. Yet each is also an attractive emerging economy, and in India's case, a star of the developing world. Could Indonesia be next? Its economy grew by 6.3 percent last year, the main stock exchange ranks among the world's best performers since 2003 and last year foreign direct investment nearly tripled, to a respectable $4 billion. All of which resembles India in the 1990s, when reforms kick-started a potentially massive economy—though outsiders barely noticed until the IT sector took off and growth passed 8 percent. In Indonesia, the key sectors are energy, mining and soft commodities like rubber, palm oil and cocoa. And in an exclusive interview, President Susilo Bambang Yudhoyono says he sees no inherent reason why a big democracy like his can't grow as fast China, which has posted 10 percent growth rates in recent years.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;That would put Indonesia on a lot of magazine covers. In fact, the country already looks better than India in two ways: its per capita income ($3,348) is a third higher, and thanks to Jakarta's fiscal austerity, it now boasts one of the lowest debt ratios in the world. "After ten years of restructuring, Southeast Asia's largest economy is in great shape," says Nicholas Cashmore, CLSA's country head and chief researcher in Jakarta.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Indonesia's political turnaround has been just as dramatic as its economic one. The president, known universally as SBY, is a former general who was elected in mid-2004 and has since become the country's most effective democratic leader. In four years, he has helped Indonesia roll up its terrorist problem and rebuild from the 2004 tsunami. Less appreciated (but more enduring), he has backed a profound political decentralization program, empowering hundreds of local administrations. Jakarta now rules by consensus, not decree. This has its downsides: it makes it impossible to railroad through big national development projects of the sort China is famous for. As SBY himself admits, "in many circumstances, we face local communities that don't agree with government projects, so we have to convince them. I do not think the system is wrong. In a democracy like ours, change, reform and resistance are normal."&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;The country's largest parties now basically agree on economic policy and the need to reduce corruption, improve the rule of law and make government more efficient. Key democratic institutions—including a free press, impartial courts and a legislature chosen by voters—are remarkably robust, and the once all-powerful military has largely removed itself from politics. Meanwhile, regional autonomy has triggered economic booms at the periphery, in contrast to the typical Southeast Asian model. "From the U.S., the U.K. or even Hong Kong," writes Cashmore, "it is difficult to comprehend the magnitude of Indonesia's potential [or] appreciate just how much more there is to the country beyond Jakarta." By his calculation, greater Jakarta now accounts for just 15 percent of Indonesia's GDP, a relatively small share compared to other Asian capitals.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Indonesia's accomplishments are all the more impressive when you remember how far and fast the country has come. The fall of Suharto's New Order (a highly centralized system that vested absolute power in the dictator and his cronies) 10 years ago was accompanied by a financial meltdown so severe that the IMF had to step in. Indonesia also faced fierce separatist insurgencies, Christian-Muslim violence and Islamic extremism underscored by the 2002 Bali bombing. The country seemed to be teetering on the brink of wholesale disintegration. Yet today, as Australian National University economist Andrew MacIntyre and the Asia Foundation's Douglas Ramage argued in a recent report, observers should start thinking of Indonesia "as a normal country grappling with challenges common to other large, middle-income, developing democracies—not unlike India, Mexico or Brazil."&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;In some ways Indonesia's democracy is even more sophisticated than those other states'. Take decentralization. Jakarta, like New Delhi, oversees national defense, internal security, finance, foreign policy and the justice system. But unlike the Indian government, Indonesia's—thanks to two "big bang" reform packages passed in 2001 and 2006, and supported by SBY—must now coordinate most other activities through the country's 33 provinces and nearly 500 local administrations, where popularly elected leaders make policy, manage two thirds of all civil servants and oversee everything from schools to economic development. As World Bank economists Wolfgang Fengler and Bert Hofman observe in a soon-to-be-published study, Indonesia has turned itself from "one of the most centralized countries in the world into one of the more decentralized ones."&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;To see what that means on the ground, follow the money. Under a new fiscal system implemented in 2001, regions are allocated a huge slice of the country's budget to spend more or less as they please. Poor and remote areas receive the most per capita, and those with abundant natural resources get shared extraction revenues. According to the World Bank, regional governments in Indonesia now account for 36 percent of all public expenditures, compared with an average of just 14 percent in all developing countries. And locals can promote whatever agendas they choose. "This is the real revolution," says Erman Rahman, who heads the World Bank's local governance initiatives in the country. Regions with proactive leaders have become laboratories of experimentation from which innovative anti-corruption, public-health and economic-growth initiatives have emerged. For his part, SBY has enabled this process by maintaining macroeconomic discipline and political stability. And his support for local autonomy has undermined separatism, extremism and communal violence.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;One regional pioneer, Gamawan Fauzi, took power in West Sumatra's Solok region in 2001 and quickly created a one-stop shop for government services, replacing an opaque and complex web of offices and brokers. Fauzi's concept was to bring all government services under a single roof, post set fees, promote autopayment and guarantee prompt service as a means of rooting out corruption. And it has worked: the model has since been emulated across Indonesia, and Transparency International reports that corruption, while still high, has been reduced substantially.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Other local leaders have earned fame by initiating innovative new programs. Gede Putrayasa, who heads the poorest of nine regencies on the tourist island Bali, won office in 2001 on a pledge to provide universal medical insurance and free education. The latter proved relatively easy (he simply waived the 5,000 rupiah monthly fees), but improving health care without breaking the local budget was tougher. Under the old system, funds went to hospitals and local administrators, who did things like stockpile pharmaceuticals procured from companies that paid kickbacks. Putrayasa's innovation: provide every local household free health insurance that compensates clinics for services actually provided. "There's not a big savings," says Putrayasa, "but everyone is covered and the efficiency is much better because there is no longer any corruption."&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Such reforms have stimulated economic growth. Putrayasa's health-care and education initiatives (as well as a jobs program that sends underemployed rice farmers to Japan) have reduced the local poverty rate fourfold to just 5.5 percent today. Better local governance has also made Indonesia a major beneficiary of the global soft commodity boom. Together, the value of its four largest crops—rubber, coconut, palm oil and cocoa—rose from $2.3 billion in 2000 to an estimated $19 billion in 2008, CLSA calculates. That's thanks to local leaders like Fadel Muhammad, governor of the hardscrabble province of Gorontalo on the island Sulawesi, who turned his constituents into the country's best corn farmers by deploying teams of agricultural consultants; providing subsidized seeds, fertilizers and rental machinery to farmers; and giving cash rewards to village leaders who boost yields. Since 2002, Gorontalo's poverty rate has shrunk from 49 to 29 percent.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Of course, decentralization has its problems. Analysts and watchdog groups say that while the number of effective leaders in the 500 local administrations has spiked from a handful to 50 or more under SBY, they are sometimes particularly effective at blocking necessary national reforms and projects. The result, says Ramage, is that progress will be "evolutionary, not revolutionary." For example, the Trans Java highway, which would link Jakarta with Indonesia's second-largest city, Surabaya, was launched in 2004 with a target completion date of 2009, but is still only 10 percent done because of local opposition.&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;Nonetheless, Indonesia has already become a beacon of stability in Southeast Asia and the Islamic world. Its antiterrorism campaign—Indonesia has shut radical madrassas, established an effective counterterrorism force and cracked down hard on suspected cells, while also avoiding human-rights abuses—is seen as a model for the region. And as the world's most populous Muslim country, Indonesia's democratization has implications from Morocco to Mindanao in that it exemplifies an alternative to zealotry, intolerance and extremism. "Indonesia is not immune to radicalism we see worldwide, but this is exactly why we must maintain our identity as a moderate, tolerant nation," says Yudhoyono. "It enables us to prevent a clash of civilizations."&lt;/p&gt;         &lt;p&gt;SBY is likely to win re-election next year, but even if he loses, analysts don't expect any sharp change in policy, because all the major political camps in Jakarta agree on the current reform blueprint. Even India does not enjoy that kind of stable consensus on how to catch China.&lt;/p&gt;   &lt;!-- Omniture --&gt;   &lt;script language="javascript" type="text/javascript"&gt;   &lt;!--       var nw_page_name = "nw - article - 163572 - Indonesia As the New India";    var nw_section = "news";    var nw_subsection = "news - international";    var nw_content_type = "article";    var nw_source = "newsweek mag";    var nw_search_result_count = "0";    var nw_content_id = "163572";    var nw_headline = "Indonesia As the New India";    var nw_author = "george wehrfritz,solenn honorine";    var nw_page_num = "print format";    var nw_application = "gutenberg";    var nw_hierarchy = "news|international|articles";   --&gt;   &lt;/script&gt;   &lt;p&gt;&lt;em&gt;With Greg Hunt in Hong Kong&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3809464048492500579?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.newsweek.com/id/163572/output/print' title='Indonesia As the New India'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3809464048492500579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3809464048492500579' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3809464048492500579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3809464048492500579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/10/indonesia-as-new-india.html' title='Indonesia As the New India'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7817801499123805875</id><published>2008-10-15T10:48:00.001+07:00</published><updated>2008-10-15T11:03:01.930+07:00</updated><title type='text'>Kita Memang belum Berpikir (se)Panjang (itu)</title><content type='html'>Konon, karena kita hidup di daerah tropis, maka kita tidak biasa berpikir panjang. Di negara-negara dengan 4 musim, di musim panas orang-orang harus bersiap-siap untuk musim dingin. Di negara kita tidak, semua tumbuh sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar bahwa itu yang terbawa sampai saat ini, saya tidak bisa memastikan. Saya sendiri merasa tidak bisa berpikir terlalu detail dan terencana, apalagi buat yang jangka panjang. Dalam bisnis misalkan, saya punya rencana jangka panjang. Jangka panjang itu ya paling 5 tahun. Cukup panjang buat saya. Itu pun agak sulit dibedakan, antara rencana dan angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kita, juga terkena sindrom yang sama. Apalagi sekarang-sekarang, di mana mereka dinilai setiap 5 tahun. Dulu jaman Megawati, rotan mentah diperbolehkan ekspor langsung. Mungkin pemikirannya, karena ekspor rotan mentah secara langsung mempependek proses mendapatkan uang. Jadi rakyat yang saat itu sulit mendapatkan uang bisa cepat memperoleh rejeki. Dan jelas, menaikkan angka laporan ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun setelah bertahun-tahun kemudian muncul dampak seperti hancurnya industri furniture lokal, ya itu kan sudah beda presidennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang misalkan, subsidi energi 100 trilyun lebih. Kemudian SBY-JK meluncurkan program konversi (ke gas) dan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt bertenaga batu-bara. Kalau ini selesai, 2-3 tahun lagi pemerintah bisa mengalokasikan dana lebih dari 50 trilyun yang tadinya dipakai untuk subsidi ke alokasi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mungkin presiden berikut akan bagi-bagi subsidi (pendidikan, kesehatan) sambil bilang,"Dulu SBY-JK nggak begini toh?". Padahal itu bukan jerih payah dia juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, umumnya orang Indonesia bermemori pendek. Jadi selain tidak berpikir panjang, memorinya juga pendek. Klop. Misalkan, 2009 SBY-JK kalah, 2014 mereka bisa mencalonkan diri. Kemungkinan semua orang sudah lupa kenapa mereka dulunya tidak lagi memilih SBY-JK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini ada &lt;a href="http://www.detikfinance.com/read/2008/10/15/095415/1020239/4/korea-minta-ekspor-lng-diperpanjang"&gt;berita menarik di detikcom.&lt;/a&gt; Korea mengajukan perpanjangan kontrak LNG yang akan habis di 2014 dan 2017. Dan berikut respon pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menteri ESDM Kalau anda ingat, ngomong-ngomong, Pak Purnomo inilah Menteri ESDM ketika berkali-kali harga BBM naik. Presidennya boleh ganti, Menteri ESDMnya tetap. Mungkin dianggap sukses ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O iya, kutipannya begini:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;"Mereka meminta perpanjangan kontrak LNG yang akan selesai 2014 dan 2017. Tapi itu kan masih lama, kita belum bisa komit karena harus memastikan kebutuhan domestik dulu," katanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dari sini kita bisa melihat, untuk Indonesia 2014 itu masih lama. Buat Korea sih, mungkin sudah dekat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7817801499123805875?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7817801499123805875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7817801499123805875' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7817801499123805875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7817801499123805875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/10/kita-memang-belum-berpikir-sepanjang.html' title='Kita Memang belum Berpikir (se)Panjang (itu)'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-8202838887843925568</id><published>2008-10-15T00:06:00.000+07:00</published><updated>2008-10-15T00:14:55.216+07:00</updated><title type='text'>Peringkat ITB untuk IT dan Engineering</title><content type='html'>Tahun lalu, di panduan majalah Tempo kalau tidak salah, untuk teknik, ITB diakui masih nomor 1 di Indonesia dengan perbedaan skor cukup jauh terhadap pesaing terdekat (kalau tidak salah ITB di 840 dan yang berikutnya 760, 740, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja untuk IT, posisinya kalah dari Bina Nusantara. Ini agak menghentakkan dada juga. Jadi saya baca metodologinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua penilaian: angket dari user dan angket dari awam. Yang dimaksud user adalah pengguna produk yaitu perusahaan perekrut, mahasiswa (yang kuliah) dan sebagainya. Yang kedua adalah yang di luar itu, termasuk kakek-nenek yang tidak pernah sekolah (ini hiperbola).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, dari sisi user, ITB masih nomor 1 dengan nilai yang cukup jauh (dibandingkan dengan perbedaan nilai urutan 2 dan 3). Sedangkan, untuk sisi awam, Bina Nusantara nomor 1. Setelah nilainya digabung dan dirata-rata, ternyata totalnya masih tinggi Bina Nusantara. Jadilah Bina Nusantara nomor 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meragukan metodologi ini, berapa pembobotan persepsi user dengan persepsi orang awam? Kesannya disamakan 50:50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah. Ini salah ITB juga. Dari dulu saya selalu protes di blog. ITB itu sok. Nggak merasa perlu marketing. Padahal di mana-mana buku sekarang menunjukkan trend bahwa penting sekali untuk merekrut bahan terbaik (dalam kasus ini mahasiswa). Dan prestise ITB, harusnya sarana terbaik. Kita bisa melihat sekarang kekuatan marketing diimplentasikan di Bina Nusantara. Saya nggak bilang Bina Nusantara jelek. Saya hanya membahas datanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, baru saja ada kabar, untuk IT dan engineering di dunia, katanya peringkat ITB sekarang 90 dunia, dibandingkan 114 di tahun sebelumnya (2007).  Saya pikir perlu dianalisa apa perubahan yang terjadi antara 2007 dan 2008. Jadi bisa naik lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, selamat buat ITB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-8202838887843925568?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/8202838887843925568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=8202838887843925568' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8202838887843925568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8202838887843925568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/10/peringkat-itb-untuk-it-dan-engineering.html' title='Peringkat ITB untuk IT dan Engineering'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2718790690324108492</id><published>2008-10-13T13:31:00.000+07:00</published><updated>2008-10-13T13:34:49.888+07:00</updated><title type='text'>Saya Masih Belum Mengerti Ekonomi</title><content type='html'>Saya nggak ngerti. Dulu waktu Indonesia krisis, dollar (USD) melambung. Sekarang Amerika krisis, koq dollar juga yang melambung ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bisa bantu menjelaskan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2718790690324108492?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2718790690324108492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2718790690324108492' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2718790690324108492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2718790690324108492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/10/saya-masih-belum-mengerti-ekonomi.html' title='Saya Masih Belum Mengerti Ekonomi'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-8524513725092457523</id><published>2008-10-07T09:08:00.000+07:00</published><updated>2008-10-07T09:16:17.471+07:00</updated><title type='text'>Lintang Sudah Gede...</title><content type='html'>aNggak terasa sudah 1 tahun umurnya Lintang. Sekarang sudah besar. Sudah bisa menentukan maunya. Kalau sedang mau main, ditaruh di tempat tidur, geleng-geleng. Kalau sudah mau tidur, diajak main, nunjuk-nunjuk tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang terasa, dia kalau sudah ada maunya, bisa dijalanin terus. Salah satu hobinya ngejar cicak. Jadi satu malam, sambil menidurkan dia, saya cari cicak sambil memegang sapu lidi, memukul-mukul gorden, pigura foto, dsb. Siapa tahu ada cicak di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu cicaknya nggak ada, dia tidur sambil melihat ke arah AC (tempat terakhir di mana cicak terlihat). Setelah satu jam, dia belum tidur, sambil ngantuk-ngantuk menunjuk ke arah AC. Ya ampun, masih ditunggu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, dia punya hobi baru. Pokoknya setiap lihat muka bapaknya, langsung menunjuk ke sapu lidi, minta saya mencari cicak. Kalau diikutin, bisa berjam-jam saya disuruh cari terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, alhamdulillah, anaknya baik. Nggak pernah nangis nggak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan jadi anak yang sehat dan sholehah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini fotonya dengan Kakeknya, dan fotonya waktu sedang marah-marah.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SOrGJC93ylI/AAAAAAAAAJk/mCgCwwaph0Y/s1600-h/IMG_0298_ed.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SOrGJC93ylI/AAAAAAAAAJk/mCgCwwaph0Y/s320/IMG_0298_ed.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254229773998606930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SOrGJuC_BsI/AAAAAAAAAJs/JR-P8l9_kg8/s1600-h/IMG_0327_ed.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SOrGJuC_BsI/AAAAAAAAAJs/JR-P8l9_kg8/s320/IMG_0327_ed.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254229785562777282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-8524513725092457523?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/8524513725092457523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=8524513725092457523' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8524513725092457523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8524513725092457523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/10/lintang-sudah-gede.html' title='Lintang Sudah Gede...'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/SOrGJC93ylI/AAAAAAAAAJk/mCgCwwaph0Y/s72-c/IMG_0298_ed.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-6402232511090956491</id><published>2008-07-27T18:59:00.000+07:00</published><updated>2008-07-27T19:02:15.163+07:00</updated><title type='text'>Belum. Saya Belum Bosan Ngeblog.</title><content type='html'>Belum. Saya belum bosan ngeblog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kan ngeblog, sesempatnya. Yang baca pun kemungkinan, sesempatnya juga. Ada yang bilang, kalau mau blog kita dibaca ribuan orang setiap hari, maka isilah blog setiap hari. Atau lebih sering lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak ngeblog untuk itu. Saya kira sekedar membagi ide, melatih kemampuan tulis menulis, mencoba untuk tetap bisa mengeluarkan kata demi kata secara tertutur. Jadi ngeblog tanpa beban, tanpa target. Seperti majalah Elektron di HME dulu saja, terbit berkala: kala-kala terbit, kala-kala tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ceritanya, saya kena demam berdarah, bulan Juni kemarin. Selama ini saya underestimate dengan penyakit yang satu ini. Rasanya begitu jauh. Tidak ada orang di dekat rumah saya yang dilaporkan terkena demam berdarah. Di kantor pun sedang tidak musim, walau pernah ada. Jadi waktu saya pusing-pusing, panas, saya tahu saya bukan sakit biasa. Tapi demam berdarah? Di luar opsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Gengsi' dari demam berdarah ini dalam daftar saya juga agak rendah. Kalau typhus masih lebih tinggi gengsinya: penyakit yang bisa jadi disebabkan oleh makan yang tidak teratur dan didukung oleh kelelahan (mungkin juga karena jajan sembarangan). Tapi demam berdarah tidak begitu. Hanya oleh seekor nyamuk. Celakanya lagi, nyamuk ini hanya beroperasi di siang hari. Sehingga kalau sampai kasus ini dibahas di majalah gosip, pastilah diisukan karena saya tidur siang terlalu sering dan terlalu lama. Apakah ini sekedar isu? Saya sendiri belum bisa menjawabanya. "No comment!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pengalaman saya pertama menginap di rumah sakit. Di umur yang baru saja memasuki usia 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kejadian dalam hidup saya terjadi ketika saya ulang tahun, tanggal 18 Juni. Kejadian pertama, saya lahir di dunia. Tentu saja. Setelah itu tidak ada yang signifikan. Baru kira-kira di umur 18, UMPTN jatuh tepat pada tanggal 18 Juni 1996 (hari pertama UMPTN). UMPTN ini cukup berkesan juga, karena pengumumannya dilakukan tanggal 27 Juli 1996. Pada hari itu, kantor PDI-P dibakar oleh massa yang tidak lulus UMPTN.... (Kalau anda perhatikan, pernyataan saya yang terakhir boleh dibilang 100% salah tapi juga hampir 95% benar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian lewat lagi tahun-tahun tanpa kejadian istimewa. Biasanya, sepanjang kuliah, saya merayakan ulang tahun sambil mengulang kuliah di semester pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tahun 2003. Percaya atau tidak, saya sidang Sarjana tepat pada tanggal 18 Juni 2003. Hadiahnya ada 2: yang pertama, pada hari spesial itu saya diuji oleh Pak Herman. Bagi yang tidak kenal Pak Herman, silakan bertanya kepada mahasiswa Elektro ITB 80-an sampai 90-an. Cukup saya bilang di sini, bahwa karena Pak Herman mengajar 3 mata kuliah dan saya mengambil masing-masing minimal (minimal, angka resminya saya sembunyikan) 3x, maka saya bertemu Pak Herman selama paling tidak 9x selama kuliah, total 27 SKS. Wow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intermezzo sedikit. Mengenang Pak Herman itu membuat saya melihat mahasiswa ITB sebagai 'mereka yang senang mengerjakan sesuatu yang sulit tapi tidak bisa melakukan pekerjaan sederhana'. Seorang teman saya menang (atau masuk final?) desain chip tingkat internasional di Jepang. Tapi tidak ada yang menang lomba kreativitas mahasiswa nasional. Padahal juara 1-nya waktu itu hanya membuat inkubator bayi. Maaf sebelumnya saya mengatakan 'hanya'. Pada kenyataannya Tugas Akhir sudah banyak yang membuat alat itu. Tapi membuat alat-alat praktis sementara rekan-rekan lain merancang chip yang konon bakal dipakai oleh NASA membuat kita minder untuk mengajukan tugas kita ke lomba-lomba yang ada (ya Enyeng, that's entirely your fault!!!!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian terakhir dengan Pak Herman, saya ingat ada 2 soal perancangan sistem komunikasi (fokus pada Antena). Satu untuk menghubungkan bumi dengan stasiun di Mars. Dan yang satu untuk menghubungkan 2 tempat di bumi dengan jarak beberapa ratus kilometer saja. Dan saya tidak bisa mengerjakan yang ke-2. Bayangkan bagai mana kita bisa berkomunikasi ke Mars tapi tidak bisa menghubungi keluarga di Sumedang sana. Ck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada 18 Juni 2009 ini, memasuki usia 30 tahun yang saya rencanakan untuk introspeksi, saya terkena panas dan demam, yang berlanjut menjadi demam berdarah. Saya opname 1 minggu, istirahat lanjutan 1 minggu. Dan masih merasa tidak 100% fit pada minggu ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, pekerjaan-pekerjaan banyak yang mulai, dan saya seperti kehabisan waktu. Selain itu sebetulnya banyak yang ingin saya tulis, sehingga saya bingung mana yang mau ditulis terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ada yang komentar di Blog saya, bahwa saya bosan ngeblog. Terima kasih sekali karena sudah mendorong saya untuk menulis post yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum. Saya belum bosan ngeblog.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-6402232511090956491?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/6402232511090956491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=6402232511090956491' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6402232511090956491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6402232511090956491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/07/belum-saya-belum-bosan-ngeblog.html' title='Belum. Saya Belum Bosan Ngeblog.'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-8536115596720853413</id><published>2008-05-30T00:43:00.002+07:00</published><updated>2008-05-30T00:52:37.469+07:00</updated><title type='text'>Duh, Lirik dari Mana sih?</title><content type='html'>Saya sering takjub bagai mana para pencipta lagu bisa mendapatkan inspirasi lirik. Yang sering saya hayati: perumpamaan yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba misalkan lagu Everything dari Buble:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You're the get away car&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You're the line in the sand, when I go too far&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bayangan saya, get away car itu kan mobil kabur. Misalkan ketika merampok bank. Jadi mobil yang membawa kita keluar dari kesulitan. Waktu sedang susah, sedang terhimpit, sedang bingung, sedang bete, kekasih kita datang. Dialah get away car.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The line in the sand, garis di pasir. Batas yang kita nggak lewatin. Jadi nggak kebangetan. Waktu mau mabuk-mabukan, ingat kekasih jadi batal. Mau korupsi, batal. Mau gantung diri, batal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumpamaannya itu lho. You're a carousell, a wishing well. Carousell di sini bukan hanya menggambarkan komidi putar, tapi membawa kita secara psikologis membayangkan perasaan menjadi anak-anak. Seperti anak-anak yang ketemu carousell. Can you remember the fun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu Usher, 'Separated', lebih hebat lagi. Kalau ingat lagu ini, saya selalu ingat Rahmat (Basuki). Di mobilnya saya pertama dengar, karena dia putar berulang-ulang entah mengapa. Mungkin sekedar menikmati lagunya, atau mungkin... ada alasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; If love was a bird, then we wouldn't have wings, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; If love was a sky, we'd be blue,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; If love was a choir, you and I could never sing, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Cuz love isn't for me and you&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; If love was an oscar, you and I could never win, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Cuz we could never act out our parts&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; If love is the bible, then we are lost in sin, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Cuz it's not in our hearts&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damn, he's good. I reall am out of word. Where the hell he got that from?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-8536115596720853413?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/8536115596720853413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=8536115596720853413' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8536115596720853413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8536115596720853413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/05/duh-lirik-dari-mana-sih.html' title='Duh, Lirik dari Mana sih?'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3517957099121386715</id><published>2008-05-30T00:43:00.001+07:00</published><updated>2008-05-30T00:43:47.672+07:00</updated><title type='text'>Separated (Usher)</title><content type='html'>If love was a bird, then we wouldn't have wings,&lt;br /&gt;If love was a sky, we'd be blue,&lt;br /&gt;If love was a choir, you and I could never sing,&lt;br /&gt;Cuz love isn't for me and you&lt;br /&gt;If love was an oscar, you and I could never win,&lt;br /&gt;Cuz we could never act out our parts&lt;br /&gt;If love is the bible, then we are lost in sin,&lt;br /&gt;Cuz it's not in our hearts&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So why don't you go your way&lt;br /&gt;And I'll go mine&lt;br /&gt;Live your life&lt;br /&gt;And I'll live mine&lt;br /&gt;Baby you'll do well&lt;br /&gt;And I'll be fine&lt;br /&gt;Cuz we're better off...seperated&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If love was a fire, then we have lost the spark,&lt;br /&gt;Love never felt so cold&lt;br /&gt;If love was the light, then we're lost in the dark,&lt;br /&gt;Left with no one to hold&lt;br /&gt;If love was a sport, we're not on the same team,&lt;br /&gt;You and i are destined to lose&lt;br /&gt;If love was an ocean, then we are just a stream,&lt;br /&gt;Cuz love isn't for me and you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why don't you go your way&lt;br /&gt;And I'll go mine&lt;br /&gt;Live your life&lt;br /&gt;And I'll live mine&lt;br /&gt;Baby you'll do well&lt;br /&gt;And I'll be fine&lt;br /&gt;Cuz we're better off...seperated&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Girl I know we had some good times,&lt;br /&gt;It's sad but now, we gotta say goodbye,&lt;br /&gt;Girl you know I love you, I can't deny,&lt;br /&gt;You can't say we didn't try to make it work for you and I,&lt;br /&gt;I know it hurts, so much but it's best for us,&lt;br /&gt;Somewhere along this windy road you know we lost the trust,&lt;br /&gt;So I'll walk away, so you don't have to see me cry,&lt;br /&gt;It's killing me, so, why don't you go&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why don't you go your way (ohhh)&lt;br /&gt;And I'll go mine (baby)&lt;br /&gt;Live your life (ooo)&lt;br /&gt;And I'll live mine (I'll live mine)&lt;br /&gt;Baby you'll do well (I'll be fine)&lt;br /&gt;And I'll be fine&lt;br /&gt;Cuz we're better off, so much better off&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Go your way (Go your way)&lt;br /&gt;And I'll go mine (I'll go mine)&lt;br /&gt;Live your life (Your life)&lt;br /&gt;I'll live mine&lt;br /&gt;You'll do well (ohh hoo)&lt;br /&gt;And I'll be fine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuz we're better off, soooo much beeeeetter off&lt;br /&gt;So much better off...&lt;br /&gt;Seperated&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm sorry we didn't make it&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3517957099121386715?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3517957099121386715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3517957099121386715' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3517957099121386715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3517957099121386715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/05/separated-usher.html' title='Separated (Usher)'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7577036980585230744</id><published>2008-05-30T00:21:00.000+07:00</published><updated>2008-05-30T00:40:09.075+07:00</updated><title type='text'>Sedikit Pemikiran tentang Pendidikan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Walau saya membela habis-habisan UN (Ujian Negara), terdapat beberapa kritik dan saran dari saya terhadap UN ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pertama-tama, pendidikan harus mencerdaskan. Buat saya, mencerdaskan artinya mereka bisa membaca, bisa berhitung (cukup untuk sehari-hari), dan mempunya kebiasaan yang membantu mereka untuk lebih baik dari kemarin (misalkan, kegemaran membaca).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di sinilah peran dari SD. Di SD yang penting adalah baca tulis dan hitung. Mungkin juga bahasa (Indonesia dan Inggris). Agama, PMP, IPA, dsb., cukuplah diajarkan dengan wajib baca buku sesuai dengan tingkatannya. Pemerintah harus mampu menyediakan buku sesuai dengan umur anak didik yang menyampaikan pesan-pesan moral secara rapi. Melalui wajib baca itu juga, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris diajarkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadi SD cukup tes membaca dan berhitung, untuk terus ke SMP. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seorang teman guru saya bilang, kalau kita mau mengubah karakter anak, SMP dan SMA adalah masa yang tepat. Di sini siswa mulai belajar matematika yang aneh-aneh (akar tiga sebetulnya termasuk aneh karena tidak dibutuhkan sehari-hari). Demikian juga SMA. Yang penting sebetulnya, saya kira, kewajiban membaca buku. Jadi misalkan, ketika anda bertemu lulusan SMP, anda tahu bahwa paling tidak (misalkan) dia pernah membaca Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Layar Terkembang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagai mana kalau selewat SMP, nilai matematika, fisikanya tidak bagus? Artinya silakan masuk ke SMK (STM). Di Jerman, ada perbedaan di antara SMA untuk mereka yang ingin masuk ke universitas dan yang tidak. Perlu diingat, bahwa SMA memang jalur untuk ke universitas, dan universitas memang bukan buat semua orang. Dalam pengamatan saya, rekan-rekan saya yang masuk ke non-teknik ketika kuliah, umumnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mendapat nilai ujian yang kurang baik untuk matematika dkk. ketika SMA, tapi baik ketika SMP. Artinya mata kuliah ‘berat’ selevel SMP tidak serta merta mengeluarkan mereka yang nantinya akan pergi keuniversitas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk yang SMK/STM,seperti yang sekarang ini. Bung Hatta di tahun 50-an sudah mengingatkan bahwa Indonesia seharusnya membangun lebih banyak STM dari pada SMA.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Perlu ditekankan di sini bahwa saya tidak mengatakan bahwa lulusan universitas lebih hebat dari pada non-universitas. Setiap bagian memiliki fungsi pentingnya dalam masyarakat. Juga saya tidak merujuk bahwa mahasiswa teknik lebih pintar dari non-teknik dalam pernyataan di atas. Pokok tentang nilai matematika SMP saya utarakan karena kecenderungan bahwa yang sering kali menjadi masalah di UN selama ini adalah matematika dkk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah kemudian untuk lulusan SMA, silakan mengambil UN. Saya kira UN tidak perlu wajib. Tapi boleh diambil sesuai keperluan. Misalkan mau masuk ke teknik elektro, silakan ambil UN untuk Fisika, Matematika, dan bahasa Inggris. Untuk kedokteran, UN biologi dst. Kalau nilai UN belum cukup, silakan ikut lagi tahun depan. Kalau sudah cukup padahal masih kelas 2, ya boleh saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadi pendidikan bisa mendorong mereka yang harus didorong, dan memberikan kesempatan pada mereka yang tertinggal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sedikit saya ceritakan bahwa saya bertemu dengan teman lama saya, seorang aktivis. Dia bilang,”Sekarang gua yakin, yang penting adalah EQ, bukan IQ”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Buat saya ini adalah pernyataan gegabah. EQ harus diimbangi IQ, dan demikian juga sebaliknya. Mereka yang ber-IQ tinggi tapi EQ rendah, dalam penelitian sering kali kurang berhasil. Bagai mana dengan EQ yang tinggi dan IQ yang rendah?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bayangkan anda berada di tempat yang tinggi karena EQ anda mengantarkan anda. Tapi anda tidak mengerti apa yang harus dikerjakan. Anda bergantung pada orang yang membisiki anda. Tanpa kemampuan teknis, anda akan menyusahkan diri sendiri, atau bahkan orang lain seperti politisi kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadi keduanya penting.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekian kira-kira, pemikiran saya tentang pendidikan di Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7577036980585230744?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7577036980585230744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7577036980585230744' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7577036980585230744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7577036980585230744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/05/sedikit-pemikiran-tentang-pendidikan.html' title='Sedikit Pemikiran tentang Pendidikan'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3975518769270144532</id><published>2008-05-30T00:20:00.000+07:00</published><updated>2008-05-30T00:21:06.583+07:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional (seharusnya) Tetap Ada</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Maaf jika ini terlalu keras. Menurut saya, logika yang diajukan dalam menolak Ujian Nasional (UN) justru menunjukkan bobroknya pendidikan kita yang selama ini tanpa UN. Sebelum saya lanjutkan, tentu ada pertanyaan, apakah dengan UN akan berubah? Jawabannya: belum pasti. Tapi ada satu yang pasti: kalau kita bertahan dengan sistem orba (tanpa UN), hasilnya jelas bobrok dan akan bertambah bobrok.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di posting sebelumnya saya bercerita tentang teman saya. Saya masih ingat namanya, dan saya masih ingat di mana dia duduk waktu EBTANAS SMP, di SMP Negeri 2 Cepu (Jawa Tengah). Dia duduk di barisan terdepan (yang jelas meluluhlantakkan rencananya untuk mencontek). Jadi ketika soal datang, dia tidak membukanya. Melihat ke depan, mengangkat tangan dan menjatuhkan ke lembar jawaban yang ada di meja. Kalau jarinya jatuh di pilihan A, maka dia pilih A. Jika dia jatuhkan di B, dia akan pilih B. dst.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aneh? Ada yang lebih aneh, dia masih mendapat nilai. Sebetulnya ini tidak terlalu aneh, karena secara probabilitas, dia pasti akan mendapatkan nilai. Jadi ada satu hal yang paling aneh. Bahwa dia lulus? Tidak. Yang paling aneh adalah, bahwa tidak satu orang pun yang heran bahwa akhirnya dia lulus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lulus sekolah pada masa itu begitu mudahnya sehingga orang justru menjadi heran ketika ada yang tidak lulus. Anda boleh bolos ujian sambil tutup mata (teman saya di SMP), anda boleh tidak hadir lebih dari 60% (teman saya SMA), dan anda tetap lulus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di posting yang lain saya pernah bercerita, seorang mahasiswa (teknik) saya di Bandung tidak bisa menghitung bunga bank yang didapatkan jika menabung 3 tahun dengan rate 6%. Dan dia lulus SMA, masuk kuliah di jurusan teknik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Apakah ini baik? Saya yakin tidak.Dan pemerintah saat ini sependapat dengan saya. Maka diadakanlah UN. Kemudian datanglah orang yang menentang UN, yang saya sebutkan di atas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pertama mereka datang dengan fakta bahwa murid-murid pintar di sekolah justru tidak lulus. Fakta dari mereka. Anda bisa memeriksa sendiri di sekolah-sekolah favorit: SMA 3 Bandung, 5 Bandung, Aloysius Bandung, 5 Surabaya, 1 Bogor, 8 Jakarta, 70 Jakarta, dst. Bagai mana tingkat kelulusan di sana? Jawabannya: baik. Hampir 100% atau 100% lulus. Jadi murid yang tidak lulus, memang bukan dari sekolah unggulan. Dan kalau ada murid pintar yang memang tidak lulus, kita kembali ke hukum alam yang memang sering terjadi pada orang baik: shit happens. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bisa saja mereka sakit, bisa saja pensilnya palsu. Untuk itu, pemerintah memberikan UN susulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kemudian para penentang UN datang lagi dengan alasan, UN menentang hak untuk mendapatkan pendidikan. Maksudnya, kalau anda ikut UN SMA dan tidak lulus, maka hak anda mendapat pendidikan (lanjut) menjadi hilang. Hak anda dirampas oleh negara. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ini logika yang sangat ngawur. Kalau saya tes akabri dan tidak lulus, apakah hak saya dirampas? Jadi kalau begitu saya bisa menuntut pemerintah karena hak saya dirampas waktu tidak lulus tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), misalkan? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Masalah hak asasi pendidikan ini memuakkan saya. Kalau anda lihat di TK-TK, anak TK sekarang diajari membaca karena ketika masuk SD mereka diuji membaca. Bahkan berhitung. Karena SD malas mengajari mereka. Hal ini, secara aklamasi diakui dunia pendidikan dan psikologi tidak baik bagi anak. TK tidak seharusnya mengajarkan membaca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan tidak ada yang protes.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kemudian, yang ketiga, penentang UN mengatakan, bahwa UN yang hanya 3 hari menafikan proses selama 3 tahun. Kalau anda ikut UN, dan tidak bisa mendapatkan nilai 4 (batas UN tahun lalu), proses apa sih sebetulnya yang ada di sekolah selama 3 tahun? Nol besar. Kalau selama 3 tahun benar-benar belajar, 3 hari itu tidak akan menjadi seperti itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berikutnya, yang menarik, dikatakan bahwa UN hanya mengukur kemampuan matematika dan bahasa Inggris, tapi tidak mengukur akhlak dan tingkah laku, atau hal-hal lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah, mereka lupa. Bahwa kalau tidak ada UN, artinya justru tidak mengukur apa-apa. Garbage in, garbage out. Tukang tawuran, tukang minum, tukang ngobat, toh lulus juga. Kalau memang mereka merasa mampu mengukur akhlak, silakan saja dibikin ujiannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhirnya, pengadilan memutuskan untuk membatalkan UN. Alasannya, pendidikan belum merata. Ini agak aneh juga. Kalau tidak ada UN dan terlihat bahwa sekolah-sekolah di daerah banyak yang gagal, dari mana kita tahu kalau pendidikan tidak merata? Justru itulah salah satu tujuan UN. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dengan menyesal saya mengikuti keputusan pengadilan itu. Kita lihat apakah tahun depan UN masih ada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3975518769270144532?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3975518769270144532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3975518769270144532' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3975518769270144532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3975518769270144532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/05/ujian-nasional-seharusnya-tetap-ada.html' title='Ujian Nasional (seharusnya) Tetap Ada'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-6141171269690928605</id><published>2008-05-29T23:51:00.000+07:00</published><updated>2008-05-29T23:52:32.382+07:00</updated><title type='text'>The Game We're Playing</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Orang yang mengenal saya dengan baik pasti tahu saya pencinta game. Lebih tepat lagi mungkin game dengan tema strategi. Dan kalau hobi kita sama, saya boleh usulkan 1 game yang sebetulnya tidak terlalu populer: Europa Universalis 2. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Apa yang membuat game ini menarik buat saya? Dalam game ini kita diminta mengatur negara. Dan masing-masing negara punya indikator ekonomi maupun politik. Anda dapat mengarahkan apakah ekonomi anda cenderung terpusat atau bebas. Dengan konsekuensi masing-masing. Dalam jangka panjang (permainan berlangsung sekitar 200 tahun), negara anda akan menemukan wujudnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang menarik, pengaturan tentang arah yang akan dituju oleh negara yang kita pimpin merupakan hasil dari keputusan yang kita buat sehari-hari. Misalkan, sebagai Ratu Inggris anda ditanya apakah anda akan membantu Prusia dalam perang melawan Rusia. Jika ya, maka negara kita akan menjadi semakin intevensionis. Atau ketika orang-orang Protestan lari ke Inggris (setelah dikejar-kejar di Eropa daratan), apakah anda mau member perlingungan atau tidak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagi saya, konsep yang diajukan oleh game ini mencerimkan kondisi nyata. Negara yang sedang kita tinggali saat ini, Indonesia, berubah wujud dari waktu ke waktu berdasarkan bagai mana rakyatnya bertindak terhadap kejadian sehari-hari. Contoh?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ujian Nasional. Selama belasan tahun saya sekolah saya tahu bahwa saya pasti lulus. Karena memang segampang itulah lulus sekolah di Indonesia. Seorang teman saya di SMP bahkan tidak membuka soal ketika mengerjakan ujian akhir (EBTANAS). Dia melihat ke langit, mengangkat tangan ke atas, dan menjatuhkannya ke lembar jawaban pilihan ganda. Jika tangannya jatuh di A, itulah yang dia pilih. Dan dia lulus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tahun-tahun terakhir ini, negara mengadakan ujian nasional yang menentukan kelulusan. Untuk pertama kalinya saya melihat siswa SMA belajar mati-matian, terbawa mimpi takut tidak lulus. Banyak yang stress dan gantung diri. Apakah ini baik? Apakah ini buruk? Saya tahu dalam hati anda punya jawabannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pengadilan memutuskan bahwa Pemerintah harus membatalkan ujian akhir. Itulah mungkin keputusannya, dan 20 tahun lagi kita akan melihat hasil dari keputusan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selama 80 tahun, konon, Ahmadiyah sudah ada di Indonesia. Hidup damai di antara kita. Entah mengapa tiba-tiba belakangan ini, mereka dikejar-kejar. Tempat ibadahnya (masjid?) dibakar. Dan sebagian menghalalkan darah mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bergunakan iman yang dinyatakan di bawah ancaman parang? Apakah kekerasan terhadap Ahmadiyah akan kita toleransi? Apakah kekerasan atas nama agama diperbolehkan? Apakah boleh ada penindasan oleh mayoritas terhadap minoritas? Apa yang kita putuskan hari ini, menjadi preseden untuk masa depan. Kebiasaan umat beragama membawa kekerasan ke jalan, apakah akan dibiarkan atau tidak, akan menentukan wajah Indonesia 20 tahun ke depan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sepanjang hari kita melihat infotainment dan sinetron. Selebritis, menjadi panutan kita. Ketika pertandingan olah raga mereka menjadi komentator. Ketika pemilu mereka menjadi vote getter, ketika bulan ramadhan mereka menjadi penceramah. Jalan sukses terpasti adalah menjadi idol, dan kita lupa bahwa secepat mereka datang, secepat itu pula ketenaran instan pergi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Apakah mimpi menjadi selebriti akan menjadi mimpi Indonesia? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kejadian-kejadian yang terjadi sehari-hari, sering kali begitu dekat untuk kita ikut menentukan. Kejadian-kejadian tersebut akan mengubah masyarakat kita secara keseluruhan dalam jangka panjang. Jadi marilah kita pikirkan secara masak, dan ambil pilihan yang terbaik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hidup kita saat ini, sangat mirip dengan game yang saya ceritakan di awal. Perbedaannya hanya 1: bahwa hasil permainan kita dalam hidup ini akan dirasakan oleh anak cucu kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadi, bagai mana permainan anda hari ini?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-6141171269690928605?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/6141171269690928605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=6141171269690928605' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6141171269690928605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6141171269690928605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/05/game-were-playing.html' title='The Game We&apos;re Playing'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4941856032263123982</id><published>2008-05-29T11:49:00.000+07:00</published><updated>2008-05-29T11:50:19.542+07:00</updated><title type='text'>Everything (Buble)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; You're a falling star, you're the get away car.&lt;br /&gt;You're the line in the sand when I go too far.&lt;br /&gt;You're the swimming pool, on an August day.&lt;br /&gt;And you're the perfect thing to say.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And you play it coy but it's kinda cute.&lt;br /&gt;Ah, when you smile at me you know exactly what you do.&lt;br /&gt;Baby don't pretend that you don't know it's true.&lt;br /&gt;'cause you can see it when I look at you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;[Chorus:]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;And in this crazy life, and through these crazy times&lt;br /&gt;It's you, it's you, you make me sing.&lt;br /&gt;You're every line, you're every word, you're everything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You're a carousel, you're a wishing well,&lt;br /&gt;And you light me up, when you ring my bell.&lt;br /&gt;You're a mystery, you're from outer space,&lt;br /&gt;You're every minute of my everyday.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I can't believe, uh that I'm your man,&lt;br /&gt;And I get to kiss you baby just because I can.&lt;br /&gt;Whatever comes our way, ah we'll see it through,&lt;br /&gt;And you know that's what our love can do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;[Chorus]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, la, la, la, la, la, la, la&lt;br /&gt;So, la, la, la, la, la, la, la&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;[Chorus:]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;And in this crazy life, and through these crazy times&lt;br /&gt;It's you, it's you, you make me sing.&lt;br /&gt;You're every line, you're every word, you're everything.&lt;br /&gt;You're every song, and I sing along.&lt;br /&gt;'Cause you're my everything.&lt;br /&gt;Yeah, yeah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, la, la, la, la, la, la, la&lt;br /&gt;So, la, la, la, la, la, la, la&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4941856032263123982?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4941856032263123982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4941856032263123982' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4941856032263123982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4941856032263123982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/05/everything-buble.html' title='Everything (Buble)'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3477524383308142922</id><published>2008-05-20T21:02:00.001+07:00</published><updated>2008-07-17T12:46:10.308+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Bang Ali</title><content type='html'>Kaget juga waktu mendengar Bang Ali meninggal. Sebetulnya saya tidak perlu terlalu kaget. Bang Ali ditunjuk oleh Bung Karno menjadi gubernur DKI di tahun 66. Mungkin sudah waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak terlalu kenal dengan Ali Sadikin. Cerita tentang beliau, lebih banyak saya dengar dari orang tua saya. Dan juga dari rumor-rumor lainnya. Konon, beliau tentara (marinir) yang pemberani. Kalau bertempur, katanya, dia menembak sambil berdiri. Tidak berlindung. Luar biasa berani. Tapi saya benar-benar yakin bahwa beliau seorang pemberani karena menandatangani petisi 50 di tahun 70-an. Banyak tentara yang berani menembak sambil berdiri tidak berani menandatangani Petisi 50. Bayangkan saja, yang berani tanda tangan saja cuma 50...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang jarang didengar adalah tentang pelebaran jalan lingkar luar Jakarta. Jalan yang sekarang ada di bawah Tol dalam kota dari Cawang ke Tanjung Priok Via Rawa Mangun. Katanya banyak rakyat tergusur. Waktu pintu-pintu rumah diberi tanda bahwa akan digusur, pemiliknya diberitahu bahwa ini atas permintaan Bang Ali. Dan mereka pun ikhlas. Konon katanya, Bang Ali lebih dahulu memberi baru meminta. Dalam hal ini, Bang Ali ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi? Taman Ismail Marzuki dibangun di jaman Bang Ali. Juga Ragunan (tadinya kebun binatang ada di posisi TIM sekarang). Dan Ancol. Dan banyak lagi. Banyak pembangunan fisik di Jakarta sekarang. Tetapi pembangunan yang memanusiakan manusia, hampir semuanya peninggalan Bang Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kontroversial ketika Bang Ali melegalkan judi. "Jakarta butuh uang", katanya. Dan konon kabarnya ulama mengkritiknya. "Kalau mereka nggak mau memakai jalan hasil judi, suruh naik helikopter. Semua jalan di Jakarta dibangun dari hasil (pajak) judi.", kata Bang Ali enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini menjadi polemik di akhirat? Jelas Bang Ali melegalkan judi. Tapi konon kabarnya, 10 golongan yang masuk surga, salah satunya adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya. Dan Bang Ali termasuk di antaranya. Saya yakin, Allah punya pertimbangannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi selamat jalan Bang Ali. Terima kasih karena telah menjadi lilin di kegelapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3477524383308142922?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3477524383308142922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3477524383308142922' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3477524383308142922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3477524383308142922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/05/selamat-jalan-bang-ali.html' title='Selamat Jalan Bang Ali'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4444460081416751785</id><published>2008-05-04T23:08:00.000+07:00</published><updated>2008-05-04T23:26:06.931+07:00</updated><title type='text'>10 Tahun, Apa yang Telah Kita Capai?</title><content type='html'>Mengenang hari-hari di sekitaran Mei 98, tentu salah satu pertanyaan yang muncul adalah, apakah setelah reformasi negara ini menjadi lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Saya sendiri orang yang optimistis. Di detik-detik terakhir batas kelulusan sarjana muda dan nilai E yang diharamkan muncul pun, saya masih optimis (dan untungnyal, optimisme saya berbuah). Jadi apa yang saya bicarakan dalam tulisan ini adalah dari sudut pandang seorang optimist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu, sampai bulan lalu, anda tidak akan berpikir bahwa kantor seorang anggota DPR akan digeledah. Ada yang bilang di acara Republik Mimpi tadi, bahwa apakah tidak ada cara lain. Seolah-olah DPR itu penjahat narkoba. Justru itu intinya, menjadi sama di depan hukum terlepas dia maling ayam atau seorang anggota DPR. Kalau DPR  harus diperlakukan dengan cara yang baik, demikian juga seorang maling ayam. Dan sampai bulan lalu, kita masih ragu apakah penggeledahan di DPR bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini satu langkah lagi lebih maju.Negara ini, pelan-pelan sesungguhnya menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah negara kita memenangkan olimpiade Fisika pada jaman Orde Baru? Anda bisa saja bilang, waktu itu Yohannes Surya belum sempat mengurus olimpiade Fisika. Tapi seharusnya, muncul Yohannes Surya lain, dan itu tidak terjadi. Di masa reformasi ini, orang-orang berinisiatif membuat taman bacaan, sekolah untuk orang tidak mampu, dan sebagainya. Mungkin luput dari perhatian anda, itu tidak banyak terjadi di jaman Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orde Baru, telah memberangus kemampuan berorganisasi warga sipil. Kemampuan yang sesungguhnya telah membantu bangsa ini untuk merebut kemerdekaannya. Karena itu kita mengenang Sumpah Pemuda. Kemampuan berorganisasi yang semakin menurun itu bisa dilihat dari 'tingkat keramaian' demonstrasi mahasiswa dari tahun 66 sampai 98. Dan kalau kita mau berlelah-lelah sedikit menengok museum Sumpah Pemuda, kita akan tahu bahwa organisasi pemuda tahun 1920-an lebih maju dari pada 2000-an. Apa parameternya? Sederhana saja, bahwa organisasi pada masa itu dapat hidup dari iuran anggotanya (anggota memberi dana kepada organisasi dan bukan sebaliknya seperti sekarang), dan dapat mengeluarkan aturan yang dipatuhi oleh anggotanya setelah disepakati. Karena itu kita tidak pernah mendengar ada Budi Utomo perjuangan. Beberapa organisasi seperti Sarekat Islam memang sempat pecah, tetapi pecah secara resmi tanpa saling mengklaim kebenaran ideologi seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sejak reformasi ini, kemampuan itu kembali ada. Dan tentu saja, karena kualitasnya masih di bawah tahun 1920-an, masih dibutuhkan waktu. Mungkin cukup panjang, tetapi arah ke sana sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi merebak di mana-mana, tetapi ada yang tertangkap. Kira-kira 5 tahun yang lalu, kita tidak yakin apakah para Bupati koruptor akan tertangkap. Sampai kira-kira 1 tahun yang lalu, kita tidak yakin apakah anggota Dewan yang terhormat bisa tertangkap basah. Tetapi ternyata bisa. Di jaman reformasi ini, ada pertarungan antara ilmu hitam dan ilmu putih. Ilmu hitam masih sering sekali menang, tetapi ada pertarungan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa Barat kita bisa merasakan bahwa bulan-bulan terakhir jarang sekali ada razia. Konon kabarnya, polisi malas karena mereka diperintahkan untuk tidak melakukan pungli. Menjadi masalah jika polisi tidak menjalankan tugasnya, tetapi kenyataan bahwa perintah dari atas bisa menertibkan korps polisi adalah satu kejutan yang menyenangkan, pembuktian atas teori bahwa,"Menegakkan benang basah harus dari atas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak contoh lainnya, terlalu banyak untuk dibahas di tulisan ini. Tetapi momen 100 tahun kebangkitan nasional ini, marilah kita jadikan momentum untuk berubah. Seperti kata Aa Gym (sebelum dan sesudah menikah lagi),"Marilah mulai dari diri sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjakan apa yang menjadi pekerjaan kita sebaik-baiknya, insyaAllah kita bisa menyelesaikan masa transisi ini dengan baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4444460081416751785?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4444460081416751785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4444460081416751785' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4444460081416751785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4444460081416751785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/05/10-tahun-apa-yang-telah-kita-capai.html' title='10 Tahun, Apa yang Telah Kita Capai?'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4278337024704135455</id><published>2008-04-29T16:09:00.000+07:00</published><updated>2008-04-29T16:13:05.204+07:00</updated><title type='text'>Blogspot Susah Dibuka?</title><content type='html'>Beberapa minggu ini koq saya merasa susah membuka blogspot ya. Jadi untuk posting jg susah. Apakah ada yang juga merasa demikian?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4278337024704135455?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4278337024704135455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4278337024704135455' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4278337024704135455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4278337024704135455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/04/blogspot-susah-dibuka.html' title='Blogspot Susah Dibuka?'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2324565210237072618</id><published>2008-04-21T15:09:00.003+07:00</published><updated>2008-05-04T23:30:56.624+07:00</updated><title type='text'>Syukurlah, kata Pak Menteri,"Bukan Hanya Transparan, tapi Bugil"</title><content type='html'>Menteri Kehutanan MS Kaban menegaskan kasus Al Amin tidak akan menghentikan proses alih fungsi hutan lindung di Kabupaten Bintan. Kaban menjelaskan alih fungsi hutan sudah sesuai aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak lah, tidak ada cacat di situ," kata Kaban di Kantor Depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (21/4/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kaban, dia tidak ingin kasus Al Amin menghambat alih fungsi hutan. Proses itu dijamin dia berlangsung transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Proses pengalihfungsi hutan di Bintan bukan hanya transparan tapi bugil. Kan wartawan melihat semua prosesnya di DPR seperti apa. Jadi tidak ada yang ditutupi," tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kaban, hutan lindung di Bintan dibutuhkan untuk pembangunan Kota Bintan. Permohonan alih fungsi menjadi hutan produksi dilengkapi berbagai studi itu sudah disetujui Komisi V DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari segi proses amanat UU dan PP masalah pengalihfungsian kawasan hutan di Bintan sudah tidak ada masalah lagi. Persetujuannya sudah ada di DPR, tinggal kita teruskan dengan proses pengalihfungsian itu," pungkas Kaban.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2324565210237072618?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/21/time/134341/idnews/926767/idkanal/10' title='Syukurlah, kata Pak Menteri,&quot;Bukan Hanya Transparan, tapi Bugil&quot;'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2324565210237072618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2324565210237072618' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2324565210237072618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2324565210237072618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/04/syukurlah-kata-pak-menteribukan-hanya.html' title='Syukurlah, kata Pak Menteri,&quot;Bukan Hanya Transparan, tapi Bugil&quot;'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3434025954788845416</id><published>2008-04-21T09:02:00.000+07:00</published><updated>2008-04-21T09:05:27.301+07:00</updated><title type='text'>Anggota DPR Sita Kamera Video</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Suryalive | Jakarta -&lt;/strong&gt; Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan berinisial JS dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena merampas kamera video atau handycam yang digunakan petugas satpam, Tumai Dani Tiwu Sigar. Kamera video itu digunakan Tumai untuk merekam keributan yang melibatkan JS.&lt;br /&gt;Tumai merekam keributan yang dipicu perilaku JS di kompleks perkantoran Darma Bumi Harmoni, Jalan Majapahit, Nomor 32-34, Jakarta Pusat, Jumat (18/4) petang. Tumai yang ditemui di lokasi kejadian menjelaskan, JS bersikeras mengeluarkan mobilnya secara melawan arus melalui pintu masuk kompleks perkantoran. Tindakan itu dapat membahayakan lalu lintas di daerah padat kendaraan di seberang Istana yang berada di kawasan Harmoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya ini anggota dewan. Kamu orang kecil tahu apa. Kompleks ini milik saya, tahu!” tutur Tumai menirukan JS. Ucapan JS itu kemudian diikuti kata-kata kotor yang diarahkan kepada petugas parkir dan petugas satpam kompleks yang menjaga portal pintu masuk Kompleks Darma Bumi Harmoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDI-P) Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia Firman Jaya Daeli yang dihubungi menyatakan, pihaknya segera memanggil JS untuk klarifikasi. ”Kalau betul ada pelanggaran, akan ditindak tegas sebagai bentuk penegakan aturan partai. Kader PDI-P harus menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat serta tidak boleh mengedepankan kekerasan. Kader, apalagi anggota legislatif atau pejabat di lembaga eksekutif, harus menjadi abdi rakyat,” kata Firman.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Telepon genggam JS tidak bisa dihubungi sejak petang.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pantauan, tidak terlihat aktivitas di PT ”BL” di kompleks perkantoran. Sebelum menjadi anggota DPR, menurut Koordinator Keamanan Okky Abibakrim, JS berkantor di PT ”BL”. ”Ini bukan kali pertama dia memaksa mobilnya keluar dengan melawan arus lalu lintas melalui pintu masuk kompleks. Dia juga sering tidak membayar parkir sehingga petugas parkir harus menombok dari kantung sendiri. Mereka hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu. Para pemilik kendaraan di kompleks juga sering memprotes kami karena merasa petugas mengistimewakan JS,” papar Okky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum insiden, JS, kata Okky, datang ke kompleks perkantoran dengan mobil Range Rover sekitar pukul 12.30. Mobil itu kemudian keluar dari kompleks sesuai prosedur dan tidak melawan arus lalu lintas. Kericuhan terjadi belakangan saat JS meninggalkan kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prosedur pengamanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tumai, sesuai prosedur pengamanan kompleks, apabila terjadi keributan, harus direkam dengan menggunakan kamera video yang disediakan. Tumai dengan sigap mengambil kamera video dan merekam perilaku anggota dewan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari aksinya direkam kamera, JS tiba-tiba menghampiri Tumai dan langsung merampas kamera video berisi rekaman peristiwa itu. Kamera video bermerek JVC dengan kemampuan 32 kali zoom yang baru empat bulan disediakan perusahaan pun langsung berpindah tangan. ”Saya dihalangi dua pengawal JS sehingga tidak bisa mengambil kamera itu. Karena kehilangan handycam itu saya dipotong gaji oleh perusahaan,” kata Tumai dengan wajah memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perampasan berawal dari perilaku JS yang menumpang Toyota Kijang Innova warna perak memaksa keluar kompleks dengan melawan arus. Saat itu, ujar Okky, portal dalam posisi tertutup sebagai standar pengamanan. Namun, mobil JS memepet portal dan memaksa agar palang besi dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS membentak sopirnya untuk menerobos. Dia turun dari mobil lalu memaki petugas parkir dan petugas satpam, Malvin Ligo dan Tumai, yang bertugas. ”Mobilnya terlihat baret-baret karena dipaksa menyeruduk palang besi,” kata Tumai. Keributan pun terjadi. Saat Tumai mengambil gambar menggunakan kamera video, JS marah dan merampas alat perekam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani kawan-kawannya, Tumai melaporkan peristiwa perampasan itu ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan perampasan dan pencurian.kcm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3434025954788845416?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://suryalive.com/content/view/1315/51/' title='Anggota DPR Sita Kamera Video'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3434025954788845416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3434025954788845416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3434025954788845416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3434025954788845416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/04/anggota-dpr-sita-kamera-video.html' title='Anggota DPR Sita Kamera Video'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-9026692282998280107</id><published>2008-04-16T22:27:00.000+07:00</published><updated>2008-04-16T22:39:24.093+07:00</updated><title type='text'>Oleh-oleh Cerita dari Indonesia</title><content type='html'>Buat rekan-rekan yang sedang ada di luar negeri, atau rekan-rekan yang ada di dalam negeri tapi tidak sempat memperhatikan, saya ingin menceritakan beberapa hal yang saya dengar dan alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya menceritakan tentang Kapolda Jabar yang meminta semua anak buahnya menghentikan 'setoran' ke atas. Saya tidak bisa mencari tahu sampai di mana kebenaran pelaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas ada beberapa kasus. Ibu saya mengurus STNK beberapa waktu yang lalu. Dari waktu ke waktu ibu saya selalu datang ke Samsat dan menghubungi 'kenalan'-nya di sana. Tapi kali ini, begitu masuk ibu saya langsung disambut provost yang mempersilakan ibu saya menuju ke loket. Hanya dalam 15 menit, urusan perpanjang STNK selesai. Tarif resmi. Luar biasa, pertama kali dalam 15 tahun terakhir, seingat saya (sebelum 15 tahun terakhir saya tidak memperhatikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pegawai saya dan beberapa rekan lainnya melaporkan, bahwa ketika membuat SIM, saat ini tidak ada calo. Semua pemohon antri di loket. Bahkan pegawai saya mengatakan, dia melihat anggota polisi yang juga mengantri. Cukup banyak pemohon SIM motor yang tidak diluluskan, karena memang tidak bisa memenuhi syarat ujian. Biaya perpanjangan SIM, hanya 100 ribu. Bandingkan dengan tahun lalu yang masih 250-300 ribu rupiah. Saya tidak tahu apakah biaya resmi masih 52 ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman dari ibu saya, suaminya bekerja di perusahaan penebangan milik keluarga kuat di Indonesia, di Irian. Menurut kesaksiannya, pekerjaan sedang sepi karena polisi sedang ketat sekali memberantas illegal logging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di milis-milis, bertebaran email yang memperingatkan untuk tidak menyogok polisi, karena kita bisa dituntut (konon polisi mendapat 10 juta jika bisa membuktikan kita menyogok). Saya tidak bisa mengkonfirmasi berita ini (saya belum pernah ditilang akhir-akhir ini, dan tentunya saya tidak berani menyogok setelah membaca email ini). Namun saya perhatikan, razia di jalan sedang jarang. Katanya, polisi malas razia karena kalau ada yang ditilang juga mereka tidak bisa mendapatkan bagian. Ini salah juga sih, susah kita kalau polisi nggak mau menilang pelanggar lalu lintas. Terpikir oleh saya bahwa seharusnya petugas secara resmi mendapat bagian dari denda setiap kali menilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya utarakan di atas, mungkin terdengar sederhana. Tapi kalau dipikir lebih jauh lagi, tidak pernah terjadi sejak saya berurusan polisi belasan tahun yang lalu (ketika pertama kali membuat SIM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memberikan harapan, bahwa negara ini sebetulnya bisa tertib. Dan ketertiban itu akan datang lebih cepat ketika datang dari atas: menegakkan benang basah harus dari atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo Pak Polisi! Memang masih banyak yang harus dibenahi, tapi ini langkah awal yang baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-9026692282998280107?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/9026692282998280107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=9026692282998280107' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/9026692282998280107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/9026692282998280107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/04/oleh-oleh-cerita-dari-indonesia.html' title='Oleh-oleh Cerita dari Indonesia'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5599052512242502571</id><published>2008-04-10T23:48:00.000+07:00</published><updated>2008-04-10T23:54:12.933+07:00</updated><title type='text'>Pindah Alamat Email</title><content type='html'>Kepada semua rekan-rekan yang hendak mengemail saya. Mohon pindahkan alamat tujuan anda ke email saya di gmail:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                           d.yudhistira@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya sudah lama saya ingin pindah ke gmail. Ada beberapa alasan:&lt;br /&gt;1. Yahoo tidak memberikan fasilitas untuk menghapus isi satu folder. Harus dihapus satu-satu (atau ada caranya tapi saya gaptek)&lt;br /&gt;2. Yahoo tidak bisa di-pop. Hari gini nggak bisa dipop...&lt;br /&gt;3. Kalau anda perhatikan, tanda quota di Yahoo tidak ada lagi. Nah, baru akhir-akhir ini saya sadari bahwa email saya yang lama-lama pada hilang. Tampaknya quota saya sudah penuh dan Yahoo menghapus email-email lama saya. Ini yang bikin keqi berat&lt;br /&gt;4. Saya sudah menginstall Thunderbird dan siap memakai pop mail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email saya di yahoo tentunya masih saya buka. Tapi mohon ramaikan juga gmail saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5599052512242502571?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5599052512242502571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5599052512242502571' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5599052512242502571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5599052512242502571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/04/pindah-alamat-email.html' title='Pindah Alamat Email'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7615453233702254011</id><published>2008-04-10T23:47:00.000+07:00</published><updated>2008-04-10T23:48:12.705+07:00</updated><title type='text'>Hallo Semua!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hari-hari terakhir ini saya tidak membaca koran. Ragu-ragu juga untuk bilang tidak sempat, saya tidak sesibuk itu. Juga, bukan karena sibuk pula saya belum menonton film Ayat-Ayat Cinta. Saya mungkin tidak tahan saja menonton film nasional yang tidak komedi. Konon, Ayat-Ayat cinta ini adalah salah satu film paling sedih yang pernah dibuat di Indonesia. Presiden SBY yang selama ini berusaha tegar ketika melihat korban banjir, korban lumpur Lapindo, warga yang makan nasi aking sambil antri minyak tanah, sampai balita penderita gizi buruk pun tak urung menitikkan air mata ketika menonton Ayat-Ayat Cinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi saya belum nonton, takut sedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Presiden SBY kemarin marah-marah. Waktu dia sedang ceramah, ada peserta yang tertidur. Jadi SBY minta orang itu disuruh keluar, dan tidak diluluskan (sedang dalam satu pendidikan). Menurut SBY,"Pejabat seperti itu tidak mendengarkan rakyat, tidak usah diluluskan". Betul juga. Tapi saya takut para pejabat ke bawah kemudian ikut-ikutan. Ketika memberikan pidato marah ketika ada yang tidur. Bayangkan kalau misalkan bupati memberi pidato di SD dan ada yang tertidur,"Tolong jangan diluluskan, nanti dia jadi pemimpin yang tidak benar.", kira-kira begitulah bakal perkataan si Bupati. Padahal seperti kita ketahui bersama, pidato pejabat jarang yang penting. Kalau penting tentu sesuai hukum pasar, media akan berlomba-lomba meliput. Masih jadi pertanyaan buat saya, kalau sampai ada pendengar yang tertidur, yang salah yang mendengarkan atau yang bicara? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya tahu karena dua hari ini saya mulai membaca koran lagi. Beritanya sebetulnya tidak banyak berubah dari dulu. Terutama untuk kasus Indonesia. Guru bantu masih dibayar Rp 100-300 ribu. Lebih murah dari pembantu, belum lagi pembantu dapat tempat menginap dan makan. Jalan masih rusak. Katanya karena hujan. Tapi saya perhatikan ada juga jalan yang tidak rusak, mungkin akumulasi perawatan yang sembrono ditambah hujan lebih pas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Yang menarik, adalah berita tentang pengalihan rumah oleh salah satu menteri kabinet Gotong Royong. Ceritanya, sekitar tahun 2004 seorang menteri tersebut mendapatkan rumah dinas. Karena rumah dinas itu termasuk rumah negara golongan I, maka dikeluarkanlah SK menteri (menteri yang bersangkutan tentunya) untuk mengubahnya menjadi golongan 2. Tidak lama kemudian, sekitar sebulan, keluar lagi SK menteri lain (dari menteri itu juga) yang menurunkan golongan rumah itu dari 2 ke 3, sehingga sah, legal untuk dijual. Kemudian diadakanlah transaksi antara negara, yang diwakili oleh departemen yang dipimpinnya, dengan sang menteri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sayang tidak disebutkan berapa nilai transaksinya. Buat saya hanya satu kata yang terlintas di kepala: Jahanam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mudah-mudahan rumah tersebut bisa diambil kembali, dan saya mendukung keinginan KPK untuk menelusuri semua aset negara untuk mencari kasus-kasus semacam ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berita kedua yang menarik adalah tentang penangkapan Sekda Bintan dan anggota DPR karena kasus suap. Inti cerita, Bintan ingin membuat sebuah kompleks bisnis modern, dan melirik hutan lindung yang ada untuk dijadikan lokasi. Kenapa harus di hutan lindung? Tentu saja karena murah. Apalagi kalau sambil ditebang kayunya bisa dijual diam-diam. Sebuah LSM memperkirakan kerugian akibat pembabatan hutang lindung itu mencapai angka 5,6 Trilyun. Ini angka dari mana saya tidak tahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menteri Kehutanan MS Kaban pada prinsipnya menyetujui, namun menunggu rekomendasi dari DPR. Saya sebetulnya agak heran, saya perhatikan Menteri Kehutanan hampir tidak pernah keberatan kalau ada hutan yang mau dialihkan. Mungkin memang tugas Departemen Kehutanan adalah mengubah hutan menjadi non hutan, bukan mempertahankan hutan seperti yang saya pikir selama ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seperti Menkominfo misalnya. Ini juga menteri paling nggak jelas kerjaannya. Cuma buat menutup peredaran 'Fitna' di Indonesia, seluruh rapidshare dan youtube ditutup. Besok-besok kalau Pak Menteri buka usaha Pest Control jangan mau memakai jasa beliau. Untuk memberantas tikus di rumah anda, pasti rumahnya ikut dibakar. Nggak usah banyak ulah deh Pak Menteri. Urus saja 1-2 yang bisa diukur jelas, misalkan itu KTP nasional (lengkap dengan Single Identification Number) kapan mau online? Itu aja diurus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Duh ngelantur. Menyebalkan sih, account rapidshare saya belum expired soalnya...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kembali ke masalah rekomendasi hutan tadi, diduga terjadi penyuapan antara pemerintah kota Bintan (dalam hal ini diwakili oleh Sekda) dan DPR. Uang yang tertangkap basah ada beberapa juta, tapi katanya merupakan bagian dari komitmen yang besarnya milyaran rupiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Yang sering membuat saya dongkol sebetulnya, pejabat negara ini sering menjual negara dengan nilai yang kelewat murah. Maksud saya, kl kerugian negara trilyunan, ya wajarnya suapnya itu ratusan milyar. Kalau cuma milyaran sih.... Katanya pemerintahan ini dikuasai pedagang. Tapi saya lihat mentalnya masih mental pedagang barang bekas kalau begitu: jual murah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ngomong-ngomong soal pedagang, kemarin saya dengar di radio tentang serah terima sertifikat rumah kepada warga Sidoarjo yang terkena gusuran lumpur. Si Bapak, seharusnya menerima sekitar 56 juta sebagai uang muka 20% ganti rugi tananhya, tetapi mendapat transferan senilai 475 juta (semua dalam rupiah). Akhirnya si Bapak mengembalikan kelebihan senilai 400 juta rupiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk menghargai kejujuran si Bapak, maka Lapindo memberikan hadiah rumah. "Karena di jaman sekarang sulit untuk mencari orang jujur.", kata perwakilan Lapindo. Buat saya masalahnya, rumah yang diberikan adalah rumah tipe 45/90, yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;walau mungkin di Cibubur harganya bisa sampai 1 Milyar, saya yakin di Sidoarjo tidak sampai segitu. 100-an juta paling. Tampaknya yang ingin dikatakan oleh perwakilan Lapindo sesungguhnya adalah,"Karena di jaman sekarang sulit untuk mencari orang jujur, di kantor saya aja nggak ada..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ok, ok, kembali ke anggota DPR itu. Di detik diberitakan bahwa ikut tertangkap juga seorang wanita muda cantik jelita. Diduga bahwa wanita ini adalah 'bonus' buat anggota DPR itu. Dalam ilmu pemasaran, ini termasuk dalam 'Direct Incentive'. Biasanya dibagikan dalam bentuk merchandise yang diletakkan dalam kemasan. Contoh, stiker yang ada di kemasan Chiki. Memang aplikasi ilmu pemasaran sangat beraneka ragam tergantun pada kreativitas pemasarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pagi tadi, saya baca bahwa istri si anggota DPR menengok. Ternyata si anggota DPR adalah suami dari Kristina. Kalau tidak salah Kristina ini penyanyi dangdut terkenal. Menarik juga (Kristina masih menarik maksudnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berita yang saya kira langsung menyangkut pada saya adalah pernyataan Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta bahwa di tengah keterlambatan pembangunan monorail, subway, dan busway, ada juga yang diperkirakan datang lebih cepat: kemacetan total di Jakarta akibat terlalu banyak mobil. Dari perkiraan tahun 2014, menjadi tahun 2011. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kita ini semua seolah-olah sedang duduk di atas bom yang berdetak dengan waktu yang jelas tapi tidak melakukan apa-apa. Subsidi BBM tahun ini mencapai sekitar 140 Trilyun. Pemerintah DKI mau membuat tol dalam kota tambahan dengan dana 40 Trilyun. Penjualan motor tiap tahun kira-kira (dengan 4 juta motor per tahun dan 10 juta rupiah per motor) 40 Trilyun. Penjualan mobil kira-kira&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;40 Trilyun (dengan 400 ribu mobil per tahun dan kira-kira 100 juta rupiah per mobil). Dana untuk monorel cuma 6 Trilyun dan tidak kunjung ada....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Negara yang aneh. Coba kita tunggu dan lihat 3 tahun lagi, benarkah apa yang dikatakan Wadishub DKI itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tapi SBY kemarin mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk optimis. Bangsa ini harus bisa mengatasi permasalahannya. Saya setuju. Bangsa ini punya potensi besar dan semangat untuk bertahan. Kita akan berhasil. Kalau dipikir-pikir, hanya sedikit koq faktor yang bisa dijadikan dasar untuk pesimis. SBY itu salah satunya. :)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7615453233702254011?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7615453233702254011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7615453233702254011' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7615453233702254011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7615453233702254011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/04/hallo-semua.html' title='Hallo Semua!'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5273283768042605291</id><published>2008-03-20T16:30:00.000+07:00</published><updated>2008-03-20T16:31:38.300+07:00</updated><title type='text'>Mahasiswa ITB Menangkan Kontes Desain IC</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAKARTA, SELASA&lt;/strong&gt; - Dua tim mahasiswa Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1206005385_0"&gt;Institut Teknologi Bandung&lt;/span&gt; (STEI ITB) menjuarai lomba LSI Design Contest di Okinawa, Jepang. Tim Garuda Parahyangan dan CREW, berturut–turut berhasil menyabet predikat Juara I dan Juara II lomba desain chip tingkat dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Garuda Parahyangan yang beranggotakan Oky Firmansyah, Andry Ongkinata, dan Bagus Prasetyo Wibowo, mendapat penghargaan IEICE Communication Society Award melalui karya berjudul "RSA Enchiper Hardware Design Using Interleaved Algorithm with Dynamic Masking". Sementara itu, tim CREW yang digawangi Iput Heri Kurniawan, Asep Bagja Nugraha dan Randy Saut Purba meraih predikat "LSI of the Year for Student" dari "The Semiconductor Industry Newspaper" dari rancangan berjudul "RSA Hardware Implementation Based on Pipeline Architecture of Montgomery’s Algorithm".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang lebih mengesankan lagi adalah semua tim dari &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1206005385_1"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; merupakan mahasiswa S1, dimana tim lainnya sebagian besar adalah mahasiswa Master, bahkan dari perwakilan industri," ujar Dr. Trio Adiono, dosen pembimbing kedua tim dalam email yang dikirimkannya. Hasil karya tim &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1206005385_2"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; juga akan diundang secara khusus untuk tampil di Institute Electronics, Information and Communication Engineer (IEICE), jurnal elektronika terkemuka di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The 11th LSI Design Contest in &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1206005385_3"&gt;Okinawa&lt;/span&gt; 2008, yang berlangsung 14 Maret 2008 itu bertema merancang chip untuk sistem keamanan yang disebut RSA encoder–decoder. Sistem ini banyak dipakai oleh Industri teknologi informasi, termasuk internet dan ponsel. Lomba ini merupkan lomba desain chip tingkat Internasional yang beberapa jurinya berasal dari  perusahaan-perusahaan besar dalam industri Elektronika, seperti &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1206005385_4"&gt;Sony&lt;/span&gt;, Renesas, &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1206005385_5"&gt;Synplicity&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1206005385_6"&gt;Xilinx&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chip yang dirancang memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, sehingga president dari Sony Semiconductor, yang terkenal dengan produk PlayStation3, ponsel, dan televisinya, datang langsung untuk melihat dan bertindak sebagai juri dalam lomba ini.  Kategori penilaian meliputi ide baru rancangan dan kemungkinannya dalam aplikasi industri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim STEI ITB mengalami peningkatan psat dalam kompetisi tahunan yang diselengarakan oleh Ryukyus University Jepang. Tahun 2007 lalu, tim VR–46 dalam The 10th LSI Design Contest in &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1206005385_7"&gt;Okinawa&lt;/span&gt; 2007 meraih penghargaan "Special Feature Award on Creativity and Originality", penghargaan yang pada tahun sebelumnya pernah diraih oleh Tim Arjuna. Sebagai catatan, ITB yang diwakili Tim Garuda pada tahun 2004 dan Tim Larasati pada tahun 2005 secara berturut–turut baru mencapai peringkat ke–5 dan ke–4.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5273283768042605291?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5273283768042605291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5273283768042605291' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5273283768042605291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5273283768042605291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/03/mahasiswa-itb-menangkan-kontes-desain.html' title='Mahasiswa ITB Menangkan Kontes Desain IC'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-8129025164569358690</id><published>2008-02-16T14:24:00.001+07:00</published><updated>2008-02-16T14:32:50.698+07:00</updated><title type='text'>Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji : "Jangan Pernah Setori Saya"</title><content type='html'>Mau nangis rasanya bacanya. Terharu. Mari kita doakan berhasil, seiring jg dengan doa kita agar kesejahteraan aparat TNI-Polri juga semakin membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju terus Pak, kami beserta anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; *"Jangan Pernah setori Saya"*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; *Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H.,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; baru dimulai pukul 16.00 WIB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "menyentak".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;  Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau  minggu depan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dari Ny. Herawati &lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; font-style: italic;" class="yshortcuts" id="lw_1203119095_0"&gt;itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; menguak korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau  korupsi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Terbayang ¢kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; karena gratis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; PPATK. Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; uang rakyat. Ada kepuasan batin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Pengalaman di PPATK itukah yang membuat  Anda menabuh genderang perang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; yang korup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kitanya sendiri korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pejabat-pejabat di Polda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Baru kemudian ke kapolwil, kapolres,  dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pengusaha-pengusaha , mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dari dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; anggaran mereka, atau uang bensin mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Untuk  program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; berbintang yang korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; korupsi  bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; waktu lama?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; beberapa kemungkinan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; projek, dan rekanan. Itu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu,  kemauan yang kuat. Harus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; kasus korupsi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; menjadi salah satu  target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; korupsi biar Jabar bergetar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pasti mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kita juga bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "bermain" bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kita, maka banyak kasus yang masuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; isi  perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; boleh di mana saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; suka yang pabaliut-pabaliut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tidak tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tidak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; anggaran yang minim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Menurut Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Siapa yang suruh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kita tidak perlu sok pahlawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; agar tidak ada lagi sistem setoran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya  hanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Rp 5-6 juta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; lingkungan kepolisian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Titik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; jalan petantang-petenteng , tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (pengawalan) , sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Polisi  yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dengan pelacur. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-8129025164569358690?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/8129025164569358690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=8129025164569358690' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8129025164569358690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8129025164569358690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/02/kapolda-jabar-irjen-pol-susno-duadji.html' title='Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji : &quot;Jangan Pernah Setori Saya&quot;'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7414378023941587325</id><published>2008-02-12T23:38:00.000+07:00</published><updated>2008-02-13T00:08:52.879+07:00</updated><title type='text'>Kita Masih Serumpun?</title><content type='html'>Saya pernah membaca, entah di mana. Cina begitu marahnya dengan Jepang, karena Jepang menginvasi Cina di sekitar perang dunia II. Mungkin Cina merasa lebih 'tua' dari Jepang. Selama ribuan tahun kisah invasi adalah invasi Cina ke Jepang, dan sebaliknya. Tiba-tiba Jepang menduduki tanah Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah itu bersisa sampai sekarang. Kalau ada kunjungan dari PM Jepang ke kuil untuk menghormati pahlawan perang dunia II, hubungan Cina-Jepang, atau Korea-Jepang akan memburuk. Orang Cina, konon, tidak sudi memakai produk Jepang jika tidak terpaksa. Itu sebabnya, mereka lebih suka memakai produk buatan sendiri walau pun jelek mutunya, ketimbang impor dari Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, tidak punya sifat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kecil kita diajarkan memaafkan. Jangan mengungkit-ungkit keburukan orang lain. Akhirnya kita menjadi bangsa yang super ramah. Kalau ada orang menegur saya di jalan, bertanya atau lainnya, secara reflek saya akan tersenyum. Bukannya itu jelek, tapi sering kali saya berpikir bahwa saya seharusnya memahami betul apa yang diucapkan oleh orang itu sebelum saya betul-betul tersenyum. Bayangkan, misalkan, saya bertemu seseorang di jalan yang mengatakan pada saya,"Permisi Mas, anda kelihatannya ndeso banget." Secara reflek saya akan tersenyum. Sudah diajarkan dari kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitulah. Malaysia saat ini negara pengekspor kayu lapis, salah satu yang terbesar di dunia. Mereka membanggakan diri berhasil melakukannya dengan menjaga hutan mereka. Dengan cepat kita bisa berkesimpulan, mereka bisa melakukannya karena yang dibabat adalah hutan Indonesia, diselundupkan ke Malaysia. Setiap kayu yang masuk ke Malaysia dianggap sah jika sudah membayar retribusi. Malaysia tidak peduli jika itu kayu ilegal di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hutan kita digunduli, ikan kita dicuri, TKI kita dipukuli, wisatawan kita di razia (hanya karena orang Indonesia), pulau kita diklaim, kesenian kita diaku, kita masih tersenyum. Mungkin karena didikan sejak kecil. Dalam kasus-kasus yang panas, Presiden Indonesia bahkan masih mengatakan Malaysia adalah kawan baik Indonesia, teman serumpun. Saya merasa aneh, ketika Malaysia menyatakan hal yang sama hanya di saat mereka membutuhkan sesuatu dari Indonesia. Misalkan ketika kita marah tentang Reog, mereka bilang,"Ah sudah jangan diributkan, kita kan serumpun." Enak di loe nggak enak di gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Only the paranoid survive. Ada yang bilang begitu. Saya cenderung setuju. Singapura begitu takutnya akan digilas oleh Indonesia dan Malaysia, kita bisa lihat hasilnya. Bagai mana dengan Indonesia? Indonesia seolah tidak pernah punya masalah. Tapi sebetulnya, masalah apa yang belum datang di Indonesia? Dan kita masih butuh tantangan untuk lebih berusaha?&lt;br /&gt;Pagi ini, dua berita sekaligus mengganggu pikiran saya. Pertama, &lt;a href="http://alutsista.blogspot.com/2008/02/three-more-rsn-frigates-enter-service.html"&gt;AL Singapura menerima 3 lagi frigat kelas formiddable&lt;/a&gt;. Perlu diketahui di sini, postur AL Singapura kalah jauh dari TNI AL. Tetapi pembaharuan yang dilaksanakan akhir-akhir ini jelas lebih meyakinkan di pihal Singapura. Kita membeli 4 korvet, mereka membeli 6 frigat (kelas frigat di atas korvet). Konon kabarnya senjata anti serangan udara dan harpoon yang ditenteng frigat Singapura lebih canggih, lebih jauh jangkauannya. Mereka juga mengakuisisi beberapa kapal selam dari Swedia. Kalau anda membayangkan Singapura, lautnya tidak lebih besar dari Teluk Jakarta. Jadi buat apa mereka memiliki angkatan laut seperti itu? Pesawat tempurnya memasuki wilayah udara Indonesia begitu lepas landas, dan mereka mempunyai lebih banyak pesawat tempur dan tentunya dijamin lebih canggih. Buat apa? Di mana kapal selam singapura berkeliaran kalau bukan menyerempet-nyerempet laut kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tidak merasa itu mengganggu kita. Toh Singapura masih saudara kita, teman baik. Kalau Singapura tahu-tahu mengebom kilang minyak Dumai atau Jakarta, kita mau apa? Paling bilang,"Sebagai negara serumpun pakcik tidak boleh begitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kedua, adalah &lt;a href="http://alutsista.blogspot.com/2008/02/wni-jadi-paramiliter-malaysia.html"&gt;Malaysia mulai melatih rakyat sipil sebagai paramiliter&lt;/a&gt;. Saya pikir-pikir, membaca berita Malaysia ini seperti nostalgia orde baru. Persnya memuja-muja pemerintah, tidak pernah ada berita jelek. Pemerintahnya sukses luar biasa (menurut pers Malaysia). Tidak boleh demonstrasi. Tidak banyak partai pilihan. Kalau UMNO tidak menang tidak dibangun daerah itu (seperti Golkar dulu). Dan sekarang mereka mulai ikut menggalakkan paramiliter. Seberti jaman pamswakarsa (pamswakarsa memang jaman reformasi, tapi sisa Orba).&lt;br /&gt;Yang mengganggu, sebagian yang dilatih adalah WNI di perbatasan. Sehingga ditakutkan oleh Komandan TNI di sana, kalau terjadi sesuatu maka TNI terpaksa menembaki warga Indonesia, saudara sendiri. Saya heran sama sekali mengapa pers tidak menganggap hal ini berita penting, tidak ada yang meletakkannya di halaman pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan kembali anda berada di sekolah. Anda memiliki teman-teman 'preman' (bully). Anda bisa diam saja, menuruti semua kemauan mereka, dan mereka akan terus mengambil apa yang bisa didapatkan dari anda. Atau anda bisa juga berdiri (stand up) dan melawan mereka. Tidak ada bedanya dengan seorang murid SD, sebuah negara harus melakukan hal yang sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7414378023941587325?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7414378023941587325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7414378023941587325' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7414378023941587325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7414378023941587325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/02/kita-masih-serumpun.html' title='Kita Masih Serumpun?'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3477021011025026275</id><published>2008-02-10T17:43:00.000+07:00</published><updated>2008-02-10T17:44:51.939+07:00</updated><title type='text'>Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia</title><content type='html'>Artikel ini dimuat di Kompas beberapa waktu yang lalu. Saya lupa telah berniat menaruhnya di blog. Tetapi baru saja ada yang memposting di milis. Syukurlah. Ayo kita maju bersama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia&lt;br /&gt;Sabtu, 26 januari 2008 | 02:17 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koh Young Hun&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya bahwa Indonesia negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 19 Desember 2007, rakyat Korea (Korsel) memilih presiden baru, yaitu Lee Myung-bak (biasa disebut MB) yang akan memulai lima tahun masa jabatannya pada 25 Februari mendatang. MB berjanji bahwa dalam masa jabatannya Korea akan lebih maju dengan wawasan 7-4-7, yang berisikan bahwa 7 persen pertumbuhan ekonomi per tahun, 40.000 dollar AS pendapatan per kapita, dan negara ke-7 terbesar dari segi ekonominya (sekarang ke-11 terbesar). Pada hemat saya, Indonesia juga bisa, karena negara ini punya kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri utama yang mewarnai negara berkembang, dan merupakan musuh utama yang harus kita kalahkan, ialah kebodohan dan kemalasan yang keduanya adalah cikal bakal yang melahirkan kemiskinan. Karena itu, siapa yang lebih dahulu mampu menghilangkan dua sifat buruk itu, maka dialah yang akan dengan cepat dapat meraih kemajuan dan kemakmuran bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori pembangunan, sebagaimana ditulis Steven J Rosen dalam bukunya, The Logic of International Relation, dikenal dua aliran pendapat tentang sebab-sebab keterbelakangan negara-negara berkembang, di mana kedua aliran pendapat itu secara prinsip sangat berbeda satu dengan yang lain. Dalam hal ini, Indonesia dan Korea memiliki pandangan yang sama, yakni menganut paham tradisional; menganggap bahwa proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di sebagian besar negara terhambat akibat rendahnya tingkat produktivitas yang berhubungan erat dengan tingginya kemubaziran dan ketidakefisiensian sosial. Aliran ini berpendapat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan mutlak disebabkan faktor-faktor internal. Istilah Jawa-nya karena salahe dewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun aliran yang lain, ialah aliran radikal, memandang kemiskinan dan keterbelakangan suatu negara (terutama negara ketiga) disebabkan oleh kondisi internasional, yakni adanya eksploitasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang. Namun, dalam hal ini saya beranggapan bahwa teori ini cenderung selalu mencari kambing hitam. Pepatah Melayu-nya, karena awak tak bisa menari, lantai pula yang disalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Etos Korea&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tahu bahwa Korea dalam kurun waktu relatif singkat telah menjelma menjadi masyarakat modern, yaitu masyarakat yang telah mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada kehidupan agraris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan Korea ini telah membuat banyak orang berdecak, terpukau seperti melihat keajaiban sebuah mukjizat. Para pakar bertanya-tanya, resep apa gerangan yang telah membuat bangsa yang terubah menjadi negara dan bangsa yang makmur? Sejak awal tahun 1970-an pihak Pemerintah Korea dalam rangka semangat pembangunan nasional telah berusaha membentuk tipe manusia Korea yang memiliki empat kualitas. &lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;Pertama, ”sikap rajin bekerja”. Lebih menghargai bekerja secara tuntas betapa pun kecilnya pekerjaan itu, tinimbang pidato yang muluk-muluk tetapi tiada pelaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ”sikap hemat”, yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja tadi. Ketiga, ”sikap self-help”, yang didefinisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dengan perspektif yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tepat; berusaha mengembangkan sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, kooperasi atau kerja sama, cara untuk mencapai tujuan secara efektif dan rasional, dan mempersatukan individu serta masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah picu laras yang memacu jiwa kerja bangsa Korea. Bila kita perhatikan, keempat butir nilai itu sesungguhnya adalah nilai luhur bangsa Indonesia. ”Rajin pangkal pandai...” dan ”sedikit bicara banyak kerja” adalah pepatah yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nilai self-help, mandiri, sudah lama melekat dalam nilai religi sebagian besar masyarakat Indonesia, karena Tuhan Yang Maha Esa dalam Al Quran menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri. Sedangkan setiap usaha mengubah nasib, baik itu membuahkan hasil ataupun tidak, Islam telah memberinya nilai tambah; digolongkan pada perbuatan ibadah. Sementara sifat yang terakhir, kooperasi, adalah sendi-sendi budaya Indonesia yang amat menonjol. Kooperasi atau gotong royong tetap dipelihara dan dilestarikan.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Burung garuda&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, saya ingin sedikit mendongeng tentang seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung. Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah!” pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. ”Sungguh mengherankan burung garuda itu!” ujarnya kepada pemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur!” balas sang pemburu mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!” bantah si ahli unggas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Betul, kan?” ujar si pemburu. ”Dia bukan garuda lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan: &lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;”Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah. Terbanglah! Membubunglah!” Burung dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, barangkali cerita ini ada persamaannya dengan bangsa Indonesia. Bukti kejayaan masa lampau telah membuat mata dunia takjub. Borobudur satu bukti karya perkasa. Kini camkanlah bahwa Anda sekalian mampu, Anda punya kemampuan. Korea saja bisa, apalagi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Koh Young Hun &lt;i&gt;Profesor di Program Studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3477021011025026275?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3477021011025026275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3477021011025026275' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3477021011025026275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3477021011025026275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/02/korea-saja-bisa-apalagi-indonesia.html' title='Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4921722310615028277</id><published>2008-02-06T23:05:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T23:15:50.557+07:00</updated><title type='text'>Saya Belum Ngeblog Tentang Pak Harto</title><content type='html'>Mereka yang kenal saya, tentu sedikit heran bahwa saya belum menulis sedikit pun sekitar Pak Harto di Blog saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya sebetulnya ada dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Pak Harto baru saja sakit dan meninggal, saya tidak merasa cukup enak buat menulis tentang beliau dikarenakan hal tersebut. Namun demikian saya tegaskan bahwa saya tidak setuju jika dinyatakan ajaran agama melarang membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal, keburukan saudara sendiri. Saya bukan saudara Pak Harto, itu pasti. Tapi yang lebih penting, harus dibedakan antara bergunjing dan membicarakan fakta dengan harapan ada sesuatu yang bisa dipelajari darinya. Ini juga bukan urusan dendam. Saya tidak memaafkan Pak Harto juga semata karena tidak pernah ada dosa langsung Pak Harto ke saya (misalkan Pak Harto bilang,"Dhita, kamu gendut dan malu-maluin"). Walau jelas kepemimpinan Pak Harto sangat mempengaruhi hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, kalau kita tidak boleh bicara tentang hal-hal negatif, ya departemen sejarah dan sebagian departemen agama harus ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abu Jahal itu orang yang memegang prinsip sampai akhir hayatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abu Lahap entrepreneur tangguh dan gigih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daendels adalah project manager yang kukuh dan all out."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kita membahas sejarah jika tidak boleh membahas hal-hal negatif dari orang yang sudah tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menuliskan tentang Pak Harto sangatlah sulit buat saya. Banyak hal yang sukar untuk diungkapkan dengan kata-kata. Sulit bagi saya untuk menulis sebuah tulisan tentang Pak Harto yang memenuhi kriteria saya pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sampai saat ini saya belum menulis tentang Pak Harto. Yang bisa saya tuliskan di sini adalah, buat saya keberhasilan Pak Harto lebih banyak omong kosongnya, termasuk mitos tentang keberhasilan pembangunan dan swasembada beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak terbantahkan suksesnya cuma KB. Yang lain masih bisa dibicarakan. May be next time.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4921722310615028277?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4921722310615028277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4921722310615028277' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4921722310615028277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4921722310615028277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/02/saya-belum-ngeblog-tentang-pak-harto.html' title='Saya Belum Ngeblog Tentang Pak Harto'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-6563040798779346568</id><published>2008-02-06T22:49:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T23:05:06.897+07:00</updated><title type='text'>Heath Ledger dan Arnold</title><content type='html'>Saya memang mendengar bahwa Heath Ledger meninggal. Awalnya saya kira Heath Ledger seorang aktris wanita. Baru saya tahu bahwa dia seorang aktor. Dan seorang aktor yang saya kenal.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R6najbH9RSI/AAAAAAAAAGY/Bu4p0UW4Puk/s1600-h/heath.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R6najbH9RSI/AAAAAAAAAGY/Bu4p0UW4Puk/s320/heath.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163898749868393762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagai mana saya menyukai Heath Ledger, walau saya tidak tahu namanya sebelumnya. Di film seperti The Patriot atau A Knight's Tale. Dia terlihat sebagai seorang aktor yang baik. Aktor yang terlihat baik lainnya misalkan Matt Damon. Tidak neko-neko, berbakat, serius. Dan saya berharap di masa depan akan menyaksikan karya-karya mereka lainnya.(saya bagai mana pun kurang antusias menonton Brokeback Mountain). Sayang sekali tampaknya tidak mungkin lagi dalam kasus Heath Ledger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa malam yang lalu saya menonton acara Pimp My Ride. Saya selalu mengagumi kerja kru Pimp My Ride, walau tidak pernah memahami untuk apa speaker sebesar itu ditaruh di mobil (volume radiotape mobil saya jarang lewat dari 15, umumnya di sekitar 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah yang menarik, malam mereka memodifikasi sebuah Impala. Setelah selesai, mereka mengisinya dengan biodiesel 100%, dan menandingkannya dengan Lamborghini baru. Dan impala menang. Pesannya,"Biodiesel is cool."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik sekali, sebuah kebijakan publik ditumpangkan pada acara komersial. Tentu efeknya akan mengena. Dan kemudian, datanglah gubernur California ke bengkel mereka. Yap, Arnold Schrwazeneger (apakah benar ejaannya?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu menganggap enteng Arnold. Dari penampilannya sekilas saya menyimpulkan dia msh agak jauh levelnya dalam proses evolusi, dan kurang cerdas. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sesungguhnya dia seorang businessman yang berhasil. Sesuatu yang tidak berhasil dilakukan Stallone, misalkan. Dan ketika Arnold menjadi gubernur, saya masih menyepelekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, Arnold tampaknya lebih pintar dari presiden Amerika saat ini, Mr. Bush jr (presiden yang satu ini tampaknya sangat tidak pintar, anyway). Dalam pandangan saya. Arnold begitu serius dengan masalah pemanasan global. Amerika menolak protokol Kyoto, tapi negara bagian California di bawah pimpinan Arnold menerapkan standar emisi yang mengikuti Kyoto. Malam itu, Arnold jg yang mensponsori pemakaian biodiesel di Pimp My Ride.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two thumbs up buat Arnold! I owe you an apology. Good Luck Mr. Terminator.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-6563040798779346568?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/6563040798779346568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=6563040798779346568' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6563040798779346568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6563040798779346568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/02/heath-ledger-dan-arnold.html' title='Heath Ledger dan Arnold'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R6najbH9RSI/AAAAAAAAAGY/Bu4p0UW4Puk/s72-c/heath.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-6424589742639022066</id><published>2008-02-06T22:37:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T22:49:08.127+07:00</updated><title type='text'>Bela Sungkawa untuk Para Prajurit Marinir</title><content type='html'>Yang selalu ditakutkan itu terjadi. Tank amfibi tua kita tenggelam. Tidak ada yang kaget. Beberapa tahun lalu ada berita bahwa ketika latihan gabungan dengan marinir AS, marinir AS tidak berani naik tank tua itu. Prajurit kita memang pemberani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itu selalu membuat kesal saya. Bayangkan seorang pilot yang menaiki helikopter berumur 40 tahun. Saya saja malas naik mobil berumur 25 tahun milik Bapak saya. Takut mogok di jalan. Dan kalau pesawat mogok di udara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu dikatakan,"Tapi itu sudah diretrofit, direpowering, dan layak pakai." Omong kosong. Kenapa pesawat kepresidenan tidak pakai pesawat tahun 60-an saja yang sudah di-retrofit dan direpowering kalau begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus masalah tank ini. Sebetulnya saya kira harganya tidak mahal. Tahun lalu Indonesia memutuskan membeli 20 tank BMP-3 baru dari Rusia, harganya USD 1,7jt per buahnya, atau sekitar 15 Milyar. Di jalan kita lihat bagai mana tentara mampu membeli  Land Cruiser atau sedan mewah. Jadi di mata saya, hal ini semata tidak diprioritaskan. Mumpung tentara Indonesia pemberani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang negara ini aneh. Lion Air mampu membeli 60 pesawat sedang TNI AU tidak mampu. Luar biasa tidak wajar. Perlu diketahui harga sebuah pesawat tempur tidak lebih mahal dari sebuah Boeing 737.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir sudahlah, kalau memang dananya tidak ada, ya sudah tidak dipakai. Panser-panser itu dikandangkan saja dan nyatakan saja TNI AL tidak punya panser. Nggak usah dipaksakan memakai yang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima TNI AL mengatakan bahwa &lt;a href="http://www.detiksurabaya.com/indexfr.php?url=http://www.detiksurabaya.com/index.php/detailberita.main/y/2008/m/02/d/06/tts/212810/idkanal/466/idnews/890263"&gt;tenggelamnya tank amfibi harus dijadikan pelajaran.&lt;/a&gt; Pelajaran apa yang bisa diambil dari kejadian itu? Dengan tetap dipakainya panser itu kita tahu bahwa ternyata Panglima TNI AL sendiri tidak belajar dari tenggelamnya panser itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-6424589742639022066?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/6424589742639022066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=6424589742639022066' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6424589742639022066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6424589742639022066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/02/bela-sungkawa-untuk-para-prajurit.html' title='Bela Sungkawa untuk Para Prajurit Marinir'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-5464957454258079800</id><published>2008-01-16T18:37:00.000+07:00</published><updated>2008-01-16T18:41:31.548+07:00</updated><title type='text'>Hari ini Rasanya Lain</title><content type='html'>Hari ini rasanya lain. Mengunyah tempe bacem sambil makan siang tadi saya melamun. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa ada hari di mana sebagian yang cukup besar dari bangsa ini tidak bisa mengkonsumsi tempe (economically)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup beruntung. Selama ini saya menganggap sepele tempe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-5464957454258079800?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/5464957454258079800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=5464957454258079800' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5464957454258079800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/5464957454258079800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/01/hari-ini-rasanya-lain.html' title='Hari ini Rasanya Lain'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7552001340862426426</id><published>2008-01-04T14:55:00.000+07:00</published><updated>2008-01-04T15:03:36.341+07:00</updated><title type='text'>Yogyakarta Kota Kuno?</title><content type='html'>Tercekat juga saya waktu membaca iklan di web &lt;a href="http://www.blogger.com/www.airasia.com"&gt;Airasia&lt;/a&gt;. Untuk promo penerbangan Yogyakarta-Kuala lumpur mereka mengiklankan sebagai: 'terbang langsung dari kota kuno ke kota modern'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajar betul. Siapa yang menentukan Yogyakarta sebagai kuno dan Kualalumpur sebagai modern? Kalau mau berpikiran negatif, dan kalau mau menghasut (sebetulnya saya memang ada niat memanas-manasi anda semua pembaca... :D), iklan ini pasti dibuat oleh orang Malaysia dengan persepsi mereka. Kalau iklan ini dibuat oleh orang Indonesia pasti mereka lebih memilih kata macam 'kota budaya', atau semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertekad tidak pergi ke Malaysia kalau nggak kepeped-kepeped amat. Walau dapat tiket gratis dari Airasia ditambah fiskal gratis, saya nggak mau pergi. Kalau dapat paket gratis sekeluarga (plus anak, istri, kakak, ortu, nenek), baru saya pikir-pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R33n5Jc0KwI/AAAAAAAAAGQ/YWzKgqGAdjw/s1600-h/airasia.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R33n5Jc0KwI/AAAAAAAAAGQ/YWzKgqGAdjw/s400/airasia.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5151528517757053698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7552001340862426426?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7552001340862426426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7552001340862426426' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7552001340862426426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7552001340862426426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/01/yogyakarta-kota-tua.html' title='Yogyakarta Kota Kuno?'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R33n5Jc0KwI/AAAAAAAAAGQ/YWzKgqGAdjw/s72-c/airasia.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4692480532738397569</id><published>2008-01-03T23:35:00.000+07:00</published><updated>2008-01-03T23:38:36.172+07:00</updated><title type='text'>Catatan Binder Tua</title><content type='html'>Sewaktu membongkar-bongkar kardus lama, saya menemukan salah satu harta karun saya, sebuah binder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, pada saat saya kuliah dulu, jika saya membaca sesuatu yang menarik buat saya dan saya harapkan untuk bisa saya ingat, saya tuliskan di kertas A5 dan dimasukkan ke dalam binder itu (binder itu juga ukuran A5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan, kutipan dari Gandhi, 7 dosa besar manusia:&lt;br /&gt;- Kekayaan tanpa kerja&lt;br /&gt;- Kenikmatan tanpa suara hati&lt;br /&gt;- Pengetahuan tanpa karakter&lt;br /&gt;- Perdagangan tanpa moralitas&lt;br /&gt;- Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan&lt;br /&gt;- Agama tanpa pengorbanan&lt;br /&gt;- Politik tanpa prinsip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tuliskan sambil benar-benar berharap waktu itu, bahwa saya bisa menghindari 7 urusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga kisah tentang Pirandellian Prison (kalau nggak salah dari Psikologi Komunikasi-nya Kang Jalal, one of my all time favorite), sebuah pendekatan ilmiah yang saya jadikan pegangan ketika mencoba menghapuskan kekerasan dalam OS di HME ITB. Inti kesimpulannya, manusia yang memiliki kekuasaan cenderung menyalahgunakan kekuasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mungkin ada benarnya kalau presiden paling lama menjabat 2-3 kali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan cerita lain dari buku Kang Jalal adalah dari buku: Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik. Buku-buku Kang Jalal ini belum bisa saya temukan kembali setelah beberapa kali pindah kos sejak lulus. Saya sedih sekali. O ya, di situ Kang Jalal menulis tentang kisah tiga pendeta yang berebut cinta dengan kata penutup &lt;span style="font-style: italic;"&gt;L'amour n'est pas parce que mais malgre&lt;/span&gt;: Cinta itu bukan 'karena', tetapi 'walaupun'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahsyat sekali. Apalagi kalau dikutip dalam surat cinta dengan bahasa Perancis, kita akan memberikan kesan sangat intelek. Saya tidak pernah melakukannya, saya biasanya menuliskan puisi home made...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang senang dengan puisi. Di tingkat dua atau tiga saya membeli beberapa buku puisi dan berharap saya bisa menghayati puisi dengan lebih dalam lagi. Walau pun sejak SD saya sudah ikut lomba puisi, baru sewaktu kuliah ini lah saya benar-benar menikmati puisi. Dan setelah bertahun-tahun belajar Bahasa Indonesia di sekolah, baru sewaktu kuliah lah saya menyadari bahwa Rendra dan Taufiq Ismail memang dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini puisi Rendra ketika Mei 98.&lt;br /&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karena kami makan akar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan terigu menumpuk di gudangmu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami hidup berhimpitan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan ruangmu berlebihan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    maka kita bukan sekutu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami kucel dan kamu gemerlapan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami sumpek dan kamu mengunci pintu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    maka kami mencurigaimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami terlantar di jalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan kamu memiliki semua keteduhan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami kebanjiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan kamu pesat di kapal pesiar..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    maka kami tidak menyukaimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami dibungkam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan kamu nrocos bicara...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami diancam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan kamu memaksakan kekuasaan..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    maka kami katakan TIDAK kepadamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami tidak boleh memilih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan kamu bebas berencana...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami cuma bersandal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan kamu bebas memakai senapan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami harus sopan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan kamu punya penjara...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    maka TIDAK dan TIDAK kepadamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena kami arus kali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    dan kamu batu tanpa hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    maka air akan mengikis batu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Coba anda bayangkan, gedung DPR dan MPR yang dijaga ribuan aparat bersenjata dan dikepung oleh ratusan ribu rakyat dan mahasiswa... "Maka air akan mengikis batu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damn.. he's really good.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara dengan orang-orang 70-an (mereka yang remaja di tahun 70-an) utamanya Jakarta, mereka akan memberikan kesaksian bagai mana theater happening banget di tahun 70-an. Yang menarik, salah seorang di antaranya mengatakan, bahwa mereka yang menghayati seni lebih halus perasaannya dan akan lebih mudah untuk diajak kepada kebaikan. Saya tidak bisa tidak setuju. Mungkin seharusnya ke sanalah arah pengajaran sastra. Nikola Saputra dan Dian Sastro yang berpuisi adalah sebuah pemandangan yang baik di mata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu puisi yang saya sangat bahagia bisa temukan kembali bersama binder ini adalah puisi Taufik Ismail. Dibacakan pada saat peluncuran Palapa. Untuk informasi, Indonesia adalah negara kedua yang menggunakan sistem komunikasi berbasis satelit, dan dengan itu berhasil menyambungkan komunikasi dari Sabang sampai Merauke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah merasa bahwa saya adalah seorang mahasiswa engineering atau (kemudian) engineer yang baik. Selalu ada hal lain yang menyita perhatian saya di luar engineering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi puisi Taufiq Ismail ini sering terngiang di kepala saya, dan memberikan motivasi untuk membawa teknologi untuk kehidupan yang lebih baik. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt; Ada jurang membentang memisahkan kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Lewat jurang, gunung, laut dan angkasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Bagai mana cara menaklukkannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Ingin benar aku menjangkaumu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Kini bersyukurlah sepenuh syukur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Karena ilmu dan kerja keras tiada henti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    Telah takluk jarak, telah tercipta komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    menyatukan seluruh Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;    merapatkan jarak antar umat manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;               &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Taufiq Ismail&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps. Ada yang tahu apakah titik-titik itu sebetulnya bagian yang hilang?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4692480532738397569?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4692480532738397569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4692480532738397569' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4692480532738397569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4692480532738397569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/01/catatan-binder-tua.html' title='Catatan Binder Tua'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-1954495367631708988</id><published>2008-01-03T01:08:00.000+07:00</published><updated>2008-01-03T01:32:14.871+07:00</updated><title type='text'>Buku Bung Hatta</title><content type='html'>Sebetulnya ada yang aneh kalau kita sedikit memperhatikan. Selama 10 tahun ini (sejak reformasi) kita selalu ramai membicarakan marxisme atau kapitalisme. Puluhan buku terbit membahas tema tersebut. Tapi penerbitan Das Kapital malah tidak terlalu sukses. Apalagi Wealth of Nation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Soekarno. Kita puja-puja, tapi jarang kita baca bukunya. Di bawah bendera Revolusi jelas tidak pernah jadi best seller sejak jaman Orde Baru. Paling-paling setelah reformasi harganya sempat melambung. Tapi bukan untuk dibaca, hanya sekedar di-Anturium-kan. Madilog, dulu sempat terbit sebentar, tapi sekarang susah dicari walau Tan Malaka terus dipuja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu peringatan 100 tahun Bung Hatta, banyak buku dan artikel yang terbit tentang Hatta. Gampang ditemukan di mana-mana. Yang susah justru mencari buku asli karya Hatta sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu mahasiswa saya dapat di pasar loak, seri kumpulan karangan Hatta. Saya terkesan sekali. Di tahun 20-an dia sudah memperingatkan tentang bahaya perusahaan (yang sekarang muncul dalam serangan MNC), dan banyak hal lainnya. Sayang, dari kumpulan itu ada 1 yang saya tidak dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu peringatan 100 tahun itu, memang diterbitkan ulang. Muncul sebentar dan hilang. Saya yang tidak membeli karena belum punya uang jadi gelagapan mencari tanpa hasil. Sampai saya akhirnya temukan lagi di Gunung Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya sempatkan untuk mengabadikan buku tua saya dan penerusnya. Mudah-mudahan tetap dibaca oleh generasi muda Indonesia.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R3vYcpc0KvI/AAAAAAAAAGI/gipJPYp43nY/s1600-h/IMG_1037.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R3vYcpc0KvI/AAAAAAAAAGI/gipJPYp43nY/s320/IMG_1037.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150948585502943986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan saya sempat berkunjung ke perpustakaan Hatta di Bukittinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-1954495367631708988?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/1954495367631708988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=1954495367631708988' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1954495367631708988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/1954495367631708988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/01/buku-bung-hatta.html' title='Buku Bung Hatta'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R3vYcpc0KvI/AAAAAAAAAGI/gipJPYp43nY/s72-c/IMG_1037.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-7337980757634037882</id><published>2008-01-03T00:59:00.000+07:00</published><updated>2008-01-03T01:01:28.918+07:00</updated><title type='text'>Tahun Baru 2008</title><content type='html'>Senin 31 Desember 2007. Harpitnas. Sebagian besar orang menikmati cuti bersama 4 hari. Tapi saya dan Warih harus ke Bandung pulang-pergi (dari Bogor) untuk mengurus tagihan yang nyangkut. Nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun sebelumnya saya selalu libur tanggal 31 Desember. Tahun lalu (tahun baru 2007) saya ke Cirebon. Tanpa rencana, memutuskan berangkat setelah melihat sesaknya Bandung. Memang sering juga saya tahun baru di Cirebon. Seingat saya, tahun baru 2004, 2005, 2007. Saya lupa di mana saya 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahun ini. Seolah-olah menyempurnakan 3 bulan yang hampir tidak pernah pulang ke rumah. Atau jangan-jangan cerminan tahun 2008 yang lebih sibuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, saya tidak menyiapkan acara juga. Memang ada acara di kompleks, bakar jagung. Saya malas datang. Sebelumnya saya berusaha keras melarang Bapak saya untuk tahun baruan di Monas dengan keponakan-keponakan saya. Untungnya berhasil. Saya lihat di TV, ramai sekali. Ada konser di monas. Katanya 100 ribu orang yang datang. Saya selalu bertanya-tanya, kalau sedang konser seperti itu dan kita ada di tengah-tengah, gimana caranya kalau kita mau ke belakang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 12 lebih sedikit, setelah terompet dan kembang api, hujan deras sekali turun. Mungkin pawangnya sudah nggak kuat lagi menahan. Saya pun tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 11 siang saya ke kantor. Ini juga pertama kali seumur hidup saya ke kantor tanggal 1 Januari. Walau cuma sebentar. Sekitar jam 13 saya pulang dan siap-siap ke Bandung lagi. Kali ini mengantar istri dan anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, tol sepanjang 120 km itu dipenuhi kendaraan dari arah Bandung. Karena ada 2 lajur saya menyimpulkan bahwa paling tidak selama tahun baru Bandung kedatangan mobil dari Jakarta yang jika diparkir berurutan panjanganya paling tidak 120km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan tol Jakarta-Bandung. Jam 19 malam. Hujan deras, turun kabut. Tiba-tiba di sekitar KM 118 ada mobil yang berputar arah, mungkin untuk menghindari macet di gerbang Padalarang. Memanfaatkan jalur putar petugas yang entah kenapa tidak ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja saya tidak melihat. Secepatnya saya injak rem sambil mengklakson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang belum pernah mencoba, kalau kita berjalan dengan kecepatan di atas 80km per jam di jalanan yang basah, maka tidak peduli anda memakai rem ABS atau tidak, setelah menginjak rem anda hanya bisa berdoa, karena mobil anda tidak bisa berhenti. Tidak cukup gaya gesek. Dengan rem ABS anda hanya menjadi memiliki kesempatan lebih baik untuk berbelok ke kiri atau ke kanan sambil mengerem. Hanya saja di jalan tol sering kali hal ini tidak bermanfaat karena begitu pindah jalur (menghindar), kemungkinannya anda akan dihantam kendaraan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya jalan tidak begitu ramai dan saya bisa sedikit menghindar. Nyaris sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali orang melakukan tindakan tolol di jalan raya dengan alasan jarang yang mengalami kecelakaan ketika melakukan hal tersebut. Kenyataannya, orang-orang seperti itu memang umumnya mencelakakan orang lain dan bukan dirinya sendiri. Itulah yang paling menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi orang yang berputar di jalan tol malam itu pastilah orang yang tolol luar biasa dengan otak yang kapasitasnya hanya setara otak ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Tahun baru saya. Tanpa sesuatu yang baru, bahkan saya belum memikirkan resolusi tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terbaik dari tahun baru ini adalah ketika saya membaca iklan baris di Kompas 3 Januari 2008, halaman 32 dan tertulis iklan,"Masih tersedia tempat untuk tahun baru!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itu baru orang dengan selera humor yang tinggi dan siap menyambut apa pun yang akan datang di tahun 2008 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru 2008. Walau tulisan ini sedikit mellow, dalam hati saya menyambut tahun baru 2008 dengan optimisme yang besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-7337980757634037882?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/7337980757634037882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=7337980757634037882' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7337980757634037882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/7337980757634037882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2008/01/tahun-baru-2008.html' title='Tahun Baru 2008'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-455045690872528996</id><published>2007-12-12T22:33:00.000+07:00</published><updated>2007-12-12T22:56:26.745+07:00</updated><title type='text'>Grand Design Malaysia Terhadap Indonesia</title><content type='html'>Tahun-tahun terakhir ini kita mendengar banyak perlakuan Malaysia yang tidak pantas terhadap Indonesia. Kasus Ambalat misalnya. Tetapi bulan-bulan terakhir seperti ada fenomena baru. Malaysia mengklaim banyak kebudayaan kita: lagu, batik, wayang, reog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu rasanya mendengar lagu jali-jali versi baru:&lt;br /&gt;  Ini dia si Jali-Jali&lt;br /&gt;  Lagunya enak, lagunya enak dari Langkawi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah tidak waras. Lebih tidak waras lagi ketika mereka mengklaim reog. Coba bayangkan seorang pria berbusana Melayu, lalu anda bayangkan kostum reog. Penduduk Mars juga dapat segera menyimpulkan bahwa keduanya adalah kebudayaan yang akarnya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebetulnya Indonesia tidak perlu marah terhadap Malaysia. Coba anda bayangkan perasaan anda, kalau anda menjadi orang Malaysia. Malaysia mengklaim lebih besar dari Indonesia, tapi sebetulnya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_GDP_%28nominal%29"&gt;GDP Malaysia kalah dari Indonesia&lt;/a&gt;. sehingga secara ekonomi peran mereka di dunia kalah dari Indonesia. Indonesia bahkan diprediksi menjadi kekuatan ekonomi dunia. Indonesia bahkan&lt;a href="http://www.pwc.com/extweb/pwcpublications.nsf/docid/56DD37D0C399661D852571410060FF8B/$file/world2050emergingeconomies.pdf"&gt; &lt;/a&gt;diramalkan menjadi  &lt;a href="http://www.pwc.com/extweb/pwcpublications.nsf/docid/56DD37D0C399661D852571410060FF8B/$file/world2050emergingeconomies.pdf"&gt;kekuatan ekonomi dunia&lt;/a&gt; di tahun &lt;a href="http://www.futureatlas.com/blog/index.php/2006/03/26/world-economies-to-2050-a-wealthier-planet/"&gt;2050&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia mengklaim lebih maju dari Indonesia, tapi musik yang anda dengar dan TV yang mereka tonton berasal dari Indonesia. Anda ingin nostalgia kembali ke tahun 90-an? Dengarkan saja lagu-lagu Malaysia masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia mengklaim berhasil membangun Petronas Tower sebagai salah satu gedung tertinggi di dunia, tetapi sebetulnya yang membangun kontraktor Korea dengan tenaga kerja lagi-lagi.. dari Indonesia. Coba perhatikan cara mereka berbicara, semakin lama-semakin mirip dengan orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebagai warga Malaysia, tentu wajar kalau mereka kesal dengan Indonesia. Seperti permen karet yang nempel di sepatu atau slilit (sisa makanan) di gigi yang tidak mau pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bersabarlah terhadap Malaysia. Toh dengan tindakan mereka, kita diingatkan bahwa ternyata kebudayaan kita berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih lagi Indonesia tidak perlu marah kepada Malaysia. Saya sudah bisa membaca rencana besar mereka (Malaysia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama mereka akui bahwa budaya Indonesia adalah budaya Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua mereka akui bahwa lagu Indonesia adalah lagu Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung dari rencana ini nantinya adalah.... mereka akan mengklaim Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan mereka. Dan lengkaplah mereka bergabung dengan Indonesia tanpa harus jatuh gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kiranya analisis saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi encik, selamat datang di Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-455045690872528996?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/455045690872528996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=455045690872528996' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/455045690872528996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/455045690872528996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/12/grand-design-malaysia-terhadap.html' title='Grand Design Malaysia Terhadap Indonesia'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-291196729824501567</id><published>2007-11-29T22:41:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T23:34:46.052+07:00</updated><title type='text'>Cisadane, seorang Ayah dan Seekor Kambing</title><content type='html'>Saya hampir tidak tidur malam sebelumnya. Biasanya bahkan ketika saya tidur cukup pun tidak ada jaminan saya bangun pagi-pagi, terutama di akhir minggu. Tapi hari itu saya punya kewajiban, mencari kambing buat akikah Lintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini banyak orang menawarkan paket akikah. Kita cukup membayar harga paket, dan segalanya akan diurus. Bapak saya tidak setuju dengan cara itu. "Mahal", katanya. Namun saya kira alasan sesungguhnya adalah beliau senang mengurus hal-hal seperti ini, yang terlihat dari semangatnya ketika membangunkan saya. Semangat yang sama dengan akikah-akikah 3 cucu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sebelumnya, Bapak sudah menghubungi tukang sate kambing yang dulu juga dimintai tolong untuk menyiapkan akikah. Dulu dia jualan di sekitar Mawar, Bogor. Sekarang yang jualan di Mawar anaknya, dia sendiri pindah ke Empang. Anaknya walau jualan sate kambing juga, tidak berani meng-handle urusan akikah sendirian. Saya baru tahu, ternyata urusan potong-memotong dan masak kambing juga ada levelling berdasarkan pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07ox1b8tyI/AAAAAAAAAFc/W2bsKAR58CY/s1600-h/IMG_2028.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07ox1b8tyI/AAAAAAAAAFc/W2bsKAR58CY/s320/IMG_2028.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138300167731853090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seumur-umur, hampir 15 tahun mengaku tinggal di Bogor, saya baru sekali ini datang ke Pasar Kambing di Empang. Tepatnya di lapangan depan masjid Empang. Kambing-kambing merumput di situ dan kita bisa melihat dari pagar. Kalau ada yang tertarik, si kambing akan diajak ke pinggir untuk dilihat-lihat.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07jJVb8txI/AAAAAAAAAFU/nTAR2sy06AY/s1600-h/IMG_2015.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07jJVb8txI/AAAAAAAAAFU/nTAR2sy06AY/s200/IMG_2015.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138293974389012242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, kambing yang bersangkutan akan dibawa ke pemotongan. Bukan pejagalan seperti rumah potong, tapi di pinggir sungai Cisadane. Tolong dalam kasus ini jangan mempertanyakan masalah kebersihan dan sebagainya. Paling tidak saya yakin, SOP yang dijalankan mencukupi untuk 95% masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07oy1b8t0I/AAAAAAAAAFs/hh8m2w38l4o/s1600-h/IMG_2018.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07oy1b8t0I/AAAAAAAAAFs/hh8m2w38l4o/s320/IMG_2018.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138300184911722306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sungai Cisadane cukup besar. Dari pinggir sungai itu saya berpikir berapa listrik yang bisa dikembangkan seperti air di situ (tapi tidak pernah dikembangkan), sambil juga berpikir kira-kira berapa banyak kambing yang sudah kehilangan nyawanya di situ.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07o0lb8t1I/AAAAAAAAAF0/_H0LwkBji_0/s1600-h/IMG_2020.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07o0lb8t1I/AAAAAAAAAF0/_H0LwkBji_0/s320/IMG_2020.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138300214976493394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di pantai biasanya, tanah sudah dikavling-kavling sehingga kita tidak bisa main sembarangan. Menurut saya itu tidak benar. Seharusnya paling tidak wilayah antara tepi laut sampai jalan terdekat tidak boleh didirikan bangunan dan merupakan milik umum. Jadi orang yang menyusuri jalan sepanjang pantai pun bisa menikmati pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan sungai. Seharusnya sisi terdekat dengan sungai, bantaran sungai, tidak boleh dibangun. Kita sering lupa bahwa ada sungai di dekat kita karena ditutupi oleh gedung. Ngeri juga melihat bagai mana manusia memaksakan membangun gedung di lereng pinggir sungai.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07o1Vb8t2I/AAAAAAAAAF8/I791qhx4oyM/s1600-h/IMG_2023.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07o1Vb8t2I/AAAAAAAAAF8/I791qhx4oyM/s320/IMG_2023.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138300227861395298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Air menetes dari tebing, resapan dari bambu yang tumbuh di pinggiran sungai. "Bambu bergerombol jangan ditebang, banyak setannya.", begitu kata orang-orang tua dulu. Mungkin mereka tahu, bahwa bambu-bambu itu yang meresapkan air dan melestarikan sungai serta lingkungan. Kearifan yang tidak dapat dilestarikan lagi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja, saya melihat ibu-ibu sedang buang air (besar) di kejauhan. Cukup jauh sehingga saya tidak bisa melihat sedetail yang anda bayangkan. Ini sebetulnya pemandangan biasa di sungai. Yang tidak biasa, dia bersama temannya. Ngobrol. Saya selalu menyangka bahwa kalau pun kita buang air di sungai, maka itu dilakukan dalam suasana yang sebisa mungkin mendekati kesendirian. Pagi itu saya melihat ini dilakukan seperti creambath di salon, sambil ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan kaki pulang, saya berharap bahwa suatu hari kita bisa menikmati sungai di kota-kota di Indonesia.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07oyVb8tzI/AAAAAAAAAFk/tMdhZoNqwDU/s1600-h/IMG_2027.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07oyVb8tzI/AAAAAAAAAFk/tMdhZoNqwDU/s320/IMG_2027.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138300176321787698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-291196729824501567?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/291196729824501567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=291196729824501567' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/291196729824501567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/291196729824501567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/11/cisadane-seorang-ayah-dan-seekor.html' title='Cisadane, seorang Ayah dan Seekor Kambing'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/R07ox1b8tyI/AAAAAAAAAFc/W2bsKAR58CY/s72-c/IMG_2028.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-9216767459845751032</id><published>2007-11-12T23:11:00.000+07:00</published><updated>2007-11-12T23:26:56.802+07:00</updated><title type='text'>Lintang Nur Ramadhani</title><content type='html'>Alhamdulillah anak saya lahir pada tanggal 18 September 2007 pukukl 18.55 WIB di RS. Hermina Bandung. Berat 3.040 gram, panjang 55 cm. Dibantu oleh DokterAnita.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh9Xg70-gI/AAAAAAAAAE0/Uqcra26vwTk/s1600-h/IMG_0397+copy.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh9Xg70-gI/AAAAAAAAAE0/Uqcra26vwTk/s320/IMG_0397+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131989618320013826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 2 bulan sebelumnya, ibunya (istri saya tercinta) mengusulkan nama Lintang. Tidak lama kemudian, ibu saya (mertua istri saya tercinta) juga mengusulkan nama yang sama. Dua kejadian paralel yang tidak berhubungan. Jadi saya segera setuju. Bagi yang belum mengetahui, Lintang diambil dari bahasa Jawa yang artinya Bintang. Dan bukan karena dia melintang waktu lahir cesar, walau pun itu memang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh9YA70-hI/AAAAAAAAAE8/-LJamQyJK1w/s1600-h/IMG_0399+copy.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh9YA70-hI/AAAAAAAAAE8/-LJamQyJK1w/s320/IMG_0399+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131989626909948434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Persis setelah kelahirannya, saya dihadapkan pada kesibukan yang luar biasa, sampai-sampai hampir tidak pernah di rumah. Niat untuk menulis blog ini juga terhambat terus. Kata orang-orang,  rejeki anak. Mungkin juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So please welcome, Lintang Nur Ramadhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut foto-fotonya ketika menjadi korban percobaan model rambut dari kakeknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh-Ew70-iI/AAAAAAAAAFE/ZDQnXr7Zfew/s1600-h/IMG_2004+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh-Ew70-iI/AAAAAAAAAFE/ZDQnXr7Zfew/s200/IMG_2004+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131990395709094434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh-bg70-jI/AAAAAAAAAFM/2VYZOnflMZ8/s1600-h/IMG_2009+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh-bg70-jI/AAAAAAAAAFM/2VYZOnflMZ8/s200/IMG_2009+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131990786551118386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-9216767459845751032?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/9216767459845751032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=9216767459845751032' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/9216767459845751032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/9216767459845751032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/11/lintang-nur-ramadhani.html' title='Lintang Nur Ramadhani'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rzh9Xg70-gI/AAAAAAAAAE0/Uqcra26vwTk/s72-c/IMG_0397+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-6022133322033372561</id><published>2007-11-07T22:29:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T22:36:42.273+07:00</updated><title type='text'>Biaya Pemilu demi Kepentingan Kita juga</title><content type='html'>Mungkin rekan-rekan bingung, kenapa untuk pemilu 2009 ini diajukan anggaran sebesar Rp 47,9 Trilyun. Tiap tahun, sampai beberapa tahun belakangan ini, kita berhutang ke IGGI/CGI dsb-nya saja hanya sekitar USD 5M per tahun. Untuk membangun monorel yang tidak kunjung ada dananya itu konon butuh USD 600juta (kira-kira Rp 5,5T). Kredit Ekspor senjata dari Rusia yang hanya USD 1M (kira-kira Rp 9,2T) kemarin cukup buat beli 6 sukhoi, 2 kapal selam kelas kilo, beberapa helikopter Mi yang secara keseluruhan sudah cukup membuat negara-negara tetangga berpikir-pikir tentang postur militer Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi listrik? Rp 30T. Dana askeskin diperkirakan Rp 2,2T.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anda tidak perlu bingung, dan tidak sepantasnya untuk membandingkan dana-dana di atas dengan dana pemilu. Pemilu adalah hal yang sangat penting bagi negara demorasi seperti Indonesia dan karenanya pantas mendapat dana sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, tentu kita perlu tahu dari mana keluarnya anggaran sebesar itu. Dan jika hitungan panitia terlalu rumit untuk diikuti, berikut adalah hitungan yang disederhanakan tentang rencana anggaran KPU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan, jumlah orang yang memilih di Indonesia adalah 200 juta orang (out of 230 juta artinya dengan asumsi ini kemungkinan anak SMP juga punya hak pilih). Berarti untuk setiap orang yang memilih, dana yang diajukan adalah Rp 239,5 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sekarang kita hitung. Katakanlah kertas suara dicetak dengan kertas tebal, cetak berwarna, disampul plasik, dimasukkan lagi ke dalam amplop, diberi label masing-masing nama pemilih, kalau perlu foto pemilih dan seterusnya. Yah... habislah Rp 5rb per lembar. Kalau kita nyoblos 3x (Parlemen, Presiden putaran 1 dan 2), maka setiap orang habis kira-kira Rp 15 ribu buat kartu suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, katakanlah satu TPS memiliki 100 orang pemilih. Untuk sewa tenda dan kursi, biaya disediakan Rp 1 juta. Berarti per orang tambah lagi Rp 10rb. Kemudian katakanlah yang menjaga TPS dibayar (total) Rp 1 juta. Nambah lagi Rp 10rb per orang. Totalnya sudah habis Rp 35rb per orang. Untuk menarik minat pemilih, disediakan makan siang prasmanan dari catering terkenal dengan biaya Rp 60rb per orang. Total per kepala sekarang jadi Rp 95rb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sebetulnya ada sih, biaya untuk mengirim logistik ke daerah terpencil. Tapi karena 60% penduduk INdonesia tinggal di Jawa, dan tiket pesawat ke irian saja hanya beberapa juta, dana itu sebetulnya tidak terlalu bear. Ada orang menawarkan &lt;a href="http://www.gerbangmilyuner.com/hematlistrik.php"&gt;alat penghemat listrik&lt;/a&gt; dengan biaya pengiriman ke Irian Rp 27.000,00 (http://www.gerbangmilyuner.com/hematlistrik.php). Ya kita anggap saja segitu untuk semua orang (yang di Jawa juga lho). Totalnya sudah menjadi Rp 122.000,00 per kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pemerintah menganggap pemilu ini penting sekali, setiap orang juga diberi ongkos Rp 38rb untuk menuju TPS. Memang yang terpaksa mudik harus menanggung sendiri sebagian, tapi lumayanlah. Jadi biaya pemilu per orang sekarang sudah Rp 160rb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sisa Rp 79,5 rb per orang, total Rp 15,9 Trilyun, dipakai untuk iklan di media masa, sosialisasi, pengawasan kampanye, beli mobil dinas, IT dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kira-kira, itulah rencana yang akan dilakukan oleh KPU untuk pemilu 2009. Mudah-mudahan menghasilkan Presiden dan Parlemen yang baik. Amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-6022133322033372561?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/6022133322033372561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=6022133322033372561' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6022133322033372561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6022133322033372561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/11/biaya-pemilu-demi-kepentingan-kita-juga.html' title='Biaya Pemilu demi Kepentingan Kita juga'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4478368818004145605</id><published>2007-10-29T11:55:00.000+07:00</published><updated>2007-10-29T12:01:24.849+07:00</updated><title type='text'>Kami, Putra-Putri Indonesia...</title><content type='html'>79 tahun lalu, 28 Oktober 1928 di Kramat Jakarta, pemuda-pemuda yang mewakili perwakilan-perwakilan pemuda daerah-daerah yang ada di Indonesia berkumpul untuk melaksanakan apa yang sekarang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda yang berkumpul di sana rata-rata berusia di paruh awal 20-an. WR Supratman, misalkan, pencipta lagu Indonesia Raya. Hadir dan memperdengarkan lagu itu, pada saat itu kira-kira berusia 25 tahun. Orang yang dianggap sebagai pemimpin pergerakan, pendiri PNI yang menentang nasionalisme baru berusia 27 tahun: Soekarno. Ketika terjadi pertentangan antara kaum muda dan kaum tua dalam peristiwa yang kita kenal sebagai peristiwa Rengasdengklok, kaum tua berusia rata-rata 45 tahun kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi definisi pemuda jaman dulu memang sedikit berbeda. Kalau di jaman sekarang, umur segitu masih bisa menjabat sebagai ketua organisasi mahasiswa level nasional. Tapi belum cukup tua untuk menjadi kandidat ketua organisasi pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang mengatakan bahwa ini saatnya orang muda memimpin. Saya setuju dengan itu. Tetapi jika kemudian yang menjadi wacana adalah calon presiden muda, saya mempertanyakan. Saya tidak setuju dengan cara berpikir formal seperti itu. Hipotesisnya kira-kira, kalau kita mau mengubah sesuatu, harus dari atas. Dan kalau dari atas artinya jadi pemimpin paling atas (dalam kasus ini presiden). Dan orang mudalah yang bisa melakukannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada jaminan, orang muda yang naik tidak melakukan hal-hal yang sama? Dalam usianya yang muda, mungkin dia belum teruji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, yang harus dilakukan oleh pemuda adalah kepeloporan. Kepeloporan itu kemudian akan menempa pemuda untuk menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda harus menganalisa apa yang menjadi permasalahan dalam bangsa ini dan menjadi pelopor gerakan untuk mengubahnya. Misalkan, jika memang pendidikan menjadi masalah, mendirikan sekolah atau lsm terkait pendidikan. Saya pribadi misalkan, melihat perlunya generasi muda untuk mencoba untuk berwira usaha dan membuka lapangan kerja. Syukur-syukur tidak bangkrut. Lebih syukur lagi kalau bermuatan keilmuan (ini bukan masalah sombong-sombongan, tetapi penguasaan ilmu dan teknologi menjadi kunci dari maju mundurnya bangsa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tantangan yang harus diambil oleh pemuda adalah kepeloporan, bukan kepemimpinan (formal). Cepat atau lambat, kepeloporan itu akan membawa mereka pada kepemimpinan. Tetap seperti juga hal lain di dunia ini, tidak ada jalan pintas. Pemuda harus melakukan apa yang bisa dilakukan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagi anda yang membaca blog ini dan berusia di bawah 50 tahun, sebagai pemuda mari kita sambut sumpah pemuda sebagai pengingat dan penyegar semangat untuk memberikan yang terbaik untuk bangsa dalam perspektif dan kondisi kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4478368818004145605?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4478368818004145605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4478368818004145605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4478368818004145605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4478368818004145605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/10/kami-putra-putri-indonesia.html' title='Kami, Putra-Putri Indonesia...'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4472091075718151764</id><published>2007-10-14T23:52:00.000+07:00</published><updated>2007-10-15T01:02:00.099+07:00</updated><title type='text'>Back to Blog (Selamat Idul Fitri)</title><content type='html'>Sebulan lebih saya tidak mengisi Blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya sedikit masalah dengan sifat saya. Misalkan begini. Anak saya lahir tanggal 18 September 2007 kemarin. Saya menginginkan agar saya memposting cerita tentang anak saya ini di Blog terlebih dahulu. Namun karena kesibukan saya, maka hal ini belum bisa saya lakukan. Dan akibatnya maka saya tidak memposting artikel-artikel ringan yang ingin saya tuliskan karena menunggu saya sempat memposting cerita tentang anak saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang (sering kali?) hal-hal seperti ini terjadi pada saya. Saya menunda melakukan sesuatu karena saya ingin sesuatu yang lain dikerjakan terlebih dahulu. Padahal hal-hal tersebut belum tentu berhubungan, atau menjadi prasyarat dari yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi malam ini saya paksakan untuk membypass rencana awal saya, dan menulis tentang apa saja. Salah satu yang menarik perhatian saya malam ini adalah pertandingan tinju di RCTI antara Evander Holyfield melawan juara dunia WBO, Sultan Ibragimov. Saya bukan penggemar olah raga jadi saya terus terang saja baru tahu ada petinju bernama Sultan Ibragimov dari Rusia ini. Yang menarik perhatian saya adalah namanya Sultan. Kemudian setelah saya pikir-pikir lagi, nama Ibragimov seperti mirip dengan sesuatu. Dan benar saja, Announcer mengumumkan namanya sebagai Sultan Ibrahimov. Sultan Ibrahim, kalau kata orang Indonesia mah. Jadi dia seorang muslim. Seorang juara dunia tinju WBO muslim dari Rusia. Kombinasi yang unik dan jarang. Bagi mereka yang bukan penggemar olah raga, berikut fotonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/RxJLdGCA8iI/AAAAAAAAAEs/Ire9uawM2Yc/s1600-h/Sultan+Ibragimov.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/RxJLdGCA8iI/AAAAAAAAAEs/Ire9uawM2Yc/s200/Sultan+Ibragimov.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121238689481028130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Metro tadi juga saya melihat kisah hidup Buya Hamka. Selain membaca buku-bukunya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan buku-buku lainnya, saya tidak banyak tahu tentang beliau, dan saya merasa bersalah. Beliau ulama besar. Dan rasanya koq akhir-akhir ini Indonesia sedikit sekali melahirkan ulama sekelas beliau. Mengingatkan saya pada percakapan beberapa hari lalu waktu saya ke Bandung. Kepada supir saya bertanya, pendapatnya tentang ulama-ulama saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab, ulama sekarang semuanya memble. Kejadian-kejadian yang jelas terjadi di depan mata didiamkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak merasa begitu juga, memang banyak yang memble. Coba misalkan, ulama yang dekat dengan artis. Artis yang terlihat sangat shaleh. Waktu menikah menghabiskan milyaran rupiah untuk pesta yang luar biasa ketika begitu banyak orang yang susah. Apa iya orang Islam yang shaleh seperti itu? Apa iya si ulama tidak mengingatkan? Ini mungkin memang tidak diharamkan. Tapi kalau orang Jawa bilang, ngono yo ngono ning ojo ngono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira ulama yang baik juga banyak. Tidak hanya dalam kasus ulama saja sebetulnya. Kita punya banyak pengusaha, tentara, saintis dan sebagainya yang baik. Hanya saja mereka tidak muncul ke permukaan. Karena sistemnya memang tidak memungkinkan untuk itu. Sistem yang berjalan saat ini adalah peninggalan orde baru yang korup, dan ia mencoba bertahan (survive). Salah satu caranya adalah dengan tidak membiarkan orang baik muncul ke permukaan. Karena tentu akan menjadi akhir dari sistem yang berjalan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal menarik lainnya yang ingin saya sampaikan di sini adalah khotbah shalah Ied. Agak mengejutkan bahwa Khotibnya berbicara tentang Kristenisasi. Pertama, saya kira tema Kristenisasi kurang cocok dibawakan di khotbah Idul Fitri. Kedua, saya tidak pernah setuju tema Kristenisasi ini diteriakkan di muka umum dengan sound sistem ribuan watt. Yang ketiga, yang saya kira paling penting dari semuanya, saya berharap bahwa Umat Islam berhenti berpikir sebagai penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya begini. Misalkan. Umat Islam selalu menyatakan bahwa umat agama X atau Y melakukan kegiatan sosial sebagai kedok dari dakwah. Alih-alih menyalurkan segenap potensi untuk melakukan hal yang sama (melakukan juga kegiatan sosial kepada umat Islam yang memang membutuhkan bantuan), maka kita lebih cenderung untuk mengutuk dan melarang kegiatan seperti itu. Karena Islam bisa melarang, karena Islam adalah penguasa. Kalau ada aliran yang menyimpang, kita lempari batu dan kita kejar-kejar pengikutnya. Saya kira kita harus berhenti berpikir seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita berdayakan zakat dan infak. Hasilnya jangan melulu buat bangun masjid. Bantu anak yatim-piatu dan fakir miskin. Dirikan sekolah dan rumah sakit yang baik. Lakukan cara yang benar, walaupun yang benar biasanya sukar. Tidak ada jalan pintas. Dan bukan karena kita ingin menunjukkan atau karena kita ingin bersaing, tetapi semata karena Agama menyuruh kita untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang zakat dan infak ini, saya ingin juga menyampaikan. Bahwa zakat yang dibayarkan kepada badan zakat yang resmi (saya tidak punya daftarnya tapi rasanya paling tidak Baznas termasuk di dalamnya) bisa dijadikan pengurang pajak. Artinya jika anda sudah membayar zakat maka porsi yang sama dapat dikurangi dari kewajiban pajak anda. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat. Silakan menghubungi konsultan pajak anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sekian lah posting saya dalam rangka kembali ke blog ini. Selamat Idul Fitri, mohon maaf jika ada kesalahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4472091075718151764?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4472091075718151764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4472091075718151764' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4472091075718151764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4472091075718151764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/10/back-to-blog-selamat-idul-fitri.html' title='Back to Blog (Selamat Idul Fitri)'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/RxJLdGCA8iI/AAAAAAAAAEs/Ire9uawM2Yc/s72-c/Sultan+Ibragimov.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-733916015571059584</id><published>2007-09-05T12:54:00.000+07:00</published><updated>2007-09-05T12:57:16.685+07:00</updated><title type='text'>Bush Minta Orang Cina Jangan Nabung Melulu</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/05/time/120317/idnews/825930/idkanal/4"&gt;This&lt;/a&gt; is funny...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi defisit perdagangan dengan Cina, Bush meminta orang-orang Cina untuk tidak terlalu rajin menabung dan menjadi lebih konsumtif, membeli barang-barang Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang sekali dengan Bush. Dulu saya selalu berpikir mengapa terlahir di negara yang pejabat-pejabatnya 'kurang pintar'. Tetapi Bush Jr., persistently and consistently, membuktikan bahwa hal itu bukan monopoli Indonesia saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-733916015571059584?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/733916015571059584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=733916015571059584' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/733916015571059584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/733916015571059584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/09/bush-minta-orang-cina-jangan-nabung.html' title='Bush Minta Orang Cina Jangan Nabung Melulu'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-3706385505897466185</id><published>2007-09-05T12:18:00.000+07:00</published><updated>2007-09-05T12:20:42.736+07:00</updated><title type='text'>respati.co.id online lg!!!</title><content type='html'>Setelah bertahun-tahun tidak mengudara, akhirnya secara resmi &lt;a href="http://www.respati.co.id/"&gt;www.respati.co.id&lt;/a&gt; online kembali!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin nggak penting ya. :D Tapi nggaklah. Ini penting koq. Penting! Penting! Dibilangin penting koq ngeyel. Pokoknya penting. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada isinya jg....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-3706385505897466185?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/3706385505897466185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=3706385505897466185' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3706385505897466185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/3706385505897466185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/09/respaticoid-online-lg.html' title='respati.co.id online lg!!!'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-13034247510617016</id><published>2007-09-05T11:34:00.000+07:00</published><updated>2007-09-05T12:00:20.954+07:00</updated><title type='text'>A Javanese Wedding</title><content type='html'>Wahyu menikah di rumahnya di luar kota Solo. Sebuah rumah yang dikelilingi oleh sawah yang masih cukup luas. Kami dijemput dari hotel oleh mobil yang disediakan Wahyu. Sedikit tidak enak sebetulnya, menyusahkan pengantin yang pasti sudah sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu sudah lama tinggal di Amerika, sejak saya belum lulus kuliah. Paling tidak sudah 5 tahun. Orang-orang Indonesia yang datang dari luar negeri mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan keberhasilan: menikah di gedung, pesta besar-besaran, dan seterusnya. Tetapi Wahyu tidak melakukannya. Pernikahannya, saya yakin, dilakukan dengan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh warga di sana. Seolah-olah, Wahyu tidak pernah pergi ke Amerika atau bahkan ke Bandung. Saya sangat salut dengan ini. Mungkin kalau ada perbedaan adalah gamelan yang didatangkan lengkap dan pagelaran wayang kulit. Ini murni untuk melestarikan kebudayaan tradisional.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt42nCWEN4I/AAAAAAAAAEU/iCNsz4fC4tw/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt42nCWEN4I/AAAAAAAAAEU/iCNsz4fC4tw/s320/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106579071756941186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Wahyu adalah seorang antropolog, rasanya dia lebih dari gembira untuk menjalani sendiri pernikahan dari kebudayaan yang berbeda. Dan kebudayaan Jawa, is one of the spiciest of all.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt412SWEN3I/AAAAAAAAAEM/2bj_kfksQns/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt412SWEN3I/AAAAAAAAAEM/2bj_kfksQns/s320/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106578234238318450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat orang-orang asing muda belajar memainkan gamelan di saat pemuda Indonesia lebih memilih duduk-duduk (jagongan) di jalan sambil memetik gitar. Ironi yang sia-sia. Apa yang dibutuhkan agar bangsa kita menghargai budayanya sendiri? Menghargai dirinya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt43rCWEN6I/AAAAAAAAAEk/Hmbxx_3boGA/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt43rCWEN6I/AAAAAAAAAEk/Hmbxx_3boGA/s320/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106580239988045730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Solo, tamu pernikahan duduk rapi seperti menonton bioskop. Makanan dibagikan secara bergiliran dari pembuka sampai penutup, biasanya paling tidak ada sop, makanan utama, es krim/es putar. Dengan demikian umumnya tamu undangan tidak datang terlambat. Tetapi memang menjadi sulit ketika kita mendapat 2 undangan sekaligus. Juga buat saya menjadi sulit ketika ingin menambah es putar yang uenak tenan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt43YCWEN5I/AAAAAAAAAEc/7E9PCof4ZCc/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt43YCWEN5I/AAAAAAAAAEc/7E9PCof4ZCc/s200/4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106579913570531218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan panjang ke Solo, tapi saya sangat gembira saya memutuskan untuk datang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-13034247510617016?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/13034247510617016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=13034247510617016' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/13034247510617016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/13034247510617016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/09/javanese-wedding.html' title='A Javanese Wedding'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rt42nCWEN4I/AAAAAAAAAEU/iCNsz4fC4tw/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-8284896105117733544</id><published>2007-08-15T01:16:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T13:12:16.038+07:00</updated><title type='text'>Ke Solo</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Undangan dari Wahyu datang sedikit terlalu lambat untuk acara yang berlokasi di Solo, sekitar 2 minggu sebelum acara. Jadi tidak begitu banyak waktu untuk persiapan walaupun sebetulnya seperti biasa, persiapan dilakukan di akhir-akhir menjelang keberangkatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Saya hampir saja lupa untuk berangkat kalau Darmanto tidak menanyakan. Dia sendiri hendak berangkat dan mencari teman jalan. Sebetulnya saya malas jalan ke Solo tanpa istri, tetapi saya ingin datang ke nikahan Wahyu, dan kebetulan keadaannya memungkinkan. Jadilah saya katakan pada Darmanto bahwa saya akan berangkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Ini waktu yang kurang enak untuk berpergian. Beberapa waktu sebelumnya banyak kecelakaan bis sepanjang liburan sekolah. Kereta api tidak henti-hentinya anjlok. Dan pesawat terbang sendiri, walau kita tidak tinggal di Eropa tapi larangan terbang uni Eropa koq terngiang-ngiang. Saya sendiri cenderung memilih naik pesawat. Cepat, dan ternyata harga tiketnya lebih murah dari kereta api.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Saya tidak habis pikir bagai mana pesawat yang lebih mahal dari kereta api dan membawa penumpang lebih sedikit (100-an untuk pesawat dibandingkan 50-an per gerbong untuk kereta) bisa memberikan tarif yang lebih murah dari kereta api. Mungkin landasan pesawat hanya 1000 meter x 2 (di Jakarta dan di Solo) sedangkan panjang rel kereta api dari Jakarta ke Solo paling tidak 400-500km. Tapi kan rel itu dibangun dari jaman Belanda dan seharusnya sudah Break Even Point waktu jaman Jepang. Jadi tinggal dipelihara saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Tapi memang masalah perhitungan ekonomi di Indonesia sering aneh. Jalan tol dalam kota misalkan. Tarifnya direncanakan naik lagi. Mungkin di proposal dulu disebutkan bahwa tarif akan naik secara berkala. Dan mungkin harga dolar naik 4x lipat sejak proposal itu dibuat. Hanya saja kalau kita pikir-pikir lagi, jalan tol dalam kota itu dapat dipastikan menampung minimal 5x volume trafik yang direncanakan, sampai macet parah begitu. Jadi kenaikan dolar harusnya bisa dikompensasi oleh kenaikan volume.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Katakanlah memang masih merugi, koq tidak dibuka saja, setelah puluhan tahun beroperasi, sebetulnya di mana sih posisi pinjaman pemodal. Apakah sudah lunas? Apakah memang rugi? Di Amerika konon kabarnya, kalau tol sudah lunas, maka akan dijadikan jalan raya biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Itu kan di Amerika. Mungkin di Amerika kalau tarif US 1 naik 50% artinya jadi US 1,2. Tetapi waktu terakhir kali tarif tol dinaikkan 10% (sesuai pengumumannya) maka jalur Bogor-Ciawi naik dari Rp 500,00 jadi Rp 1000,00 (Bogor-Jakarta naik dari Rp 4.000,00 jadi Rp 4.500,00). Kenapa nggak diumumkan saja kalau naik Rp 500,00.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Kembali ke cerita tadi, Darmanto cenderung naik kereta api, for the shake of safety. Dalam kasus seperti ini saya cenderung ikut saja. Kalau-kalau terjadi sesuatu dengan pesawatnya, ketika saya sedang berdoa sambil ingat pada keluarga, rasanya akan tambah berat kalau mendengar Darmanto bilang,"Tuh kan Dhit, gua bilang juga naik kereta aja..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Saya berjanji mencari tiket kereta. Tetapi karena saya lambat (sedang banyak sekali urusan), akhirnya Darmanto yang membeli. Tinggal urusan hotel. Karena merasa bersalah lambat mencari tiket kereta, saya mencari hotel buru-buru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Prinsipnya, saya suka mencari hotel kecil yang bagus. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  lang="ES-TRAD" &gt;Misalkan di Cirebon ada Saresae. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Di Bandung ada Wisma Dago. Saya ingin cari juga di Solo. Banyak orang yang ditanya bilang sebaiknya menginap di hotel Dana. Tetapi ada juga yang bilang Hotel Dana sudah tua. Jadi ada yang menyarankan hotel X. Buru-buru saya pesan. Kemudian datang pesan dari Darmanto,"Jangan di hotel X Dhit, kata temanku itu hotel remang-remang.". Wah, betul juga si Darmanto. Apa kata dunia kalau saya kepergok di hotel remang-remang. Bareng Darmanto pula...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Jadi saya tanya-tanya lagi. Hotel Novotel Solo ternyata cukup murah. Untuk standar room bisa didapatkan dengan Rp 350.000,00. Sementara hotel Dana Rp 210.000,00. Saya hampir saja memesan Novotel ketika saya berpikir, di kota di mana kita bisa berputar-putar naik becak dengan hanya membayar Rp 5000,00-10.000,00, koq rasanya tidak benar numpang tidur (saya toh tidak akan memakai fasilitas lainnya) di hotel seharga Rp 350.000,00 ketika hotel Rp 210.000,00 cukup. Akhirnya saya putuskan menginap di hotel Dana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Ternyata hotel ini pernah menjadi tempat menginap Bung Karno tahun 50-an. Sebagai orang yang senang nostalgia, saya semakin bersemangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Akhirnya kami berangkat. Hampir 4-5 tahun tidak bertemu, Darmantor masih bisa mengenali saya. Artinya saya belum kelewat gendut. Kereta berangkat terlambat 20 menit (berangkat aja sudah telat), namun sampai cukup tepat waktu (aneh juga). Cukup beruntung, karena menurut tukang becak sejak kasus anjloknya Argo Dwipangga, kereta ke Solo dari arah Barat selalu terlambat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Kabar baiknya, karena ada kamar kosong ternyata hotel sudah mau menerima kami pukul 5.30 pagi tanpa tambahan biaya. Hanya tidak ada sarapan. Fair enough, saya pikir. Saya sangat berterima kasih kepada hotel Dana karena saya sudah membayangkan masuk hotel pukul 13 (seperti di hotel lainnya) dan saya harus berjalan-jalan dulu membawa ransel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Welcome to Solo. Dan ini foto Darmanto bergaya begitu menginjakkan kaki di Solo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/RsHzY0KwsoI/AAAAAAAAAEE/HL4izeUlCx4/s1600-h/IMG_1495.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/RsHzY0KwsoI/AAAAAAAAAEE/HL4izeUlCx4/s320/IMG_1495.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098623860806300290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-8284896105117733544?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/8284896105117733544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=8284896105117733544' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8284896105117733544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/8284896105117733544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/08/ke-solo.html' title='Ke Solo'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/RsHzY0KwsoI/AAAAAAAAAEE/HL4izeUlCx4/s72-c/IMG_1495.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-6100264194645973328</id><published>2007-08-15T01:14:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T01:18:43.465+07:00</updated><title type='text'>DCA dengan Singapura</title><content type='html'>Setelah berbulan-bulan, kontroversi tentang DCA dengan Singapura belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Untuk mengingatkan saja, perjanjian ini berisi pengaturan 2 masalah. Yang pertama adalah perjanjian ekstradisi buronan Indonesia dari Singapura. Yang kedua adalah diperbolehkannya pemakaian sebagian wilayah Indonesia oleh Singapura dengan pengaturan dari pihak Indonesia. Sebagai kompensasinya, Singapura akan membangun pusat latihan modern (dan mahal) di Riau untuk dipakai bersama dengan TNI dan menjadi milik Indonesia dalam 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya agak aneh kalau dua hal yang berbeda ini dijadikan satu perjanjian, sehingga kita dengan cepat menduga bahwa poin kedua adalah trade-off dari poin pertama. Sebagian besar menolak dengan alasan nasionalisme: wilayah kita tidak boleh dipakai oleh militer negara asing. Kita harus jadi tuan di negara sendiri. Sebagian lagi mendukung dengan alasan yang terdengar logis juga: latihan semacam ini sudah jalan dari dulu, Indonesia mengatur sepenuhnya, dan Indonesia membutuhkan tempat latihan untuk membina TNI yang profesional.&lt;br /&gt;Saya punya beberapa catatan sendiri tentang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya berkeyakinan walau pun Singapura tidak mendukung larinya buronan Indonesia ke Singapura, mereka diuntungkan dengan larinya uang panas ke sana. Dan saya kira Singapura tidak ambil pusing tentang asal uang itu. Sehingga, pada saatnya mereka akan enggan (hesitate) untuk melaksanakan ekstradisi. Atau paling tidak, mereka berkeyakinan bahwa pemerintahan Indonesia yang lamban (dan korup?) tidak akan mampu memanfaatkan fasilitas ini secara maksimal.&lt;br /&gt;Kedua, saya merasa aneh kepada para anggota Dewan yang terhormat yang menolak dengan alasan nasionalisme. Ketika TNI kekurangan fasilitas (kapal dan pesawat udara) untuk mencegah penyelundupan, pencurian hasil laut, ketika tanah kita di sekitar Singapura dijual sehingga hanya tersisa air-nya (dari tanah air), ke mana nasionalisme mereka? Bukannya saya setuju kalau pesawat tempur Singapura terbang di Indonesia. Kalau keinginan saya malah, pesawat tempur Singapura bahkan tidak boleh terbang di Singapura. Tetapi nasionalisme sekarang bukan lagi nasionalisme jaman dulu, nasionalisme tiang bendera seperti selalu saya sebut. Kita kibarkan bendera dengan bendera, tali, tiang buatan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bagi yang mengatakan bahwa semuanya diatur oleh Indonesia, ini juga sedikit aneh. Kalau Indonesia hanya punya 10 F-16 dan 4 Sukhoi jalan (itu pun di Makasar dan Madiun), ketika Singapura datang bawa skuadron F 16 (blok C/D yang lebih maju dari blok A/B Indonesia), skuadron F 15 dan nantinya F 23, kita mau ngusir pakai apa? Anda bayangkan halaman rumah kita dipakai latihan oleh tentara bersenjata lengkap dengan mengatakan,"Kalau ada apa-apa nanti hansip kami akan mengusir anda semua". Maaf saya tidak bermaksud melecehkan TNI, tetapi kondisinya kira-kira begitu kalau untuk di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kalau pun tempat training itu sedemikian penting, yang mau kita latih apa? Seperti disebutkan di atas tadi kita hampir tidak punya pesawat. Latihan penembakan rudal dari kapal laut di selat Sunda terakhir gagal semua (satu tidak meluncur, satu tidak meledak, dst.). Buat Angkatan Darat anda bisa periksa berapa jumlah peluru yang mereka dapat buat latihan menembak setiap bulannya. Permasalahannya kemudian, ketika diserahterimakan 20 tahun lagi, bagai mana kondisi dari tempat latihan itu? Bayangkan,"Baik, saya beli komputer, kita pakai bersama, 20 tahun lagi boleh jadi milik anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagai mana solusi sebaiknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pendapat saya. Menurut saya sebaiknya kalau tempat latihan itu begitu penting, nilainya diuangkan saja. Katakanlah Singapura mau latihan di Indonesia, sewakan saja. Misalkan satu hari 1 juta dollar. Uangnya dipakai TNI latihan atau membeli ini-itu. Atau kalau ide ini dianggap terlalu berlebihan, ya sudahlah dibatalkan saja. Tetapi ada catatannya. TNI berhak menjadi profesional, dan TNI harus menjadi profesional. Karena itu, anggota Dewan yang nasionalis itu selain menolak DCA dengan Singapura harus juga mengeluarkan anggaran untuk TNI membeli peralatan dan membangun tempat latihan selain peningkatan kesejahteraan. Nah yang menarik, sampai sekarang kita tidak pernah mendengar, berapa sih sebetulnya biaya yang dikompensasikan oleh Singapura untuk membangun tempat latihan itu kira-kira?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya optimis dalam 10-20 tahun ke depan Indonesia sudah menjadi bangsa yang lebih makmur dan kuat (kalau belum bubar). Tapi ngomong-ngomong koq Presiden diam saja ya? Itu juga 3 opsi dari Tim evaluasi IPDN juga belum ada kabar lanjutnya. Sudah sempat mati 1 orang lagi. Lama ya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-6100264194645973328?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/6100264194645973328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=6100264194645973328' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6100264194645973328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/6100264194645973328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/08/dca-dengan-singapura.html' title='DCA dengan Singapura'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-2039865215647338868</id><published>2007-08-09T22:36:00.000+07:00</published><updated>2007-08-09T22:40:02.436+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Kesaksian Tentang Jawa</title><content type='html'>Dari buku 'Orang Indonesia dan Orang Perancis', kutipan catatan dari Perancis di sekitar tahun 1755: &lt;p&gt;    &lt;i&gt;Pulau Jawa yang panjangnya mencapai sekitar delapan ratus mil dan lebar antara 120 hingga 160 mil tampaknya sejak lama dikuasai oleh orang Melayu. Ajaran nabi Muhammad dan takhayul merupakan kultus yang dominan di sini. Di pedalaman, masih terdapat pemuja berhala. Mereka itu merupakan satu-satunya yang tidak terpengaruh oleh kebejatan akhlak.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Kekuasaan yang tadinya dipegang oleh seorang raja kini berada di tangan beberapa raja yang saling bermusuhan satu sama lain. Pertentangan abadi itu menyebabkan masyarakat mengabaikan kesusilaan dan semangat keprajuritan.  Selain memiliki musuh yang berasal dari luar, mereka sendiri tidak memiliki rasa saling percaya. Tidak ada negeri lain di mana kita dapat merasakan kebencian separah di sini. Manusia memangsa manusia lainnya seperti serigala. Kelihatannya, yang justru menyatukan mereka dalam suatu tatanan masyarakat adalah hasrat saling merusak, bukan hasrat bergotong-royong. Orang-orang Jawa tidak pernah mendekati saudaranya tanpa membawa keris di tangan. Mereka selalu waspada untuk menghadapi serangan atau untuk menyerang. Para pembesarnya memiliki banyak budak yang mereka dapatkan dengan cara membeli, dari peperangan, atau dari pembayaran utang. Budak-budak tersebut diperlakukan tanpa peri kemanusiaan. Mereka bekerja di kebun dan melakukan pekerjaan berat. Orang Jawa memiliki kebiasaan makan sirih, mengisap madat, hidup dengan para selirnya, berperang, atau tidur. Mereka berjiwa spiritual namun sangat sedikit menganut prinsip moral. Mereka lebih tepat disebut bangsa yang mengalami degenerasi dari pada terbelakang. Tadinya, mereka berada di bawah pemerintahan yang teratur namun kemudian berubah menjadi anarki. Dengan tidak henti-hentinya mereka mengumbar keberingasan yang diturunkan alam dalam keadaam iklum yang sedemikai rupa.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;i&gt;    Landaasan hukum feodal yang dimiliki oleh pemerintah pulau tersebut tampaknya memang menginginkan adanya perpecahan. Ayah dipersenjatai untuk melawan anaknya dan anak melawan ayahnya. Dalih kaum lemah untuk melawan yang kuat dan yang kuat melawan kaum lemah didukung sesuai dengan keadaan. Terkadang dukungan diberikan kepada raja penguasa dan terkadan kepada raja bawahan. Apabila seorang raja menunjukkan kemampuan yang membahayakan, maka dicarikanlah musuh untuknya. Mereka yang tidak tergiur oleh emas atau janji-janji akan ditundukkan dengan ketakutan. Setiap hari terjadi perubahan-perubahan yang selalu dipersiapan oleh para tiran, demi kepentingan mereka.   &lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;     Saya kira, saya sedikit demi sedikit menerima, bahwa pada kenyataannya bukan penjajahan itulah yang merusak kebudayaan Indonesia, tetap kerusakan budaya Indonesia yang berhasil dimanfaatkan oleh Belanda untuk menjajah. Bahkan ide bahwa sebetulnya Belandalah yang mengenalkan Indonesia kepada konsep negara modern yang bersatu dan berlandaskan hukum sedikit demi sedikit dapat saya terima.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;     Menerima kenyataan sejarah itu adalah satu hal. Memetik pelajaran darinya untuk menghadapi masa depan adalah hal berikut yang tidak kalah pentingnya. Yang ada di depan mata sekarang dalam pengamatan saya, adalah bagai mana Indonesia semakin kehilangan konsep negara modern itu. Masyarakat semakin kembali ke sifat kedaerah-daerahan dan mementingkan golongan sendiri. Konsep semacam 'putra daerah' dalam pemilihan kepala daerah maupun tender yang saya kira tidak sesuai dengan semangat negara nasional, justru semakin menguat. Dan bahkan daerah yang satu saat ini sering kali menyalahkan daerah lain tentang suatu masalah tanpa usaha untuk bekerja sama, seolah-olah mereka adalah negara yang berbeda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;     Kerusakan ini ditambah lagi, bahwa selain pemikiran yang berorientasi pada kepentingan golongan dan sesaat, kebanyakan orang Indonesia (atau mungkin sebagian kecil elite) tidak mempunyai suatu panduan moral. Agama hanya dipakai sebagai pelarian dan justifikasi tentang kesalehan tanpa makna keduniaan. Di pihak rakyat, hal ini didukung oleh pola pikir mistisme: harapan akan datangnya Ratu Adil, kepercayaan bahwa permasalahan yang muncul adalah takdir, Mbah Maridjan lebih dipercaya dari para geolog, dan lain sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;     Jika hal ini berkelanjutan, dapat dipastikan bahwa Indonesia hanya tinggal menjadi sejarah atau paling tidak Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar. Tentang perlunya ada suatu negara yang disebut Indonesia itu, mungkin dapat dibahas di waktu berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;                                &lt;div class="tags"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://puntadewa.blog.com/Religion+and+History/" rel="tag"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-2039865215647338868?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/2039865215647338868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=2039865215647338868' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2039865215647338868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/2039865215647338868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/08/sebuah-kesaksian-tentang-jawa.html' title='Sebuah Kesaksian Tentang Jawa'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-584149635883919531</id><published>2007-08-06T22:13:00.000+07:00</published><updated>2007-08-06T22:26:55.580+07:00</updated><title type='text'>Kontroversi Indonesia Raya</title><content type='html'>Waktu melihat di TV tentang penemuan dokumentasi lagu Indonesia Raya dari tahun 1944 oleh Roy Suryo, yang terlintas di kepala saya adalah,"Wah, memang hebat si KMRT ini kalau bikin berita." Saya sungguh yakin bahwa dibandingkan sebagai pakar telematika, dia jauh lebih cocok menjadi pakar komunikasi atau marketing.&lt;br /&gt;Tidak terpikir pada saat itu, bahwa akan terjadi kontroversi tentang lirik Indonesia Raya yang berbeda dengan yang kita nyanyikan saat ini.&lt;br /&gt;Di saat seperti ini sering kali saya jadi bertanya-tanya, apakah hanya mimpi saya saja ketika mendapatkan pelajaran sejarah tentang Indonesia Raya dan penciptanya, WR. Supratman? Seingat saya, dalam pelajaran itu jelas-jelas disebutkan bahwa lagu Indonesia Raya ketika pertama kali diperkenalkan (pada sumpah pemuda) liriknya tidak seperti yang kita nyanyikan sekarang.&lt;br /&gt;Kenapa? Coba saja anda bayangkan segerombolan pemuda di jalan Kramat Raya menyanyikan lagu dengan lirik,"Kalimantan Raya, mulia-mulia." Sekarang bayangkan kalau liriknya adalah,"Kalimantan Raya, merdeka-merdeka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya sangat jelas. Mereka tidak mengatakan,"Merdeka" agar tidak dikirim ke Pulau Buru oleh Belanda atau dipenggal oleh Jepang. Dan tidak usah ke Leiden kalau mau tahu bahwa lirik Indonesia Raya berubah dari yang dulu. Lirik yang ditulis di museum Sumpah Pemuda Kramat Jakarta juga berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ini sering kali tidak memperhatikan beberapa hal yang sebetulnya sudah jelas. Misalkan, apakah ketika macet mobil pribadi boleh masuk ke busway. Hal ini dirapatkan oleh Pemda, DLLAJ dan polisi beberapa waktu lalu. Padahal dasar pemikirannya jelas, busway adalah transportasi massal yang diharapkan bebas macet sehingga diberi jalur khusus. Kalau mobil pribadi ikut masuk, maka hilanglah jalur khusus itu dan busway jadi macet. Gitu koq harus rapat lagi untuk menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kontroversi tentang lirik Indonesia Raya ini buat saya buang-buang waktu dan energi saja, dan sangat aneh kalau penemunya memberikan pernyataan seolah-olah memperoleh bukti bahwa Bung Karno nama aslinya adalah Rachmat Karnolo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cape deh...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-584149635883919531?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/584149635883919531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=584149635883919531' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/584149635883919531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/584149635883919531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/08/kontroversi-indonesia-raya.html' title='Kontroversi Indonesia Raya'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-4187047458310872365</id><published>2007-07-30T23:04:00.000+07:00</published><updated>2007-07-30T23:13:27.450+07:00</updated><title type='text'>Aturan Utama Menyeberang</title><content type='html'>Di Brebes saya melihat sebuah himbauan untuk menyeberang. Himbauan ini terlihat sederhana sesungguhnya.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rq4MR0KwslI/AAAAAAAAADs/BZhRkXIyNdg/s1600-h/sebrang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rq4MR0KwslI/AAAAAAAAADs/BZhRkXIyNdg/s400/sebrang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5093021728803697234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bedanya, bahwa petunjuknya bukanlah mengengok ke kanan lalu ke kiri (atau sebaliknya). Tetapi secara spesifik meminta untuk menengok ke kanan lalu ke kiri, dan kemudian menengok kembali ke kanan sebelum menyeberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It really makes sense and wonderfully right. Karena kita memakai sistem 'jalur kiri', maka terlebih dahulu sebelum menyeberang kita memantau jalur yang akan kita lewati pertama dengan menengok ke kanan. Setelah itu kita pastikan juga jalur yang berseberangan dengan menengok ke kiri. Dan kemudian sebelum menyeberang kita pastikan dengan menengok ke kanan sekali lagi (siapa tahu ada kendaraan berkecepatan tinggi yang tadi tidak tampak, atau mungkin sebelumnya kita meleng). Barulah kita menyeberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan saya menyarankan agar kita menyeberang dengan berjalan kaki. Kalau ada celah di mana kita bisa menyeberang hanya jika berlari, sebaiknya tidak diambil (kecuali di mana hanya hal tersebut yang memungkinkan). Pengemudi kendaraan sering kali kaget karena penyeberang berlari muncul dengan tiba-tiba. Selain itu dengan menyeberang berjalan kaki, jika ada kesalahan perhitungan kita bisa mengkoreksinya dengan berlari. Jangan lupa untuk tidak menyeberang dari balik kendaraan atau benda lain yang menyebabkan kita tidak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Brebes juga saya melihat gerobak sampah dengan semboyan,"Anda buang kami angkut"&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rq4N80KwsmI/AAAAAAAAAD0/JR7_WIN9VL4/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rq4N80KwsmI/AAAAAAAAAD0/JR7_WIN9VL4/s320/4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5093023567049699938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6581246-4187047458310872365?l=dhita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhita.blogspot.com/feeds/4187047458310872365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6581246&amp;postID=4187047458310872365' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4187047458310872365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6581246/posts/default/4187047458310872365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhita.blogspot.com/2007/07/aturan-utama-menyeberang.html' title='Aturan Utama Menyeberang'/><author><name>Dhita Yudhistira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06408063928545823434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rq4MR0KwslI/AAAAAAAAADs/BZhRkXIyNdg/s72-c/sebrang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6581246.post-1032119756358638439</id><published>2007-07-30T22:45:00.000+07:00</published><updated>2007-07-30T23:01:22.206+07:00</updated><title type='text'>Lawang Sewu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X7cqzXLEJzI/Rq4KiEKwshI/AAAAAAAAADM/ow9wBwWCh0A/s1600-h/lawangsewoe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com
