Blog Dhita Yudhistira

Apakah Blog kata resmi dalam Bahasa Indonesia?

Friday, May 21, 2010

Tim Big Bang Indonesia Menyabet Gelar Juara Imagine Cup Dunia 2009

Bukan sekedar perjalanan, melainkan perjuangan. Mungkin kalimat itu pantas disandangkan pada Tim Big Bang Indonesia. Siapa mereka? Bisa kita menyebutnya pahlawan. Bukan berjuang dengan senjata, melainkan dengan karya.

Mereka adalah tim yang berhasil membawa pulang gelar juara dunia pada ajang Imagine Cup 2009. Kali ini, bendera Indonesia berhasil berkibar di Mesir. Sungguh pencapaian yang sangat membanggakan.

”Kita ingin mengibarkan bendera Indonesia di Kairo,” tegas David Samuel, Tim Big Bang, Juara Dunia Imagine Cup 2009. Mereka berhasil memenangkan ajang yang mempertandingkan karya-karya IT dari seluruh dunia. Setelah menjuarai Imagine Cup Indonesia lalu, David dan rekan-rekannya melaju ke pentas IT di dunia.

Adalah MOSES, sebuah karya anak bangsa yang menyabet penghargaan bergengsi tersebut. Malaria Observation System and Endemic Surveillance (MOSES) merupakan sistem terintegrasi yang menggabungkan hardware dan software untuk mendiagnosis pasien yang tinggal di daerah terisolasi.

Karya ini mengalahkan teknologi-teknologi dari negara lainnya. Menurut David, pesaing terberat dalam Imagine Cup tingkat dunia ini adalah peserta dari Brazil, Polandia, dan Rumania.

”Kami menyadari bahwa masalah yang kami angkat memang merupakan masalah yang pelik, dan kami tentu ingin membantu dari sisi teknologi, terutama untuk mengentaskan masalah kesehatan di Indonesia,” tutur David, mahasiswa Teknik Informatika Insitut Teknologi Bandung (ITB).

David menambahkan, kemenangan kali ini memberikan kesan yang sungguh mendalam. Menurutnya, rasanya aneh sekaligus nyaman, karena Imagine Cup bisa mengumpulkan para nerds (gila IT) dan geeks dari seluruh dunia. ”Seperti keluarga, punya kesukaan sama, dan masing-masing memiliki teknologi unggulan semua,” kenangnya.

Tentu bukan perkara mudah untuk membawa pulang gelar juara tersebut. Berbagai pihak ikut membantu Tim Big Bang melaju ke tingkat dunia. Di antaranya, para dosen TI ITB, lalu Cahyana Ahmadjayadi, Dirjen Aplikasi dan Informatika Depkominfo, dan pihak-pihak lainnya.

Sebelum berangkat ke negeri Firaun tersebut, tim ini tak hanya mempersiapkan masalah teknis, tetapi juga non-teknis. Salah satunya mengenai pemahaman masalah teknologi yang terkait dengan kehidupan masyarakat. Bahkan, tim Big Bang sempat bertemu dengan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, terkait dengan aplikasi yang mereka kembangkan.

”Pada awalnya kami sempat sedih karena merasa tidak punya kans untuk mengibarkan bendera Indonesia di Kairo. Namun ketika nama Tim Big Bang dipanggil, kami sempat bingung, karena ada nama tim Big Bang juga yang berasal dari Belarusia. Namun setelah di layar terpampang nama kami berempat, kami pun melonjak kegirangan lalu naik ke podium untuk menerima penghargaan,” ungkapnya.

Tak hanya pengalaman indah yang mereka rasakan di Kairo, pengalaman buruk pun sempat menimpa tim ketika berkunjung ke Piramida. Bangunan peninggalan Mesir kuno ini meninggalkan kesan khusus bagi David dan rekan-rekannya. Di makam Firaun tersebut, mereka sempat menjadi korban ”pemerasan” dari preman di tempat itu. ”Ternyata seenak-enaknya negeri orang, lebih nyaman negeri sendiri,” kenang David.

Ini bukan hanya sebuah kenangan, tetapi prestasi yang harus terus dilanjutkan. David berharap, penghargaan dan prestasi tidak berhenti sampai di situ. Dia dan rekan-rekannya akan terus melanjutkan perjuangan, tentunya untuk mengibarkan kembali bendera Indonesia di negeri orang. Terus berjuang... [Ria]

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home