Blog Dhita Yudhistira

Apakah Blog kata resmi dalam Bahasa Indonesia?

Wednesday, September 05, 2007

A Javanese Wedding

Wahyu menikah di rumahnya di luar kota Solo. Sebuah rumah yang dikelilingi oleh sawah yang masih cukup luas. Kami dijemput dari hotel oleh mobil yang disediakan Wahyu. Sedikit tidak enak sebetulnya, menyusahkan pengantin yang pasti sudah sibuk.

Wahyu sudah lama tinggal di Amerika, sejak saya belum lulus kuliah. Paling tidak sudah 5 tahun. Orang-orang Indonesia yang datang dari luar negeri mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan keberhasilan: menikah di gedung, pesta besar-besaran, dan seterusnya. Tetapi Wahyu tidak melakukannya. Pernikahannya, saya yakin, dilakukan dengan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh warga di sana. Seolah-olah, Wahyu tidak pernah pergi ke Amerika atau bahkan ke Bandung. Saya sangat salut dengan ini. Mungkin kalau ada perbedaan adalah gamelan yang didatangkan lengkap dan pagelaran wayang kulit. Ini murni untuk melestarikan kebudayaan tradisional.

Istri Wahyu adalah seorang antropolog, rasanya dia lebih dari gembira untuk menjalani sendiri pernikahan dari kebudayaan yang berbeda. Dan kebudayaan Jawa, is one of the spiciest of all.

Saya melihat orang-orang asing muda belajar memainkan gamelan di saat pemuda Indonesia lebih memilih duduk-duduk (jagongan) di jalan sambil memetik gitar. Ironi yang sia-sia. Apa yang dibutuhkan agar bangsa kita menghargai budayanya sendiri? Menghargai dirinya sendiri?

Di Solo, tamu pernikahan duduk rapi seperti menonton bioskop. Makanan dibagikan secara bergiliran dari pembuka sampai penutup, biasanya paling tidak ada sop, makanan utama, es krim/es putar. Dengan demikian umumnya tamu undangan tidak datang terlambat. Tetapi memang menjadi sulit ketika kita mendapat 2 undangan sekaligus. Juga buat saya menjadi sulit ketika ingin menambah es putar yang uenak tenan itu.


Sebuah perjalanan panjang ke Solo, tapi saya sangat gembira saya memutuskan untuk datang.

2 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home