Blog Dhita Yudhistira

Apakah Blog kata resmi dalam Bahasa Indonesia?

Thursday, August 09, 2007

Sebuah Kesaksian Tentang Jawa

Dari buku 'Orang Indonesia dan Orang Perancis', kutipan catatan dari Perancis di sekitar tahun 1755:

Pulau Jawa yang panjangnya mencapai sekitar delapan ratus mil dan lebar antara 120 hingga 160 mil tampaknya sejak lama dikuasai oleh orang Melayu. Ajaran nabi Muhammad dan takhayul merupakan kultus yang dominan di sini. Di pedalaman, masih terdapat pemuja berhala. Mereka itu merupakan satu-satunya yang tidak terpengaruh oleh kebejatan akhlak.

Kekuasaan yang tadinya dipegang oleh seorang raja kini berada di tangan beberapa raja yang saling bermusuhan satu sama lain. Pertentangan abadi itu menyebabkan masyarakat mengabaikan kesusilaan dan semangat keprajuritan. Selain memiliki musuh yang berasal dari luar, mereka sendiri tidak memiliki rasa saling percaya. Tidak ada negeri lain di mana kita dapat merasakan kebencian separah di sini. Manusia memangsa manusia lainnya seperti serigala. Kelihatannya, yang justru menyatukan mereka dalam suatu tatanan masyarakat adalah hasrat saling merusak, bukan hasrat bergotong-royong. Orang-orang Jawa tidak pernah mendekati saudaranya tanpa membawa keris di tangan. Mereka selalu waspada untuk menghadapi serangan atau untuk menyerang. Para pembesarnya memiliki banyak budak yang mereka dapatkan dengan cara membeli, dari peperangan, atau dari pembayaran utang. Budak-budak tersebut diperlakukan tanpa peri kemanusiaan. Mereka bekerja di kebun dan melakukan pekerjaan berat. Orang Jawa memiliki kebiasaan makan sirih, mengisap madat, hidup dengan para selirnya, berperang, atau tidur. Mereka berjiwa spiritual namun sangat sedikit menganut prinsip moral. Mereka lebih tepat disebut bangsa yang mengalami degenerasi dari pada terbelakang. Tadinya, mereka berada di bawah pemerintahan yang teratur namun kemudian berubah menjadi anarki. Dengan tidak henti-hentinya mereka mengumbar keberingasan yang diturunkan alam dalam keadaam iklum yang sedemikai rupa.

Landaasan hukum feodal yang dimiliki oleh pemerintah pulau tersebut tampaknya memang menginginkan adanya perpecahan. Ayah dipersenjatai untuk melawan anaknya dan anak melawan ayahnya. Dalih kaum lemah untuk melawan yang kuat dan yang kuat melawan kaum lemah didukung sesuai dengan keadaan. Terkadang dukungan diberikan kepada raja penguasa dan terkadan kepada raja bawahan. Apabila seorang raja menunjukkan kemampuan yang membahayakan, maka dicarikanlah musuh untuknya. Mereka yang tidak tergiur oleh emas atau janji-janji akan ditundukkan dengan ketakutan. Setiap hari terjadi perubahan-perubahan yang selalu dipersiapan oleh para tiran, demi kepentingan mereka.

Saya kira, saya sedikit demi sedikit menerima, bahwa pada kenyataannya bukan penjajahan itulah yang merusak kebudayaan Indonesia, tetap kerusakan budaya Indonesia yang berhasil dimanfaatkan oleh Belanda untuk menjajah. Bahkan ide bahwa sebetulnya Belandalah yang mengenalkan Indonesia kepada konsep negara modern yang bersatu dan berlandaskan hukum sedikit demi sedikit dapat saya terima.

Menerima kenyataan sejarah itu adalah satu hal. Memetik pelajaran darinya untuk menghadapi masa depan adalah hal berikut yang tidak kalah pentingnya. Yang ada di depan mata sekarang dalam pengamatan saya, adalah bagai mana Indonesia semakin kehilangan konsep negara modern itu. Masyarakat semakin kembali ke sifat kedaerah-daerahan dan mementingkan golongan sendiri. Konsep semacam 'putra daerah' dalam pemilihan kepala daerah maupun tender yang saya kira tidak sesuai dengan semangat negara nasional, justru semakin menguat. Dan bahkan daerah yang satu saat ini sering kali menyalahkan daerah lain tentang suatu masalah tanpa usaha untuk bekerja sama, seolah-olah mereka adalah negara yang berbeda.

Kerusakan ini ditambah lagi, bahwa selain pemikiran yang berorientasi pada kepentingan golongan dan sesaat, kebanyakan orang Indonesia (atau mungkin sebagian kecil elite) tidak mempunyai suatu panduan moral. Agama hanya dipakai sebagai pelarian dan justifikasi tentang kesalehan tanpa makna keduniaan. Di pihak rakyat, hal ini didukung oleh pola pikir mistisme: harapan akan datangnya Ratu Adil, kepercayaan bahwa permasalahan yang muncul adalah takdir, Mbah Maridjan lebih dipercaya dari para geolog, dan lain sebagainya.

Jika hal ini berkelanjutan, dapat dipastikan bahwa Indonesia hanya tinggal menjadi sejarah atau paling tidak Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar. Tentang perlunya ada suatu negara yang disebut Indonesia itu, mungkin dapat dibahas di waktu berbeda.


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home