Blog Dhita Yudhistira

Apakah Blog kata resmi dalam Bahasa Indonesia?

Saturday, December 09, 2006

Hantu-Hantu Itu...

Dua minggu ini, pemasangan genset di salah satu pelanggan baru terus menerus bermasalah. Pertama dipasang genset 2200watt, tetapi dayanya terlalu pas-pasan. Jadi diganti dengan yang 3200watt. Tetapi yang 3200 ini ternyata sering mati. Biasanya kalau genset mati dikarenakan oleh daya yang terlalu besar. Saya sendiri berpikir kalau daya terlalu besar, seharusnya breaker (saklar otomatis) di genset turun duluan sebelum mesinnya mati, tapi sampai saat ini masalah ini belum pernah saya telaah secara bersungguh-sungguh.

Masalahnya, si pelanggan sebetulnya sudah memiliki genset Jepang 2000watt. Penggantian dengan genset saya dilakukan karena genset saya dilengkapi ATS (automatic transfer switch) sehingga bisa nyala dan mati sendiri saat mati lampu Menurutnya, selama ini genset ini kuat untuk dipakai dengan semua beban menyala. Pelanggan ini berasumsi, kalau pun sebuah genset Cina seperti yang saya jual dayanya hanya 70-80% dari yang diklaim, genset saya seharusnya bisa melakukan hal yang sama. Dan saya setuju dengan dia. Saya sendiri sudah melakukan pengujian, dan berani mengklaim daya genset yang saya jual adalah 100% dari yang diklaim, walaupunya saya menyarankan pemakaian 70-80% dari maksimum.

Sepanjang 2 minggu itu, ATS dan genset selalu ngadat. Gagal nyala, nyala sebentar kemudian mati, dan sebagainya. Walau ATS dan gensetnya diganti, masalah tetap terjadi. Karena saya sendiri sibuk, selain saya ingin teknisi saya bisa mengatasi sendiri masalah di lapangan, saya baru datang Jumat kemarin. Di briefing sore sebelumnya, teknisi saya mengemukakan bahwa menurut para tukang ketika rumah itu dibangun, ada 1 pekerja yang meninggal tertimpa sesuatu. Mungkin hantunya mengganggu genset.

Sesampainya di sana, baik pelanggan maupun tukang-tukangnya sempat menyinggung hal yang sama, entah serius entah tidak. Ketika saya cobakan, dan saya ukur arusnya (teknisi saya selama ini tidak melakukannya walau sudah saya minta), ternyata arus terukur sering kali mencapai 17-18Ampere ketika genset mati. MCB dari PLN sendiri memakai rating 16Ampere (setahu saya untuk MCB 16Ampere masih ada toleransi 10-20% selama beberapa lama sebelum putus). Jadi permasalahannya, saya kira, memang terdapat aplikasi-aplikasi besar di dalam rumah. Dan karena kami tidak bisa masuk ke dalam rumah, hal itu tidak bisa dipastikan. Tapi ampere meter sudah menunjukkan permasalahannya. Genset 2000watt itu pun ternyata tidak kuat ketika saya coba. Jadi tidak ada hantu. Paling tidak si hantu tidak merusak genset, kalau memang ada paling-paling dia menyebabkan arus jadi tinggi. Mungkin menyamar sebagai water heater.

Waktu jembatan mau dibangun, tukang-tukang meminta saya mengadakan selamatan. Akhirnya dikeluarkan dana untuk membeli saji-sajian. Waktu saya tanyakan kenapa mencari saji-sajiannya lama, dijawab,"Maaf Pak. Ini harus cari rokok yang merk-nya dari jaman Belanda. Karena yang penunggu di situ sudah tua, dari jaman Belanda." dengan wajah sangat serius. Saya tidak sampai hati menanyakan kenapa sudah 60 tahun lebih Indonesia merdeka si penunggu tidak mengganti merk rokoknya.

Kalau kita datang ke kawah putih Ciwidey, di situ tertulis bahwa kawah ini ditemukan oleh Jung Huhn. Waktu membacanya saya tercekat. Mengapa kawah ini ditemukan oleh seorang Belanda, dan bukannya oleh penduduk di sekitar? Ternyata ceritanya demikian. Burung-burung tidak ada yang melintas di atas puncak bukit dan setiap kali ada burung yang melintas di atas puncak bukit, burung itu selalu mati. Mungkin jg ada orang-orang yang mati mencoba. Akhirnya penduduk di sekitar mengkeramatkan puncak bukit dan tidak berani naik. Dengan ancaman inilah Jung Huhn waktu itu naik dan menemukan bahwa semua itu disebabkan oleh uap belerang yang keluar dari kawah..

Saya tidak mengatakan bahwa makhluk halus tidak ada di dunia ini. Saya sendiri bukan orang pemberani juga. Tetapi saya berkeyakinan bahwa cara pikir yang selalu menyalahkan hal-hal di luar, termasuk makhluk halus di dalamnya, adalah salah satu penyebab dari tidak majunya bangsa ini. Dan itu seharusnya dikikis melalui pendidikan. Pendidikan modern, menghasilkan manusia modern yang berpikir rasional. Sayangnya hal itu belum terjadi. Bahkan acara-acara di TV semakin memperparah kondisi ini. Coba bayangkan, kalau memang benar setiap rentenir dan penjarah tanah kuburannya menyempit, tentu kita bisa datang ramai-ramai ke pemakaman pengemplang BLBI untuk menyaksikannya. Lagi pula isunya penerbit majalah Hidayah dan majalah Pop adalah pihak yang sama.

Wallahualam.

Honor Mengajarku Yang Pertama (di IPB)

Setelah di awal semester bertekad untuk menyelesaikan penilaian setiap ujian paling lambat beberapa hari setelah ujian, saya hari ini menyelesaikan penilaian Ujian Tengah Semester (UTS).... 3 minggu setelah ujian. Yah, ini memang tidak membanggakan. Untuk melegakan hati sedikit, saya bertanya kepada petugas administrasi,"Sudah semua Pak?"

"Wah, masih banyak!"

Syukurlah, paling tidak, tidak terlalu malu-maluin. Apalagi, ujian mata kuliah saya adalah yang paling terakhir diujikan dalam 2 minggu UTS (another excuse).

Setelah mengumpulkan nilai, saya pun mengambil honor. Ya, di Diploma IPB, honor dibayarkan 2x per semester: setelah UTS dan setelah UAS (Ujian Akhir Semester). Ini mungkin cara untuk memotivasi dosen-dosen yang malas memeriksa ujian seperti saya ini. Dan saya kira cukup efektif, dengan mengambil saya sebagai sampel tunggal.

Sebetulnya, saya belum tahu berapa persisnya saya dibayar untuk mengajar. Ketika ditawari mengajar dan menerimanya, saya tidak pernah betul-betul menanyakannya. Kesannya cool, nggak butuh. Padahal nggak juga. Saya ini tipe orang yang susah bicara uang, apa lagi kalau sifatnya jasa. Bukan sekedar susah membicarakan, untuk menagihnya saya juga susah Misalkan, ada yang meminta saya melakukan sesuatu dan menanyakan biayanya. Biasanya saya tidak banyak menawar. Bahkan dalam beberapa kasus sering kali tidak saya tagihkan. Mungkin dari pada jadi pedagang, sebaiknya saya jadi pegawai negeri saja...

Kembali ke honor. Ternyata walau tidak sebesar rumor (karena di rumor disebutkan kemungkinan kenaikan honor di semester ini), besarnya masih cukup. Dalam artian kalau ada yang berminat mengajar dan meluangkan waktu 12 jam seminggu (dengan catatan ada yang bisa diajarkan), menurut perkiraan saya honornya bisa untuk hidup layak di Bogor. Dengan catatan, sampai dengan UTS harus cari dulu hutangan. Hehehe. Saya sendiri hanya mengajar 4 jam per minggu. Dan setelah UTS ini menjadi 8, menggantikan pengajar lainnya.

Tampaknya setelah UAS lebih mantab nih!

Thursday, December 07, 2006

Pengalaman Pertama Menginstall Windows Berlisensi

Akhirnya, saya mendapatkan kesempatan (atau baru menyempatkan diri?) untuk memakai windows berlisensi di salah satu kantor klien saya. Yang saya gunakan kali ini adalah Windows XP Home. Saya tidak memakai Windows XP Professional karena:
1. Saya tidak tahu apa kelebihan dari XP Pro, dan lebih penting dari itu,
2. Harga XP Pro lebih mahal sekitar 2x-nya (lebih mahal sekitar 1 juta)

Terus terang, hati saya dag dig dug ketika pertama kali mencoba. Jangan-jangan Windows yang saya beli sudah bukan asli, tertipu dan mendapatkan lisensi yang sudah terdaftar di Microsoft. Atau jangan-jangan proses registrasinya susah, saya harus mengisi data macam-macam.

Ternyata prosesnya sangat mudah. Masukkan CD, keluar menu, pilih ini-pilih itu, selesai. Sama mudahnya dengan yang bajakan!!!!! :D

Kemudian untuk proses registrasinya. Dengan terhubung ke internet, otomatis proses aktivasi ditangani oleh Windows. Dan registrasi tidak wajib. Wow!!! Mereka betul-betul cuma menjual stiker....

Kemudian Microsoft menawarkan update. Mungkin karena Windows XP Home yang saya pakai belum terupdate, total update yang dapat saya punduh (download maksudnya) adalah sekitar 60 Mega!!! Kalau tidak dipunduh tidak apa-apa, hanya saja diumumkan di situ bahwa komputer kita akan rentan terhadap gangguan-gangguan keamanan termasuk virus, spyware, malware, trojan dst. dst.

Sialnya, saya tidak bisa menemukan file update yang bisa didownload terpisah sehingga setiap komputer yang hendak diupdate, harus mendownload seluruhnya. Nice.

Sebagai penutup, dengan semangat "Let's Go Original!" saya memasang Open Office dan AVG antivirus. Dengan Open Office berarti ada penghematan lagi sekitar USD 250 per komputer kalau tidak salah.

Hmm.. saya harus akui bahwa ide untuk memakai software original cukup baik. Beli yang perlu dibeli, substitusi yang perlu disubstitusi. Tapi mungkin ada masalah sedikit dengan aplikasi mahal tanpa substitusi seperti AutoCAD. Sebaiknya dimintakan diskon untuk negara berkembang.

Bapak dan Pohon Rambutan

Bapak saya lahir di Jakarta tahun 1945, dan besar di sana. Sampai beliau remaja, Jakarta masih merupakan sebuah kampung besar dengan banyak kebun di dalamnya. Bahkan Oom saya, yang hampir 10 tahun lebih muda dari Bapak saya, pernah bercerita tersesat di antara pohon-pohon ketika mau pulang ke rumah... di Kemayoran. Kemayoran!!!

Besar dalam organisasi Pandu (Kepanduan waktu itu belum jadi Pramuka nasional seperti sekarang, tampaknya), di kondisi seperti itu, bisa dibayangkan apa yang menjadi salah satu hobi Bapak saya: menanam pohon, dan memanjat pohon.

Rumah kami dari dulu rasanya selalu dipenuhi pohon buah. Dan di rumah sekarang, Bogor, Bapak saya jg menanam beberapa pohon. Salah satunya rambutan. Terletak di depan rumah kami, dahannya menjulur sampai di atas car port.

Beberapa tahun terakhir, pohon rambutan ini sudah mulai panen. Dan yang menjadi masalah saya, Bapak selalu berkeras memanen sendiri, dengan memanjatnya. Saya selalu mengusulkan untuk memanggil orang lain (karena jelas saya tidak bisa diharapkan dalam urusan panjat-memanjat ini) atau memakai alat-alat yang memungkinkan panen tanpa harus memanjat. Tetapi Bapak selalu menolak. Seolah-olah memanjat sendiri pohon rambutan ketika panen adalah sebuah bagian dari excellence.

Saya koq jadi berniat untuk menebang itu pohon...

Tuesday, December 05, 2006

Iklan Telkom Speedy

Beberapa rekan mengomentari posting saya tentang turunnya tarif Telkom Speedy beberapa waktu yang lalu. Katanya, blog saya jadi seperti iklan Telkom Speedy.

Sebetulnya, alasan saya dari hati yang paling dalam meletakkan banner itu di blog saya adalah, saya khawatir saya satu-satunya orang yang membaca iklan itu. Jangan-jangan tahu-tahu tagihan saya melonjak dan waktu saya protes, petugasnya bakal bilang,"Iklan diskon? Iklan yang mana Pak???"

Hihihihi. Fobia sekali ya ...

Ujian Tengah Semester di IPB
















Tanggal 16-17 November kemarin, saya memeberikan UTS di IPB. Semester ini memang saya mengajar di program Diploma IPB, jurusan Teknik Komputer, mata kuliah Teknologi Komunikasi Data.

Sepanjang yang bisa saya ingat, saya memang senang mengajar. Dan setiap ada kesempatan, I'll jump right in.

Sering kali sulit untuk membayangkan saya sebagai dosen. Bayangkan, waktu kuliah dulu tingkat presensi saya saja tidak begitu baik. Apa lagi kalau meninjau nilai dan sebagainya. Karena hal-hal semacam ini, agak sulit bagi saya untuk memberikan wejangan atau petuah bagi mahasiswa di kelas.

Tapi saya mencoba melakukan yang terbaik. Mengajar tepat waktu. Kehadiran tinggi. Dan saya bertekad bahwa mahasiswa harus mendapatkan manfaat dari kuliah yang saya berikan.

Untuk keterlambatan dan mencontek, saya tidak mentoleransi. Sudah saatnya kuliah-kuliah diberikan dengan disiplin. Bagai mana dengan mencontek? Ya ini jelas perbuatan tidak baik. Lalu, apa saya sendiri waktu kuliah tidak pernah mencontek?

Well. Saya memang mengklaim bahwa saya tidak pernah mencontek, walau tentunya ada saksi yang bisa bersaksi saya tidak begitu.

Begini. Saya ini orangnya apa adanya. Kalau saya tidak belajar, ya saya tidak akan neko-neko untuk bermimpi lulus. Wajar-wajar saja. Tapi sering kali saya merasa tidak enak dengan dosen yang mengajar. Masa saya mengumpulkan kertas ujian kosong, sangat tidak menghargai jerih payah yang mengajar.

Jadi untuk lebih meringankan perasaan si Dosen, saya mencontek. Secukupnya untuk supaya kertas saya tidak kosong. Swear!!! Masa sih, kalau sudah mencontek, saya masih kuliah selama itu dengan IPK segitu-segitunya? I must have been really stupid. Walau saya tidak membantah, ada dosen-dosen yang cukup berbaik hati memberi saya C karenanya, di luar dugaan dan targetan saya.

Apakah ini pembelaan diri? Memang!!! Tapi ini fakta....