Blog Dhita Yudhistira

Apakah Blog kata resmi dalam Bahasa Indonesia?

Sunday, May 27, 2007

UI Universitas Terbaik di Indonesia

Beberapa waktu lalu Tempo mengadakan survey tentang universitas terbaik dari persepsi dunia kerja. Parameter yang diukur adalah aktif berorganisasi (20,3 persen), kemampuan bahasa Inggris (18,6 persen), tekun belajar (17,7 persen), mengikuti perkembangan informasi (15,98 persen), memiliki pergaulan luas (15,07 persen), dan mempelajari aplikasi komputer (12,32 persen).

Hasilnya sebagai berikut: 1. UI, 2. ITB, 3. UGM 4. IPB. Saya agak sungkan menulis tentang ini sebetulnya. Tetapi ternyata Trisakti dan UI tidak. Trisakti memuat iklan yang besar di koran tentang keberhasilannya masuk 10 besar. UI menuliskannya di webnya.

Pertama harus saya katakan bahwa saya ini ITB-sentris. Buat saya ITB nomor 1. Tapi boleh dibilang ini memang masalah emosional belaka. Saya loyalis. Jadi buat saya, misalkan, SMAN 1 Bogor (almamater saya) adalah SMA nomor 1 di Indonesia. Walau jelas-jelas rata-rata NEM kelulusannya dulu kalah jauh dari SMA 3 Bandung, misalkan.

Yang agak aneh, saya lebih grogi saingan dengan alumni ITB dari pada alumni luar negeri, dari beberapa yang ngetop sekali pun (memang saya beum pernah ada kesempatan bersaing di bidang apa pun dengan alumni MIT, Caltech, Harvard). Jadi buat alumni non-ITB yang baca blog saya, anggap saja saya memang ultra-chauvinis.

Nah, beberapa waktu lalu juga, November 2006, The Times menempatkan Universitas Indonesia di urutan 250, ITB (258), UGM (270), dan Universitas Diponegoro (495). Jadi ITB memang nomor 2.

Bagai mana saya menanggapi itu?

Pertama, saya beranggapan bahwa orang ITB itu terlalu sedikit. Setiap tahun hanya terima sekitar 2000 mahasiswa S1 tanpa ada D3 atau ekstension. Bandingkan dengan UI yang terima ribuan S1 plus ribuan D3 dan seterusnya. Jadi ketemu bintang film, kuliah di UI. Ketemu penyanyi, kuliah di UI. Dan seterusnya. Terus misalkan untuk elektro. Jumlahnya cuma 160 orang. Di luar 10 perusahaan besar, sudah tinggal sedikit yang tersisa. Jadi agak susah.

Kedua, ITB itu cuma teknik saja. Jadi segitu sudah hebat. Kalau di luar negeri (artinya termasuk Times), pamor ditentukan oleh jurnal internasional. Nah UI dan UGM banyak terbantu jurnal sosial dan ekonomi. Setahu saya untuk sosial malah peringkat UGM tinggi sekali. Kalau UI terutama untuk kedokteran. Di Indonesia kedokteran adalah jurusan yang cukup baik karena dana penelitian dan praktek sebagian ditunjang depkes (lewat Rumah Sakit) dan karena ilmu ini sifatnya regional (nggak mungkin dong riset malaria tropis di Amerika). Jadi yahh.... nomor 2 itu sudah luar biasa buat saya.

Ketiga, ITB itu memang guoblog sekali marketingnya. Hampir tiap tahun masuk final lomba desain IC internasional di Jepang, bahkan menang juara 1, tapi gaungnya lemah. Itu cuma satu contoh aja. Coba bandingkan dengan tim Ekonomi UI masuk final internasional kontes L'oreal. Masuk koran fotonya sedang dikalungi bunga di Soekarno-Hatta. Waktu tim ITB yang ikut ke Final internasional (tim MM), beritanya segitu-segitu aja.

Ya begitulah. Tapi saya punya perkiraan kalau begini terus, ITB akan redup. Permasalahannya bukan di ITB sendiri. Ekonomi Indonesia (yang dimotori tim-nya oleh tim Ekonomi universitas XX) berkembang menuju deindustrialisasi. Artinya, insinyur semakin tidak dibutuhkan. Jadi buat apa belajar teknik susah-susah. Toh perusahaannya perusahaan dagang semua. Cepat atau lambat minat masuk ITB akan semakin turun seiring turunnya dana R&D. Untuk ini saya sama sekali tidak mencemaskan ITB. Saya mencemaskan negara ini.

Anyway, sebagai penutup saya kutip paragraf dari web UI.

Dari 10 Top Perguruan Tinggi yang lulusannya dianggap favorit di pasar kerja, Universitas Indonesia menduduki peringkat yang pertama. Lima dari 12 fakultas di UI yang selalu dibanjiri pendaftar (diurut berdasarkan ranking) adalah: Fakultas Ekonomi, Kedokteran, Hukum, Ilmu Budaya serta Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Hasil survey Pusat Data dan Analisa TEMPO tahun 2006 telah membuktikan bahwa kualitas Program Studi Ilmu Akuntansi dan Manajemen FEUI menempati peringkat teratas dibanding semua perguruan tinggi di negeri ini. Kualitas lulusan FEUI memang telah lama dikenal andal, bahkan pemikiran ekonomi negeri ini banyak dipengaruhi lulusannya.

Jadi ke mana kalau mau kuliah teknik nomor 1? Sudah tahu dong ... Hehehehe

Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater!

Wednesday, May 23, 2007

Bebek Bakar ala Surabaya


Setelah lama, akhirnya saya mengunjungi Kandar di Bekasi. Dia membuka usaha bebek bakar di sana. Konon bebek-nya lezat rasanya. Tetapi karena saya tidak makan bebek (mengingatkan saya pada Donal bebek), saya tidak tahu.

Kandar sekarang dibantu oleh 4 orang pegawai. Dua orang mempersiapkan masakan dan dua orang lainnya menjaga warung. Selain itu dia mempertahankan pola hidup sederhana, dan beragama.

Sudah 4 orang yang mendapatkan pekerjaan dari Kandar. Kalau itu angka rata-rata untuk setiap anak ITB yang jumlahnya 2000 per tahun, sudah berapa? Walau begitu mohon jangan semua berhenti kerja dan membuka warung. Susah juga kalau nggak ada teman yang jadi manajer atau direktur di sana atau di sini.....

Saya salut sekali dengan Kandar ini. Maju terus Cak!

Menjadi Modern


Foto ini terlihat seperti gerai Kentucky Fried Chicken (KFC) biasa. Yang membuatnya menjadi berbeda adalah, gerai ini ada di kota yang tidak terlalu besar: Sadang, Purwakarta.

Saya masih ingat jaman ketika fast food hanya ada 1-2 buah saja di kota besar seperti Jakarta dan Medan. Tanpa terasa, saat ini sudah merambah sampai ke kota-kota kecil.

Di Sadang, ada sebuah mal. Disebut sebagai Sadang Terminal Square. Dulu, sekitar 3 tahun yang lalu, di tempat itu masih berdiri sebuah terminal. Beberapa pengusaha memang mencoba peruntungan membangun mal di kota yang tidak terlalu besar. Ada yang gagal, seperti di Cianjur (Cianjur Supermal). Di Sadang sendiri, mal tidak terlalu ramai tetapi tidak terlampau sepi juga.

Waktu tol Cipularang baru dibuka, perjalanan sepanjang 2 jam dari Jakarta ke Bandung ditempuh tanpa tempat istirahat. Saya sering keluar di Sadang untuk makan rendang dan sayur singkong di Natrabu Sadang Terminal Square. Tetapi umumnya ini dilakukan siang hari.

Jadi kesempatan itu datang, karena saya berangkat ke Bandung Sabtu sore dan mampir di Sadang sekitar pukul 19.30. Ramai juga yang datang ke STS ini. Sebagian hanya duduk-duduk (duduk-duduk di danau atau taman sudah tidak musim), sebagian meminta-minta (rombongan peminta-minta cukup besar dan duduk di lobby).

Karena rendang di Natrabu sudah habis, saya memutuskan makan di KFC. Antriannya cukup panjang, sekitar 3-4 pelanggan per counter dengan 3 counter. Sambil antri, tiba-tiba beberapa orang membuka jalur antrian baru tanpa mempedulikan orang-orang yang sudah antri sebelumnya.

Mengertilah saya. Bahwa menjadi modern ditandai oleh hal-hal yang bersifat lahiriah seperti makan di fast food, tetapi tanpa dibarengi semangat dan sikap mental sesungguhnya dari menjadi modern seperti mengantri.

Bangsa Indonesia, adalah bangsa yang lebih menyukai simbol ketimbang isi. Sekolah untuk mengejar gelar (masih lebih baik dari pada memalsukan ijazah), shalat tapi korupsi, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu saya bertemu beberapa mahasiswa yang sedang kerja sambilan mengurus arsip. Datang dengan pakaian up to date dan gadget terkini untuk pekerjaan yang menurut saya, maaf, seharusnya bisa dikerjakan oleh anak SMEA.

Mungkin terlalu kejam ketika saya berpikir, bahwa sesungguhnya penampilan modern mereka (seperti di negara-negara maju) tidak diimbangi oleh produktivitas. Dan ketika penampilan modern yang disokong oleh konsumsi ini tidak diimbangi oleh produktivitas, tidak ada lagi hal yang baik tersisa.

Tuesday, May 22, 2007

Jargon

Pemimpin Indonesia umumnya memang menyukai jargon. Kita bisa membedakannya dari sikap mereka tentang jargon itu.

Ada yang terbelit karena mencoba mewujudkan jargon yang terlalu rumit. Soekarno misalkan, dengan nasakom-nya. Entah kapan orang beragama dan orang komunis berdiri bahu membahu di Indonesia.

Yang lainnya memakai jargon sebagai pemanis dan tutup mata walau pun jargon sangat berbeda dengan kenyataan. Misalkan, kota Bandung Berhiber (bersih, hijau, berbunga) yang tetap dipertahankan walaupun sampah menggunung, pohon ditebang, dan bunga jelas-jelas susah dicari.

Ada juga yang memilih jargon tanpa targetan yang jelas. Misalkan,”Bersama Kita Bisa”. Tidak ada kejelasan bersama siapa dan bisa apa.

Jaman Orde Baru, jargon yang dipakai adalah stabilitas. Dan polanya, dipakai secara membabi-buta untuk sesuatu yang tidak ada hubungannya. Protes tanah digusur dianggap mengganggu stabilitas. Kampanye untuk parpol dianggap mengganggu stabilitas. Dan sebagainya.

Selain itu jargon ini juga dikawal dengan falsafah-falsafah yang maknanya diselewengkan. Misalkan, kalau tanah kita akan digusur maka ditekankan,”Kepentingan umum di depan kepentingan pribadi”, sementara jelas-jelas konglomerat menggusur untuk kepentingan pribadi.

Nah, keseluruhannya didoktrinasi dengan berbagai macam cara. Salah satu yang paling terkenal adalah penataran P4. Sebelumnya ini dilaksanakan dengan pola 100 jam. Artinya 2 minggu sekitar 8 jam setiap harinya. Pada masa saya masuk kuliah diubah menjadi 50 jam. Seminggu penuh.

Pada waktu itu, hampir tidak ada mahasiswa yang tidak sinis dengan pemerintah. Penataran ini menjadi ramai ketika dosen yang memberikan materi adalah seorang ‘vokalis’.

Pancasila sebagai sebuah falsafah, dikerdilkan (menurut saya) dengan adanya yang disebut sebagai butir-butir Pancasila (37 dan terus bertambah). Ketimbang merenungi Pancasila melalui penghayatan sejarah dan contoh kasus sehari-hari, dengan butir-butir ini Pancasila menjadi bahan hafalan belaka. Akhirnya Pancasila menjadi bahan sinisme, sesuatu yang sangat saya sesalkan.

Celakanya, ternyata butir-butir itu meleset dari aslinya. Coba misalkan kita ambil sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Apa yang ada di pikiran anda pengamalannya? Bahwa sebagai manusia kita harus adil, dan beradab. Tidak boleh memukuli orang lain, mengkasari pembantu, dan seterusnya. Bukan begitu? Coba saja lihat butirnya:

  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa
  2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban hak asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan social, warna kulit dan sebagainya
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa delira
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia
  10. Mengembangkan sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain

Baru kira-kira tahun 2005 saya mengetahui, bahwa yang dimaksud Soekarno (sebagai penggali Pancasila) dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah Internasionalisme. Bahwa sebagai bangsa Indonesia bercita-cita untuk berdiri sejajar dan sama tinggi dengan bangsa lain dalam suasana yang penuh kemitraan, dalam kecepatan penuh mengejar kemajuan.

Ajaib kan, perbedaannya? Walau ada butir ke-9 dan 10, titik beratnya sudah bergeser jauh. Pantas selama bertahun-tahun saya mencari-mencari ke mana hilangnya internasionalisme dalam piagam Jakarta.

Yang menjadi korban lainnya adalah filsafat Jawa. Misalkan kalau kita tidak mau membuka kasus korupsi orang tua atau atasan kita, maka itu dianggap sebagai,”Mikul dhuwur mendem jero”.

Kacau.

Ke Istana Bogor

Saya sudah tinggal di Bogor sejak tahun 1993, dan belum pernah masuk ke Istana Bogor. Bukan seperti mahasiswa ITB yang tidak pernah ke kebun binatang, alasannya semata-mata adalah memang Istana Bogor tidak bisa dikunjungi umum.

Waktu KTT APEC tahun 93 (94?) di istana Bogor, saya cuma kebagian mengibarkan bendera di jalan. Waktu kunjungan Bush 2006, saya disuruh di rumah saja. Waktu pernikahan Agus Yudhoyono-Anisa Pohan, saya tidak diundang.

Memang tahun-tahun terakhir ini kabarnya kita bisa masuk berombongan. Tapi kesempatan nyata terbuka minggu ini, ketika Pemkot Bogor membuka kesempatan untuk mengunjungi Istana Bogor dalam rangka ulang tahun kota Bogor.

Syaratnya: tidak memakai jeans, kaos oblong, sandal jepit dan tidak membawa kamera. Tidak perlu bayar. Saya kira ini syarat yang cukup bisa diterima. Kecuali yang terakhir. Alasannya, kalau kita memotret lukisan di Istana Bogor, maka akan banyak reproduksi. Dan nilainya akan turun. Saya kurang mengerti, tapi reproduksi Monalisa ada di mana-mana dan harganya nggak turun-turun. Yang jelas, disediakan tukang foto dengan tarif 15 ribu sekali jepret, tanpa mendapatkan negatif atau filenya.

Untunglah sekarang ada scanner.

Saya sering berpikir-pikir dan membandingkan. Maaf sebelumnya, saya terkadang terlalu banyak berpikir. Kalau kita lihat rumah-rumah orang kaya di Amerika yang dibangun di jaman dulu (biasanya milik pemilik perkebunan), gedungnya besar sekali. Bahkan mungkin (karena saya belum pernah mengunjungi sendiri) lebih besar dari Keraton Yogya dan Solo.

Menurut saya, dengan demikian artinya bahwa kerajaan-kerajaan modern Indonesia (berbicara tentang Mataram Islam dan sesudahnya) memang tidak pernah mencapai kekayaan (sekaligus kejayaan) seperti yang dicapai oleh seorang pemilik perkebunan di Amerika pada masa itu sekali pun. Sebagai perbandingan di India dan Thailand banyak istana-istana besar.

Yah, mau bilang apalagi. Memang cuma sampai segitu saja. Walau demikian Tamansari Keraton sebetulnya cukup besar untuk dibanggakan. Kapan-kapan mungkin akan saya bahas. Juga sebetulnya saya punya alasan juga (atau dalih, mengutip dosen saya) tentang mengapa tidak ada istana besar di Indonesia.

Kembali ke Istana Bogor. Istananya cukup megah dan bagus. Saya jadi pengen juga tinggal di rumah sebesar dan dengan halaman seluas itu. Kapan ya jadi presiden...

Bagi yang berminat, kesempatan terbuka sampai tanggal 24 Mei 2007.

Terlalu...

Teman saya, bekerja di sebuah departemen. Dia dipindahkan dari bagiannya ke fungsi klerikal. Alasannya, dia terlalu bersih.

Masa iya ada orang bisa 'terlalu' bersih?

Waktu ujian nasional, beberapa siswa memukuli pengawasnya. Ini saya kira alasan yang cukup untuk tidak meluluskan mereka semua. Tapi bahkan dari Depdiknas setempat dan kepolisian sendiri membela dengan mengatakan,"Dia mengawas terlalu ketat.

Mana ada orang mengawas ujian 'terlalu' ketat?

Tadi pengadilan mengabulkan gugatan siswa yang tidak lulus UAN. Negara dianggap mengabaikan hak mereka mendapat pendidikan. Kalau begitu seharusnya saya juga bisa menggugat negara kalau saya tidak lulus tes masuk AKABRI: negara mengabaikan hak saya membela negara. Saya adalah korban test masuk AKABRI.

Negara ini memang terlalu...

Monday, May 21, 2007

The Years of Living Dangerously

Pada saat mengajar, sering saya tidak menyadari cukup jauhnya usia mahasiswa saya dengan usia saya sendiri. Selain berat badan yang naik 20kg, saya tidak merasakan perbedaan dengan di saat saya mahasiswa dulu.

Tetapi saya ketahui bahwa mahasiswa saya, angkatan 2005-2006, adalah generasi yang 10 tahun lebih muda dari saya. Ketika terjadi reformasi 1998, mereka masih bercelana pendek putih-merah (SD). Dan karena banyak orang saat ini mengutarakan bahwa jaman orde baru lebih baik dari jaman ini, bahkan jaman terbaik yang dimiliki oleh negara ini, saya merasa perlu bercerita.

Saya menyelesaikan SMP dan SMA dengan banyak pertanyaan. Salah satu contoh misalkan, setiap kali dibahas di mata pelajaran geografi dan ekonomi bahwa Indonesia memiliki kelebihan berupa sumber daya manusia yang melimpah. Bahkan otak SMP saya sudah merasakan keanehan, apa gunanya sumber daya manusia yang melimpah kalau semuanya berpendidikan rendah? Bahwa salah satu industri terbesar di jaman itu adalah industri sepatu menjelaskan posisi harkat martabat bangsa Indonesia: sebagai alas sepatu bagi negara-negara maju.

Dan mungkin juga rakyat bagi pemerintahnya. Dengan tanpa malu-malu, anak-anak Presiden mendapatkan monopoli perdagangan cengkeh ala VOC, ijin impor mobil tanpa pajak dengan proyek Mobnas Timor, dan sebagainya.

Namun begitulah yang terjadi di masa Orde Baru. Semua berpikir sesuai dengan yang diinginkan oleh pemerintahan Soeharto. Tidak ada ruang untuk berdiskusi, apalagi kalau dianggap akan menimbulkan instabilitas. Jangan salah, mengatakan bahwa sumber daya manusia yang melimpah tapi tidak terdidik akan mengakibatkan pengangguran dan ekonomi rendahan akan menimbulkan keresahan dan ujung-ujungnya mengganggu stabilitas.

Semua orang melakukan kesalahan. Soekarno punya salah, Soeharto punya salah. Yang membedakannya, Soeharto naik dengan membiarkan (kalau tidak kita katakan mendorong) pembantaian terhadap 500 ribu orang yang dituduh PKI. Sebagian besar tanpa pengadilan. Ini bukan kesalahan. Ini kriminalitas raksasa. Tapi pelajar pada masa Orde Baru tidak pernah tahu ada 500 ribu orang terbunuh di masa peralihan 65-70. Bahkan orang-orang tua enggan menceritakan kejadian tersebut. Sekali lagi, semua orang harus berpikir sesuai apa yang diinginkan penguasa.

ITB adalah salah satu kampus terakhir yang masih berani menentang Soeharto. Ketika kampus lain sudah melaksanakan sistem Senat sesuai dengan program NKK/BKK, ITB tetap tidak melaksanakannya, dan menggantinya dengan FKHJ. Sepanjang tahun 96 ketika saya masuk ke ITB, setiap sore diadakan kegiatan demonstrasi kecil-kecilan. Demonstrasi ini semakin marak di tahun 1997 dan semakin menjadi seiring dengan terpuruknya ekonomi.

Saya hampir tidak pernah terlibat dalam demonstrasi itu. Bapak saya bekerja di Pertamina, dan semua anak pegawai negeri maupun BUMN tahu bahwa kegiatan semacam itu akan mempersulit orang tua mereka (bukannya pegawai swasta tidak akan mengalami kesulitan yang semacam itu).

Tetapi pertanyaan-pertanyaan saya semakin mendapatkan jawabannya, bahwa memang ada yang tidak benar. Secara sembunyi-sembunyi saya membaca atau memfotokopi buku semacam “Kapitalisme Semu di Asia Tenggara” atau “A Nation in Waiting”. Foto kopi harus dilakukan di tempat foto kopi yang paling terpencil dan ditunggui.

Berlebihan? Tidak. Anda tahu buku Tetralogi-nya Pramoedya? Seorang mahasiswa UGM dipenjara karena menjualnya di sebuah bazaar sekitar tahun 95. Anda bisa membaca sendiri buku itu dan menilai seberapa ‘berbahayanya’ sehingga harus dilarang? Mungkin pemerintah menilai bahwa Pram sedang membicarakan pemerintahan Orde Baru karena sungguh, jika tokoh seperti yang diceritakan Tetralogi itu melakukannya di pemerintahan Orde Baru, dia sudah lenyap paling lambat di buku kedua.

Kenyataannya, beberapa aktivis yang melakukan kegiatan ‘menentang pemerintah’ memang lenyap. Penculikan aktivis, satu rangkaian peristiwa yang belum benar-benar terungkap sampai sekarang.

Thursday, May 03, 2007

Bingung Memilih Asuransi

Karena saya hidup sebagai seorang free man (yaitu kondisi di mana batasnya tipis antara employer dan unemployed), ibu saya memaksa saya untuk segera membeli asuransi kesehatan. Tahun lalu saya memilih T, karena preminya yang sangat murah dan flexible. Cukup membayar sekitar 300 ribu untuk mendapatkan asuransi kematian dan kesehatan senilai sekitar 5jt selama setahun.

Tetapi untuk tahun ini saya mencoba untuk memilih dengan lebih teliti. Banyak orang mengatakan, bahwa uang yang dibayarkan sebagai premi terbuang percuma. Karena itu disarankan untuk mengikuti tabungan investasi yang disertai asuransi. Beberapa yang sangat direkomendasikan adalah produk dr P, M, dan S. Maaf, saya tidak boleh menyebutkan nama di sini...

Setelah saya membaca brosurnya, saya sedikit bingung. Kasusnya begini. Untuk pembayaran sebesar 6jt per tahun selama 8 tahun, maka di akhir tahun ke-8 dana yang terkumpul adalah 3,6jt (ini kira-kira karena saya lupa, tetapi angkanya dekat dengan ini) untuk perkiraan bunga investasi 8%. Bukankah 8x6jt saja sudah 48jt, dan belum termasuk 8% itu?

Setelah saya baca lebih teliti, ternyata dari uang 6jt yang dibayarkan itu, sebagian dibayarkan untuk asuransi, dan baru sisanya untuk investasi. Misalkan pada produk lain yang membayar 500rb per bulan. Premi asuransinya adalah sekitar setengahnya, dan sisanya baru dihitung sebagai investasi/tabungan.

Artinya, klaim bahwa preminya tidak hangus adalah tidak benar. Nah, sekarang kalau program itu berjalan selama 8 tahun, mengapa asuransi kesehatannya bisa berjalan lebih dari itu? Begini, di tahun ke-8 diharapkan bunga dari investasi anda sudah cukup untuk membayar premi. Itu pun jika ternyata terjadi sesuatu dan investasi kita gagal berkembang seperti yang diharapkan, maka asuransi kesehatannya berhenti kecuali jika kita membayar premi lebih lanjut.

Jadi sebetulnya sama saja dengan anda membayar premi asuransi (saja) dan berinvestasi di tempat lain. Bedanya di sini mungkin, keterpaksaan untuk membayar tiap periode tertentu. Keuntungan lainnya dari asuransi dari perusahaan P, kalau kita terkena 34 penyakit kritis (hehehe, sudah jelas asuransinya), kita langsung akan mendapatkan penggantian sebesar nilai jaminan.

Nah, yang saya masih saya bingung dari asuransi kesehatan ini, kalau kita ikut tahunan dan ternyata terkena penyakit berat yang pasti membutuhkan biaya besar tiap tahunnya, bolehkah kita memperpanjang setelah habis masa asuransinya?

O ya. Ada asuransi berinisial SM yang mengganti 30% dari nilai tanggungan jika kita terkena impotensi. Saya sangat tertarik untuk tahu bagai mana prosedur pengajuan klaimnya. Apakah ada tes?